CINTA INI TAK BERSYARAT

CINTA INI TAK BERSYARAT
128. Kalut


__ADS_3

...πŸ‚πŸ‚ Happy Reading πŸ‚πŸ‚...


...● Jangan terlalu bergantung kepada siapapun di Dunia ini, bahkan Bayanganmu pun akan meninggalkanmu saat kamu tengah berada di Kegelapan ●...


Semenjak turun dari panggung memberikan ucapan selamat, Nay hanya duduk terdiam termenung didalam keramaian pesta, suara berisik dari kerumunan tamu undangan seakan tidak mengusik lamunannya.


Hati memang tidak bisa dipaksakan untuk bisa memilih, mana yang harus kita suka dan mana yang harus kita cinta, namun adakalanya kita tidak boleh terobsesi dengan apa yang tidak semestinya terjadi.


Joe yang sedari tadi melihat ke arah Nay dari kejauhan merasa prihatin, akankah perasaanya nanti akan berakhir seperti itu juga?


Haruskah dia menyerah saja, sebelum perasaannya semakin dalam?


Joe berjalan perlahan mendekati Nay dan duduk disebelah Nay.


" Apa kamu ingin kabur sekarang?"


Ucap Joe lembut sambil memegang tangan Nay dan membawanya kepangkuan Joe.


Nay menegakkan kepalanya dan menoleh ke arah Joe dengan tatapan kosong.


" Tunggulah sebentar lagi, aku sudah berjanji menyumbangkan suara emasku ini di hari pertunangan keponakanku, setelah ini aku akan menemani keluar dari Nerakamu ini?"


Ucap Joe sambil tersenyum kecut, mencoba sedikit membuat lelucon yang sudah pasti tidak akan ada efeknya buat Nay.


Joe melepas tautan tangannya dan berjalan ke arah sudut panggung, tempat Home band berada.


Pemasangan cincin tunangan sudah berlalu dan saatnya para tamu undangan menikmati hidangan yang telah disajikan di malam itu.


Aneka makanan dan cemilan dan juga menu takjil terhidang di sepanjang meja prasmanan.


Jreng..


Joe mulai menyetel gitar listriknya sambil duduk di kursi.


" Cek.. cek.. "


" Ketika Cinta kita tidak berbalas, tidak seharusnya kita terlalu lama larut dalam kesedihan, ada kalanya kita harus membuka hati untuk yang lain, agar kita bisa melihat apa itu sebenarnya Cinta."


Joe berucap sebelum bernyanyi sambil memandang ke arah Nay.


" Ciee.. Uncle Joe sok melankolis!"


Teriak Alexa yang masih berdiri ditengah panggung.


" Mainkan uncle, semangat biar kagak jomblo lagi!"


Doni ikut meledek Joe.


" Aku selalu mendukungmu uncle!"


Teriak Alexa.


Joe hanya tersenyum dan mengeluarkan suara indahnya.


Dia menyanyikan lagu dari Ipank yang berjudul Sakit dalam bercinta.


β™‘β™‘β™‘


Walaupun hilang kenangan ini


Larutkan senja menanti


Kau pergi tinggal sendiri


Ku nanti tak kunjung kembali


Beribu cara telah ku coba


Menggebu nohta di jiwa


Rindu ku bawa kemana


Pilunya luka di dada


Indahnya bersamamu


Terkenang sepanjang waktu


Mengingatmu aku rindu

__ADS_1


Senyummu bukanlah untukku


Sucinya intan permata


Tak sebanding tatapan matamu untukku


Indahnya kilauan mutiara


Tak sebanding kasih sayangku untukmu


Sudahlah apalah daya


Ku tergoda manis manjamu


Ku sadari direlung hati


Sungguh sakit dalam bercinta


β™‘β™‘β™‘


Suara gemuruh tepuk tangan dari para tamu undangan menggema didalam ruangan mewah itu malam ini.


Terlihat Nay menunduk dan mengusap pipi mulusnya.


Baginya lirik lagu yang dinyanyikan Joe juga menggambarkan nasib dirinya kini.


Joe turun dari panggung, kembali ke arah tempat duduk Nay dan mengulurkan tangannya.


" Ayo Tuan putri kita kabur dari istana penuh derita ini?"


Ucap Joe tersenyum.


Naysia yang sudah tidak tahan lagi berlama - lama di situ segera meraih uluran tangan Joe dan berjalan mengikutinya ke arah parkiran mobil.


Didalam perjalanan, Nay hanya membuang pandangannya ke arah luar jendela saja tanpa berkata - kata.


" Apa kita mampir dulu ke suatu tempat, untuk mencari angin segar?"


Ucap Joe memulai pembicaraan.


Nay hanya diam saja tidak menjawabnya.


Joe mencari alasan, sebenarnya dia tidak tega melihat Nay terpuruk seperti ini.


Sebesar itu kah perasaan Nay terhadap Doni?


" Terserah."


Satu kata terucap dari bibir mungil Nay dan menjadi awal dari sinyal - sinyal harapan untuk Joe.


Joe segera membelokkan Mobil mewahnya ke arah taman terdekat dari rumah Alexa.


Dibawah pancaran indahnya sinar bulan, mereka berdua duduk disebuah bangku taman, ditemani suara jangkrik yang seolah menertawakan nasib mereka berdua.


" Apa kamu butuh pinjaman bahu untuk bersandar? mumpung aku kasih gratis nih?"


Ledek Joe.


" Ciiihh.. aku tidak selemah itu!"


Jawab Nay malas.


" Pura - pura kuat dan baik - baik saja itu nyesek lho! sakitnya tuh disini."


Joe menunjuk bagian hati.


" Diamlah..."


Joe menghela nafas panjang dan tersenyum melihat kerasnya hati dan pikiran sesosok Nay, membuatnya merasa tertantang.


" Terkadang dalam hidup itu, kita harus berbesar hati melepaskan orang yang kita sayangi, bukan karena kita tidak mampu mendapatkannya, tapi karena saat dia bisa kita raih dengan cara kita, belum tentu dia bahagia bersama kita."


Perkataan Joe benar - benar menusuknya.


" Bukannya untuk mendapatkan suatu kebahagiaan, kita tidak harus mudah menyerah?"


Ucap Nay masih dalam pendiriannya.


" Terkadang kita harus mengalah bukan karena kita lemah dan kalah, melainkan kita cukup bijak dalam bersikap, agar perasaan kita tidak terbuang sia - sia."

__ADS_1


Malam ini kata hati dari Joe bermunculan dengan indahnya, ntah dapat wangsit dari mana dia.


" Apa aku salah?"


Tanya Nay.


" Tidak ada yang salah soal hati dan perasaan, tapi seharusnya kita cukup tahu diri untuk tidak memaksakan hasrat dan keinginan kita, yang mungkin bisa menjadi Bom untuk diri kita sendiri."


Ucap Joe menasehati.


" Aku hanya ingin sedikit merasakan bahagia, itu saja!"


Ucap Nay meneteskan air mata.


" Dengan merusak kebahagiaan orang lain?"


Tanya Joe sambil memandang ke arah Nay.


" Aku tidak pernah mencoba merusaknya? aku pun tidak pernah mengusik hubungan mereka!"


Ucap Nay jujur.


" Tapi kamu menyakiti diri kamu sendiri Nay?"


Joe memegang kedua pundak Nay, ingin sekali rasanya Joe menyadarkan gadis keras kepala didepannya ini, masak harus dihantamkan ke tebing atau bebatuan dulu biar dia sadar.


" Aku tidak peduli, aku hanya merasa nyaman didekatnya!"


" Itu saja?"


Ucap Joe tersenyum miring.


" Ya.."


" Lalu kalau yang didekatmu malah menjadi tidak nyaman, apakah kamu masih bersikeras untuk tetap berada didekatnya?"


" Aku.. aku..!"


" Jangan menjadi Egois Nay, kamu akan kehilangan segalanya."


Joe sudah malas berdebat dengan gadis keras kepala sepertinya.


" Kamu bawa uang cash?"


Tanya Joe.


" Untuk apa?"


Tanya Nay heran, masak iya orang kaya kagak bawa duit ya kan?


" Pulanglah naik taksi, bilang sama ayahmu, maaf aku tidak bisa menjaga putrinya yang seperti batu ini dengan baik!"


" HAAAH..!"


Nay terkejut bukan main.


Joe langsung beranjak pergi dari tempat itu meninggalkan Nay yang terbengong melihat kepergiannya.


" Haaah.. sial, kenapa aku harus tertarik dengan gadis berhati batu seperti itu."


Umpat Joe kesal.


" Aaaaaarrggghhh... kenapa aku harus bertemu dengannya!"


Joe menendang kerikil - kerikil dijalanan sambil terus mengumpat menuju ke mobil.


Pleetaaaaaakkk...


Aaawwwwww...!


Joe mematung sejenak, mencoba mencerna apa yang dia dengarkan, dia melihat disekeliling taman sepi, tetapi kenapa dia mendengar suara teriakan seorang perempuan.


" Suara siapa itu? atau mungkin Hantu penunggu taman ini? tapi bukannya ini bulan puasa, seharusnya setan - setan di ikat dan tidak gentayangan bukan?"


Bulu - bulu halus yang tumbuh dilengan Joe tiba - tiba berdiri dan angin malam berhembus sepoi - sepoi menerpa tengkuk lehernya.


Siapa dia?


Hayo.. mana like dan vote kalian?

__ADS_1


Ditunggu ya😊


__ADS_2