
Via menatap wajah Aris suaminya dengan begitu intens, melihat suaminya itu tertidur dengan nyaman dan damai membuat Via tersenyum. Ranjang yang di sediakan untuk satu orang pasien kini mereka tempati sehingga Via dan Aris begitu dekat sangat dekat.
Di usapnya kening Aris itu dengan pelan, rasa sayang dan cinta terhadap suami nya itu semakin hari semakin ia rasakan. Via bahagia saat ini bisa menjadi bagian hidup bersama dengan Aris, laki-laki yang dulu ia sangat tidak sukai. Di elus nya perut yang kini telah hadir tumbuh janin di dalamnya. "Sayang kamu harus kuat ya... kuat seperti ayah kamu." elus nya Via pada perutnya sendiri dengan menatap wajah Aris yang tertidur di sampingnya.
Via kembali mengelus kedua alis suaminya sedikit memainkannya. "Aku rasa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari ku tapi kamu tidak menceritakan hal itu." ucap Via pelan lalu Via menghela nafasnya pelan. "Begini ya rasanya jika seseorang yang dekat dengan kita menyembunyikan sebuah rahasia yang tidak di ceritakan kepada kita, apa kamu juga akan merasakan apa yang aku rasakan jika kamu tahu bahwa ada sesuatu yang tidak aku ceritakan padamu?" sambungnya.
Via menghentikan kegiatannya. "Maaf sayang bukan aku tidak mau menceritakan apa yang telah terjadi padaku selama kamu jauh dariku, tapi aku merasa takut dan juga malas rasanya mengingat kejadian itu, aku tidak mau membahasnya lagi selama kak Tama tidak menggangu rumah tangga kita." batin Via semakin merasa bersalah karena tidak bercerita pada suaminya.
Via langsung terdiam mengingat sesuatu. "Apa jangan-jangan suami ku diam dari tadi dan terlihat melamun seperti itu karena dia sudah tahu apa yang aku rahasiakan darinya?" Via dengan penuh tanya-tanya di dalam hatinya mengingat tadi suaminya itu bertanya tentang Tama apakah dia mengganggu apa tidak selama suaminya itu pergi bertugas.
"Apa pak Adam dan juga Nisa sudah menceritakan hal itu ya? Ah bagaimana ini jika suami ku akan memperlakukan masalah ini?" batin Via penuh ketakutan.
Saat Via dalam pemikiran yang membuat nya takut dan juga cemas tiba-tiba sebuah sapaan terdengar. "Assalamualaikum?" sapa mama mertua seraya membukakan pintu ruangan dimana menantu nya itu di rawat.
"Wa'alaikumussalam mah." jawab Via.
Mama mertuanya pun masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Via yang sedang terbaring di kasur nya. "Lho Aris sudah pulang? Ini anak kenapa ikut tidur di ranjang pasien, bagaimana kalau ada dokter yang memeriksa kamu sayang!" ucap mama mertua pada Via melihat anak nya dengan nyamannya tidur di atas ranjang pasien.
Via tersenyum. "Gak apa-apa mah kasihan bang Aris pasti ngantuk dan juga lelah habis pulang dinas, apalagi dari kemarin malam kan dia kurang istirahat." balas Via dengan suara yang pelan takut suaminya itu terbangun oleh suara nya.
Mama mertuanya hanya menghela nafasnya panjang. "Ya sudah nanti kalau ada dokter atau perawat kesini kamu bangunkan dia ya."
"Iya mah!"
Tidak lama saat mama mertua nya itu duduk di di kursi yang ada di dalam ruangan dua orang perawat datang memeriksa keadaan Via pagi ini, melihat suami dari pasien bernama Via ini tidur di ranjang bersama pasien di ranjang pasien membuat perawat itu langsung angkat bicara. "Maaf ibu Novia, jika bukan pasien di larang untuk tidur di ranjang pasien karena akan membuat pasien tidak nyaman. Untuk itu kami harap ibu Novia membangunkan suami anda!" ucap perawat itu dengan sopan.
Via tersenyum. "Gak apa-apa suster, kasihan suami saya dia kelelahan setelah pulang dari dinasnya, lagi pula ranjang nya cukup kok untuk berdua saya tidak keberatan. Saya juga sudah agak mendingan sekarang." balas Via dengan lembut meyakinkan kedua suster itu agar membiarkan suaminya itu untuk tidur di ranjangnya.
"Iya sudah kalau begitu terserah ibu Novia saja tapi jika nanti dokter datang untuk memeriksa ibu tolong suami anda sudah bangun." ucapnya lagi.
"Baiklah." sahut Via cepat.
"Kami akan periksa ibu dulu ya, sekalian akan menyuntikkan cairan vitamin pada infusan ibu Novia." ujarnya menjelaskan maksud mereka datang masuk ke ruang inap dimana Via berada.
Mama mertuanya hanya tersenyum saja melihat Aris anaknya yang masih nyaman di sana dan senang melihat menantunya yang begitu perhatian pada Aris sebagai suami nya.
"Kalau begitu kami suntikan dulu ya Bu." ucapnya dengan mengeluarkan sebuah suntikan beserta cairan vitamin.
__ADS_1
Saat suster itu mengacungkan jarum suntik nya dan siap di suntikan pada Via, Aris yang tersadar karena mendengar suara-suara di sekitar menjadi terbangun dan saat ia membuka matanya alangkah terkejutnya ia yang langsung melihat jarum suntik di hadapannya. Aris langsung meloncat dengan sangat terkejut ia pikir ia yang akan di suntik.
"Jangan suntik saya!" teriak nya membuat orang-orang yang ada di dalam terkejut dengan teriakan Aris yang tiba-tiba itu. "Jangan suntik saya!" teriak nya lagi seraya menghindar dan bersembunyi di balik tubuh ibunya yang sedang cekikikan melihat anaknya yang begitu ketakutan.
"Suntik aja sus anak saya ini!" goda mama pada anaknya itu. "Suntik sus suntik!" ucapnya lagi membuat Aris kesal saja bisa-bisanya mamanya itu menakut-nakuti nya.
"Sayang tenang, suster tidak akan menyuntik kamu kok kamu kan sehat. Ini suntikan untuk aku, jangan khawatir dan jangan takut." ucap Via lembut melihat Aris suaminya itu sangat takut akan jarum suntik ia merasa khawatir karena fobia suaminya itu.
Kedua suster itu pun menahan senyumnya karena melihat suaminya pasien yang ketakutan akan jarum suntik, lucu nya ia yang masih memakai seragam TNI nya yang terlihat gagah kalang kabut saat melihat jarum suntik. "Maaf suster suami saya takut dengan jarum suntik." ucap Via memberi tahu ketakutan suaminya itu.
Kedua Suster itu hanya tersenyum mendengar apa yang di ucapkan Via karena merasa tidak enak juga jika menertawakan seseorang yang akan takut dengan apa yang ia takutkan. "Pemeriksaan kami sudah selesai, nanti dokter akan memeriksa keadaan ibu Novia lagi pukul sembilan nanti. Kalau begitu kami permisi! Maaf ya pak kami mengejutkan anda!" ucapnya tidak enak hati dan di angguki pelan oleh Aris.
Aris mendekati istrinya yang sedang tersenyum padanya. "Sayang kenapa kamu tidak bangun kan aku tadi, aku sungguh terkejut! Lihat ini!" tunjuk nya pada kedua kakinya yang bergetar akan ketakutan nya pada jarum suntik.
"Maaf, tadi aku gak tega kalau bangunkan kamu. Kamu terlihat sangat lelah sekali." sahut nya pelan.
"Kamu kenapa menyalahkan mantu mama sih, kamu nya aja yang nyenyak tadi sampai suster masuk kamu gak bangun!" omel mama pada Aris. "Buang rasa ketakutan berlebihan kamu itu, bagaimana jika anakmu nanti menertawakan ayahnya yang takut jarum suntik!" sambung nya dengan mengelus perut mantunya itu. "Nanti cucu omah jangan takut jarum suntik seperti ayahmu ya nak, memalukan!" sindir mama Aris pada anaknya yang membuat Aris semakin cemberut sebal.
Aris cemberut merasa tidak di bela oleh ibunya sendiri. "Yang anak mama itu siapa sih, mama kok malah bela mantu mama sama calon cucu!" sahut nya sebal menahan gemetar akan ketakutan nya pada jarum suntik.
Aris melihat pergelangan tangannya melihat jam di tangan. "Aku pulang dulu ya, mau mandi dan ganti baju. Rasanya lengket sekali." Aris mengalihkan topik agar ia tidak selalu di goda oleh mama dan juga istrinya. Dan di iyakan oleh kedua wanita yang sangat ia cintai.
"Siang ini aku akan menemui Tama, aku akan memberikan perhitungan padanya agar dia tidak mengganggu rumah tangga ku!" geram Aris dalam hatinya.
*
*
*
Saat di perjalanan menuju rumah nya sebelum ia menemui Tama nanti di perusahaan yang ia pimpin. Aris dengan menggunakan mobil nya melajukan kendaraannya dengan kecepatan seperti biasa. Aris merenggangkan otot leher nya yang terasa pegal, dengan memijat-mijat lehernya yang sakit.
Aris asyik saja mengendarai mobil nya itu, namun di tengah perjalanan nya ia melihat sebuah mobil yang dari tadi seperti mengikuti nya. Karena mobil itu keluar dari rumah sakit dimana Via di rawat sampai ia di perjalanan mobil itu masih mengikuti nya. "Mobil siapa yang mengikuti ku?" gumam Aris melihat dari kaca spion mobil nya.
"Hemm seperti nya ada yang ingin bermain-main dengan ku! Ayok kawan mari kita bermain-main, ayok terus kejar mobilku!" ucap Aris seraya menambahkan kecepatan mobil nya. Dan benar saja mobil itu dengan cepat mengejar mobil Aris yang semakin cepat.
"Benar, mereka sedang mengikuti ku! Ada masalah apa mereka dengan ku, sepertinya aku juga tidak mengenal mobil itu." pikir nya dalam hati. "Ok ayok terus ikuti aku, aku akan lihat siapa yang berani mengikutiku dan mencari masalah dengan ku!"
__ADS_1
Aris terus melajukan mobil nya dengan cepat membawa mobilnya ke arah tempat yang sepi. Lalu ia pun menghentikan mobil yang mengikuti nya itu menghadangnya dengan mobil yang ia kendarai. Lalu setelah mobil yang mengikuti nya itu bisa ia hentikan Aris pun dengan cepat turun dari mobilnya lalu melangkahkan kakinya dengan cepat menghampiri orang yang mengikuti nya dari rumah sakit tadi. "Buka pintu dan keluar kalian!" perintah Aris dengan suara tinggi dan juga tegas dengan mengetuk pintu kaca mobil si pengikut tadi.
"Sial! Kita ketahuan olehnya." ucap salah satu orang yang ada di dalam mobil itu.
"Keluar!" ucap Aris kembali dengan suara penuh kegeraman karena orang-orang di dalam masih diam tak bergeming. "Saya akan memecahkan kaca mobil ini jika kalian tidak keluar!" ancamnya.
Akhirnya mereka pun keluar dari mobilnya karena Aris mengancam akan memecahkan kaca mobilnya dan mereka pun tidak akan bisa kabur karena mobil mereka terhalang oleh mobil target yang ia ikuti.
Aris langsung menarik kerah orang yang mengikuti nya. "Katakan ada urusan apa kalian dengan saya? Kenapa kalian mengikuti saya?" Aris tanpa basa-basi menanyakan maksud mereka berdua. Namun mereka tidak menjawab pertanyaan Aris membuat Aris menjadi kesal dibuatnya.
Bug. Sebuah pukulan pada perut si penguntit sehingga dia meringis kesakitan. Salah satu rekan nya yang melihat temannya itu di pukuli dia pun tidak diam mencoba menghentikan pukulan itu dengan menarik tubuh Aris dari belakang dan sampai pada akhirnya mereka saling memukul saling membalas pukulan. Satu lawan dua tapi karena Aris yang bisa bela diri pun akhirnya dua orang yang mengikuti nya itu bisa terkalahkan.
"Cepat katakan! Apa saya memiliki masalah dengan kalian hah?" tanya Aris pada salah satu orang itu dan yang satunya lemah tak berdaya karena pukulan Aris.
"Ti... tidak, kami tidak memiliki urusan dengan anda." jawab nya lemah.
"Lalu kenapa kalian mengikuti saya?" geram Aris dengan suara tinggi nya.
"Kami hanya di perintahkan oleh seseorang!" tambah nya lagi dengan suara takut dan gemetar.
"Siapa? Cepat katakan!" emosi Aris semakin memuncak.
Si penguntit itu diam tidak langsung menjawab pertanyaan Aris yang memaksa nya untuk menjawab.
Bug... satu pukulan lagi Aris berikan pada orang itu. "Ma...maaf pak kami minta maaf!" ucapnya takut.
"Ayok cepat katakan siapa yang menyuruh kalian untuk mengikuti saya dan memata-matai saya hah?" tanya Aris lagi. "Kalau kalian masih tidak mau menjawab akan aku patahkan tulang leher kalian!" ancam nya tidak main-main.
Dua orang suruhan itu pun dengan gemetar takut dengan ancaman orang yang ada di hadapannya itu. Orang yang ada di hadapannya itu terlihat sangat marah.
"Kami di perintahkan untuk mengikuti anda dan memata-matai anda oleh..." ucapnya ragu membuat Aris tidak sabar dan semakin marah.
"Cepat katakan berengsek!" titah nya tidak sabar dengan memberikan pukulan lagi.
"Saya di perintahkan oleh pak Tama seorang direktur muda di perusahaan xxx." ucapnya cepat dengan suara meringis kesakitan.
Mendengar ucapan kedua orang itu yang mengatakan bahwa Tama lah yang menyuruhnya Aris pun terdiam. "Tama! Lagi-lagi dia! Orang itu benar-benar ingin berurusan dengan ku!" geram Aris dalam hati nya. Aris sangat marah saat ini benar-benar marah dengan perbuatan Tama terhadapnya yang ingin menggangu hubungan nya dengan istrinya. Aris akan terlihat lemah lembut jika berhadapan dengan orang yang selalu menghormati apalagi dengan istrinya ia akan mengalah. Namun dia akan berubah menjadi kejam dan juga menakutkan jika ada yang menggangu ketenangan hidupnya. Karena dia terbiasa hidup dengan kekerasan sebagai seorang TNI.
__ADS_1