CINTA INI TAK BERSYARAT

CINTA INI TAK BERSYARAT
158. Akhir sebuah perjuangan (END)


__ADS_3

...Happy Reading...


❤🧡❤🧡🧡❤🧡❤🧡❤🧡❤🧡❤🧡❤🧡❤


..."Jadilah seperti bebek, mendayung dan bekerja keras di dalam air, tetapi yang dilihat semua orang adalah wajah yang tersenyum dan tenang."...


Jika kamu berpikir untuk bangkit, bisa jadi kamu akan lebih dalam mengenal yang namanya perjuangan, tidak selamanya penderitaan akan berujung kesedihan, namun perjuangan bukan sekedar berkorban jiwa atau raga, lebih dari itu, kamu harus rela mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran sendiri untuk keluar dari masalah yang selama ini menghantuimu.


Disinilah salah satu perjuangan seorang wanita dipertaruhkan, segenap jiwa raga dia persiapkan untuk kelahiran sang buah hati.


Bening sudah berada diruangan bersalin bersama Vian, setelah Doni berhasil memenangkan lomba balap mobil dengan pengendara umum lainnya, walaupun dia tidak pernah bercita-cita menjadi pembalap mobil, tapi malam ini dia bahkan mungkin lebih handal dari pembalap kita Rio Harianto, entah karena posisi jabatannya dipertaruhkan atau karena kegagalannya dalam unboxing istri tercinta.


" Apa anda yang bernama Doni Setyawan?"


Tanya salah satu perawat yang keluar dari ruang bersalin.


" Ya.. saya sendiri, apa nona Bening sudah berhasil?"


Doni langsung beranjak mendekat dengan wajah tegang penuh tanya.


" Berhasil?"


Tanya perawat itu sambil tersenyum.


" Aah.. maksud saya, apa bayinya sudah lahir? cowok apa cewek sus?"


Doni ikut tersenyum kikuk sendiri.


" Belom.. sebaiknya anda masuk terlebih dahulu, pasien memanggil anda sekarang, mari silahkan masuk untuk menemani nona melahirkan."


Perawat itu menunjukkan jalan kebenaran untuk Doni.


Haah? kenapa belom lahir? kenapa harus aku yang menemani? bukannya tuan muda sudah didalam menemani?


Walau dengan wajah penuh ragu, Doni tetap mengikuti langkah perawat itu sampai dia melihat sesosok lelaki yang tengah duduk nglesot dilantai tepat disamping Bening yang sedang mengatur nafasnya yang tersengal dengan didampingi dokter dan dua perawat lainnya.


" Tuan muda? apa yang terjadi? kenapa duduk disini?"


Doni dengan segera berlari mendekat dan segera membantu Vian berdiri.


" Don.. suruh keluar saja bosmu itu, dia memecahkan konsentrasiku dalam mengejan, setiap kali melihat wajahnya, tenagaku jadi hilang, padahal perutku sudah mulas sekali.. aargghh.."


Bening berbicara dengan kesal sambil menahan rasa sakit diperutnya yang sudah kembali kontraksi.


" Tapi yank.. aku tidak mau melewatkan moment ini?"


Vian mendekati wajah istrinya yang sudah berkeringat, dia tidak tega melihat istrinya kesakitan, saat Bening menjerit sambil mengejan, disitulah Vian lebih panik dan histeris, dan itulah yang membuat Bening prustasi sedari tadi.


" Yank.. keluarlah, aku sudah tidak tahan lagi ini!"


Bening mengibaskan tangannya ke arah Vian dengan wajah kesal.


" Tuan muda, mari kita keluar saja, biar persalinannya cepat selesai."


Doni ingin memapah bosnya keluar ruangan.


" Kamu tetap disini Don! aarggghhh.."


Teriak Bening.


" Haaaah?"


Doni terkejut sendiri mendengar permintaan wanita yang sedang bertaruh nyawa itu.


" Yankk? aku suamimu? apa kamu lupa? kenapa Doni yang kamu suruh menemani? kenapa aku tidak boleh?"


Vian merasa tidak terima.


" Stooooppp..! sudah tidak ada waktu lagi, kepala bayi sudah kelihatan, jangan berdebat!"


Ucap Dokter itu ikut prustasi melihat aksi gila mereka.


" Tapi Dok.. aargghh.."


Bening sudah kembali mengejan saat mulas diperutnya terasa begitu mendesak.


" Tuan muda Vian anda berdiri disebelah kanan dan anda tuan, disebelah kiri saja, pegang tangan pasien segera."


Perawat itu memberikan usulan yang tepat.


Doni dan Vian sudah berdiri disisi kanan kiri Bening dengan mimik wajah yang sulit dibayangkan.


" Anda siap nona Bening? wuaaah.. beruntung sekali anda, melahirkan dengan didampingi dua pria tampan sekaligus, kita mulai.. tarik nafas...?"


Dokter tadi baru memberikan aba-aba.


" Aaarrgggghhhh..."


Jerit Bening.


" Oeeeeekkkkkk... oeeeeekkk.. oeeeekkkk..."

__ADS_1


Tangisan suara bayi kecil yang masih merah itu menggema disalah satu ruangan bersalin vvip disalah satu rumah sakit nomor satu di kota itu.


Tanpa terasa Vian meneteskan air mata bahagianya menyambut buah hati yang sangat dia nantikan itu, Doni pun terduduk lesu sambil mengusap dadanya yang terasa plong saat melihat keduanya dalam keadaan sehat walafiat.


Dilain sisi, disinilah perjuangan seorang pria mendapatkan hati seorang wanita yang sangat dia dambakan dalam hidupnya untuk sekarang dan masa depannya nanti.


Joe sudah berada disalah satu tempat mempersiapkan salah satu moment yang dia impi-impikan selama ini hingga fajar tiba.


Tulilut.. Joe menghubungi Eveline dipagi buta.


" Hallo kak? ada apa?"


Ucap Eveline lemas sambil memijat punggungnya yang terasa pegal, karena baru saja ingin pulang, malam tadi dia dapat jatah piket malam.


" Sa.. sa.. sayang.. tolong kakak."


Joe berucap lembut, seakan nyawanya sudah sampai diujung tanduk.


" Kakak? kenapa? apa yang terjadi?"


Mata Eveline langsung melotot, tangannya gemetar dengan sendirinya.


" Temui pamanmu ini dihotel XXX dengan segera, ini yang terakhir aku menyapamu sebagai pamanmu."


Tutt.. sambungan telepon berakhir dengan sepihak.


Eveline langsung berlari menuju jalan raya dan menyetop taksi seperti orang gila, rasa takut, kalut dan gelisah menggerogoti hati dan pikirannya.


Sepanjang perjalanan, dia tidak henti-hentinya meneteskan air matanya, jantungnya serasa melemah, dia tidak ingin kehilangan belahan jiwanya kali ini.


" Pak.. tolong percepat mobilnya, aku akan memberikan ongkosnya tiga kali lipat!"


Ucap Eveline gemetaran dan terus menangis, dia benar-benar takut kehilangan Joe.


" Baik mbak, silahkan pegangan yang kuat!"


Sopir taksi itu langsung menekan full gass mobilnya, karena masih pagi dan jalanan belom begitu ramai.


Sesampainya di Hotel XXX, Eveline langsung berlari ke meja resepsionist.


" Mbak.. mbak.. tolong cek kamar yang dipesan atas nama Joe, buruan mbak, dia sedang sakit!"


Eveline berkata dengan wajah panik.


" Joe? Joe Rafael? maksud anda?"


Tanya resepsionist itu ikut panik.


" Iya.. iya benar sekali, cepat katakan, dia dikamar nomor berapa?"


" Apa anda nona Eveline? kekasih pak Joe?"


Tanya resepsionist itu tak lagi panik dan berganti dengan senyuman yang terbit diwajahnya.


" Iya.. saya kekasihnya, tolong cepat katakan, dimana dia?"


Eveline merasa kesal sendiri pada resepsionisnya yang malah tersenyum melihat kepanikannya.


" Mari silahkan ikuti saya."


Ucap Salah seorang resepsionist pria disampingmya.


" Mas.. buruan, aku takut terjadi apa-apa dengan kekasihku!"


Eveline tidak sabar melihat langkah kaki pria itu yang terkesan santai disaat genting seperti ini.


" Apa anda sangat mencintai kekasih anda nona?"


Pria itu bertanya tanpa menoleh.


" Tentuu! dia separuh jiwaku, aaahh.. cepat mas!"


Ucap Eveline mendorong tubuh pria itu, merasa gemas sendiri melihatnya.


" Aah.. selamat, beruntung sekali anda!"


Resepsionist itu membukakan pintu menuju ke halaman luas taman belakang hotel yang mengarah ke danau buatan yang sangat cantik itu.


" Haah? maksudnya?"


Eveline terbengong sendiri mendengar ucapan pria itu.


" Silahkan.. kekasih anda sudah menunggu anda diluar."


Pria itu tersenyum sambil menunjuk Joe yang tengah berdiri di didepan tulisan indah yang berhiaskan lampu-lampu yang terlihat cantik dipagi hari yang masih sedikit gelap.



" Evelineeeeeeeee.. WILL YOU MARRY ME?"


Teriak Joe dari tengah-tengah taman berumput hijau dengan membawa kotak berlian ditangannya.

__ADS_1


" HAAH.. kakak?"


Lutut Eveline melemas, seakan tulang didalam tubuhnya melayang berterbangan entah kemana, dia terduduk sambil memejamkan matanya, memastikan ini bukan hanya mimpi belaka.


Antara rasa lega dan haru bercampur bahagia yang teramat sangat yang dia rasakan saat ini.


Joe berjalan mendekat, dan memapah Eveline menuju halaman Taman hotel indah itu.


" Sayang?"


Joe menatap tajam mata Eveline dengan senyum termanisnya.


" Ka.. kakak?"


Eveline masih terbengong seperti dialam mimpi.


" Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama, untuk mengatakan ini, aku butuh banyak waktu, mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi, bermunajat pada Tuhan untuk menentukan pilihan yang paling tepat, berkali-kali ku tanya pada hatiku sendiri, sudah tepatkah pilihanku? Dan berkali-kali pula jawabanku tetap sama, itu kamu WILL YOU MARRY ME?"


Joe sudah berjongkok dengan satu tumpuan kaki menghadap Eveline dengan membuka kota berlian yang dia pegang sedari tadi.


" Kak Joe?"


Air mata Eveline menetes dengan derasnya, menyadarkan dirinya bahwa ini bukan mimpi, ini nyata.


" Apa? mau kagak nie? udah sakit lutut kakak dari tadi jongkok yank?"


Joe memasang wajah sendunya.


" Kakak bikin aku takut aja!"


" Kok takut sih yank?"


" Tadi bilangnya, terakhir menyapaku! jantungku udah mau copot tauk!"


Eveline malah mencubit pipi Joe dengan gemas.


" Aww yank? sakit, kenapa pake tangan, pake bibir dong?"


Joe mengusap pipinya yang sudah kemerahan.


" Haaissshh... jangan ngomong kek gitu lagi kak!"


" Loh? benar dong, tadi terakhir kalinya aku menyapamu sebagai pamanmu, karena setelah ini aku menyapamu sebagai calon suamimu, hehe.."


Joe tersenyum dengan imutnya.


" Kakak ihhh.."


Eveline makin terisak dibuatnya.


" Terima nggak nih? Terima dong? yaa.. diterimalah, masak nggak sih? yaa kan yank?"


Joe dengan konyolnya berucap seperti itu.


" Diihh.. kakak kepedean deh!"


Eveline yang tadi terharu malah dibuat ngekek dengan tingkah Joe.


" Hemm.. yawdah deh, kakak lamar kambing Etawa samping rumah aja deh, kalau kamu nolak! dia nggak kalah cantik sama kamu!"


Joe berdiri ketika merasakan kakinya sudah kesemutan sedari tadi berjongkok.


" Diiiiihhh kakak! masak bandingin aku sama kambing Etawa sih!"


Eveline malah kesal sendiri dibuatnya, hilang sudah keromantisan yang sedari tadi dia impikan.


" Bodo amat! terima kagak nih?"


Joe seakan memaksa tanpa mau ada penolakan.


" Emmm... terima kagak ya?"


Eveline memutar-mutarkan tubuhnya sendiri dengan senyum imutnya.


" Kagak usah jawab, senyummu itu sudah mewakilkan jawaban untukku!"


Joe langsung membawa Eveline kedalam pelukannya dan memutarkan tubuhnya dengan senyum yang mengembang.


" I LOVE YOUUU GEMOYKU..! KUNTILLL KESAYANGANKU..!


Teriak Joe sambil tertawa.


" LOVE YOU TOO PAMAN GILAKU..! GENDRUWO KESAYANGANKU..! HAHAHA....."


Mereka tertawa sambil berpelukan, disaksikan matahari terbit yang ikut tersenyum menyaksikan sepasang kekasih yang sedang kasmaran dipagi yang indah itu.


...END...


I LOVE YOU juga buat sayang-sayangku semua, yang udah bersedia mampir di karyaku, terima kasih buat semua suport kalian, maafkan author jika banyak salah kata dan penulisan.


Jangan lupa mampir ke karyaku selanjutnya.

__ADS_1



Terima kasih semua😘😘


__ADS_2