CINTA INI TAK BERSYARAT

CINTA INI TAK BERSYARAT
108. Harus apa dan bagaimana?


__ADS_3

...🍁🍁 HAPPY READING 🍁🍁...


🀍🀍🀍


Siang ini Doni dan Vian sedang mempersiapkan segala hal untuk memperebutkan tender besar dan bersaing dengan perusahaan - perusahaan besar lainnya.


" Don.. apa kamu sudah mempersiapkan segalanya?"


Tanya Vian sambil menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya.


" Tentu tuan muda, sebentar lagi kita akan berangkat."


Jawab Doni santai.


" Apa kamu sudah melihat perusahaan mana saja yang akan bersaing nantinya?"


" E.. saya belum sempat melihatnya, tapi dengan perusahaan manapun, saya akan selalu siap tuan muda."


" Apa kamu yakin kali ini?"


Vian sedikit mencondongkan wajahnya ke arah Doni.


" Tentu saja, memang kenapa tuan muda? apa ada sesuatu yang saya tidak tahu?"


" Hmm.. kamu akan tau nanti, e.. kali ini, kalau kamu akan mengalah demi menuju restumu, aku tidak masalah, masih banyak tender lain yang bisa kita dapatkan."


Ucap Vian santai.


" Maksudnya gimana tuan muda?"


Doni heran, tidak biasanya bosnya itu mengalah sebelum berperang mendapatkan sebongkah berlian.


" Haah.. sudahlah, aku mau makan somay dulu, suruh sekertaris kita mencari somay didekat sini aja."


Pinta Vian yang akhir -akhir ini doyan dengan jajanan gerobak itu.


" Tapi tuan muda, sebentar lagi kita harus berangkat untuk prepare semuanya disana?"


" Nggak usah terburu - buru, santai aja, telat juga nggak papa, kalau nggak boleh masuk ya kita pulang saja, ngopi - ngopi cantik di kafe langganan kita."


" Haah?"


Mulut Doni menganga, inikah bosnya yang selalu semangat dalam memenangkan tender dengan siapapun itu?


" Somay.. somay.. pake bumbu kacang banyakin cabenya!"


Teriak Vian menyadarkan lamunan Doni.


" Astaga.. baik tuan muda."


Kamu belum tahu saja, pesaing terbesar kita adalah calon mertuamu yang gila harta itu, kalau kamu sampai memenangkannya, sudah pasti kamu akan kehilangan restu untuk menikahi putrinya.


Sesampainya di salah satu gedung mewah itu, benar saja Vian dan Doni lah yang terakhir datang, para pesaing lainnya sudah prepare untuk mempersiapkan senjata untuk memenangkan pertempuran itu.


Doni dan Vian segera duduk dikursi mereka, tanpa sengaja Doni melihat pesaing didepannya.


Eng.. ing.. eng..


" Apa kamu terkejut?"


Bisik Vian melihat Doni bertatap muka saling pandang ke arah Wilson, bahkan lebih menegangkan dari pada bertatap muka dengan seorang mantan yang dulu pernah sangat kita cintai tapi ditinggal pas lagi sayang - sayangnya.


" Aah.. hehe, sedikit tuan muda."


Doni tersenyum kecut.


" Apa sebaiknya kita pulang saja, mumpung acaranya belum dimulai?"


Vian sudah menerbitkan senyum yang mengandung ejekan.


" Tidak tuan muda, nggak ada sejarahnya perusahaan kita menyerah sebelum dimulai."


" Bagus.. pertahankan semangatmu yang membara itu, tapi jangan cari aku kalau setelah ini kamu nangis darah!"


Bisik Vian dengan suara horornya.


" Tidak akan tuan muda."


Akhirnya persaingan panas pun di mulai, saat Doni memberikan presentasi cemerlangnya, mata Wilson tak lepas dari pandangan Doni, tajam dan mematikan, bak serigala lapar yang melihat makanan lezat didepannya.


Dan sesuai prediksi Doni, tender itu dimenangkan oleh perusahaan Vian.


Vian dan Doni sudah berjalan keluar meninggalkan ruang rapat itu.

__ADS_1


" Hei anak muda.."


Ucap Wilson dengan suara seraknya.


Doni dan Vian serentak menoleh kebelakang.


" Mati kau Don, aku kan sudah bilang, untuk kali ini kau boleh mengalah demi restumu, kenapa kau masih ngotot, rasakan! aku tunggu kau di mobil, siapkan mentalmu untuk kehilangan cintamu, bye!"


Vian meneruskan langkah kakinya.


" Haiiss.."


Doni mendekat dan membungkuk hormat kepada sosok gila harta itu.


" Aku ingin bicara sebentar denganmu!"


ucap Wilson dengan ekspresi datarnya.


" Baik om, mari kita minum kopi di kafe depan sana."


Ajak Doni sopan.


" Aku tidak selera minum kopi denganmu!"


" Aah.. baiklah, jadi dimana kita harus berbicara?"


Tanya Doni menahan kesalnya.


" Disini saja, apa kau kira ada tempat yang lebih bagus lagi untuk bicara denganmu, hanya seorang asisten saja, kamu sudah berlagak sok kaya dan terpandang kah?"


Ucap Wilson dengan ketus.


Ya Tuhan, dengan apa dulu engkau menciptakan manusia dihadapan hambamu ini, apa dari TANAH SENGKETA, sehingga ucapannya benar- benar panas melebihi panasnya cibiran tetangga.


Doni menghirup oksigen dengan sebanyak banyaknya untuk mencari sumber ilham yang mungkin jatuh disekelilingnya.


" Apa tujuanmu mendekati Alexa? "


Tanya Wilson langsung ke intinya.


" Karena saya sangat menyayangi putri Anda Om."


Jawab Doni perlahan.


" Maaf Om, saya tidak serendah itu."


" Cihh..omong kosong!"


" Maaf sekali Om, tapi saya masih mampu untuk menafkahi putri Anda, tanpa menggunakan harta keluarga Anda sedikitpun, saya pastikan putri anda tidak akan kekurangan apapun."


Ucap Doni yakin.


" Hahaha.. kamu punya apa?"


" Haah..saya.."


Ucapan Doni terputus.


" Walaupun putriku gagal menikah dengan Kenand, jangan pernah bermimpi sedikitpun untuk bisa menikahi Alexa, aku tidak akan pernah merestui orang sepertimu menjadi menantu keluarga Wilson."


Ancam Wilson dengan tatapan membunuhnya.


Doni hanya bisa menghela nafas panjang.


" Dan satu lagi, kalau sampai kamu nekad mendekati, bahkan masih berhubungan dengan Alexa, aku pastikan Alexa dan keluarga miskinmu akan menderita seumur hidup kalian."


Wilson berjalan meninggalkan Doni yang masih mematung ditempat.


Tulilut.. tulilut..


Hp Doni berbunyi.


" Iya tuan muda."


Jawab Doni.


" Apa kamu masih lama, istriku menyuruhku segera pulang?"


Ucap Vian setelah menerima panggilan telepon dari istri kesayangannya.


" Anda bisa pulang duluan tuan muda, saya masih ada sedikit urusan."


" Baiklah kalau begitu, jangan lupa mampir ke mini market dulu!"

__ADS_1


" Untuk apa tuan muda?"


" Beli tissu sebanyak - banyaknya, jangan sampai ingusmu meleleh kemana - mana."


Ucap Vian langsung mematikan sambungan teleponnya.


" Haiiiss.. dasar Big boss Singa! aah..bukan, singa kan ayah Alexa."


Doni segera mencari taksi untuk pulang ke apartemennya, pikirannya kacau, bayangan Alexa terluka dan tersiksa berputar disekelilingnya, ancaman Wilson benar - benar membuatnya semakin takut kehilangan Alexa.


Sesampainya dirumah, dia segera membuka bungkusan paperbagnya yang dia beli sewaktu di perjalanan pulang.


Apa itu?


Minuman setan, Doni benar - benar emosi, tidak tahu mau melampiaskan dengan siapa, akhirnya dia memutuskan melampiaskan dengan dirinya sendiri dan meminum minuman setan itu.


Hampir lima botol dia habiskan sendiri, duduk dikarpet ruang tamu.


Sedangkan dikantor Naisya kebingungan mencari Bos dan asistennya itu.


Lima panggilan ke nomor Doni tidak ada satupun yang dijawab, akhirnya setelah mengumpulkan sekarung keberanian, Naisya mendail nomor pemilik perusahaan tempat dia bekerja.


Tulilut.. tulilutt..


" Ya.. siapa ini?"


Jawab Vian keras.


" Hahh.. ma.. maaf Tuan muda, saya Naisya sekertaris pak Doni."


Jawab Naisya gemetaran.


" Kenapa kau menelponku?"


Tanya Vian heran.


" Maaf.. dari tadi saya menelpon pak Doni tapi tidak dijawabnya, sedangkan file hasil metting tadi harus segera saya kirim ke perusahaan klien kita tuan muda."


" Apa Doni belum kembali ke kantor?"


" Belum tuan muda, saya sudah menunggunya sejak tadi."


" Haah.. apa yang terjadi dengannya? apa separah itu."


Vian berbicara spontan.


" Haah? maksudnya bagaimana tuan muda?"


" Emm.. kamu coba cari dia di apartementnya, aku akan mengirimkan alamatnya."


" Baik tuan muda."


Naisya segera bergegas menuju apartement Doni setelah menerima pesan berisikan alamat itu.


Ting tong..


Ting tong..


Lama Naisya menunggu dan berdiri didepan pintu apartement Doni, saat dia akan melangkah pergi, tiba - tiba pintu terbuka.


Naisya terbengong melihat keadaan Doni yang berantakan, muka merah, mata merah, baju semrawut, jalan sempoyongan seperti tidak ada semangat hidup.


" Alexa?"


Doni yang dari tadi memikirkan Alexa, mengira Naisya adalah kekasihnya.


" Haaah? ma maaf sa.. saya bu..bukan Alexa."


Naisya terkejut bukan kepalang, saat Doni menarik tangannya dan segera menutup pintu apartemennya.


" Pak.. pak.. sa.. saya.."


Doni mengungkung tubuh Naisya dengan kedua tangan kokohnya di tembok apartemenya.


Cup


Doni mulai mencium dan memperdalam ciumannya secara membabi buta, dia beranggapan bahwa Naisya adalah kekasihnya yang mungkin tidak akan pernah dia lihat lagi setelah ancaman Wilson tadi siang.


Naisya yang terkejut hanya terdiam dan tidak tahu harus berbuat apa? karena didalam hatinya tersimpan rasa yang mendalam untuk pria didepannya ini.


Anggap saja ini hadiah dari author ya Naisya? jangan minta lagi?🀣🀣


Jangan lupa beri dukungan buat author yang lemah ini gaess..

__ADS_1


Jempolllll.. mana jempolll kalian!


__ADS_2