CINTA INI TAK BERSYARAT

CINTA INI TAK BERSYARAT
147. Dibatas kota ini


__ADS_3

...🍂🍂 HAPPY READING 🍂🍂...


..." Tangisan adalah cara mata berbicara ketika mulut terbungkam, tak sanggup menjelaskan seberapa hancurnya hati ini "...


Eveline berjalan kaki menyusuri jalan setapak disebuah taman, dia sedih, hatinya terluka, kecewa lebih tepatnya.


Sampai selarut ini Joe sama sekali belom ada kabar, jangankan menelpon, pesan pun tak ada yang masuk di Handphone Eveline.


" Apapun alasanmu kak, seharusnya kamu sedikit memberiku penjelasan, setidaknya berilah kabar bahwa dia bukan siapa - siapa, hiks.. hiks.."


ucap Eveline sambil menangis lirih.


Eveline menangis dikegelapan malam, disaksikan pancaran sinar rembulan yang sedikit redup karena tertutup awan gelap, seakan ikut kecewa bersama dengan bayangan Eveline.


Akhirnya, Eveline bergegas pulang setelah beberapa saat memikirkan sesuatu yang terlintas di angan - angannya.


Sesampainya di apartement, dia segera mengeluarkan tas ranselnya, dimasukkannya beberapa celana training dan kaos hitam koleksinya, dan tidak lupa memasukkan semua data dan syarat lengkap mengikuti Akademi Kepolisian.


Malam ini Eveline bertekad untuk mengejar cita - citanya sebagai Abdi Negara.


Tulilut..


Eveline menyambar smartphonenya, dia menyangka bahwa itu adalah telpon dari orang yang dia tunggu - tunggu sedari tadi.


Ternyata?


aa' Doni is calling...


" Hallo.. kak, ada apa?"


jawab Eveline dengan nada lesu, ternyata dugaannya salah.


" Dek.. aa malam ini harus pergi ke Jepang, ada sedikit masalah perusahaan disana, dan aa harus menyelesaikannya."


Jelas Doni.


" Harus malam ini juga kah a'?"


Tanya Eveline makin sedih.


" Iya dek, sekarang aa sudah dibandara, ini sangat mendesak dek, dan harus aa yang menyelesaikannya, karena perusahaan itu atas nama aa, perusahaan yang diwariskan oleh kakek dari keluarga Herlambang."


" Hemm.. begitu ya? kaya dong aa sekarang?"


Ucap Eveline tanpa basa basi.


" Harta benda di dunia ini, semua hanya titipan yang di Atas, jangan terlalu memikirkannya, apa yang perlu kita banggakan? yang penting kita tidak kelaparan, dan tetap bisa membatu orang yang memerlukan."


Petuah dari seorang Doni mendarat dengan indahnya.


" Aku tahu..Harta bukan segalanya tapi nggak punya harta juga sengsara kan kak? hehe.."


Walau hatinya perih, kalau berbicara dengan kakaknya pasti terselip gurauan diantara mereka.


" Dasar bocah.. !"


" Emm.. owh ya a' , aku memutuskan untuk mengikuti Akademi Kepolisian aja kak."


Ucap Eveline masih ragu.


" Owh ya? apa uncle Joe tidak apa - apa?"


Tanya Doni heran, kemarin bilang demi cinta sekarang lain pula ceritanya.


" Setelah aku pergi semua pasti akan baik - baik saja, seperti biasanya!"


Ucap Eveline sedih mendengar nama lelaki yang sudah mengisi setiap relung hatinya itu.


" Tapi? bukannya kemarin kamu bilang mau kuliah saja?"


" Emmm.. sepertinya aku berubah pikiran a', selagi masih banyak waktu, apa salahnya aku mengejar cita - citaku dulu, toh kalau sudah jodoh tidak akan kemana dan kalau tidak jodoh, mau kita pegang erat setiap saat juga pasti berpisah, capek jagain jodoh orang saja!"


Eveline sudah mantap mengambil keputusan kali ini.


" Adek aa ternyata sudah dewasa, apapun keputusan yang terbaik untukmu, aa selalu akan mendukungmu, kejarlah cita - citamu walau sampai negri China."


" Ngapain jauh - jauh ke China aa, paling cuma luar kota aja kok!"


" Itu pepatah dodol.. astaga, kurang - kurangilah produksi dodolmu, kamu calon abdi negara, jangan malu - maluin deh!"


Ledek Doni.


" Hehe.. siap komandan!"


akhirnya senyum Eveline terbit tatkala mendengar ejekan kakaknya.


" Owh ya, ambil kartu Atm di laci lemari aa, gunakan untuk biaya keperluanmu disana."


" Yeeeaayy.. makasih a'?"


Eveline langsung sumringah.


" Gunakan sesuai kebutuhanmu, jangan biasakan hidup berfoya - foya tauk!"


Pesan Doni.

__ADS_1


" Aa kira aku mau ngemall apa? pendidikan ini aa? digembleng habis - habisan nanti adekmu yang cantik ini!"


" Jadi item dong nanti, haha.."


Ledek Doni.


" Biar item tetep menawan hati, haha"


" Yawda, Aa udah mau masuk pesawat ini, jaga diri baik - baik ya, jaga kesehatan, jangan lupa minum vitamin okey, aa sayang kamu!"


" Siap aa', terima kasih, sampai jumpa beberapa bulan lagi."


" Okey, jaga dirimu ya"


" Bye.."


Eveline melangkahkan kakinya keluar dari apartement dengan ransel dipunggungnya.


Dia menghentikan taksi dan pergi meninggalkan semua kenangan pahit dan manis akan cintanya.


Sedangkan dirumah sakit Joe masih mondar- mandir didepan ruang IGD.


" Kenapa lama sekali dokternya tidak keluar - keluar! apa yang mereka lakukan?"


" Eveline..? aaahh.. gemoyku! astaga mana handphoneku?"


Joe mondar mandir sambil komat - kamit sendiri.


" Aaaaah sialll.. handphone ku tertinggal dimeja meeting! aaah.. Eveline pasti salah paham! ini mana lagi Dokternya? kenapa lama sekali, shiiitttt.."


Umpat Joe prustasi sambil menjambak rambutnya sambil terus mondar - mandir kayak setrika.




Disaat melewati kafe yang dulu pernah dia datangi bersama Joe, Eveline menghentikan taksi dan berencana makan terlebih dulu, karena sedari tadi siang dia belom mengisi perutnya.



*Aaahh... sakit hati juga butuh tenaga yang ekstra ya kan? makan dulu lah, biar kuat menghadapi kenyataan pahit*.



Eveline duduk ditempat yang sama seperti saat itu.



Dan saat menunggu pesanannya datang, seseorang diatas panggung menawarkannya untuk bernyanyi, karena terlihat Eveline sangat menikmati lagu - lagu yang mereka nyanyikan, dan disana dia cuma sendiri.




Diambilnya Handphone disaku celananya, dia buka akaun sosmednya, dan dia mulai live di IG nya, untuk mengabadikan moment sebelum keberangkatannya.



" Lagu ini aku nyanyikan khusus untuk kakak yang jauh disana, maaf aku harus pergi untuk mengejar kembali cita - citaku, lupakan aku, dan tetaplah tersenyum seperti biasanya juga-----"



Eveline menjeda ucapannya, tanpa terasa mengalir butiran - butiran air mata dipipi mulusnya, mengenang sosok Joe yang membuatnya bahagia walau pada akhirnya dia harus kecewa.



" Aku.. aku sayang kakak."


Akhirnya terlontar ucapan manis dari bibir Eveline.



Terdengar suara tepukan gemuruh penyemangat untuk Eveline.



♡♡♡



Di sini, di batas kota ini


Ingin kutuliskan surat untukmu


Biar engkau mengerti


Perjalanan hidupku


Di dalam menggapai cita-cita



Rintangan yang datang silih berganti


Pedih perih mencekam menyusupi

__ADS_1


Aku mengharap s'lalu doa suci darimu


Duhai kasih tambatan hatiku



Kukenang lagi saat menjelang perpisahan


Kau menangis di pangkuanku


Begitu tulus akan cinta kasihku


Semakin pilu aku mengenangmu



Mungkinkah kau masih mengharapkanku?


Kini tubuhku penuh dengan luka


Gagal dan gagal lagi


Apa yang aku cari


Tangis pedih tersimpan dalam hati



Rintangan yang datang silih berganti


Pedih perih mencekam menyusupi


Aku mengharap s'lalu doa suci darimu


Duhai kasih tambatan hatiku



Kukenang lagi saat menjelang perpisahan


Kau menangis di pangkuanku


Begitu tulus akan cinta kasihku


Semakin pilu aku mengenangmu



Mungkinkah kau masih mengharapkanku?


Kini tubuhku penuh dengan luka


Gagal dan gagal lagi


Apa yang aku cari


Tangis pedih tersimpan dalam hati



♡♡♡



Suara gemuruh tepuk tangan kembali terdengar tatkala mendengar suara Eveline yang sangat merdu, mengalun indah dengan diiringi suara biola menambah kesan syahdu dimalam itu.



" Permisi nona, ini hidangan nona, dan untuk malam ini pesanan nona semua gratis, owner kita sangat berterima kasih dengan anda, suara anda benar - bemar bagus dan menghibur kita semua."


ucap Pelayan restoran tadi dengan sopan.



Eveline menoleh dimeja tempat owner tadi duduk, terlihat senyum manis terbit dari wajah tampan pemilik kafe tersebut.



Dan Eveline membungkukkan badannya sambil membalas senyuman manis itu, sebelum menikmati hidangan spesial gretongan yang begitu menggoda selera.



Semangat pejuang patah hati...!



Teruslah melangkah, masa depan yang cerah sudah menunggumu Eveline.



Go.. go.. go.. Asemmmanngattttttt..!



Jangan lupa like, vote dan komen kalian ya sayang😘

__ADS_1


__ADS_2