
"Via... aku akan membawa kamu ke suatu tempat kita akan bersenang-senang disana, dan aku yakin kali ini kamu tidak akan menolak ku lagi!" dengan santai nya Tama berucap namun santainya Tama membuat Via semakin takut.
"Ya Allah tolonglah aku, aku harus bagaimana sekarang!" batin Via takut.
Tidak lama mobil yang dikendarai Tama sampai di depan sebuah hotel mewah di kota tersebut. Via menatap ke arah bangunan mewah itu dengan takut apalagi hari sudah mulai gelap sedangkan dia tidak tahu harus berbuat apa dan apa yang akan dilakukan Tama mantan tunangannya itu.
"Kak Tama kenapa kamu bawa aku ke tempat ini? Jangan macam-macam ya kak Tama!" ancam Via mulai panik karena Tama membawanya ke hotel.
"Ayok turun!" ajaknya dengan paksa.
Via diam saja tidak mengikuti perintah Tama yang menyuruhnya untuk turun. "Aku tidak mau!" balas nya dingin.
"Jangan membuat ku kesal Via dan jangan membuat ku berbuat kasar padamu!" Tama dengan suara keras dan sedikit emosi.
"Tapi untuk apa kamu membawa aku ke tempat seperti ini? Ini hotel!" ucap Via merasa ini sudah berlebihan. Via takut sekali dengan keadaan seperti ini.
"Suamiku aku ingin sekali kamu hadir saat ini, aku membutuhkan kamu sekarang! Tolong aku! Tolong aku ya Allah!" batin Via penuh harap meminta seseorang yang bisa menolong nya saat ini. "Di saat seperti ini aku ingin bersama mu Abang!" batin Via takut.
"Ayok, ikut dengan ku!" Tama mengajak Via dengan menarik tangan Via secara kasar.
"Tolong kak Tama lepaskan aku, aku mohon sama kamu jangan seperti ini." rintih Via memohon pada Tama seraya mencoba melepaskan tangan yang Tama tarik namun Tama terus saja membawa Via dengan cepat berjalan menuju kamar yang sudah ia pesan sebelumnya.
Di lorong hotel orang yang melihat Via merintih memohon bahkan meminta bantuan tidak begitu peduli karena mungkin mereka sudah terbiasa melihat hal seperti itu membuat Via semakin frustasi takut sesuatu akan terjadi padanya.
Via terus saja menangis memohon agar Tama melepaskan nya. Tama membuka pintu kamar hotel itu tanpa melepaskan tangan Via yang ia pegang. "Ayok masuk sayang, kita akan bersenang-senang malam ini dan aku akan membuatmu lupa akan suami mu yang sedang bertugas itu." Tama berbicara dengan penuh keyakinan pada Via yang terlihat ketakutan.
Tama maju sedangkan Via mundur ia tidak mau sampai dekat-dekat dengan Tama. Tama terus saja maju dengan senyum menggodanya. "Ayok lah Via aku tidak akan menyakitimu malah aku akan membuatmu bahagia malam ini." ucapnya dengan terus menggoda Via.
"Kamu sudah gila!" ucap Via berteriak.
"Hahahaha Via aku gila karena kamu dan kamu adalah obat nya jadi malam ini aku tidak akan melepaskan mu! Aku tanya sekali lagi apa kamu mau kembali lagi padaku?" tanyanya menatap Via dengan lembut.
"Aku tidak mau!" jawab Via tegas.
__ADS_1
Tama tersenyum mengejek. "Apa yang kamu harapkan dari laki-laki yang berstatus suami mu itu hah? Dia hanya seorang tentara dan kamu menolak ku karena dia! Kamu tahu aku sekarang sudah menjadi seorang direktur dan jika kamu mau kembali padaku aku akan membuat mu bahagia dengan uang ku, apa yang kamu inginkan akan aku berikan! Tidak ada perempuan yang menolak ku seperti ini Via dan kamu jangan jadi perempuan munafik yang tidak membutuhkan uang!"
"Aku tidak butuh uang mu aku juga bukan perempuan seperti yang kak Tama kenali. Aku Via perempuan yang kamu kenal selama enam tahun bukan perempuan yang hanya sebulan dua bulan." seru Via emosi.
"Ah omong kosong, aku akan membuat kamu lupa pada suami mu malam ini!" Tama berbicara dengan penuh hasrat pada Via dan mendorong nya secara kasar pada kasur yang berada di sana membuat Via terhuyung jatuh pada kasur itu.
Via bangun dari kasur itu lalu mundur karena takut, Via berteriak sekencang mungkin siapa tahu ada yang mendengar nya dan menolong nya saat ini.
"Tolong... jangan sentuh aku!" ucap Via dengan suara bergetar.
Tama tersenyum puas. "Coba saja kamu teriak sekeras-kerasnya aku yakin tidak akan ada orang yang menolong kamu di sini!" dengan pedenya ia berbicara.
Via semakin takut apalagi Tama terus saja mencoba berniat melecehkan nya sedangkan tidak ada orang yang menolong Via saat ini. Air mata Via terus membasahi pipi mulusnya saat ini ia benar-benar takut dan berharap suaminya datang dan menolong nya namun ia juga tahu itu tidak mungkin karena suaminya itu berada jauh di sana. "Tolong, siapa pun itu tolonglah aku!" batin Via penuh harap.
Via terus menghindar dari Tama, saat ini Tama sudah gelap mata. Berbagai usaha untuk membuat Tama melepaskan nya tidak berhasil sama sekali, ntahlah apa yang akan terjadi saat ini Via hanya bisa berdoa dan berharap suatu keajaiban datang padanya.
Dan brug suara pintu yang di buka secara paksa membuat Via dan Tama menoleh pada arah suara itu. "Apa yang anda lakukan?" tanyanya dengan tegas.
Via dengan senang karena seseorang datang tepat pada waktunya. Lalu ia pun dengan cepat mendekat ke arah dimana penolong itu datang. "Tolong saya pak Adam tolong saya." pinta nya dengan suara Isak tangisnya seraya menarik lengan bajunya yang robek akibat perbuatan Tama padanya tadi.
Adam menghampiri Tama yang tidak memakai bajunya hanya celana yang ia pakai saat ini. "Siapa anda, jangan ikut campur urusan saya! Walaupun anda adalah polisi tapi anda tidak berhak mencampuri urusan saya." Tama dengan beraninya mengancam Adam.
"Anda tidak perlu tahu siapa saya, dan hubungan saya dengan suster Via, saya kesini akan membuat perhitungan pada anda kerena sudah melecehkan seorang perempuan." seru Adam menatap Tama dengan tajam.
Tama tersenyum mengejek. "Anda tahu saya dan Via akan bersenang-senang karena suka sama suka tapi karena anda sudah membuat saya kesal dan mengganggu saya, saya akan membuat anda tidak bisa keluar dari ruangan ini!" ancamnya dengan mencoba menonjok ke arah wajah Adam namun Adam yang seorang polisi ia menangkis pukulan dadakan dari Tama itu dengan cepat dan membuat tangan Tama menjadi sakit.
"Berengsek!" ucap Tama penuh emosi.
"Anda jangan menggangu Via lagi, jika saya melihat anda mendekati Via lagi anda akan tahu akibat nya!" ancam Adam dengan tegas seraya pergi dari ruangan itu dan mengajak Via yang diam mematung karena ketakutannya.
"Ayok suster Via saya akan antar kamu pulang!" ajak Adam pada Via seraya menegaskan sebuah jaket nya yang ia pakai dan Via menerima nya lalu ia pakai karena pakaiannya yang sedikit koyak dan sobek.
Di dalam mobil Via hanya diam saja mungkin ada rasa trauma saat ini yang ia rasakan. "Suster Via apa kamu tidak apa-apa?" tanya Adam khawatir karena Via dari tadi hanya diam saja.
__ADS_1
Via menggelengkan kepalanya pelan lalu menundukkan wajahnya ke bawah. "Terima kasih pak Adam anda sudah menolong saya, kalau saja tadi anda tidak ada saya gak tahu apa yang akan terjadi." lirih Via mengucapkan maaf dengan menatap wajah Adam dengan wajah yang sedih.
"Ini sudah menjadi tugas saya tidak usah berterima kasih. Emh siapa laki-laki tadi? Kenapa dia sampai berbuat seperti itu terhadap kamu?" tanya Adam penasaran.
"Di...dia... dia adalah mantan tunangan saya pak saya tidak tahu jika dia akan seperti itu pada saya. Padahal kami sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi." jawab Via pelan dengan nada terisak.
"Mantan tunangan kamu?" tanya nya masih penasaran dan Via mengangguk.
"Cerita nya panjang pak dan maaf saya belum bisa bercerita pada pak Adam." seru Via.
Adam mengangguk-angguk kepalanya pelan. "Iya tidak apa-apa, saya mengerti!"sahutnya cepat.
"Sekali lagi saya terima kasih pak karena tadi saya benar-benar takut!" ucapnya dengan tersenyum. "Kenapa pak Adam bisa ada di hotel tadi?" tanya Via penasaran.
"Saya sedang bertugas disana, saya bersama rekan saya sedang merazia hotel mewah tersebut karena ada laporan warga jika disana ada prostitusi wanita penghibur yang sering keluar masuk dengan bebas. Tapi tadi saya lihat kamu disana. Saya pikir itu bukan kamu setelah dekat ternyata kamu adalah orang yang saya kenal. Saya tadi sempat berpikir kamu sudah menghianati suami kamu yang sedang bertugas tapi saat saya lihat tangan kamu di tarik dengan paksa oleh laki-laki tadi membuat saya mulai curiga karena ada hal yang tidak beres. Lalu saya mengikuti kamu dan saat kalian masuk saya dengar teriakan meminta tolong jadi saya meminta pihak hotel untuk membuka pintu itu dengan kunci cadangan mereka."
Via tersenyum. "Alhamdulilah pak Adam sudah di kirim oleh Allah sebagai orang yang menolong saya. Saya bersyukur sekali bisa bertemu dengan pak Adam." ucap Via dengan penuh syukur. "Oh ya pak saya mohon jangan beritahu suami saya atas kejadian seperti ini, saya takut jika suami saya menjadi pikiran di sana jika tahu akan hal ini." ujar Via.
"Apa pak Aris tahu laki-laki tadi?" Apa pak Aris mengenalnya?" tanya Adam serius.
"Iya suami saya tahu jika laki-laki itu adalah mantan tunangan saya sebelum saya menikah dengan suami saya." tutur Via menjelaskan.
"Emh seperti itu ya." sahut Adam cepat. "Kenapa aku jadi penasaran ya dengan cerita pak Aris sebelum ia menikahi suster Via ini." batin Adam penasaran.
"Kamu saya antar ke rumah saya saja ya, disana juga ada Nisa jadi kamu bisa menginap dulu agar kamu bisa lebih tenang." Adam menawarkan agar Via menginap.
"Nanti saya merepotkan pak Adam dan Bu Nisa!" ujar Via tidak enak hati.
"Tidak merepotkan, malah seperti nya istri saya akan sangat senang karena malam ini ada yang menemani nya di rumah." sahut Adam santai. "Saya kan masih bertugas, malam ini saya ada tugas malam jadi kamu bisa menemani Nisa di rumah. Saya juga khawatir jika kamu pulang dalam keadaan seperti ini apalagi kamu juga sendirian di rumah kamu iya kan?"
"Baiklah, terima kasih pak!" ucap Via.
"Kamu tidak usah merasa tidak enak seperti itu saya berteman dengan pak Aris dan pak Aris juga teman istri saya sedangkan kamu adalah istri pak Aris jadi wajar jika saya akan menolong kamu. Kamu tahu sebelum suami mu pergi bertugas dia sudah menitipkan kamu pada saya dan juga Nisa, ia begitu khawatir karena kamu kan sendiri di kota ini anak rantau lah. Jadi jangan senggan untuk meminta bantuan ya." ucap Adam member tahu Via.
__ADS_1
"Di titipkan? Seperti anak kecil saja meski di titipkan!" ucap Via tersenyum geli karena perbuatan suaminya itu.
"Iya pak Aris seperti itu karena dia begitu sayang pada istrinya, saya juga akan berbuat seperti itu jika saya harus bertugas jauh dan lama seperti pak Aris." ujar Adam membetulkan sikap Aris menjaga istrinya walaupun jarak jauh yang mereka lalui.