Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
rencana Tama


__ADS_3

"Siang ini kita jalan yuk mumpung kita ada waktu libur bersamaan." ajak Aris pada Via ketika mereka sedang memakan sarapan paginya.


"Kemana?" tanya Via singkat.


"Kamu mau kemana? Terserah kamu mau kemana akan aku antar!" ujarnya dengan senyum bahagia menatap ke arah Via.


"Ngemall? Sepertinya menyenangkan terus kita nonton nanti kita berkuliner, boleh?" tanyanya antusias.


Aris berpikir sejenak. "Ok. Aku setuju!" jawabnya.


Lalu ketika siang hari tiba, pukul sebelas mereka bersiap untuk pergi, Aris sudah memanaskan motor kesayangannya, hari ini ia ingin mengajak istri tercintanya berboncengan dengan menggunakan motor ninja nya yang selalu di elus di usap karena jarang sekali di pakai setelah ia pulang dari Lebanon baru kali ini ia pakai kembali.


"Kita pakai motor?" tanya Via melihat suaminya itu sudah mempersiapkan motor nya terparkir di depan rumah nya.


"Iya." sahut nya cepat. "Itung-itung kita mengulang masa dulu saat aku boncengan sama kamu." tambahnya membuat Via tersenyum mengingat masa lalu saat mereka boncengan.


"Ayok sayang naik jangan senyum-senyum begitu!" ajak Aris seraya menggoda istrinya yang senyum-senyum sendiri.


Via pun naik pada motor Aris setelah ia dipakaikan helm oleh suaminya itu. "Pasti kamu mengingat ketika aku bonceng kamu dulu, makanya senyum-senyum begitu."


"Hehehe iya, aku ingat saat kamu bonceng aku pertama kalinya, waktu motor ku mogok, saat itu kamu benar-benar menyebalkan!" teriak Via di telinga Aris karena suara kendaraan di sekitar membuat ucapan mereka tidak terdengar. Dengan muka cemberut namun tangan memeluk pinggang suaminya.


Aris memasukkan tangan Via yang memeluknya ke dalam saku jaket yang ia pakai saat ini. "Iya aku gak nyangka ternyata kamu jodoh yang Allah pertemukan dengan ku, ya walaupun saat itu pertemuan kita tak semanis madu." Aris pun mengingat masa ketika ia bertemu dengan istrinya itu. Sungguh tidak terduga dan tidak di sangka-sangka. Aris pun menyunggingkan bibir nya dengan seulas senyuman menghiasi bibirnya. Dan Via semakin mengeratkan pelukannya pada Aris saat ia melihat dari kaca spion suaminya itu sedang tersenyum melirik padanya.


Sesampainya di mall mereka pun menghentikan langkahnya saat di depan mall tersebut. "Kamu yakin mau ke mall?" tanya Aris meyakinkan Via.

__ADS_1


Via mengangguk semangat. "Iya, kita kan gak pernah ngemall bareng." ujarnya.


Aris tersenyum. "Ok. Kita habiskan waktu kita hari ini bersama-sama."


"Ok Via... ayok kita belanja dan menghabiskan uang sang komandan Aris yang tampan ini." goda Via membuat Aris menoel hidung mancung Via.


"Perempuan gak tahu bagaimana susah nya seorang suami mencari uang, apalagi pekerjaan seperti aku ini." tutur nya serius.


"Iya aku gak tahu kamu kan gak ajak aku kesana jadi mana tahu pekerjaan kamu seperti apa." hehehe goda Via pada siang itu.


''Tapi aku tidak masalah jangan kan harta nyawa ku sekalipun kalau kamu pinta aku akan berikan itu." ucapnya mantap menatap wajah Via dengan penuh perasaan.


Via tersipu malu mendengar penuturan suaminya itu rasanya seperti berlebihan akan ucapan Aris tapi saat ia melihat kedua mata nya, suaminya itu terlihat sangat serius bukan sebuah gombalan yang sering lelaki lain ucapkan melainkan isi dari hati nya yang paling dalam.


"Bagaimana kalau kita cari makan dulu sebelum nonton?" saran Aris yang di iyakan oleh Via.


Di tempat lain saat Via dan Aris masuk ke dalam cafe tersebut sesosok laki-laki melihat dan memperhatikan ke arah dimana Via dan Aris duduk.


"Jadi dia sudah pulang dari tugas nya. Ini akan menjadi penghalang untuk ku karena aku akan sulit untuk bisa dekat dan mendapatkan Via kembali. Ah sial! Harusnya sebelum dia pulang aku bisa mendapatkan Via kembali. Bisa gagal rencana ku!" gumam Tama kesal seraya masih memperhatikan keberadaan Via dan Aris.


Tama tersenyum sinis ia tiba-tiba mendapatkan ide untuk bisa mendapatkan perhatian Via kembali. "Sepertinya aku harus menjalankan rencana ku yang ini, aku sudah lama mengenal kamu Via dan rencana ini aku yakin akan berhasil. Kamu pasti bisa maafkan aku karena aku tahu kamu adalah perempuan yang suka dengan kelembutan walaupun kamu di luar terlihat galak dan tegas." gumamnya.


Tama masih memperhatikan ke arah meja Via dan Aris dan melihat Aris pergi membuat Tama tersenyum jahat karena rencananya akan ia jalankan saat ini juga. "Dasar laki-laki bodoh!" ucapnya pelan.


Saat ada kesempatan seperti ini Tama langsung dengan cepat menghampiri Via yang terlihat sendiri. Dan ia berdiri tepat di belakang Via. "Via!" panggil nya.

__ADS_1


Via langsung terkejut mendengar panggilan namanya yang di sebut karena ia tahu suara itu membuat Via sedikit panik. Tama melangkah ke depan dan tanpa ijin dari Via ia langsung duduk di hadapan Via saat ini membuat Via menjadi gugup. "Kak Tama sedang a...pa di sini?" tanyanya gagap.


Bukan menjawab pertanyaan Via Tama malah tersenyum. "Via apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak berjumpa. Semakin jarang kita bertemu kamu semakin cantik saja Via." ucapnya.


Via membuang pandangannya ke arah lain. "Kak Tama lebih baik kamu pergi dari sini aku tidak mau ada masalah nanti nya." dengan sinis Via berucap agar Tama tahu jika kehadirannya itu tidak Via harapkan.


Tama merasa sakit akan ucapan Via yang sinis terhadap nya namun demi kelancaran rencana tersebut akan ia lakukan membuat nya menahan rasa kesal dan marah nya terhadap Via mantan tunangannya itu.


Tama memasang wajah yang menyedihkan di depan Via. "Aku kesini ingin meminta waktu sebentar sama kamu, kebetulan kita bertemu di sini. Karena semenjak kejadian itu kamu sulit sekali menemuiku dan aku pun susah sekali bertemu dengan kamu padahal aku hanya ingin menyampaikan sesuatu pada kamu Via." ungkap nya lirih membuat Via terdiam.


"Aku hanya mau minta maaf sama kamu Via atas apa yang telah aku perbuat sama kamu. Aku tahu aku tidak pantas mendapatkan kata maaf dari kamu karena kesalahanku begitu besar. Aku sadar, aku bukan laki-laki yang baik untuk kamu makanya kamu lebih memilih suami mu itu di banding kan aku."


"Sudah lah kak aku sudah memaafkan kak Tama, asalkan kamu mau berubah dan tidak melakukan hal seperti itu lagi." balas Via datar.


"Iya aku akan berubah, tapi aku minta tolong padamu jangan menghindar dari ku. Walaupun kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi tapi setidaknya kita bisa berteman kan Via, aku memang tidak pantas jika menjadi suami kamu tapi aku harap aku bisa menjadi teman baik kamu." pinta nya meyakinkan Via.


Via tersenyum tipis. "Iya kita bisa berteman, tapi aku harus meminta ijin dari suami ku terlebih dahulu." balas nya.


Tama tersenyum juga menahan rasa tidak suka akan perkataan Via. "Via sebelum pergi apa aku bisa memeluk mu?" ucapnya penuh harap.


Via mengerutkan keningnya bingung dengan menatap ke arah Tama. Tama yang tidak sabar akan jawaban atas permintaan nya tanpa ijin terlebih dahulu dari Via Tama langsung memeluk Via. Via pun terkejut akan perbuatan Tama terhadapnya itu. "Kak Tama lepas!" ucap Via memohon seraya merenggangkan pelukannya Tama pada tubuhnya.


"Sebentar saja Via, aku sangat merindukanmu, merindukan pelukan kamu yang selalu membuat ku nyaman. Ini terakhir kalinya aku memeluk mu Via, dulu pelukan ini adalah milik ku tapi sekarang aku sadar ada laki-laki lain yang selalu kamu peluk saat ini." ucap Tama dengan penuh kekesalan karena merasa tidak rela mantan tunangannya itu dengan laki-laki lain.


"Seharusnya pelukan ini milik ku hanya untuk ku tapi sebentar lagi aku akan mendapatkan pelukan ini kembali dan aku dan akan aku pastikan tidak akan ada lagi laki-laki yang akan memeluk Via selain aku!" batinnya penuh kemenangan.

__ADS_1


"Kak Tama lepaskan! Aku kesini bersama suamiku!" Bagaimana jika ia melihat kita sedang berpelukan seperti ini suami ku pasti akan salah paham." ucap Via mencoba melepaskan pelukan dari Tama.


"Itu yang aku mau Via!" batin Tama dengan senyuman penuh arti. Dan Tama melihat di hadapannya jika Aris suami Via sedang memperhatikan mereka saat berpelukan. "Permainan akan di mulai!" sambung nya dengan senyum jahat tersungging di bibir Tama.


__ADS_2