CINTA INI TAK BERSYARAT

CINTA INI TAK BERSYARAT
146. SALAH PAHAM


__ADS_3

...🌿🌿 HAPPY READING 🌿🌿...


..." Kita memang tidak bisa membuat orang lain selalu sejalan dengan pikiran kita, sering kali butuh rasa sabar untuk menjelaskannya "...


Acara makan - makan ditempat Alexapun telah selesai, berbagai menu berlemak dan bersantanpun mendarat diperut dengan asyiknya, membuat tubuh merasa begah dan gerah.


Sedangkan Joe sudah meminta izin untuk membawa Eveline mencari udara segar, untuk sekedar menghilangkan keringat dan menghilangkan rasa rindu yang pastinya.


Gasss polll terus uncle Joe..!


" Mau kemana kita kak?"


Tanya Eveline penasaran, pasalnya Joe meminta izin disaat keluarga mereka sedang berbincang - bincang membahas acara sakral Doni dan Alexa.


" Kangen - kangenanlah."


Jawab Joe santai.


" Astaga kakak, kirain mau kemana? kan kagak enak ninggalin obrolan penting tadi!"


Ucap Eveline.


" Biarkan saja, kakak udah bayar WO termahal disini, kenapa harus ribet - ribet mikirin ini itu kucrut! nyantai aja lagi, serahin aja semua pada mereka, bereskan?"


Joe memang tidak pernah ambil pusing tentang itu, mending dia keluar duit banyak dari pada harus ribet.


" Diihh kakak mah, orang mau nikah memang seharusnya ikut andil didalamnya, jadi nanti ada kenangan perjuangan menikah saat tua nanti."


Protes Eveline.


" Iya sayang.. besok kalau kita nikah, kita urus segalanya berdua okey? atau.. kamu sudah mau menikah sekarang? biar kakak datang melamarmu nanti malam?"


Ucap Joe menatap Eveline intens.


Blousingggg...


" Dih.. kakak mah, ngajak nikah kayak ngajak makan di Angkringan deh?"


Ucap Eveline malu - malu.


" Kirain udah mau, kakak udah syemangatt nie?"


Joe tersenyum dengan manisnya.


" Aku kan masih ingin kuliah dulu kak.."


Eveline tersenyum sambil menahan debaran dihatinyà.


Cekiiiiiiiiittt...


Joe mengerem mobilnya mendadak.


" KAKAAAAKK.."


Eveline berteriak terkejut.


Greeeeppp...


Joe melepas sabuk pengamannya dan langsung memeluk Eveline dengan erat.


" Terima kasih gemoy ku sayang.. muaachh.. muachh.."


Joe menghujani wajah Eveline dengan ciumannya yang bertubi - tubi.


" Kakak iiih.. ngagetin aja!"


" Hehe.. habis kakak seneng banget denger kamu mau kuliah, brati ngggak jadi ikut Akpol kan?"


Joe sudah heboh sendiri.


Eveline mengganguk sambil tersenyum, ada rasa bahagia didalam hatinya, melihat orang yang dia sayangi begitu takut berpisah darinya.


Seperti ini ternyata rasanya, begitu berarti bagi orang yang kita sayangi, aku sayang kamu kakak, aku tidak akan menyesal karna telah melepaskan cita - citaku demi kamu.


" Mau kuliah dimana? biar nanti kakak temenin kamu daftar."


Joe langsung antusias memikirkan segala planning kedepannya.


" Yang deket kantor kakak aja, biar bisa nebeng kakak tiap hari, hehe.."


Ucap Eveline yang selalu ingin melihat kekasihnya setiap hari.


" Pasti dong moy.. gemoy kesayangan kakak, setiap hari kita akan berangkat bareng okey?"


Joe kembali memeluk erat Eveline.


" Udah yuk kak, kita jalan lagi, entar kira disangka lagi ngapain lagi!"


Ucap Eveline melihat sekitar.


" Emang lagi ngapa - ngapain kan?"


Ledek Joe.

__ADS_1


" Emang kita ngapain?"


Eveline malah kembali bertanya.


" Ciuman..!"


Seringai licik Joe kembali terbit.


" Mana ada, orang cuma -----"


Eveline tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena bibir ranumnya telah disambar oleh Joe dengan sangat lembut, pelan dan dihayati, namun lama kelamaan Junior Joe sudah tegak berdiri, membuatnya menekan tengkuk leher Eveline untuk memperdalam ciumannya.


Sampai - sampai..


" Uhuk.. uhuk.."


Eveline terbatuk karena ngos - ngosan menerima serangan Joe yang semakin rakus.


" Aaah.. sayang, kamu nggak papa?"


Joe melepas ciumannya sambil menepuk bahu Eveline untuk menenangkan.


" Kakak mau bunuh aku?"


Eveline mengatur nafasnya yang tersengal.


" Hehe.. maaf, keEnakan..!"


Joe menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Dasar junior jablay..! lama tidak disentuh jadi nglunjak dia, sabarr yaa.. stock sabun dirumah masih banyak, nanti kita habiskan okey?


Joe hanya tersenyum cengar - cengir melihatnya.


" Kakak haus..!"


Ucap Eveline.


" Okey kita beli minum didepan ya? apa perlu nafas buatan dulu? kayaknya kamu ngos - ngosan banget gitu?"


Ucap Joe tersenyum manis.


" Emang kakak bawa tabung oksigen apa?"


Ucap Eveline ngasal.


" Bawa dong, alami tapi? mau?"


Joe sudah memiringkan kembali kepalanya, siap melancarkan aksinya.


Ucap Eveline dengan tegas.


" Gemooyy galak!"


Ledek Joe.


" Kakak omesh!"


Balaa Eveline.


" Gemooyy tengil!"


" Kakak pe ak!"


" Kuntiill gendeng!"


" Gendruwo gilak!"


" Tapi sayang."


Ucap Joe tersenyum.


" Buaangeeetttt.."


Balas Eveline.


" Hahahaha.."


Mereka berdua tertawa bersama sambil menghabiskan malam berdua, saling ledek - ledekan, saling manja - manjaan, saling bermesra - mesraan seakan dunia milik mereka berdua.


________________________________________________


Keesokan harinya aktifitas kantor sudah kembali berjalan dengan rutinitasnya.


Siang hari ini Joe akan meeting dengan Doni dan Nay juga seluruh staf selaku pengurus proyek pembangunan hotel yang ada di Lombok, dia sudah menyiapkan segala racangan dan desain bangunan yang dia buat.


Terlihat Joe datang lebih dulu untuk mempersiapkan presentasi yang akan dia jabarkan siang ini.


Doni dan Nay juga tiga staf yang akan menggarap proyek itu juga terlihat memasuki ruangan meeting.


" Hai Uncle? apa semua sudah siap?"


Sapa Doni ketika menduduki kursi rapatnya.

__ADS_1


" Sudah dong, aku akan segera memulainya."


Ucap Joe segera menghidupkan layar proyektor didepannya.


Sekitar tiga puluh menit Joe menjelaskan segala rancangannya, dari desain interior sampai eksterior juga taman, kafe dan mall yang akan mereka bangun disekeliling hotel itu juga.


Semua merasa cukup puas dengan hasil karya Joe.


Suara gemuruh tepuk tangan dihadiahkan untuk presentasi Joe yang menakjubkan atas hasil karya rancangannya.


Sedangkan Doni meninggalkan ruang meeting buru - buru karena Vian memanggilnya untuk menemui Vian diruangannya, katanya ada sesuatu hal yang penting yang harus dia urus.


Dan Joe kembali menyelesaikan lampiran - lampiran yang dia jabarkan untuk yang lainnya.


Tiba - tiba suara telpon Nay berbunyi, dan dia mohon izin untuk mengangkatnya disudut ruangan.


Tanpa mereka sangka, Nay tiba - tiba limbung dan ambruk kelantai dengan mata berderai.


Joe yang melihatnya terlebih dahulu segera berlari mendekat.


" Nay.. kamu kenapa Nay?"


Ucap Joe sambil memegang kedua pundak Nay.


Nay hanya terdiam dengan deraian air matanya.


Joe membantu Nay untuk duduk dikursi terdekat, dan Joe berlutut didepan Nay untuk membantunya duduk tegak, karena badannya sangat lemas, juga untuk mengetahui apa yang terjadi padanya, kenapa tiba - tiba dia ambruk kelantai setelah menerima panggilan telpon.


" Nay.. ada apa? kamu bisa cerita padaku, siapa tahu aku bisa membantumu?"


Tanya Joe lembut dan tetap masih dengan posisi yang sama, berlutut sambil mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Nay yang terduduk lunglai.


" Ayah.. ayahku, ditangkap polisi, beliau diduga melakukan tindakan korupsi dan ibuku syok saat mengetahuinya.. jadi dia masuk rumah sakit sekarang, hiks..hiks.."


Tangisan Nay makin pecah setelah menceritakan unek - uneknya.


" Sabar ya Nay, nanti kita cari kebenarannya okey?"


Ucap Joe menenangkan.


" Jadi aku harus gimana pak? aku harus apa? aku harus memulainya darimana? hiks.. hiks.."


Tiba - tiba Nay memeluk Joe dengan erat, menumpahkan segala kesediahannya didada bidang Joe yang kekar dan berotot.


Disaat yang bersamaan, Eveline datang membawa kotak makanan yang dia beli, dia ingin makan siang bersama Joe.


Setelah menanyakan keberadaa Joe dengan tiga staf yang dia jumpai didepan setelah selesai meeting, Eveline berjalan dengan riang dan senyum yang mengembang sambil menenteng dua paperbag ditangannya.


Ceklek..


" Surrrrpriiizeeee...."


Teriak Eveline.


Jedeeeeerrrrrrrrrr..!


Seperti ada kilatan petir yang menyambar saat panasnya terik matahari sedang berada diatas ubun - ubun.


" Kakaakkk.."


sapa Eveline dengan suara gemetar sambil menahan sesak didada.


Seketika Joe menoleh, saat mendengar suara orang yang sangat dia sayangi itu.


" Eveline..?"


Joe terkejut bukan kepalang.


Seketika Eveline menjatuhkan kedua paperbagnya dan berlari keluar ruangan sambil menangis terisak.


" Sayaaaaanggg..!"


Teriak Joe kembali.


Dan saat Joe berdiri dan hendak berlari mengejar Eveline, tiba - tiba Nay ambruk kelantai tidak sadarkan diri.


" Nay.. astaga Nay? bangun Nay?"


Joe menepuk - nepuk pipi Nay agar dia sadar.


" Astaga.. bagaimana ini? tidak ada orang lagi disini? tapi Eveline? aaaaahhhhh siallll... aku tolong Nay dulu saja lah, nanti aku akan menjelaskan semua pada Eveline!"


Joe segera mengangkat tubuh Nay kedalam gendongannya dan membawa Nay kerumah sakit terdekat.


Eveline menangis tersedu - sedu menahan rasa sakit yang mengerogoti hatinya ketika melihat Joe memeluk wanita lain, terlebih itu Nay sekertarisnya, yang dulu pernah Joe incar dengan terang - terangan saat itu.


Dan lebih pahitnya, sudah hampir setengah jam, Joe tidak terlihat mengejarnya, atau sekedar menelpon untuk menjelaskan semuannya.


Eveline terduduk ditaman dengan perasaan kecewa..


Hatinya hancur, remuk redam, pilu dan sakit yang teramat dalam yang dia rasakan saat ini.


Waduuh piye iki?

__ADS_1


Jangan lupa, tinggalkan LIKE dan VOTE kalian ya sayang..


__ADS_2