Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
jodoh ku


__ADS_3

Semua pengunjung cafe bertepuk tangan ketika Aris sudah selesai menyanyikan lagu nya, semua para pengunjung laki-laki memberikan semangat pada Aris karena sudah memberikan sebuah lagu untuk kekasih nya tapi tidak untuk Tama ia malah terlihat sinis menatap Aris, mungkin karena kesal atau masih ada cemburu karena Via sudah bahagia bersama laki-laki itu.


Aris pun turun dari panggung dan menghampiri ke arah meja dimana Via berada. Ia pun duduk setelah memberikan ucapan terima kasih pada pengunjung yang memberikan ia semangat dan memujinya karena penampilannya tadi.


"Bagaimana apa kamu terkesan?" goda Aris pada Via yang saat itu sedang menatap nya dengan tersenyum malu akan penampilan nya tadi.


"Kesan apa?" Via malah balik tanya membuat Aris kesal. "Ayok kita pulang! Sudah selesai kan kamu tampil!" ajak Via seraya berdiri di tempat ia duduk dan melangkah pergi meninggalkan Aris yang masih menatapnya dengan sebal karena tak ada pujian atau pun kata-kata yang membuat Aris merasa di hargai.


"Heh tidak peka!" gumamnya Aris langsung mengikuti Via yang keluar dari cafe.


Via masih menunggu Aris di dekat mobil yang Aris parkir, Via tersenyum melihat mimik muka Aris tadi ketika dia sebal karena dirinya tidak memuji nya atas penampilannya tadi.


Aris menghampiri Via yang menunggunya dengan masih menampilkan muka sebalnya. Dia pun langsung membuka pintu mobil untuk Via walaupun dirinya masih kesal padanya.


Via tersenyum simpul melihat Aris yang melewati mobil nya setelah membukakan pintu untuknya dengan wajah serius tidak selengean seperti yang biasa ia lihat mungkin karena masih sebal atau kesal.


Aris masuk ke dalam mobilnya tanpa melihat ke arah Via atau mengajak nya bicara bahkan menggodanya pun tidak sama sekali membuat Via semakin senang melihat Aris seperti itu.


Di tengah perjalanan Aris masih mendiamkan Via membuat Via berdehem, menetralisirkan keadaan yang tidak normal itu. "Emh sepertinya kamu dulu cita-cita menjadi penyanyi ya?" Via mencoba menghangatkan suasana biasanya Aris yang selalu begitu.


"Tidak." sahut nya.


Via menghela nafasnya panjang. "Marah?" tanyanya menatap wajah Aris yang sedang serius mengendarai mobilnya karena mendengar jawaban nya tadi.


"Tidak!"


"Bohong!"


"Iya."


"Tuh kan bohong! Jawabnya saja tadi, iya?"


"Maksud aku gak bohong!" ucapnya lagi.


"Kamu mau tahu tidak, bagaimana penilaian aku dengan suara dan penampilan kamu tadi?" tanya Via menatap Aris dengan penuh.


Aris langsung merespon ucapan Via soal suaranya, ia jadi semangat karena sepertinya Via akan berkesan akan penampilan nya tadi.


Via mulai berpura-pura berpikir keras. Mengingat penampilan Aris tadi. "Emh..."


"Bagaimana suaraku tadi?" tanyanya penuh semangat dengan tidak sabaran Aris jadi kembali ke watak seperti biasa ketika dia tidak marah lagi.


"Menurut ku suara dan penampilan kamu tadi... jelek!" ucap Via santai dengan mengangkat kedua bahunya seperti mengejek.


Aris mendengus kesal karena ternyata penilaian nya salah dia pikir Via akan berkesan padanya dan ia akan luluh dengan sikap nya yang romantis itu ternyata dugaan nya salah besar Via sedikit pun tidak berkesan malah ia bilang jika suara nya jelek membuat Aris kesal, malu dan juga kecewa.


Via tersenyum senang membuat Aris kesal membuat hatinya merasa bahagia karena seperti mendapatkan mainan baru. Tidak lama mereka pun sampai di depan gerbang kosan Via, Via melihat ke arah Aris yang diam saja karena ia bilang jika suara dan penampilannya jelek.


"Kenapa tidak turun!" ucap Aris tanpa melihat arah Via yang ada di sampingnya itu hanya diam saja. Sebenarnya Aris bukan marah karena Via bilang dia jelek tapi karena dia merasa malu dan juga ternyata sulit meluluhkan perempuan yang ada di samping nya ini membuat Aris bingung bagaimana harus bersikap padanya.


"Kamu usir aku?" tanya Via pura-pura tidak terima.


"Tidak!" sahut nya.


"Ya sudah aku turun sekarang!" ucap Via cepat.


"Eh tunggu! Kamu jangan marah!" ucap Aris mengalah seraya menarik lengan Via menahannya.


Via menepisnya. "Lepas aku mau turun!" ucapnya membuat Aris melepaskan tangan nya yang memegang lengan Via itu. Setelah dilepas Via pun dengan cepat mencium pipi Aris yang sedang menatap nya itu. "Terima kasih." ucapnya lalu dengan cepat Via turun dari mobil Aris setelah ia mencium Aris agar Aris tidak tahu bagaimana wajahnya saat ini karena dia sudah berani mencium pipi nya.


Aris yang mendapatkan serangan mendadak seperti itu dari Via membuat ia terdiam dan menganga tidak percaya apa yang di lakukan oleh suster yang selama ini selalu galak dan ketus padanya. "Apa aku sedang bermimpi?" gumamnya seraya menepuk-nepuk pipinya dengan tangan nya. "Ah ini nyata bukan sekedar mimpi!" ucapnya saat setelah sadar. Aris langsung mencari keberadaan Via namun ia melihat Via sudah masuk ke dalam gerbang kosan nya dengan sekilas terlihat Via sedikit tersenyum kecil ke arahnya tadi sebelum ia masuk.

__ADS_1


"Uhuy... yes yes yes!" ucap Aris bersemangat dan bahagia dengan senyum yang mengembang.


*


*


*


Seminggu kemudian Aris yang sudah siap-siap mengemasi beberapa pakaian untuk nanti jika pergi ke rumah kedua orang tua Via. Ia pun langsung mendatangi Via di kosannya karena mereka akan pergi bersama-sama.


Tidak lama terlihat Via sudah siap dan keluar dari kosannya, Aris yang menunggu di tempat tunggu tamu melihat Via keluar langsung menghampirinya. Via juga sama tidak begitu banyak membawa barang karena hanya dua hari saja disana.


"Oh ya kita naik apa kesana, naik mobil atau bis?" tanya Aris pada Via karena selama ini Aris tidak tahu tempat kelahiran calon istrinya itu.


"Naik bis atau mobil kita akan sampai berhari-hari, memang nya kamu mau berhari-hari di perjalanan?" tanya Via sebal. "Kamu mau menikah dengan ku tapi tidak tahu tempat kelahiran dan tempat tinggal asli ku!" Via geleng-geleng kepala tidak percaya dengan calon suaminya itu


"Hehe maaf aku gak tahu, memang kamu asli mana?" tanyanya penasaran.


"Nanti juga kamu tahu! kamu gak mabok perjalanan kan? Kita akan terbang sekarang!" tanya Via sedikit meledek.


"Kita naik pesawat? Kalau tahu begitu aku pesan tiket untuk kita dari kemarin, kalau dadakan takutnya kita kehabisan tiket." ucap Aris menyayangkan.


"Telat kamu! Aku lebih sigap!" Via mengeluarkan dua buah tiket pesawat yang ia beli kemarin dan mengkipas-kipas tiket itu di depan wajah nya.


"Gadis pintar!" ucap Aris mengacak rambut Via yang ia ikat gulung sampai ke atas. Via mendengus kesal karena rambutnya jadi berantakan karena perbuatan Aris.


Mereka sekarang sudah ada di dalam pesawat, agar cepat sampai tujuan. Cuma butuh dua jama saja jika naik pesawat. "Oh... jadi ternyata kamu asli kota ini." seru Aris saat mereka sampai di tempat kediaman keluarga Via.


"Kenapa?" heran Via menatap wajah Aris.


"Wah keren lah aku dapat gadis orang sini, bisa pulkam sambil jalan-jalan." ucapnya merasa bangga.


"Norak!" sahut Via seraya meninggalkan Aris yang sedang bicara sendiri.


"Kenapa kita hanya diam saja disini?" tanya Aris tanpa menatap Via ia masih menatap bangunan rumah di depan nya.


Via menoleh sekilas ke arah Aris. "Aku takut!"


"Takut kenapa? Yang harus takut itu aku Via sayang..." ucap Aris mencubit pipi Via gemas.


"Ih sakit!" kesal Via mencubit lengan Aris.


"Hadehh kamu juga sakit!" balas Aris sebal.


"Via kenapa tidak masuk!" suara itu membuat Aris dan Via langsung dengan cepat melihat ke arah dimana suara itu berasal.


"Eh ayah..." Via cengengesan karena mereka tidak langsung masuk.


"Ayok masuk!" titah nya membuat Via langsung mengajak Aris untuk masuk dan Aris pun mengikuti Via tanpa banyak bicara.


"Assalamualaikum bunda ayah." sapa Via langsung memeluk bunda kesayangannya.


"Assalamualaikum tante, om." sapa Aris seraya mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


"Silahkan duduk!" titah ayah pada Aris dan di angguki Aris. "Kalian pasti cape kan? Kenapa kalian tadi tidak langsung masuk saja?" tanyanya heran.


"Emh itu ayah, kita cuma istirahat saja tadi kan baru saja sampai." elak Via menatap ayahnya sedangkan Aris menatap Via dengan tersenyum karena Via sudah bohong.


"Oh." ayah percaya saja ucapan Via itu lalu ayah langsung menatap pada Aris. "Jadi kamu laki-laki yang akan Via kenalkan pada saya?" tanya ayah tegas.


"Iya om perkenalkan saya Aris." ucap Aris memperkenalkan diri dengan sopan.

__ADS_1


"Hemm, saya ayahnya Via. Apa kamu benar-benar serius berhubungan dengan putri saya ini?" tanyanya langsung.


"Iya om saya serius!" jawabnya mantap.


"Apa pekerjaan kamu sekarang?" tanya ayah penasaran.


"Saya seorang TNI." jawabnya.


Ayah Via tersenyum penuh arti. "Kalau begitu saya undang kedua orang tua kamu untuk datang kesini!" ucap ayah mantap.


Dengan hati bahagia Aris tersenyum. "Baik om saya akan mengajak kedua orang tua saya untuk melamar Via." jawab nya serius dengan tersenyum kepada ayahnya Via.


"Baik saya akan tunggu keluarga kamu datang ke sini. Saya harap kamu bisa menepati janji!" balas ayah penuh penekanan.


"Saya tidak janji om tapi saya akan usahakan, semoga tidak ada halangan pada saya dan keluarga yang berniat baik ingin meminang Via Putri om." jawabnya serius.


"Bagus! Saya suka ucapan kamu itu." ucap ayah merasa jika Aris adalah laki-laki yang baik untuk putri satu-satunya itu.


"Kamu menginap saja disini, banyak kamar kosong. Berapa hari kamu akan di sini?" tawar ayah pada Aris.


"Satu hari saja om soalnya saya dapat cuti hanya dua hari." tegas Aris menjawab.


"Aku juga cuma minta cuti dua hari ayah jadi aku gak akan lama-lama di sini!" sahut Via menambahkan.


"Kenapa kamu minta cuti hanya dua hari saja? Apa kamu mau datang dan pergi bersama Aris?" goda ayah Via membuat Via salah tingkah.


"Ih ayah... aku kan juga punya pekerjaan masa iya di tinggal lama-lama!" sebal Via, ayah nya bisa berpikir ke arah sana padahal Via tidak berpikir kesana.


"Masa sih ayah kok gak percaya ya!" ayah masih saja menggoda Via.


"Ayah... ih." cebik Via kesal. "Bunda aku kesal sama ayah!" tambahnya.


"Ayah jangan godain Via terus dong, kan memang benar mereka itu memang ingin berduaan di pesawat, ayah suka gak ngerti deh!" bundanya malah ikutan menggoda Via yang terlihat kesal.


"Ah tahu ah!" Via kesal dan melipat kedua tangannya di dadanya dan melengoskan pandangan pada kedua orang tuanya.


"Nak Aris Via itu anaknya manja jadi ayah harap kamu bisa bersabar ya dalam menghadapi nya." ucap ayah lembut.


"Iya om siap!" sahut nya cepat.


"Kadang kalau lagi jauh kita itu rasanya kangen... sekali sama Via, jarang bertemu. Sekali nya bertemu cuma sehari atau dua hari saja Via pulang." sambung bunda.


"Iya awalnya kami itu tidak mengijinkan Via bekerja di rumah sakit yang jauh dari kota ini, namun Via kekeh saja karena dia bilang ingin mencari pengalaman di kota orang. Padahal ya seenaknya di kota orang lebih enak kota sendiri." ucap ayah merasa kehilangan.


"Tapi kami percaya jika Via putri kami ini bisa baik-baik saja di sana." tambah bunda.


"Iya om Tante saya akan jaga Via di sana jadi om dan Tante tidak usah khawatir." ucap Aris.


"Iya terima kasih jaga dia seperti kami menjaga nya!" tutur ayah lembut. "Iya sudah kamu istirahat saja di kamar tamu, supaya tidak lelah." ucap ayah.


Via mengantarkan Aris ke kamar tamu yang ada di rumah nya. Ini kali pertama nya seorang laki-laki yang Via bawa menginap di rumah nya. "Ini kamar kamu!" ucap Via seraya membukakan pintu kamar tamu itu dan Via langsung akan melangkah pergi namun di tahan Aris.


"Eh tunggu! Terima kasih! Eh kamu gak mau nemenin saya disini?" tawar nya dengan menggoda namun Via tidak menghiraukan candaan Aris padanya. Aris tersenyum ini langkah kedua kalinya ia untuk mendapatkan Via menjadikan nya sebagai istri.


Sedangkan di tempat ruang tamu dimana ayah dan bundanya sedang mengobrol Via menghampiri mereka lagi. "Ayah, bunda kenapa ayah sama bunda langsung menerima Aris begitu saja, dan menyuruhnya untuk melamar Via secepatnya? Apa karena pernikahan Via yang sebentar lagi?" tanya Via penasaran.


"Tidak sama sekali. Bukan nya kamu sendiri yang bilang kalau kamu akan mengenalkan laki-laki yang akan menggantikan Tama, laki-laki itu Aris kan?" tanya ayah bingung.


"Iya memang itu Aris, tapi aku penasaran saja kenapa ayah bisa langsung menerima Aris dan menyuruhnya segera melamar aku padahal aku belum begitu dekat dengan nya, dulu saat kak Tama mau melamar ku ayah dengan tegas tidak langsung menerima nya padahal juga aku sama kak Tama sudah menjalin hubungan yang cukup lama. Apa yang membuat ayah dan bunda merasa yakin padanya?" tanya Via semakin penasaran.


Ayah menghela nafasnya panjang. "Tidak tahu, ayah cuma punya firasat kalau Aris itu sepertinya laki-laki yang baik dan juga bertanggung jawab. Iya mungkin karena pekerjaan dia yang seorang TNI membuat ayah menjadi tambah yakin padanya." tutur ayah menjelaskan. "Iya semoga saja penilaian ayah itu benar, ayah cuma mau kamu itu bahagia dengan laki-laki yang akan bisa menjaga dan membahagiakan kamu nantinya. Jangan seperti Tama yang meninggalkan kamu dengan perempuan lain. Tapi ingat kamu juga harus bisa jaga diri dan jaga kehormatan kamu sebagai wanita, yakinkan jika perempuan baik itu akan berjodoh dengan laki-laki yang baik dan sebaliknya laki-laki yang baik akan di pertemukan dengan perempuan yang baik juga." ujar ayah memberikan petuah.

__ADS_1


"Iya bunda juga akan terus doakan kamu semoga kamu selalu bahagia dan Aris juga semoga dia memang jodoh kamu yang terbaik." doa ibu penuh harap.


Via tersenyum mendengar apa alasan kedua orang tua nya yang langsung menyukai Aris. "Semoga aku tidak salah memilih lagi!" batin Via dalam hatinya.


__ADS_2