
...🌿🌿 Happy Reading 🌿🌿...
..." Seperti menunggu tanpa tahu apa yang sedang ditunggu, seperti ingin pergi tanpa tahu apa yang harus ditinggalkan, berdiri di tengah kondisi yang tidak memberikan kepastian."...
Tiga jam lagi acara puncak pesta pernikahan Doni dan Alexa akan segera dimulai, ratusan tamu undangan akan memadati hotel berbintang yang sudah mereka sewakan.
Saat acara akad tadi memang sengaja diadakan dihalaman mewah Alexa, agar mereka dapat mengenang rumah mereka sebagai bukti sahnya pernikahan yang suci itu.
Sedangkan Joe masih mondar mandir melihat arah pintu utama, berharap wanita yang dia sayangi nongol menampakkan wajah cantiknya.
" Uncle..? Eveline belom datang kah?"
Alexa mendekat ke arah Joe yang terlihat gelisah.
" Entahlah adekmu itu, nyebelin banget, ini udah jam berapa? kenapa belom nongol - nongol itu bocah!"
Sungut Joe sambil terus mondar - mandir, maju mundur cantik seperti setlika.
" Heey... uncle! kenapa jadi uncle yang marah? aku yang kakak kandungnya aja santai, mungkin dia lagi ada tugas! kenapa jadi uncle yang sewot sih?"
Doni menimpali ucapan Joe yang mengumpat adeknya.
" Kamu nggak lihat? udah jam berapa ini? belom lagi nanti harus dirias juga kan? masak telat diacara kakaknya sendiri."
Joe sibuk memandangi arloji termahal yang dia punya.
" Uncle.. sudahlah, nanti juga pasti dia datang, uncle coba bantu cek catering dibawah dong? takut ada yang kurang gitu? aku udah mau dirias ini."
Alexa menengahi perdebatan diantara dua pria tampan kesayangannya.
" Aah.. Malas, kan ada Mbak yang handel masalah catering!"
Joe akhirnya mendudukkan tubuhnya sambil membuka gadjet mencoba menghubungi nomor Eveline.
" Owh... uncle Joe! kamu lupa siapa aku?"
Teriak Doni kesal dengan jawaban yang dia dengar.
" Kutu kupretlah.. siapa lagi?"
Joe menjawab dengan santai tanpa menoleh kearah Doni yang tanduknya sudah siaga satu.
" Heeeii.. aku wali sah Eveline tau..! kalau sampai ada kesalahan nanti diresepsi kami, jangan harap restu dariku akan uncle dapatkan!"
Doni punya senjata ampuh untuk menakhlukkan seorang pria seperti Joe.
" Ciiihh.. kau mengancamku?"
Joe berdiri mendekat tidak terima.
" Iya.. kenapa?"
Doni memandang Joe tanpa rasa takut sama sekali.
" Tapi aku paman Alexa, disini posisinya aku yang lebih tua dari kalian? ingat ituh!"
Joe tersenyum licik, merasa menang dengan perdebatan sengit itu.
" Tapi tanpa restuku, uncle tidak akan pernah bisa menikahi adekku, karena aku wali sahnya! jadi TUA aja bangga, werrkk.."
Doni menjulurkan lidahnya ikut tidak terima.
" Aaaahhh... Stop! sudahlah, bubar.. bubar..!"
Alexa menutup kupingnya sendiri, males mendengar ocehan kagak jelas seperti itu.
" Ckkk.. mending gue kebawah aja, siapa tahu pujaan hatiku sudah ada dibawah!"
Joe melenggangkan kaki jenjangnya keluar kamar mereka.
" Heeeiii... siapa yang kamu maksud dengan pujaan hatimu itu! ciiih.. dasar uncle gendeng!"
Doni berteriak kesal walaupun Joe tidak menanggapinya.
Setelah berkeliling dibawah, Joe sama sekali tidak menemukan roman - roman kedatangan Eveline, akhirnya dengan cepat kilat dia berlari menuju parkiran dan mengemudikannya dengan kecepatan maksimal.
Kemanakah Joe pergi?
Didalam asrama, Eveline dan teman - teman satu angkatannya sedang mengemasi barang mereka, karena besok mereka akan mulai Dinas ditempat lain.
Tiba - tiba seorang komandan memerintahkan mereka untuk berkumpul dengan tiba - tiba.
Terlihat seorang pria tampan dengan baju seragamnya yang terlihat penuh simbol dipundak dan lengannya, menandakan jabatan tinggi darinya.
Dia mengamati setiap wajah pasukan yang berjajar menghadap dirinya.
" Kamu..! nama kamu siapa?"
Suara bariton itu menggema didalam ruangan.
" Siap.. nama saya Eveline."
Eveline dengan tegas dan lugas memperkenalkan dirinya dengan hormat.
" Maju ke depan!"
Titahnya kembali, dan Eveline pun mematuhinya.
__ADS_1
" Siapa diantara kalian, yang nilai menembak kemarin paling tinggi."
Hening.. tidak ada yang berani menjawab.
" Siap ndan.. ! yang mendapatkan nilai tertinggi Eveline ndan!"
Ucap salah satu komandan yang mengetahuinya.
" Eveline? kamu juga?"
Senyum manis terbit dari wajah lelaki yang terlihat awet muda bernama, KomJenPol ( komisaris jendral polisi ) Kevin Wira Atmaja itu.
" Siap komandan!"
Eveline menunduk hormat.
Pas.. sudah cantik, bentuk tubuhnya proporsional, dan yang penting pintar membidik, itulah yang saya butuhkan saat ini.
Kevin tersenyum dengan pilihannya, cantik adalah syarat utama untuk memancing targetnya kali ini, dan wajah Eveline memang paling menonjol diantara mereka, itu sebabnya dia memilihnya saat pertama melihat tadi, tidak disangka, ternyata dia juga penembak jitu yang hasilnya hampir semua tembakan saat latihan kemarin tepat sasaran.
" Lima belas menit waktumu untuk berkemas, kamu ada tugas perdana malam ini, dan ini senjatamu!"
Kevin menyerahkan sebuah paperbag yang sedari tadi dia bawa.
" Siap.. terimakasih pak!"
Sudah tanggung jawab mereka menerima tugas dari atasan mereka kapanpun dan dimanapun.
Saat Eveline membuka sebuah paperbag yang diterimanya, matanya mendelik hampir tidak percaya.
" Maaf pak? apa ini senjatanya?"
Eveline merasa tidak yakin.
" Yaa.. itu senjata utamamu, gunakan itu, jangan lupa bersolek, buat seanggun mungkin, karna itu syarat utama kita untuk menangkap target kita malam ini, waktumu tinggal dua belas menit, segeralah berkemas, saya tunggu didepan!"
Ucap Kevin tegas dan segera berlalu.
Dengan cepat kilat Eveline mengganti pakaian dengan gaun seksi itu, ternyata ada satu pistol dibawah gaun itu, dia segera menyelipkan pistolnya dipaha kanan yang berbalut kain panjang terbelah disamping.
Disebuah restoran berbintang lima, Eveline yang berbalut gaun seksi itu sedang duduk dengan anggunnya menunggu target datang.
Pada saat itu juga Joe sampai di asrama Eveline, dengan buru-buru dia segera keluar dari mobil, pucuk dicinta ulam pun tiba, saat Joe bingung harus bagaimana dia mencari Eveline, ternyata Siska dan dua teman lainnya sedang ingin keluar asrama.
" Haii.."
Sapa Joe dia lupa namanya namun masih ingat dengan jelas wajahnya.
" Om caem?"
Siska yang mendapat gelar sebagai polwan genit langsung menampilkan senyum termanisnya.
Tanya Joe tanpa basa basi.
" Owh.. dia sedang ada tugas dadakan."
Ucap salah seorang teman yang lainnya.
" Tugas dadakan? dimana?"
Tanya Joe heran, kenapa baru selesai pendidikan tahap pertama langsung dapat tugas, sedangkan teman satu angkatan lainya tidak.
" Kalau tempatnya kami kurang tahu, tadi dia berangkat bersama komandan dan komjenpol kami, emang kenapa om?"
Tanya Siska heran.
" Aaahh.. tidak papa, kalau begitu saya pamit dulu, permisi!"
Joe langsung balik kanan dengan segera.
Joe masih tidak habis pikir, kenapa hanya Eveline yang mendapat tugas, apalagi disaat ada acara penting kakaknya sendiri, yang tidak mungkin bisa terulang karena hanya sekali seumur hidup.
" Kenapa dia bersikeras dengan cita - citanya sebagai polisi? tinggal jadi Nyonya Joe saja apa susahnya? mau kemana ayok? mau beli apa tinggal gesek? kenapa dia senang sekali bermain - main dengan pistol, dia kan cewek?"
Joe masih uring- uringan sendiri didalam mobil, sampai tekaknya terasa haus, diliriknya tukang jualan minuman tidak ada dikawasan itu, saat melihat sebuah hotel mewah, Joe membelokkan mobil mewahnya.
Dengan langkah gontai dia berjalan masuk hotel menuju ke Restoran untuk sekedar minum jus untuk menghilangkan rasa dahaganya.
Saat dia ingin menarik kursi, ekor matanya menagkap seseorang yang sangat dia kenali.
" Evelineeee..?"
Ucap Joe meyakinkan pandangannya, karena malam ini dia terlihat begitu cantik dan seksi.
" Katanya dia tugas, kenapa malah nongkrong disini!"
Umpat Joe melangkahkan kaki mendekati meja Eveline.
Baru dua langkah dia berjalan, tiba - tiba kakinya terhenti saat melihat seorang pria kekar dan bertato duduk tersenyum nakal didepan Eveline.
" Hai sayang? ternyata kamu lebih cantik aslinya daripada difoto ya?"
Ucap Laki-laki itu mencolek dagu tirus Eveline.
Walaupun jijik yang Eveline rasa, namun dia tetap tersenyum dengan cantiknya, ini adalah tugas pertama baginya, jadi dia tidak ingin membuat atasan mereka kecewa dengannya.
Dan saat laki-laki itu berdiri merangkul Eveline, Joe langsung berjalan cepat mendekati pria itu dengan murka.
__ADS_1
" Jangan berani-beraninya kamu menyentuh kekasihku!"
Joe langsung menarik kerah baju pria itu dengan kasar.
Eveline yang terkejut dengan kedatangan Joe hanya memejamkan matanya, merasa kesal karena rencana yang mereka susun dengan matang bisa gagal hanya karena cemburu buta seorang Joe.
" Heiii Man... what are you doing? dia wanitaku?"
Laki - laki itu menatap kesal terhadap Joe.
" Wanitaku? apa yang kamu maksud dengan wanitaku? dia kekasihku, calon istriku, asal kau tahu!"
Joe melepas kasar kerah baju pria itu dan memelototkan kedua bola matanya.
" Dan kamu? ngapain kamu disini? pake baju kurang bahan kayak gitu? kamu mau jadi wanita penggoda apa? berani - beraninya kamu mendua dibelakangku? dengan model laki kayak gini? astaga..!"
" Hei Man..! sudah aku bilang dia wanita bayaranku! jangan usik dia! dia milikku! hahahaha..."
Laki - laki itu mendekati Eveline ingin merangkulnya.
Mampus gue? apa yang harus gue lakuin sekarang? kalau kak Joe sampai menyebut aku sebagai polisi, bisa gagal semua!
Tanpa pikir panjang, Eveline langsung mundur kearah laki - laki kekar bertato itu dan langsung menarik kedua tangannya kebelakang, dengan sigap dia langsung mengambil borgol yang dia selipkan dibawah meja, dia melakukan dengan rapi tanpa perlawanan, karena pria tadi sedang lengah dan sedang berdebat dengan Joe.
Kevin beserta dua anggota intelnya langsung berlari mendekat dengan pistol ditangannya.
" Haaah..? ada apa ini?"
Joe dengan reflek mengangkat kedua tangannya ke udara, terkejut dengan apa yang dilihat didepan matanya.
" Kamu ditangkap atas tuduhan pengedar narkoba dan obat-obatan terlarang lainnya, silahkan ikuti kami ke kantor polisi!"
Jawab Kevin dengan suara tegasnya.
" Shiiittt.... siaaalllll...!"
Pria itu mendengus kesal dengan tatapan tajam ke arah Eveline.
" Fuuuuhhhh..."
Eveline menghela nafas lega, hampir saja semuanya gagal, kalau saja dia tidak bertindak cepat.
" Eveline.. kami akan kembali ke kantor, kamu bisa tetap disini menyelesaikan urusan cintamu dengan pria ini, tugas pertamamu sudah selesai."
Ucap Kevin mengedipkan satu matanya untuk mengejek Eveline.
" Siap komandan!"
Eveline dengan sigap memberikan hormat kepada atasannya.
Saat mereka sudah menjauh, Eveline langsung mendudukan tubuhnya dengan kasar dikursinya.
" Hehe.. sayanggg?"
Joe tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia malu sendiri dengan sikapnya tadi.
" Ngapain kakak disini?"
Tanya Eveline jengah.
" Jemput kamulah!"
Ucap Joe mengalihkan pandangannya.
" Kakak tahu aku sedang dalam tugas? kalau tadi sampai ketahuan gimana? bisa kacau semua!"
Unek-unek Eveline keluar dibibir manisnya.
" Hehe.. yang penting kan sudah tertangkap tadi."
Joe cengar cengir sendiri sambil menyeruput minuman Eveline.
" Kak itu minumku!"
" Minta dikitlah, haus kakak nih, habis marah-marah tadi."
" Siapa yang suruh marah- marah?"
" Kamu?"
" Kok jadi aku?"
Eveline heran sendiri.
" Habis kamu ngangenin, hehe.."
" Apaan sih, nggak jelas banget deh kakak ini!"
Cup..
Dengan kilat Joe menyambar bibir Eveline yang sedang mengerucut karena kesal, Joe paling tidak tahan melihatnya kalau sudah begitu.
" KAKAKKKKK...!"
" Apa..? mau lagi..?"
Mau dong uncle Joe? haha...
__ADS_1
Maaf yaa.. othor lagi banyak kerjaan, jadi baru bisa update..☺
Jangan lupa tinggalkan VOTE kalian ya..