CINTA INI TAK BERSYARAT

CINTA INI TAK BERSYARAT
156. Bertahan


__ADS_3

...Happy Reading...


..." Menunggu itu sakit, jenuh dan membosankan, namun kenapa ketika aku ingin berhenti menunggumu tapi hatiku memaksaku untuk tetap memperjuangkanmu."...


Terkadang dalam banyak keterbatasan, kita harus bersabar menunggu rencana terbaik datang, sambil terus melakukan apa yang bisa dilakukan.


Begitu juga dengan Joe, keputusan Eveline sudah sangat bulat untuk menjadi abdi negara, walau Joe memohon dengan cara apapun, Eveline tetap pada pendiriannya untuk terus melanjutkan cita-citanya.


Untung saja, Eveline dinas bukan diluar kota, jadi Joe tidak perlu begitu prustasi akan jauh dari cintanya kembali.


Hari ini Eveline oper jaga, jadi dia masih bersantai ria dibalkon apartement Doni, sedangkan Doni sedang survei rumah baru bersama istri tercintah untuk melihat rumah yang lebih besar yang akan mereka tempati nantinya.


Tulilut..


Hp Eveline berbunyi.


" Ya paman?"


Ucap Eveline tersenyum jahil, entah mengapa akhir-akhir ini dia suka sekali menggoda Joe yang lagi anget-angetnya berbucin ria padanya.


" Hemmm.. panggil aja paman terus, siap-siap aja sariawan bentar lagi aku gigitin!"


Ancam Joe dengan seringai liciknya.


" Ciiih.. kagak takutt, berani-beraninya ngancem polisi? tidak sayang nyawa pak?"


Ledek Eveline makin menjadi.


" Bener-bener minta dieksekusi nie bocah! cepat turun, buka pintunya!"


Teriak Joe yang dibuat makin kesal.


" Hahaha.. bercanda kakakku sayang? atuh jangan malah-malah mulu deh!"


Eveline menirukan suara bayi yang terkesan imut kedengarannya.


" Buka yankk.. buruan, susah nie mau neken pasword!"


Tangan kanan Joe memegang satu kantong makanan dan tangan kiri memegang buket bunga besar dihiasi coklat yang sangat cantik.


Sedangkan dia telpon menggunakan hansfree bloetooth yang tertancap ditelinganya.


" Haaah? beneran kakak ada dibawah nie?"


Eveline berlari turun dari lantai atas menuju pintu utama.


Ceklek.. pintu terbuka


" Selamat atas keberhasilan kamu menjadi seorang polwan sayang?"


Senyum indah Joe terbit dengan manisnya.


" Diihh.. telat deh, harusnya dari beberapa hari yang lalu kak!"


Muka kesel cemberut, tapi kedua tangannya meraih bunga dan satu kantong yang berbau masakan sedap dan menggoda selera.


" Jadi nggak mau, sini balikin!"


Ucap Joe melotot, sambil mengekori langkah Eveline yang berjalan mendahuluinya, tidak sabar ingin melihat isi dalam kantong.


" Sluuuuurrrrrpppp.. wanginya enak banget, tau aja kakak kalau aku belom makan?"


Eveline membuka kantongnya yang ternyata adalah masakan seafood kesukaannya, ada kepiting saos tiram, lobster pedas manis, udang crispy, kerang dan jagung masak asam manis, benar-benar menggugah selera makan.


" Udah jadi polisi masih aja telat makan!"


Joe bahagia melihat kekasihnya bisa tersenyum tulus padanya.


Kekasih?


Mereka masih dibilang kekasih kan? walau Eveline tidak mengatakannya dan juga tidak menolak kasih sayang Joe, dia masih bimbang karena keadaannya dan belom yakin, namun didalam relung hatinya, sebenarnya masih penuh dengan nama Joe.


" Kakak nggak makan? kenapa cuma ngliatin doang? emang kenyang?"


Eveline yang masih sibuk mengupas lobster itu, bertanya tanpa memandang wajah Joe, dia fokus pada lobster yang dia pegang.


" Kakak makan sisanya aja nanti?"


" Loh kok sisa? ini masih banyak kak?"


" Enakan juga sisanya!"


Ucap Joe dengan wajahnya yang berubah jadi mesum.


" Owh ya?"


Mata Eveline berpindah ke mata indah Joe, penasaran dengan ucapan yang sama sekali tidak masuk akal pikirnya.


" Sisa dimulut kamu, hehe.."


" Dasar kakak Omesh! nih makan!"


Eveline menyuapkan potongan besar lobster ke mulut Joe hingga belepotan saos.


" Pelan dong yank.. kasar banget sih sama calonnya!"


Ucap Joe sambil mengunyah paksa makanan dimulutnya.


" Calon apaan!"


Eveline tersenyum mengejek.


" Kok apaaan sih yank!"


Raut wajah Joe berubah saat mendengar perkataan Eveline, moodnya yang tadi sedang up langsung anjlok dengan seketika.


" Kakk-----"


" Kakak sudah mencoba menerima semuanya sayang, kakak terima jika kamu tetap ingin melanjutkan profesimu, tapi jangan larang kakak untuk tetap nungguin kamu dan hati kamu untuk kakak!"

__ADS_1


Joe meraih kedua jemari Eveline yang belepotan saos pedas manis.


" Apa kakak serius mau nungguin dedek?"


ucapan Eveline tulus dari dalam hatinya.


" Tentu.. sampai kapanpun itu, kakak akan nungguin kamu sayang?"


Eveline tersenyum bahagia, hatinya benar-benar berdesir saat melihat ketulusan hati Joe, keputusannya menerima kembali pria ini adalah keputusan yang tepat.


" Tapi jangan salahin kakak yaa? kalau nanti kamu kelamaan trus calon suami kamu udah tua? jangan coba-coba cari yang lain tauk! atau aku eksekusi kamu ditempat!"


Wajah Joe berubah menjadi sok serius, padahal hatinya berbunga-bunga karena sepertinya Eveline sudah membuka hatinya kembali hanya untuknya seorang.


" Biarin aja, makin tua makin manis kok!"


Ucap Eveline yang membuat Joe terbang melayang ke awang-awang.


" Benarkah? terima kasih sayang"


Suara Joe tiba-tiba melembut dan langsung mengecup tangan Eveline yang berbalur saos, bahkan dia sedikit menyesap rasa bumbu ditangan Eveline.


" Mangga didepan apartement maksudnya! haha.."


Seketika mata Joe langsung menjeling ke arahnya, dan menghempaskan kedua tangan Eveline dengan kesal.


" Ngeselin..!"


Umpat Joe memalingkan wajahnya.


" Cieeee... udah tua ngambek?"


" Diiihhh kamu ya? dosa tahu ngeledek orang tua!"


" Cieeee... yang udah ngakuin kalau udah tua? haha.."


Joe seketika berdiri dan mengejar Eveline yang sudah berlari sambil mengambil tissu untuk mengelap kedua tangannya.


" Awassss yaa!"


Dalam satu tarikan Joe berhasil memeluk Eveline dari belakang dan menaruh kepalanya dipundak Eveline.


" Kamu udah maafin kakak dengan tuluskan?"


Tanya Joe lembut dan mendapat balasan anggukan kepala dari Eveline.


" Kamu terima kakak kembali dihatimu kan?"


" Heemm."


" Masih sayang kan sama kakak?"


Joe memeluk sambil mengoyang-ngoyangkan tubuh Eveline dengan gemas.


" Hemm."


" Apaan ham-hem aja dari tadi sih, jawab yang bener dong dedek?"


" Iya masih."


Eveline menggelengkan kepalanya malu sendiri, sudah beberapa bulan dia bergelut dengan suara bariton, pendidikan yang keras, jauh dari kata cinta-cintaan, sehingga dia menjadi sedikit kaku berucap mesra.


" Cintamu masih buat kakak seorang kan?"


" iya dong, pastinya kakakku tersayang."


Eveline mengarahkan wajahnya menatap mata Joe yang sudah berkaca-kaca itu, bahkan hampir meneteskan air mata bahagianya.


Biarlah orang bilang dia melow, yang pasti hatinya benar-benar bahagia saat ini, akhirnya Eveline benar-benar tulus menerimanya kembali.


" Kalu begitu kamu nginep dirumah Alexa ya malam ini?"


Ucap Joe teringat sesuatu.


" Ngapain? orang aa sama teteh aja lihat rumah baru mereka kok?"


Tanya Eveline heran.


" Kamu akan tahu nanti, yuk berangkat sekarang!"


Ternyata sampai disana kakak dan kakak iparnya sudah standby mempersiapkan pesta kecil-kecilan ditaman belakang rumahnya.


" Ada acara apa sih teh? kok aku nggak tahu?"


Tanya Eveline mendekati kakak iparnya.


" Makan-makan aja dek, besok kita kan udah pindah kerumah yang baru, jadi mama pengen malam ini kita makan bareng dirumah, sambil barbequan."


Jelas Alexa sambil menata satu plastik daging dan sosis jumbo berbagai varian.


" Kirain aku ketinggalan gosip terkini? hehe.."


Dan acara malam itu pun berlangsung dengan meriah, gelak tawa serta gunjingan buat pengantin baru yang hampir seminggu ini belum merasakan nikmatnya malam pertama, menjadi bahan gunjingan utama malam ini.


Hingga acara berakhir tangan Eveline tidak lepas dari genggaman tangan Joe, seperti takut kehilangan, seperti nyaman yang teramat sangat saat dia menggengam tangan hangat itu.


Hampir pertengahan malam, Alexa dan Doni sudah masuk kamar dan segera merebahkan badannya.


" Yank.. kayaknya udah seminggu deh, udah selesai belom sih?"


Kepala Doni sudah mencari kehangatan diceruk leher jenjang Alexa.


" Kenapa emangnya?"


Ledek Alexa dengan senyum jahil.


" Kasian tau yank sidedek udah puasa lama banget! coba dicek deh yank? udah selesai apa belom?


" Udah."

__ADS_1


Doni terdiam sejenak, mencerna kata udah, yang berarti malam ini dia akan resmi melepas lajangnya dengan sah.


" Benarkah? kamu nggak ngeprank abang lagi kan?"


Mulut masih bertanya tapi tangan sudah bergerilya melepas satu persatu kain yang membalut tubuh seksi istrinya itu.


" Diiih.. abang kagak sabaran banget deh! pemanasan dulu kali bang, melepuh entar..!"


Ucap Alexa membayangkan yang tidak-tidak karena Doni sudah sibuk melepas celana jeans Alexa.


" Bentar yank!"


Saat celana terlepas dari tempatnya, Doni mengintip isi didalamnya.


" Okeyy.. siap gasss, landasan kita sudah siap menerima serangan umum!"


Doni kembali menyambar bibir istrinya dan memulai acara pemanasannya malam ini.


Sedangkan diluar kamar mereka Eveline maju-mundur, ragu ingin mengetuk pintu atau tidak, Joe yang kamarnya bersebelahan dengan kamar mereka saat ingin turun mengambil air minum terkejut melihat Eveline didepan kamar kakaknya.


" Yank.. kamu ngapain disitu?"


Bisik Joe terheran melihat wajah gelisah Eveline.


" Kak.. panggilin teh Alexa dong?"


Eveline menarik lengan Joe dengan wajah prustasi.


" Kenapa emangnya? ada apa?"


" Buruan kak, ini penting dan mendadak!"


Eveline merengek seperti anak kecil.


" Iya, tapi kenapa sayang? cerita sama kakak dong?"


Joe membelai rambut pendek Eveline.


" Aku.. aku.. aku mau minta roti sama teh Alexa?"


Eveline ragu mengatakannya.


" Pffftttt... sayang.. sayang.. kamu ini bikin gemes aja, kalau mau roti ya ke dapur dong sayang? mau roti apa? biar kakak buatin? kamu lapar ya?"


Joe mencubit gemas pipi gemoy kesayangannya.


" Haisss... bukan roti itu kak?"


Eveline menggaruk kepalanya sendiri, malu menjelaskan yang sebenarnya.


" Jadi roti apa sayang? mau roti bakar? ya ayok.. kakak buatin dibawah? ngapain harus cari Ale? kekasihmu juga pandai kalau cuma buat roti bakar aja sayang?"


Joe kembali tersenyum dengan manisnya.


" Pem- ba- lut kakak, pembalutt..! kakak tersezeng, bisa buatin buat dedek haa?"


Eveline yang beberapa bulan didik dengan keras dengan to the point dan tanpa basa - basi lagi langsung ke intinya.


" HAAAAH? hehe.. kirain roti yang itu, hehe.. maaf deh, tapi ini udah malem yank, bisa disuruh besok aja kagak keluarnya?"


Dengan gilanya kata-kata itu meluncur dari bibir seksi Joe.


" Diihhh kakak, mana bisa gitu? udah keluar ini, gimana kalau banjir!"


" Haiiissshh..." Joe sudah membayangkan apa yang tidak semestinya. " Aaah.. tapi kakak takut ganggu yank, kalau mereka lagu on fire gimana?"


Joe ikut gelisah sendiri.


" On fire apaan sih kak?"


" Lagi setengah kopling gituh, nangung-nangungnya, ngerti nggak sih yank?"


" Tapi ini urgent kak, tengah malam mana ada warung buka, mau ke toko yang dua puluh empat jam kejauhan, takut melebar kemana-mana kak!"


" Haissss...coba kita periksa dulu, mereka sedang perang atau kagak?"


" Perang apaan malem-malem gini kakak mah!"


Ucap Eveline protes namun dia mengikuti langkah Joe yang mendekatkan telinganya dibalik pintu kamar Doni dan Alexa.


" Kamu dengar kagak?"


Tanya Joe memasang telinga dengan baik.


" Iya, kayak ada--------"


" Arghhhhh... Awwwwww.. shit!"


Terdengar suara teriakan Doni.


" E.. busyeeeeet, aku nggak salah denger kan kak? kok yang teriak aa Doni bukan teh Ale? harusnya yang kesakitan bukanya teh Alexa ya?"


Eveline berbisik sambil memegang lengannya yang tiba-tiba merinding.


" Diihh.. diam-diam ganas juga Alexa ternyata? ngeri kakak jadinya! besok kamu jangan ganas-ganas ya yank? slowly aja ya yank, kalem gitu kan enak, sambil dinikmati gituh, hehe.."


Joe malah memikirkan yang lain.


" Diih.. apaan sih kakak, kenapa mikirnya sampai kesitu?"


" Kamu nggak dengar Doni menjerit kesakitan? itu baru Alexa, gimana kalau kamu yang seorang polisi ini? wuaaaahhh bisa-bisa kakak------"


Ceklek..


Pintu terbuka dengan sempurna disaat sepasang kekasih itu masih beradu argumen didepan pintu.


Apa yang terjadi?


Apa hayoo?

__ADS_1


Jangan lupa secangkir kopi dan bunganya buat othor ya?


__ADS_2