CINTA INI TAK BERSYARAT

CINTA INI TAK BERSYARAT
149. Haruskah ku mati karenamu


__ADS_3

...πŸ₯€πŸ₯€ HAPPY READING πŸ₯€πŸ₯€...


...β™‘ Bila aku tak berujung padamu...


...Biarkan kisah ini kukenang selamanya....


...Tuhan tolong buang rasa cintaku...


...Jika Kau tak izinkan aku bersamanya. β™‘...


Malam ini merupakan malam terberat dalam kisah cinta Joe di sepanjang perjalanan cintanya, saat cinta sedang bermekaran dengan indahnya, tiba - tiba layu terkena badai angin topan yang menerpa.


Di tengah malam seperti ini, disinilah Joe duduk menyendiri, disebuah kedai kopi klasik yang masih terlihat ramai pengunjung untuk sekedar nongkrong dan membuang penat dari segala aktifitas mereka masing - masing.


Joe menyandarkan kepalanya disebuah meja dengan ditemani secangkir kopi hitam pahit, sepahit nasib cintanya malam ini.


Terdengar alunan lagu pop akustik yang menghibur seisi kedai kopi tersebut, begitu mengena dihati Joe.


β™‘β™‘β™‘


Haruskah kumati karenamu?


Terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu


Haruskah kurelakan hidupku?


Hanya demi cinta yang mungkin bisa membunuhku


Hentikan denyut nadi jantungku


Tanpa kau tahu betapa suci hatiku untuk memilikimu


Adakah keikhlasan-


Dalam palung jiwamu mengetukku?


Ajarkanmu bahasa perasaan


Hingga hatimu tak lagi membeku


Haruskah kumati karenamu?


Terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu


Haruskah kurelakan hidupku?


Hanya demi cinta yang mungkin bisa membunuhku


Hentikan denyut nadi jantungku


Tanpa kau tahu betapa suci hatiku untuk memilikimu


Tiadakah ruang di hatimu untukku?


Yang mungkin bisa 'tuk kusinggahi


Hanya sekedar penyejuk di saat kulayu


Kuselalu menantimu hingga akhir masa, oh


Haruskah kumati karenamu?


Terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu


Haruskah kurelakan hidupku?


Hanya demi cinta yang mungkin bisa membunuhku


Hentikan denyut nadi jantungku


Tanpa kau tahu betapa suci hatiku untuk memilikimu


β™‘β™‘β™‘


Tanpa terasa air mata Joe mengalir dengan sendirinya mengingat wajah cantik dan menggemaskan sesosok gadis bernama Eveline, tiada hari yang mereka lalui tanpa senyum ceria di wajah bocah itu.


Sampai akhirnya dia terkapar dengan posisi masih sama, kepala tergeletak dimeja kedai, dengan kondisi wajah berantakan, kusut, pucat, lemah, lesu, karena sedari siang perutnya kosong tanpa isi, sampai kedai itu akan tutup, kopi yang dia pesan pun masih utuh sampai dingin.


Ingat?


Jangan salahkan kopi dingin, karena dia pernah hangat namun engkau diamkan!


Seorang pelayan di kedai kopi tersebut terpaksa membangunkan Joe, walau tidak tega tapi terpaksa dia tetap harus menutup kedai itu.


Joe melangkahkan kaki panjangnya dengan gontai kembali kerumah Alexa, seandainya dia bisa minum alkohol, mungkin dia sudah menghabiskan puluhan botol minuman setan itu, tapi nyatanya dia sama sekali tidak bisa meminum itu walau hanya seteguk saja.


Idaman para wanita bukan, uncle tampan kita yang satu ini?


" Uncle..?"


Teriak Alexa saat mendengar pintu rumahnya terbuka, sedari tadi dia memang menunggu pamannya pulang sampai tertidur di sofa ruang tamu.


" Aleee....!"

__ADS_1


Joe memeluk keponakan tersayangnya, hanya kepada Alexa lah dia mencurahkan segala kesedihan hatinya.


" Uncle..yang kuat dong, jangan lembek gini, malu sama ayam tetangga, jangan sampai mereka berkokok menertawakan uncle sekarang!"


Ucap Alexa membalas pelukan pamannya sambil menepuk pelan punggung pamannya yang lagi broken heart itu.


" Aku harus gimana dong Le..? Eveline pergi ninggalin aku, padahal kemarin dia sudah bersedia membatalkan pendidikannya dan memilih kuliah saja!"


Joe kembali meneteskan air matanya.


" Uncle sih mau aja dipeluk mbak Nay?"


" Kok kamu jadi nyalahin uncle sih, salahin Nay dong? ngapain dia pake acara meluk - meluk gue segala!"


Joe jadi sewot sendiri.


" Yaudah sih uncle, nasi udah jadi kerupuk, nikmatin aja kales!"


" Bubur kali..!"


Joe menjitak gemas kepala Alexa.


" Uncle, bukannya kalau jodoh tidak akan kemana ya?"


" Pasti kemana - manalah kalau Eveline, apalagi dia pendidikan bareng cowok - cowok yang berbadan kekar semua, berotot, berseragam mepet - mepet, pamer tubuh sispex! pasti jeling - jeling tu mata si Eveline! yakin deh..!"


Umpat Joe kesal sendiri membayangkan Eveline dikerumuni cowok-cowok maskulin.


" Ciiihhh.. uncle biar TUA juga badannya keren, ototnya juga beuuuhhh.. bukan main dah! kagak kalah ama yang muda - muda!"


" Kamu bilang TUA nya biasa aja! mau muji apa ngeledek sih jadinya!"


Wajah Joe kembali lesu.


" Hehe.. dua - duanya!"


" Dasar keponakan durjana!"


" Uncle?"


Sapa Alexa kembali saat melihat Joe berlalu.


" Apa!"


Jawab Joe ketus.


" Aku buatin bubur ya? uncle belom makan kan?"


Tanya Alexa yang hafal kebiasaan pamannya dari dulu, kalau sedang ada masalah dia pasti lupa makan.


Jawab Joe tanpa menoleh.


" Uncle..? patah hati juga butuh tenaga kali, apalagi kembali joenes, benar - benar sakitnya tuh diperut!"


Ledek Alexa.


" Diamm..!"


Teriak Joe kesal.


" Kalau mie instan spesial pake telor, bakso ama sosis plus sayur sawi ijo ditambah irisan cabe rawit hijau mau uncle?"


Teriak Alexa kembali.


Tubuh Joe mendadak berhenti, dan menoleh.


" Boleh deh, anterin ke kamar ya!"


Ucap Joe memasuki kamarnya.


Alexa menghela nafas dengan kasar, dia tahu betul rasa sakit yang dialami pamannya saat ini.


Setelah beberapa menit berlalu Alexa masuk kekamar pamannya dengan membawa semangkuk Mie spesial buatannya, terkadang makanan instan itu sering bisa menggugah selera dikala nafsu makan menurun.


" Uncle.. makanlah!"


Alexa menaruh Mie itu dimeja.


" Taruh situ dulu, aku menghubungi calon suamimu beberapa kali kenapa tidak diangkat? harusnya dia sudah sampai kan? kemana aja sih tu bocah, kalau lagi dibutuhin aja, susah amat dihubungin!"


Umpat Joe.


" Sabarlah uncle, aku aja yang calon istrinya belum dihubungi kok!"


Ucap Alexa sambil mengambil potongan sosis yang menggugah selera.


" Tapi aku butuh info tempat Eveline pendidikan sekarang juga Le!"


" Ini masih pagi buta uncle, kalau tahu juga uncle mau ngapain jam segini?"


Ucap Alexa sambil mencomot bakso urat didalam mangkuk.


" Dia ada pernah bilang nggak sama kamu, tempat pendidikan yang ingin dia datangi?"

__ADS_1


" Sluuuurrrpppp...! seingatku kagak pernah sih uncle!"


Ucap Alexa sambil menyeruput satu sendok mie yang harumnya sampai kemana - mana.


" Kamu buatin mie buat uncle apa buat kamu sendiri sih! dari tadi malah asyik komat - kamit makan mulu deh! sini... awas minggir!"


Joe menggeser tempat duduk Alexa dan langsung mengambil alih posisi mangkuk ditangannya.


" Hehe.. enak ternyata uncle!"


Alexa tersenyum sendiri.


" Buat lagi sana!"


" Ogah.. taku gemuk, ntar kebaya seksih aku kagak muat lagi! hehe.. aku kan mau nikah, emang uncle Joe nes lagi! werrkkk...!"


Ledek Alexa mengambil langkah seribu.


" Ngeledek lagi aku robohin toko kebayamu itu!"


Ancam Joe geram.


" Joenes.. joenes.. joenes.. uncle Joe kembali joenes! hahaha..."


Alexa berlari ketika sebuah bantal melayang ke arahnya.


Tak lama ponsel Joe berdering.


Doni kutu kupret is calling...


" Hei prett.. lama banget sih telponnya?"


Sahut Joe langsung.


" Aku baru sampai dihotel ini uncle, baru masuk kamar, ada apa? bukannya disitu masih pagi buta?"


Jawab Doni sambil merapikan kopernya.


" Eveline kemana?"


Tanya Joe tanpa basa- basi.


" Manalah kutahu, aku kan di Jepang!"


" Katakan, atau aku batalkan semua WO yang sudah aku pesan!"


Ancam Joe.


" Hehe.. apa sih uncle, pagi - pagi udah emosi aja!"


Doni cengar - cengir dibuatnya.


" Cepat katakan sejujur jujurnya! NOW..!"


Teriak Joe.


" Dia kan ikut pendidikan uncle, emang dia kagak bilang ama uncle? gimana sih? katanya pacar kok gitu?"


Ledek Doni yang belum tahu duduk permasalahnya.


" Diamlah, sekarang katakan dimana alamatnya!"


" Alamat siapa?"


Tanya Doni heran.


" Ya alamat tempat Eveline pendidikanlah, masak alamat palsunya Ayu ting ting!"


Ucap Joe geram.


" Uncle..? walaupun uncle tahu, Eveline juga tidak---"


Ucapannya terputus.


" KATAKAN SAJA.. SEKARANG JUGA!"


teriak Joe tidak peduli.


" Ribet urusannya kalau udah sama pria bucin!"


" Katakan atau----"


" Iya.. iya aku kirim alamatnya, tapi kalau uncle dianggurin jangan nangis nglesot - nglesot ya! walinya aja kagak boleh ketemu, apalagi cuma pacar!"


" APA..! CUMA KAMU BILANG..!"


" Udah ku kirim, BYE..!"


Doni langsung memutuskan sambungan telponnya, malas mendengar ocehan Joe yang sudah tidak waras.


Joe segera menyambar jacket jeans dan kunci mobilnya, dia segera berlari dan mengendarai mobil dengan kecepatan penuh, tidak peduli pagi buta sekalipun, tidak peduli capek dan lelah karena belum tidur sekalipun, Joe menekan pedal gass pollll dijalanan yang masih sepi.


Akankah dia masih bisa bertemu dengan Eveline?

__ADS_1


Akankah Eveline mau membatalkannya?


Silahkan tinggalkan jejak kalian ya 😍


__ADS_2