
...🧡💛 HAPPY READING 💛🧡...
... "Ketika keduanya keras kepala maka harus ada yang mengalah, akan tetapi mengalah demi kebaikan adalah kemenangan yang sesungguhnya"...
Hari Raya pun telah telah berlalu, semua orang saling memaafkan satu sama lain, sanak saudara dan handai tolan saling berkunjung dan saling merayakan berakhirnya bulan penuh kemenangan dengan suka cita, walaupun tetap mematuhi protokol kesehatan yang telah dianjurkan.
Begitu juga keluarga besar Wilson, berbagai makanan khas lebaran sudah terhidang di meja panjang mereka, ada opor ayam, rendang daging, ketupat, lontong, gulai kambing dan masih banyak lagi.
Siang ini Doni sudah bersiap ingin mengunjungi rumah calon istrinya.
" Mau kemana a' wangi banget?"
Goda Eveline.
" Mau kerumah calon kakak iparmu, apa kamu mau ikut sekalian?"
Tanya Doni.
" Enggaklah... a----". Eveline berfikir sejenak. " A.. aku ikut deh, mau halal bihalal juga, tunggu bentar aku ganti baju dulu."
Ucap Eveline berlari kekamar sambil tersenyum bahagia.
Bertemu dengan Joe adalah moodboster baginya, jika ada kesempatan, kenapa tidak dipergunakan ya kan?
Setelah Eveline turun dengan baju gamis berhiaskan broklat berwarna lavender yang membuat gadis itu terlihat semakin cantik dan berseri, mereka segera melaju dengan kecepatan sedang kerumah tambatan hati mereka berdua.
" Dek.. ada yang belom kamu ceritakan dengan Aa?"
Ucap Doni ingin mengorek cerita adeknya.
" Apaan?"
Tanya Eveline, yang belum paham alurnya.
" Joe?"
Satu nama yang selalu Eveline rindukan.
" Ahahahaha.. apa aa sudah tahu?"
Eveline cengar - cengir sendiri.
" Apa yang aa tidak tahu tentangmu?"
Doni hanya menggelengkan kepalanya.
" Hehe.. aku udah jadian kemarin."
Eveline salah tingkah sendiri.
" Apa kamu sudah yakin dengan perasaanmu?"
" Tentu.. kak Joe orangnya baik, penyayang lagi, kayak aa, dedek selalu nyaman saat bersamannya, dan Kak Joe selalu bisa membuat aku tersenyum, itu sudah lebih dari cukup untuk meyakinkan semua a'!"
Jelas Eveline mengingat sosok kekasih barunya.
" Apa dia tahu kalau kamu akan ikut pendidikan?"
Pertanyaan inilah yang Doni sangat ingin tahu jawabannya.
" E... itu, sepertinya.."
Eveline ragu dalam menjelaskan.
" Apa Uncle Joe tidak mengijinkanmu?"
Tebak Doni.
Eveline hanya mengganguk, sambil menunduk kebawah.
" Apa kamu tidak keberatan, bukannya itu cita - cita kamu dari dulu?"
Doni mengusap lembut rambut adeknya yang nampak lesu itu.
Eveline menghela nafas panjang terdahulu sebelum memulai bicara.
__ADS_1
" Emm.. mungkin aku akan kuliah saja a', ambil jurusan bisnis, biar bisa gabung dengan aa dan kakak nantinya."
Terlihat Eveline memaksakan tersenyum, agar Doni tidak terlalu mengkhawatirkannya.
" Apa kamu yakin?"
Ucap Doni memastikan.
" Tentu saja a', aa jangan risaukan tentang itu."
Ucap Eveline tersenyum sambil memeluk lengan kiri Doni.
" Bukannya aa melarang atau tidak suka dengan hubungan kalian, tapi kamu masih muda dek, masa muda itu tidak pernah bisa tergantikan, aa cuma nggak mau kalau nanti kamu menyesal, karena untuk bisa lolos tes itu bukan hal yang mudah bukan? dan itu semua yang kamu inginkan sejak dulu? apa kamu tidak mau mempertimbangkannya?"
Doni masih mencoba meyakinkan keputusan adeknya.
" Emm.. pada akhirnya kodrat wanita nantinya juga mengurus keluarga, anak dan suaminya juga kan a'? jikalau semua bekerja, anak juga kurang kasih sayang kita, aku nggak mau anakku kelak jadi anak sapi!"
" Kok sapi?"
Doni terheran mendengar ucapan adeknya.
" Kalau kita tinggal dines mulu, minumnya disambung susu sapi terus kan? jadilah dia anak sapi, hehe.."
Eveline tertawa sendiri membayangkan seekor sapi.
" Kamu ini ada - ada saja!"
" Kak Joe memang bukan langsung melarang aku untuk ikut Akpol, tapi dari perubahan raut wajahnya dia sangat kecewa, dan seakan tidak merelakan aku pergi, bucin banget nggak sih kak Joe ku ituh, hehe..."
" Pasti dia tambah jelek!"
Ejek Doni membayangkan calon paman reseknya itu.
" Enak aja, kak Joe tetep ganteng maksimal ya kak, macho dan maskulin, hehe."
" Tapi udah tua, hahahah.."
Bahkan umur Doni masih dibawah Joe.
Eveline tidak terima.
" Ya emang, ibarat buah nie ya? kalau belom tua ya belom matang kan? hahaha.."
Doni tertawa sambil terus mengejek adeknya.
" Diiihhh.. aa nyebelin deh, biarin aja, biar tua yang penting tidak kalah ganteng dengan artis dunia! werrrkk.."
Eveline menjulurkan lidahnya merasa tidak terima.
" Heemm.. yalah tuh! emm.. apapun itu keputusanmu, aa akan selalu mendukungmu, pacaran yang sehat, jangan kebablasan, ingat seorang wanita itu harus menjaga marwah diri dan keluarga, jaga kesucianmu hanya untuk suamimu kelak, karena pacar yang sangat kita cintai sekarang belum tentu itu jodoh kita nanti, jadi jangan terlena akan kenikmatan sesaat."
Nasehat seorang kakak sebagai pengganti dari orang tuanya.
" Siaaapp kak."
Eveline tersenyum bahagia mendengarnya.
" Tapi tumben kamu jadi penurut sekarang? apalagi sama uncle Joe? kamu baru mengenalinya kan?"
" Karena begitu besar rasa cintaku kepada kak joe ku yang tampan sejagad raya itulah!"
" Ciiihhh.. pengen muntah aku dengernya!"
Doni mulai jengah mendengar ocehan adeknya.
" Kak Joe itu romantis banget tau a'! kemarin nie ya, saat pertama kencan, dia mengetuk pintu apartement, dan saat aku buka, jreeengggg.. dia berlutut sambil membawa kalung ini nih kak, so sweett banget kan kak? mana ganteng banget dia malam itu, nyeeessss hati ini rasanya!"
Eveline bercerita heboh sambil menunjukkan kalung yang dia pakai.
" Dasar bocah melankolis! baru segitu aja udah klepek - klepek!"
Doni menoyor kening Eveline.
" Emang aa bisa lebih dari itu? aku sih nggak percaya! aa kan terlahir seperti bongkahan es batu! yakin deh teh Alexa pasti sering ngedumel, ama sifat aa!"
__ADS_1
" Nggak mungkin, Alexa bukan tipe cewek yang doyan romantis - romantisan, dia aja jago taekwondo tauk!"
Doni tidak terima.
" Itu dari luar, dari dalam apa aa tahu? semua cewek ni kan? walau preman sekalipun dalam hati pasti menginginkan saat - saat romantis dan keuwuuwan bersama pasangannya, yakinlah itu!"
Ucap Eveline mendramatisir suasana.
Doni terlihat berfikir, tanpa terasa mereka sampai dipelataran rumah mewah Alexa.
Saat baru sampai didepan pintu, belum juga mengucap salam, Alexa sudah berlari saat melihat sekilas mobil Doni memasuki halaman rumahnya.
" Abaaaangggg.."
Teriak Alexa langsung memeluk Doni tanpa mempedulikan semua mata yang memandang.
" Hehe.. sayang, jangan gini, malu dilihat banyak orang."
Bisik Doni saat membalas pelukan calon istri cantiknya.
" Mbaaakkk... nikahkan saja mereka hari ini, udah nggak sabar anak mbak ini, udah kebelet kayaknya, mengotori mata suciku aja!"
Teriak Joe mengadu ke mama Alexa dan menyusul ke arah pintu karena melihat sosok kekasih kecilnya yang tersenyum diambang pintu.
" Diiihh.. syirik aja uncle ini! ayokk masuk bang, kita makan, aku udah masak banyak khusus buat abang!". Alexa langsung menarik lengan Doni dengan mesra. " Dek.. ayok masuk juga, kita makan!" ajak Alexa menoleh kearah Eveline.
" Iya teh."
Eveline berjalan malu - malu ketika melihat Joe berjalan ke arahnya.
Tubuh Joe yang kekar dan postur tubuhnya yang tinggi melebihi Eveline langsung berjalan mendekat kearahnya dengan santai sambil memasukkan kedua angannya kedalam saku celana miliknya.
Alexa sudah membawa masuk Doni ke arah meja makan mereka.
Tanpa basa - basi dan tanpa pemanasan, Joe langsung menyambar bibir Eveline sesaat didepan pintu.
" Sayang.. kangeen."
Bisik Joe setelah mendapatkan amunisinya.
" Astaga kakak, kalau dilihat orang kan malu!"
Bisik Eveline sambil clingak - clinguk ke arah dalam, takut ada yang melihat mereka.
Joe mengusap rambut Eveline dengan gemas.
" Sekali lagi moy.. gemoyku!"
Joe kembali mendaratkan ciumannya dengan sedikit menggigit gemas.
" Udaah kak, masih siang ini, tadi aja liat kak Ale meluk abang aja katanya mengotori mata suci kakak, ini lebih parah tauk!"
Hati Eveline merasakan deg - deg serrr dan langsung memukul dada Joe yang sudah tersenyum jahil itu.
" Brati nanti malam boleh dong lebih dari itu?"
Seringai licik Joe sudah terbit dengan santainya.
Marwah Eveline.. ingat marwah, ini cobaan!
" Hiiss.. kakak ini, ayok kita masuk!"
Pipi Eveline sudah memerah mendengar ocehan Joe.
Joe hanya tersenyum saja melihat kepolosan kekasihnya.
" Yawda.. ayok kita masuk, sebelum kakak memasukkan yang lainnya!"
Ucap Joe sambil merangkul bahu Eveline tanpa merasa berdosa sama sekali.
Maksud uncle Joe apaan tuh...?
Jangan gila dong? haha...
Hayooo.. mana vote buat othorr kalian ini?
__ADS_1