
Sesampainya di rumah setelah membeli kebutuhan dapur Nisa dan pembantu nya langsung menuju dapur, Nisa membantu bibi pembantu nya untuk memasak kesukaan Adam yang sebentar lagi akan pulang, Adam sudah mengabarkan kalau dirinya sedang dalam perjalanan pulang bersama rekan anggota kepolisian.
"Neng kalau neng cape gak usah bantuin bibi neng istirahat aja biar masak bibi yang bereskan." ucap pembantu Nisa.
"Gak apa bi aku mau masak untuk mas Adam sekali-kali lah bi nyenengin suami hehe." ujar Nisa dengan tersenyum.
"Neng Nisa mah gak usah nyenengin pak Adam lagi, pak Adam nya juga sering terlihat bahagia sama neng Nisa walaupun neng Nisa gak masak." sahut bibi itu menggoda Nisa.
"Bibi bisa aja deh, mas Adam suka larang aku masak semenjak aku hamil bahkan sekarang pekerjaan rumah bibi yang kerjakan kadang aku bosan bi kalau diam terus gak ada kegiatan sama sekali." tutur Nisa merasa bosan.
"Berarti pak Adam sayang banget sama neng Nisa, beliau gak mau kalau neng Nisa kecapean apalagi kalau sedang hamil, suami perhatian itu neng." urai bibi memuji majikan nya.
"Ya alhamdulilah aku bersyukur banget punya suami seperti mas Adam, tapi ya aku kan lagi hamil bukan lagi sakit bi, aku bosan saja kalau di rumah cuma main handphone terus nonton TV doang apalagi mas Adam kan jarang banget ada di rumah karena kesibukan nya." ucap Nisa bercerita pada pembantu nya.
"Iya sih pasti bosan tapi itu perhatian pak Adam yang sangat sayang terhadap istri." jawab bibi. "Oh ya neng tadi laki-laki yang di supermarket siapa neng seperti nya akrab sekali sama neng Nisa?" tanya bibi penasaran.
"Oh itu pak Rangga mantan bos waktu dulu aku kerja bi." sahut Nisa cepat saat mereka sedang sibuk di dapur.
"Ganteng ya neng masih muda lagi, orang kaya dia neng?" tanya bibi semakin penasaran.
"Bibi tahu aja sih sama cowok ganteng! Iya dia kaya lah bi dia kan pemilik supermarket tempat kita belanja tadi bi, pak Rangga itu memiliki berbagai pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia, dan banyak cabang juga di kota ini, dia itu pengusaha sukses." tutur Nisa memberi tahu pada bibi yang terlihat penasaran.
"Apa neng Nisa pernah suka sama pak Rangga itu, secara ya dia itu laki-laki sempurna di mata perempuan, atau pak Rangga nya pernah suka juga gak sama neng Nisa." tanya bibi kepo.
Nisa tersenyum tipis. "Kenapa bibi tanya seperti itu, aku sih biasa saja bi suka sebatas antara karyawan dan bos." jawab Nisa jujur.
"Tapi sepertinya pak Rangga itu yang suka sama neng Nisa ya? Bibi melihat nya seperti ada yang beda aja dari cara menatap sama neng Nisa, bener gak sih tebakan bibi neng?" tanya nya.
"Iya sih tapi itu dulu mungkin sekarang tidak." jawab Nisa sedikit malas untuk menceritakan.
"Wah bibi penasaran sama kisah cinta neng Nisa coba ceritakan sedikit neng biar bibi gak penasaran!" ucap nya.
"Panjang bi cerita nya hehe. Dulu pak Rangga memang pernah suka sama aku tapi aku sudah bertunangan sama mas Adam, singkat cerita mereka sempat berselisih dan mas Adam hampir saja kehilangan nyawanya karena keegoisan pak Rangga yang tidak terima kalau aku sudah bertunangan dengan mas Adam, tapi Alhamdulillah sih sekarang mereka sudah baik-baik saja karena kebaikan mas Adam yang tidak memperpanjang kasus pak Rangga yang ingin mencelakai mas Adam." ucap Nisa menceritakan kisah tentang nya bersama Rangga dulu.
"Eh gening jahat mantan bos neng Nisa teh, ganteng-ganteng kok jahat ya ah bibi jadi gak suka." sahut bibi kesal.
"Itu dulu bi tapi sekarang gak, pak Rangga sudah meminta maaf dan dia juga sudah berubah, jadi kalau bibi mau suka gak apa-apa hehe." goda Nisa pada pembantu nya.
__ADS_1
"Ah bibi mah nge-fans nya sama pak Adam aja ah udah ganteng baik lagi." canda bibi dengan cekikikan.
"Dia udah ada yang punya lho bi gimana kalau yang punya nya marah." ujar Nisa pura-pura marah dan cemberut.
"Hehe cuma nge-fans lho neng gak bakal bibi rebut mana mau pak Adam sama emak-emak bau bawang." sahut bibi bercanda.
"Ada apa ini kok nama saya di sebut-sebut?" suara itu terdengar dari menggema saat Nisa dan pembantu nya asyik memasak dan bercanda.
"Eh mas kamu sudah pulang? Kok aku gak dengar kamu ucap salam." sapa Nisa saat melihat suaminya itu berdiri di dekat pintu menuju dapur.
"Tadi mas udah ucap salam kok tapi gak ada yang jawab eh ternyata kamu lagi asyik di dapur." jawab Adam santai.
Nisa pun mengikuti Adam yang berjalan menuju sofa ruang keluarga setelah Nisa mencium tangan Adam. Adam duduk di sofa masih dengan pakaian seragam lengkap nya.
"Mas cape ya, sini ransel nya aku simpan di kamar." tawar Nisa melihat Adam duduk di kursi tanpa menyimpan ransel yang ia bawa.
"Gak usah sayang ini berat biar mas simpan dulu di sini." ujar Adam menyimpan ranselnya di bawah dekat kakinya.
"Berat berapa kilo sih mas ranselnya sampai aku gak boleh bawa?" tanya Nisa sebal karena tidak diperbolehkan.
"Ish gembel deh kamu mas." sahut Nisa malu-malu.
"Gemblong kali sayang." jawab Adam cengengesan.
"Ih gak nyambung ah, mas mending sekarang mandi terus kita makan." ajak Nisa lembut.
"Ok sayang..." ucap Adam lalu mencium keningnya Nisa lama.
*
*
*
Saat malam tiba ketika Nisa sedang berduaan bersama Adam setelah Adam menengok calon buah hatinya mengobati rasa rindu beberapa hari tidak bertemu menumpahkan rasa cinta yang semakin hari semakin bersemi.
"Sayang..." panggil Adam lembut membenarkan selimut yang Nisa pakai karena sedikit turun ke bawah membuat Adam menahan rasa ingin lagi.
__ADS_1
"Apa mas?" jawab Nisa lembut.
"Kamu sudah cek lagi belum kandungan kamu, kira-kira kalau di USG sekarang sudah terlihat belum ya jenis kelamin nya?" tanya Adam bersemangat.
"Aku gak tahu mas, aku belum cek lagi nanti saja lah mas kalau sudah 7 bulan, kata dokter seperti itu mas yang sabar aja ya." ucap Nisa lembut.
"Mas cuma penasaran aja sih hehe." sahut nya cengengesan.
"Kenapa sih penasaran banget mas, memang mas mau punya anak perempuan atau laki-laki?" tanya Nisa asal.
"Mau nya sih laki-laki tapi perempuan juga mas bersyukur juga pastinya karena dua-duanya kan sama-sama rejeki dan anugerah." jawab Adam serius.
"Tapi kalau mas boleh minta sama Allah sih mau nya anak laki-laki." ucap Adam penuh harap.
"Kenapa? Aku mau tahu alasan nya?" tanya Nisa penasaran.
"Ya mas mau kalau anak kita laki-laki itu supaya ada yang bisa gantikan mas saat mas gak ada nanti." ujar Adam memberi tahu.
"Maksud nya mas?" tanya Nisa tidak mengerti menatap Adam dengan serius.
Adam tersenyum menatap Nisa wajah Nisa dengan seksama. "Mas kan selalu ninggalin kamu saat tugas kalau misalnya anak laki-laki kan bisa menemani kamu saat mas jauh." ucap Adam serius namun di otak Nisa tidak masuk akal.
"Mas anak perempuan juga bisa kok nemenin aku kan sama-sama menghibur aku dalam kesepian." ujar Nisa tidak mengerti maksud Adam.
"Iya mau nya sih anak kita itu laki-laki supaya dia bisa menjaga kamu nanti jika dia sudah besar." tutur Nisa menjelaskan.
"Mas aku jadi merasa sedih sih kamu ngomong begitu." ucap Nisa sebal.
"Kok sedih sih, perasaan kan mas gak salah ngomong." sahut Adam heran salah nya dimana.
"Gak salah sih mas cuma aku denger nya sedih aja kamu ngomong gitu." jawab Nisa cemberut.
Cup satu kecupan singkat dari bibir Adam mendarat ke bibir Nisa. "Jangan cemberut gitu dong mas gak ada niat bikin kamu sedih begini." ucap Adam lirih.
Nisa menundukkan wajahnya sedih. "Tapi aku merasa kamu akan..." ucapan Nisa tertahan tak mampu ia lanjutkan.
Adam yang melihat Nisa jadi bersedih seperti itu memeluk Nisa dengan erat dan sayang dan menciumi kepala Nisa yang sedang berada di dadanya. "Jangan berpikir yang macam-macam dan yang aneh-aneh." ucap Adam lembut.
__ADS_1