
...🌻🌻Happy Reading🌻🌻...
Pagi menjelang, setelah melewati malam panjang kemaren yang sangat berkesan dan tidak terlupakan sepanjang perjalanan hidupnya.
Sinar matahari menelusup celah-celah tirai kamar Bening, kamar yang telah lama dia tinggalkan.
Jarak antara rumah dengan kantor Bening memang lumayan jauh, dan karena akhir pekan di kantor sering ada lembur, Bening saat itu memutuskan untuk sewa rumah terdekat dari kantornya, dan pulang kerumah sebulan sekali saja.
Tokk..tokk..pintu kamar Bening diketuk.
"Sayang...nduk? ini sudah siang? apa kamu tidak berangkat ke kantor?"
Ucap mama Bening masih terus mengetuk pintu.
"Aaaahhh mamii.. Aku masih ngantuk"
Ucap Bening dengan mata yang masih terpejam.
"Bangun nduk, apa mau mama mandiin kamu dikasur sekarang juga?"
sungut mama Bening.
"I.. iyaa.. iyaa..."
Ucap Bening dengan malas, dulu memang pernah mami Bening sampai membawakan air satu ember dan hampir menguyurkan ke wajah Bening karena bangun kesiangan.
"Kamu ini nduk, udah kerja, masih aja bangun kesiangan!masak anak gadis molor sampe siang, bagaimana nanti kalau sudah menikah, dan mengurus kebutuhan suami pagi buta?"
Ucap mami Bening sambil menarik telinga putrinya itu.
"Iya mii.. tapi Bening hari ini nggak kerja mi, Bening mau resign saja".
Ucap Bening dengan lesu, sebenarnya dia sayang meninggalkan perkerjaan yang sudah membuatnya nyaman selama 2 tahun ini, tapi apa daya, mata nya tak kuasa untuk melihat mantan kekasih dan sahabatnya bermesraan nantinya.
"Benarkahh? alhamdulilahh.. pak.. bapak.. Putri kita akhirnya keluar dari pekerjaannya pa !".
teriak mama Bening sambil berlari keluar menemui suaminya.
Sebenarnya orang tua Bening tidak menyetujui Bening kerja disana, karena mereka jadi berjauhan, orang tua Bening lebih menginginkan agar ia terjun ke dunia kuliner, karena Bening putri semata wayangnya yang otomatis akan menjadi pewaris tunggal semua aset keluarganya.
Waktu menunjukkan pukul 12.00 siang, Bening sudah berada diparkiran mobil dikantornya, dia berencana keluar dari kantornya hari ini juga.
"Heeermmm.. Semoga Alan dan Dewi lagi keluar makan siang,aku malas melihat mereka."
ucap Bening tertunduk lesu.
Bening sengaja datang pas jam makan siang, berharap saat dia menyerahkan surat resign tidak melihat dua manusia yang sangat dibencinya saat ini.
Tok..tok....
Bening mengetuk pintu atasanya.
"Masuk".
Terdengar suara dari dalam ruangan.
"Permisi pak."
__ADS_1
ucap Bening sambil membuka pintu perlahan.
"Bening..? kenapa baru datang? jam berapa ini?"
Ujar atasan Bening.
"Maaf pak, errrm... saya kemari mau memberikan surat resign saya".
ucap Bening sambil tertunduk.
"Kenapa kamu resign? padahal saya suka kinerja kamu lho? ada apa? coba ceritakan sama bapak?".
atasan Bening cukup kecewa atas keputusan yang Bening ambil.
"Maaf pak, orang tua saya menginginkan saya meneruskan usaha kulinernya pak, jadi saya terpaksa resign pak karena saya anak satu-satunya pak".
ucap Bening.
Sebenarnya bukan itu alasan utama dia keluar dari pekerjaanya.
"Ya sudah, kalau sudah menyangkut urusan orang tua, saya bisa apa, semoga kamu sukses kedepanya".
terlihat gurat kecewa dari muka atasan Bening.
Bening adalah salah satu karyawan faforit disana, selain pandai mendapatkan nasabah, dia juga rajin dan selalu ceria, suka bercanda, menghangatkan suasana kantor juga selalu menghibur ketika banyak pekerjaan yang membuat mereka merasa jenuh.
"Terima kasih pak, kalau gitu saya permisi".
Bening segera undur diri dan ingin cepat keluar dari gedung itu.
Brakkkkk..!
Bening menabrak seseorang.
"Beninggg..?"
ucap Alan terkejut, dia memang sejak hari pertunangan itu selalu menelpon Bening, tapi hasilnya nihil, nomor Alan sudah diblokir Bening saat itu juga.
"Haaaahh...Sial..!"
Bening segera berlari menuju parkiran, dia malas berbicara dengannya.
"Bening tunggu! dengarkan dulu penjelasanku Bening!".
ditariknya tangan Bening kedalam dekapan Alan.
"Awasss.. jangan sentuh aku..!".
Didorongnya sekuat tenaga tubuh Alan menjauh, dia sudah tidak sudi berdekatan dengan makluk seperti Alan yang menurutnya tidak mempunyai perasaan sama sekali, yang membuat hati Bening hancur berkeping-keping, SAKIT TAPI TAK BERDARAH.
"Bening.. Aku mohon kali ini saja, dengarkan aku, ini semua tidak seperti yang kamu kira sayang?"
Alan menelungkupkan tanganya memohon.
"Ciiiihhh.. sayang.. sayang palelu peyang !".
sungut Bening kesal, sambil bersedekap.
__ADS_1
"Bening.. tolongg sebentar saja, kita cari tempat makan didepan ya, kamu pasti belom makan kan?"
ucap Alan sambil tersenyum.
"Untuk apa? apa kamu belum puas menyakitiku?
"Bening.. kita bisa bicarakan semuanya nanti, ada suatu hal yang kamu tidak tahu"
"Apapun itu aku tidak peduli lagi!"
"Aku tahu kamu terluka, tapi aku tidak bisa berbuat apapun Bening, aku terpojok saat itu, tolong mengertilah, kamu tahu bagaimana perasaanku terhadapmu selama ini sayang?"
Ucap Alan tanpa memudarkan senyum terindahnya.
Bening tak kuasa melihat senyuman manis itu, senyuman yang dulu slalu tertuju padanya, yang selalu memperhatikanya, selalu membuat hari-harinya penuh warna, karena Alan adalah sosok lelaki yang sangat romantis setiap harinya.
"Aku beri kamu waktu 5 menit dari sekarang, aku nggak bisa lama-lama, aku sibuk !".
ucap Bening menutupi rasa sedihnya,begitu melihatnya dia langsung teringat masa-masa indah saat bersamanya.
"Hemmm.. Ayolah, kita minum sebentar disana, ada varian coklat terbaru dikafe ujung sana, kamu pasti menyukainya ?".
Senyum Alan terus menerus terbit dari bibirnya.
"Senyuman itu".
batin Bening, tanpa terasa tangannya sudah digenggam erat Alan menuju kafe sebrang.
"Kamu ingat kan? kita sering minum coklat disana?"
"Aku sangat merindukanmu Bening?"
Ucap Alan kembali.
Bening terdiam tanpa berucap sepatah kata sekalipun, pikiranya melayang kembali pada masa-masa indah bersama Alan.
Lemah..
Satu kata untuk Bening saat ini.
Semua kenangan indah bersama sang mantan menari-nari dengan asyiknya didalam benaknya, tidak bisa dipungkiri mereka sudah menjalin hubungan cukup lama, dan berkerja dalam satu ruangan, setiap hari mereka selalu bertemu bahkan setelah jam kantorpun mereka masih juga bertemu untuk sekedar melepas penat berdua, tiada hari yang terlewatkan dari sosok pria yang ada didepan matanya saat ini.
Pahit manis, canda tawa didalam hubungan mereka terlintas kembali di pikiran Bening, terlalu sulit melupakan sosok Alan dalam sekejap, tapi luka yang Alan torehkan begitu dalam, begitu sakit untuk diingat apa lagi di kenang.
Tetapi Hidup harus terus berjalan, kita tidak bisa hanya terhanyut dengan masa lalu, sedangkan diluar sana, ada sesosok pria berhati hangat yang sudah mengisi kekosongan hatinya.
Pria yang telah menyembuhkan luka hati Bening saat ini, dan selalu menemani saat-saat Bening terpuruk dari kejadian masa lalunya.
Pria yang telah dipilihnya untuk merajut masa depan yang indah untuk keluarga kecilnya nanti.
Akankah Bening mudah termakan bujuk rayu sang mantan?
Jangan lupa mohon dukungan Like, Vote, dan Koment kalian ya gaess😊
Tunggu kelanjutanya.
Terima kasih😘😘
__ADS_1