
...🌺🌺 Happy Reading 🌺🌺...
Bening dan ibu Vian sudah sampai rumah sakit dan segera pergi ke ruangan dokter umum.
"Permisi dok.. saya mau memeriksakan menantu saya, dari tadi malam dia muntah terus dok!"
ucap ibu Vian.
"Baiklah nona.. Mari saya periksa, apakah anda kurang tidur nona?"
sambil menempelkan stetoskop ke dada Bening.
"Iya dokter, aku juga nggak selera makan akhir-akhir ini!"
ucap Bening.
"Berapa hari anda muntah-muntah?"
tanya dokter umum itu.
"Ada tiga harian ini dokter, setiap pagi tapi tadi malam pun saya muntah-muntah dokter, dan sedikit pusing!"
ujar Bening.
"Nona..Coba anda pergi keruangan sebelah dulu!"
ucap dokter itu tersenyum.
"Lho kenapa dengan menantu saya dokter?"
tanya ibu Vian yang mendengar arahan dokter tadi.
"Ini masih dugaan saya ya bu, untuk lebih pastinya coba ibu bawa keruangan sebelah, disana ada dokter spesialis kandungan!"
ucap dokter.
"Haaahh.. Apa menantu saya hamil dokter?"
ucap ibu Vian sumringah.
"Lebih baik anda cek langsung saja sekarang!"
ucap dokter itu tersenyum.
"Terimakasih dokter, permisi!"
pamit keduanya.
Diruangan dokter spesialis kandungan.
"Ada yang bisa kami bantu bu?"
tanya dokter jaga itu.
"E...Ini dokter, tadi saya cek ke dokter umum dan disuruh cek kesini, saya sudah tiga hari ini muntah-muntah dokter, tapi malam tadi juga muntah dan sedikit pusing!"
jelas Bening.
"Baiklah..Mari kita lakukan USG ya bu? apa anda sudah telat datang bulan?"
tanya dokter sembari mengoleskan gel ke perut Bening.
"Bulan kemarin memang saya tidak datang bulan dokter"
ucap Bening mengingat.
"Selamat bu..Ibu positif hamil, kandungannya sudah berusia 4 minggu!"
ucap dokter sambil tersenyum.
"Benarkah? menantu saya hamil?"
ibu Vian sudah heboh, lain dengan Bening dia hanya tersenyum lesu mengingat keadaannya saat ini.
"Kandungan anda masih muda dan sangat rentan bu, jadi anda harus banyak istirahat dan makan makanan yang bergizi ya bu!"
ucap dokter.
"Baik dokter, terimakasih!"
"Nak..Kita harus ke kantor Vian sekarang!"
ajak ibu Bening.
"Untuk apa ma?"
__ADS_1
tanya Bening tidak bersemangat.
"Kita harus memberitahukan kabar baik ini, siapa tahu hati Vian jadi tersentuh, dia kan memang sudah sangat ingin punya anak darimu!"
ucap ibu Vian semangat 45.
"Itu dulu ma, sekarang bahkan dia menuduhku sebagai wanita murahan!"
ucap Bening dalam hati bersedih dan tetap mengikuti langkah ibu mertuanya.
Sesampainya dikantor Bening dan ibu mertuanya menemui resepsionist.
"Mbak..Apa pak Vian ada diruangannya?"
tanya Bening.
"E..Ada mbak!"
ucap resepsionist itu ragu.
"Apa ayahnya Vian juga datang kemari tadi?"
tanya ibu Vian.
"Iya bu..Tuan Herlambang ada diruangan tuan Doni sejak pagi tadi!"
ucap mbak resepsionist.
"Nak..Mama ke ruangan ayah sebentar ya, mau memberitahukan kabar bahagia ini, pasti ayahmu sangat senang, kamu masuklah dulu keruangan Vian!"
titah ibu Vian.
Bening melangkah ragu keruangan Vian, ada rasa takut dan gelisah didirinya, terlihat pintu ruangan Vian sedikit terbuka.
Bening melongokkan kepalanya kedalam ruangan, karena sekertaris didepan juga tidak ada, mungkin sedang makan siang pikirnya.
Degggg.....
Jantung Bening hampir berhenti berdetak melihat apa yang dilihatnya beberapa bulan yang lalu terulang.
Bahkan ini lebih parah, karena kedua bibir mereka saling bertaut dengan posisi wanita itu dipangkuan suaminya.
Bening jatuh ambruk didepan pintu ruangan vian dan kepalanya terasa pusing sekali, akhirnya dia tergeletak tidak sadarkan diri.
Doni dan kedua orang tua Vian yang akan masuk ke ruangan Vian terkejut meliat Bening yang sudah tergeletak dilantai.
teriak ibu Vian.
"Nona!"
teriak Doni sambil membopong Bening dan berlari ke arah lift untuk kerumah sakit.
Vian mendengar suara orang berteriak diluar jadi tersadar dari rayuan maut Devina, yang dari tadi memprovokasinya dengan bualan-bualan manisnya.
Sebenarnya Devina juga baru datang, dan saat dia masuk keruangan Vian ternyata sekertaris dan asistennya tidak ada ditempat, jadi dia bebas melancarkan aksi gilannya.
"Aku harus mengecek keadaan diluar!"
ucap Vian bergegas keluar ruangan.
"Aahh..Shiittt, siapa sih yang mengangguku!"
ucap Devina kesal.
Vian bertanya pada resepsionist depan.
"Ada apa ribut-ribut didepan ruanganku tadi?"
tanya Vian.
"E..anu tuan, nona Bening pingsan, dan sekarang dibawa kerumah sakit terdekat!"
ujar resepsionist.
"Haaah..Dia lagi, nggak penting!"
ucap Vian sambil melangkah kembali keruangannya.
Tring..tring...
"Yaa ayah!"
ucap Vian mengangkat telp ayahnya.
"Segera datang kerumah sakit, apa yang kamu lakukan diruanganmu? sampai kau tidak melihat istrimu disana!"
__ADS_1
ucap ayah Vian panik, karena saking gugupnya mereka langsung mengikuti Doni dan tidak mengecek keberadaan Vian diruangannya.
"Ayah aku sibuk!"
ucap Vian malas.
"Datang kesini atau kututup perusahaanmu sekarang juga!"
bentak ayah Vian.
"Baiklah ayah!"
ucap Vian ogah-ogahan.
Dirumah sakit Bening sudah sadar, dia hanya kecapekkan saja dan tidak boleh stress karena kandungannya yang masih muda dan dia sudah boleh dibawa pulang, setelah diberi vitamin dan obat lainnya.
"Kemana bocah itu, kenapa belom sampai juga!"
ucap ayah Vian kesal.
"Itu Tuan muda sudah datang tuan"
ucap Doni menunjuk Vian yang berjalan gontai memasuki loby rumah sakit.
"Dasar bocah nakal, masih bisa dia berjalan santai sedangkan istrinya sedang hamil muda dan pingsan karena kelelahan!"
ucap ayah Vian mendatangi anaknya.
"Cepat ayo kita pulang, istrimu harus banyak istirahat, kamu bukannya khawatir malah berjalan seperti di catwalk saja!!"
ucap ibu Vian sambil mengandeng Bening yang masih pucat.
"Tapi yah..Aku harus kembali kekantor lagi yah!"
ucap Vian malas.
"Doni bisa mengurus segalanya, kamu jaga saja istrimu!"
titah ayah Vian.
Setelah sampai dirumah, Vian malah melenggang terlebih dahulu masuk kerumah dan duduk santai disofa ruang tamu, tidak mempedulikan istrinya yang berjalan lemah.
"Heeii..Dasar bocah sialann, kamu nggak lihat istrimu lemah begini, malah duduk santai berpangku tangan!"
marah ayah Vian.
"Dia sudah besar ayah, tinggal minum obat saja juga sembuh!"
jawab Vian santai.
"Heiiii..Kau tau, istrimu itu lagi hamil anakmu, kenapa kamu jadi begini vian!"
bentak ayah Vian.
"Belum tentu itu anakku!"
ucap Vian cuek sambil bersedekap.
"Haaaahhh...dasar anak kurang ajar, apa maksud perkataanmu!!"
ujar ayah Vian makin emosi sambil menarik kerah Vian.
Bening menangis tersedu dipelukan ibu mertuannya.
"Tanyakan saja pada anak menantu kesayangan ayah yang murahan itu!!"
ucap Vian santai.
"Tutup mulutmu!"
ucap ayah Vian yang ingin menampar putranya.
"Ayahhh.. cukup ayah.. jangan pukul mas vian, kita bisa melakukan tes DNA saja kalau kandunganku sudah besar, yang pasti aku tidak pernah berkhianat darimu mas, setelah menikah aku selalu bersamamu!"
ucap Bening menangis.
"Kau benar-benar keterlaluan Vian!"
ucap ayah Vian.
"Kenapa kamu jadi seperti ini nak?"
ucap ibu Vian yang ikut menangis melihat kelakuan putranya.
Bagaimana kelanjutan kisah Bening?
__ADS_1
Jangan lupa klik like, vote, dan tinggalkan jejak kalian dikolom komentar ya gaess😊
Terima kasih😘😘