
Malam hari Via seperti biasa sebelum tidur ia selalu menggunakan cream malam untuk perawatan kulit nya. Ia pun mengeluarkan berbagai alat kosmetik yang ia selalu gunakan, tidak begitu banyak hanya yang penting-pentingnya saja.
Aris yang berada di dalam kamar Via setelah selesai ia mandi melihat Via yang sedang di depan cermin pun melirik ke arah nya dan juga melihat pada alat makeup yang ada di hadapan Via. "Kamu mau kemana kok malam-malam berdandan?" heran Aris kenapa istrinya itu berdandan malam-malam.
"Ih kepo deh!" sahut Via cepat.
Aris menghampiri Via dan mendekati nya. Melihat peralatan makeup Via yang menurut dia begitu banyak. Aris pun duduk dan menahan dagunya di atas meja rias lalu memandang istrinya itu yang sedang menggunakan cream malam. "Emh aku tahu kamu dandan untuk ku ya? Supaya aku betah di rumah." goda Aris dengan senyuman.
Via menghentikan kegiatannya saat Aris memandang nya. "Repot kalau kamu betah di rumah yang ada kamu terus ngntilin aku!" elaknya nya sebal.
Aris tergelak. "Sebenarnya sih kamu gak dandan juga aku udah betah kok sama kamu." gombal receh Aris keluarkan. Namun Via hanya mendelik kedua mata nya tidak suka dan terus melanjutkan kegiatan nya itu.
"Ini sikat kan untuk apa sih sikat ini?" tunjuk Aris pada alat maskara yang Via miliki.
Via menghela nafasnya panjang. "Ini bukan sikat, ini maskara untuk mata." jawab Via menjelaskan dengan nada kesal. "Sikat! Mang mata siapa yang mau di sikat!" gerutu nya.
"Aku kan gak tahu beginian!" ujarnya datar.
"Ini lipstik banyak banget untuk apa punya lipstik sebanyak ini?" tanyanya penasaran menunjukkan pada pelembab bibir yang Via miliki.
Via menghela nafasnya panjang lagi. "Ini semua pelembab bibir, dan rasanya berbeda-beda. Ada rasa strawberry, jeruk, ceri pokonya aroma buah-buahan." Via menjelaskan pertanyaan Aris seraya menggunakan pelembab bibir itu pada bibir nya.
Aris melihat apa yang di lakukan Via membuat ia memiliki ide yang akan membuat istrinya itu kesal kembali. "Kenapa sih lihat-lihat begitu, pake senyum-senyum segala, kamu mau coba pelembab bibir ini biar bibir kamu gak kering kayak kerupuk!" ejek Via pada Aris.
Aris tersenyum. "Emh boleh juga, coba gimana pakai nya?" pinta Aris dengan penuh semangat.
Via pun dengan tidak sadar akan di kerjai suaminya itu pun menurut, ia mengambil pelembab bibir itu dan berniat akan mengolesi pada bibir Aris. "Ah kelamaan! Cup..." satu kecupan lembut mendarat di bibir Via membuat Via mematung saat lipstik itu baru Via buka tutupnya namun Aris tidak sabar.
"Emh ini rasa stroberi ya? Emh...kok rasanya aneh ya, manis gini sih! Bukannya stroberi itu rasanya asem segar ya!" goda Aris pada Via yang masih diam saja.
__ADS_1
Setelah tersadar Via pun memukul lengan Aris gemas. "Ih..." geramnya salah tingkah. Via pun Langsung dengan cepat ia berlari ke kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi itu dengan menguncinya segera.
Giliran Aris sekarang yang diam mematung karena Via langsung lari ke kamar mandi setelah ia mencium nya. "Apa dia marah ya?" gumam Aris takut.
Via yang sekarang berada di dalam kamar mandi langsung memegang dadanya yang tiba-tiba jantung nya berdebar kencang saat Aris mencium nya tadi yang lumayan lembut dan agak lama. "Ah kenapa dengan jantung ku ini?" gumamnya.
"Gak...gak... gak aku gak boleh baper dengan nya!" ucapnya dengan menggeleng kepala tidak percaya. "Ah tapi aku deg...degan!" teriak nya frustasi. "Perlakuan dia itu manis, tapi aku takut!" sambung nya.
Aris menunggu Via di depan pintu kamar mandi dan sedikit mendekatkan telinganya pada daun pintu penasaran apa yang di lakukan oleh Via.
Aris mundur menjauhi pintu kamar mandi mendengar suara pintu yang akan di buka dan keluar lah Via dari sana. "Via kamu marah ya?" tanya Aris menatap Via. Namun Via hanya menggelengkan kepalanya seraya melewati Aris yang sedang bingung akan perasaan Via saat ini padanya.
Via langsung menuju kasur dan tidur di atasnya memunggungi Aris. Dan Aris mengikuti apa yang di lakukan Via namun kini posisi Aris sedang menatap punggung Via yang membelakangi nya. Aris menghela nafasnya panjang dan berat. "Maaf, maaf karena aku tadi berbuat seperti itu pada kamu. Seharusnya aku sadar diri walaupun sekarang aku sudah menjadi suami kamu tapi kamu yang masih belum memiliki perasaan terhadap ku, harus nya aku tidak seperti itu. Maaf." ucapnya tidak enak hati.
Via yang mendengar ucapan Aris merasa jadi tidak enak juga lalu ia pun mencoba merubah posisi nya dari membelakangi menjadi menghadap ke arah Aris yang ada di hadapannya. "Seharusnya aku yang harus meminta maaf sama kamu, aku adalah istri dan aku seharusnya sudah sangat siap untuk segala memenuhi kebutuhan kamu, tapi... aku butuh waktu sama kamu, apa aku boleh bertanya sama kamu?" tanyanya membuat Aris penasaran di buatnya.
"Emh apa kamu memang benar-benar mencintai aku?". tanyanya ragu.
Aris tersenyum. "Emh aku memang mencintai kamu dari sejak kita sebelum menikah, aku menawarkan kesepakatan dengan kamu dulu itu hanya sebatas alasan aku saja karena ingin mendapatkan kamu, dan akhirnya aku berhasil ya walaupun sekarang kamu masih belum yakin terhadap ku." tutur Aris menjelaskan.
"Kenapa kamu begitu mudahnya mencintai aku padahal dulu kita sangat saling tidak suka? Apa yang membuat kamu merasa yakin kalau aku pantas menjadi istri kamu?" tanyanya serius.
"Jangan tanyakan kenapa, aku pun tidak mengerti, sebelum aku bertemu dengan kamu aku adalah orang yang tidak mudah jatuh cinta, padahal aku selalu ingin mencoba melupakan perempuan yang selama ini aku cintai, tapi ntah kenapa bertemu dengan kamu yang awalnya tidak suka menjadi suka mungkin karena campur tangan Allah dengan mudah membalikkan hati ku perasaan ku ini." balas nya dengan penuh keyakinan seraya menatap Via dengan tatapan sendu.
"Apa aku boleh tahu siapa perempuan yang selama ini kamu cintai, yang pernah kamu katakan bahwa ia sudah menikah dan kamu waktu itu masih mencintainya?" tanyanya semakin penasaran.
"Nisa! Perempuan yang dulu aku cintai adalah Nisa istri dari Iptu Adam, kamu mengenal nya." jelas Aris yang membuat Via terkejut sampai menutup mulutnya tidak percaya akan jawaban suaminya itu.
"Jadi ibu Nisa istri pak Adam yang kamu cinta?" tanya Via merasa tidak percaya.
__ADS_1
Aris mengangguk pelan. "Iya dia perempuan itu, dan itu membuat kami salah paham waktu itu, makanya waktu itu aku mengajak kamu kesana untuk mengenalkan kamu pada mereka agar pak Adam tidak selalu berpikir aku akan merebut nisa darinya.
"Apa semudah itu bu Nisa bisa digantikan dengan adanya aku di hati kamu?" tanyanya lagi karena merasa heran saja dan meyakinkan itu.
"Emh ya, aku yakin tapi banyak alasan mengapa aku sampai mengajak kamu untuk menikah, selain aku merasa nyaman dekat dengan kamu, kamu juga perempuan yang baik ya walaupun berbeda dengan Nisa tapi ntah kenapa aku bisa saja menerima itu semua." ujarnya dengan senyum heran juga dia kenapa bisa suka pada Via. "Dan sebelum aku mengajak kamu menikah aku sudah melakukan dahulu shalat istikharah dan dalam mimpiku berturut-turut selalu saja ada kamu saat aku selesai melakukan shalat itu, makanya aku semakin yakin mungkin kamulah jodoh aku yang akan membuat ku bahagia dan bisa membuat ku lupa akan perempuan yang selama ini susah aku lupakan." sambung nya.
Via tertegun mendengar perkataan Aris ia selama ini tidak tahu jika Aris melakukan shalat istikharah sebelum dia mengajaknya menikah dengan dirinya, Via pikir dia laki-laki yang memang ada mau nya ketika ia mengajak nya menikah karena dia yang sudah menawarkan suatu penawaran yang sangat menguntungkan bagi Via, ia sudah salah berpikir akan hal itu.
"Aku tidak akan meminta hak ku pada kamu sebelum kamu benar-benar menyerahkan hatimu untukku sepenuhnya, aku akan bersabar menunggu kamu jika kamu sudah benar-benar siap, ya kalau kamu tidak khilaf sih hehe." ucap Aris cengengesan membuat Via mengusap wajah Aris gemas karena sedang serius dia malah bercanda.
"Hehe aku bercanda, tapi serius!" sahut nya lagi.
Via jadi terdiam. "Apa memang kamu mau melakukan nya denganku?" tanyanya dan membuat Aris tersenyum.
"Mau jika kamu benar-benar sudah siap! Aku tidak akan memaksa kamu, aku janji aku akan bersabar." balas nya. "Iya kalau aku kuat sih tapi kalau gak kuat ya aku dadah dadah paling!" tambahnya dengan menggoda.
Via mengerutkan keningnya bingung apa maksud dari suaminya itu. "Dadah dadah apa maksud kamu?"
Aris tersenyum melihat Via yang penasaran dengan candaan nya. "Sudah ah jangan di bahas gak penting! Sekarang tidur ini sudah malam." ajaknya seraya merebahkan tubuh nya yang belum begitu ngantuk sebenarnya.
"Kamu sudah ngantuk?" tanya Via dengan tubuh sedikit miring menghadap ke arah Aris yang ada di depannya.
"Belum sih, tapi ini sudah malam biasanya kamu sudah tidur jam segini."
"Iya sudah tidur sajalah!" ucapnya sedikit sebal padahal ia masih ingin mengobrol dengan nya. Dan menggali semua isi hatinya yang sebenarnya pada dirinya.
"Kamu memang belum ngantuk?" tanyanya karena sepertinya Via masih ada yang ingin dia tanyakan lagi padanya.
Via menggelengkan kepalanya lemah dan mengangguk membuat Aris yang melihat nya menjadi bingung antara mau dan tidak.
__ADS_1