Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
tangisan bayi


__ADS_3

Di saat Aris dan Via sedang asyik berteleponan terdengar suara tangis bayi Nisa yang begitu kencang ntah kenapa bayi Nisa menangis seperti itu membuat Aris mengerutkan keningnya heran.


"Sayang disana seperti ada suara tangis bayi, bayi siapa?" tanya Aris penasaran seraya dengan ekspresi mencoba mendengar suara bayi yang menangis lagi.


"Emh masa sih? A...aku kok gak dengar ya, Abang salah dengar kali." elak Via namun suara tangis itu ada lagi apalagi dengan suara Nisa yang mencoba untuk menenangkan bayinya itu.


"Tuh dengarkan! Masa suara kencang begitu kamu gak dengar sih?" tanyanya lagi.


"Emh itu mungkin suara tangis bayi anak tetangga Sofi yang tinggal di sebelah kali hehe." jawab Via cengengesan karena ia sudah berbohong.


"Oh gitu, kirain suara bayi kita." balas Aris menggoda istrinya.


"Bayi kita? Bagaimana bisa aku punya bayi, aku itu seperti ladang kosong yang sudah lama tidak di garap jadi mana mungkin bisa menghasilkan!" sahut Via sebal bisa-bisanya suaminya itu berpikir seorang bayi sedangkan mereka saja menikah masih bisa terhitung oleh bulan.


"Hehe iya aku cuma bercanda kok sayang... jangan ngambek begitu, nanti kalau aku pulang aku akan garap ladang kosong itu dengan tanaman yang bisa menghasilkan buahnya." ucap Aris yang membuat Via tersenyum geli.


"Apa sih obrolan kita semakin kesini semakin ngawur aja, sepertinya kamu butuh istirahat, istirahat gih disana kan masih malam kita lanjutkan besok lagi telponnya ya." Via mencoba memutuskan untuk segera menyudahi telpon nya ia berniat untuk membantu Nisa yang bayi nya masih menangis.


"Aku kan masih kangen sama istri ku!" ucapnya.


"Tapi kamu butuh istirahat! Kita lanjutkan besok ya... Ya sudah aku tutup telponnya ya. Assalamualaikum..." ucap Via langsung menutup panggilan telepon Aris membuat Aris merasa aneh dengan sikap istrinya.


"Wa'alaikumussalam." jawabnya. "Kenapa dengan istriku?" batinnya heran.


Ketika Via sudah memutuskan panggilan suaminya itu ia langsung keluar menemui Nisa yang sedang menenangkan bayinya itu.

__ADS_1


"Kenapa dengan bayi kamu? Tadi aku dengar dia menangis kencang sekali." tanya Via saat dia sudah berada dekat dengan Nisa.


"Maaf ya Via tangisan bayiku menganggu kamu ya. Aku juga gak tahu kenapa tiba-tiba saja dia nangis, aku juga sulit sekali menenangkan nya padahal sudah aku kasih asi." jawab Nisa sedikit panik dengan keadaan bayinya itu.


"Tidak menggangu kok sudah biasa kan jika bayi itu menangis, tapi aku kasihan saja tangisnya tidak seperti bayi karena lapar. Coba aku lihat ya!" pintanya seraya menggendong bayi Nisa dan membawanya ke sofa. "Aku boleh minta minyak bayi?" tambahnya lagi.


Lalu dengan cepat Nisa mengambil minyak bayi yang ada di dalam kamarnya dan memberikannya pada Via. Via pun menerima minyak itu dan dengan cepat ia mengoles nya pada tubuh bayi Nisa dengan telaten Via pun mengurutkan tangan nya yang penuh minyak itu pada punggung sang bayi, walaupun bayi itu masih terus menangis Via tidak menghiraukan tangisan bayi itu ia terus saja fokus pada mengurutkan pijatan lembut pada bayi. Dan tidak lama setelah terasa pijatannya tangis bayi pun mulai mereda dan mulai pelan lama kelamaan bayi pun diam seperti menikmati sentuhan pijatan dari tangan Via yang begitu lembut. Via tersenyum melihat ekspresi wajah lucu bayi itu.


"Eh dia berhenti nangisnya." seru Nisa lega melihat bayi nya sudah diam tidak menangis lagi.


"Bayi kamu tidak enak badan, mungkin dia masuk angin atau badan nya yang terasa pegal. Bayi juga membutuhkan pijatan seperti orang dewasa. Apa bayi kamu tadi jatuh atau bagaimana?" Via menjelaskan secara pendek tentang kebutuhan bayi. "Bayi kan gak enak badan sedikit saja pasti bawaannya rewel dan gak nyaman." sambung nya membuat Nisa manggut-manggut tanda mengerti.


"Wah kamu hebat Via belum punya bayi tapi sudah paham bagaimana merawat bayi." Nisa memuji kehebatan Via.


"Oh gitu ya, aku kira pijat nya ya biasa saja!" sahut Nisa baru tahu.


"Nanti aku akan ajarkan ya kalau kamu mau, karena bisa kok pijat ini dilakukan oleh ibunya sendiri karena ibu kan paling tahu apa yang di butuhkan oleh bayinya." balas Via.


"Wah boleh tuh aku mau kamu ajarkan ya, jadi kalau bayi ku butuh pijatan biar aku saja yang memijat nya. Kamu udah cocok ni jadi seorang ibu, Via... Aris beruntung sekali bisa mendapatkan istri paketan seperti kamu." ucap Nisa semakin kagum pada Via.


"Paketan? Maksudnya apa?" tanya Via dengan tersenyum dan heran dengan ucapan Nisa.


"Iya paketan! Sudah cantik seorang perawat dan bakal jadi calon ibu yang pintar merawat anak nya nanti." jawab Nisa memuji Via.


Via tersenyum akan jawaban Nisa. "Hemmm kamu bisa saja Nis, pak Adam juga beruntung mendapatkan istri seperti kamu, sudah cantik berhijab dan kamu juga baik. Terima kasih ya Nisa kamu sudah mau menghibur aku dan juga memberikan tumpangan menginap untuk malam ini disini, aku gak tahu harus dengan apa aku membalas kebaikan kamu dan juga pak Adam, aku sudah merepotkan kamu, maaf ya." ucap Via sungkan.

__ADS_1


"Iya sama-sama Via, aku juga tidak merasa di repotkan kok malah aku senang kamu menginap di sini aku jadi punya teman ngobrol dan aku juga jadi tahu sekarang bagaimana cara merawat bayi." ujar Nisa merasa senang seraya memeluk tubuh Via dan Via membalas pelukan itu.


Tidak lama Adam pun datang ia melihat kedua perempuan saling memeluk dan bayinya terlihat tidur di sofa dengan begitu nyenyak nya.


"Aduh ada apa ini kok peluk-peluk begitu!" tanya Adam dengan selidik melihat kedua nya. "Kalian gak berbuat yang aneh-aneh kan?" sambung nya membuat Via dan Nisa tertawa karena disangka mereka melakukan hal di batas norma.


"Hei saya tanya ya! Kalian malah tertawa seperti itu. Jangan karena suami kalian pergi untuk bertugas kalian jadi tidak normal!" balas Adam sebal.


Nisa tersenyum geli melihat suaminya menyangka jika dia dan Via jadi tidak normal karena di tinggal para suami nya untuk bertugas. "Maas... kamu apa sih datang-datang mikirnya udah jelek begitu, kamu pikir kita itu gak normal? Pelukan begitu bukan berarti kita itu gak normal tapi pelukan kita ini pelukan antara sahabat atau saudara jadi jangan mikir yang macam-macam, kita itu masih normal walaupun suami kita tega meninggalkan kita untuk bertugas." sanggah nya dengan cemberut.


"Hemm kita kan pergi juga untuk bertugas demi negara bukan untuk bermain-main dengan perempuan, jadi mengertilah..." jawab Adam melembut karena Nisa seperti sedang mengadu karena sering di tinggal sendiri di rumah.


"Itu kenapa anak kita tidur di sofa seperti itu? Kenapa tidak di kamar saja?" tanya Adam melihat anaknya tidur di atas sofa lalu Nisa pun menceritakan apa yang terjadi pada bayinya dan dia juga memberi tahu jika Via lah yang membuat bayinya tertidur kembali dengan begitu nyaman.


"Oh ya terima kasih ya suster Via karena sudah menolong istri saya menenangkan bayi kita." ucap Adam berterima kasih pada Via dengan tulus.


"Sama-sama pak saya juga mau ucapkan terima kasih juga karena pak Adam sudah menolong saya." ucap Via juga berterima kasih.


"Sama-sama, tidak usah sungkan. Oh ya mengenai kejadian kemarin itu rekan saya yang tahu kejadian mereka sudah membawa laki-laki yang menggangu kamu kemarin, laki-laki itu sudah di bawa ke Polsek untuk diperiksa. Jika kamu berkenan datang untuk mengumpulkan bukti-bukti jika dia sudah melakukan kejahatan terhadap kamu, kasus ini bisa kamu bawa pada persidangan jika kamu mau." ujar Adam menjelaskan perkara yang berhubungan dengan kejadian yang di alami Via kemarin.


"Apa aku harus membawa masalah ini ke jalur hukum?" tanya Via pada Adam.


"Iya jika kamu mau masalah ini akan kamu bawa ke persidangan tapi jika kamu memaafkan si pelaku ya tidak apa-apa. Ini hak kamu sebagai korban, tapi kita bisa lihat lagi si pelaku itu berniat meminta maaf dan merasa bersalah atau tidak jika dia tidak ada niatan baik terhadap kamu kemungkinan, ditakutkan si pelaku akan berbuat jahat lagi terhadap kamu nantinya karena merasa tidak ada efek jera." tutur Adam menjelaskan maksud dari perkara hukum itu.


Via pun berpikir apa dia harus melaporkan kejadian ini pada pihak kepolisian atau tidak karena dia tahu pelakunya adalah mantan tunangannya. Ia pikir jika Tama masih memiliki hati baik jika di bicarakan secara baik-baik. Tapi untuk saat ini Via masih takut jika bertemu lagi dengan Tama.

__ADS_1


__ADS_2