
"Jangan bilang kalau elu belum tahu tentang kabar kehamilan istri elu itu!" sergah Satria saat mereka sudah mengantarkan Aris ke tempat tinggal nya.
Adam menghirup udara dengan frustasi. "Memang gue gak tahu kalau Nisa sedang hamil, apa pak Aris itu bohong atau sedang bercanda." elak Adam menatap Satria.
"Kayaknya pak Aris itu lagi gak bercanda deh Dam, buat apa juga dia bercanda, iya kan?" tanya Satria heran.
"Gue jadi ngerasa kecewa sama Nisa Kenapa bukan gue yang lebih tahu duluan tentang kehamilan nya." ucap Adam kesal.
"Mungkin Nisa mau ngasih kejutan buat elu, udah lah elu jangan kesal begitu harus nya kan elu bahagia istri elu hamil buah cinta elu sama Nisa." ucap Satria menenangkan Adam.
"Iya gue bahagia tapi kalau orang lain yang lebih tahu kehamilan nya di banding suami nya sendiri, gue ngerasa di duain aja gitu, kecewa aja hati gue." sahut Adam kesal.
"Ya udah gue anterin elu pulang ya tugas kita udah kelar kok, elu nanti sama Nisa minta penjelasan aja tapi jangan sampai elu marah sama Nisa." ujar Satria.
Sesampainya Adam di rumah nya ia langsung masuk ke dalam kamar dan membersihkan dirinya lalu ia pun beristirahat tidur di samping Nisa yang sedang terlelap.
Pada pagi hari setelah Nisa membangunkan adam waktu subuh ia merasa aneh dengan sikap Adam kepada nya Adam tidur kembali setelah shalat subuh dan tidak banyak mengucapkan sedikit pun, tapi Nisa berfikir mungkin suaminya itu lelah karena pulang dari tugasnya dan membutuhkan istirahat.
Pukul 10 pagi Nisa membangunkan adam karena suami nya itu belum makan, ia berniat mengajak Adam untuk makan dulu.
"Mas... mas bangun! Ini sudah siang lho mas apa mas gak lapar, kita makan dulu yuk?" ajak Nisa dengan lembut dan mengusap pipi Adam yang masih tertidur pulas.
"Hemm." Adam hanya berdehem dan memalingkan wajahnya ke arah yang berbeda.
"Mas... bangun ayok mandi, kamu gak biasa nya sih kayak gini." ucap Nisa heran.
Adam pun langsung bangkit dari kasur dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi tanpa satu kata pun dan tanpa memperhatikan wajah Nisa yang sedikit murung.
"Kamu kenapa sih mas, apa kamu marah sama aku, tapi aku salah apa coba?" gumam Nisa bingung dengan sikap Adam saat suaminya itu pergi begitu saja.
__ADS_1
"Nisa... saya kecewa sama kamu, saya kesal sama kamu, saya masih malas berbicara dengan kamu makanya saya mau menghindari kamu dulu." gumam Adam saat ia berada di dalam kamar mandi.
Nisa masih menunggu Adam selesai di kamar mandi ia ingin tahu kenapa suaminya itu seperti menghindari nya.
Ceklek... suara pintu kamar mandi di buka Nisa melihat Adam yang sudah selesai mandi nya, Adam yang sudah menggunakan celana pendek dengan handuk yang di pundaknya dengan dada masih setengah basah.
Nisa pun mendekati Adam yang diam saja tanpa senyum melewati Nisa yang sedang menunggu nya saat keluar dari kamar mandi. "Mas kamu kenapa sih kok aku di cuekin terus, apa aku punya salah sama kamu atau aku bikin kesal kamu?" tanya Nisa lembut memeluk tubuh Adam yang sedikit basah dari belakang.
Refleks Adam pun menghindar. "Jangan peluk, badan saya basah." elak Adam saat Nisa memeluk nya.
"Gak apa-apa asal kamu mau ngomong sama aku." ucap Nisa memeluk kembali tubuh Adam.
Adam pun melepaskan tangan Nisa yang memeluknya dengan pelan lalu Adam pun membalikkan tubuhnya menghadap Nisa dengan wajah penuh pertanyaan kenapa Adam bersikap seperti itu.
Adam menghirup nafas nya panjang menatap wajah Nisa yang semakin cantik dan bercahaya. "Apa kamu hamil?" tanya Adam dengan menatap wajah Nisa serius.
"Sebagai suami apa salahnya saya tahu kehamilan kamu, wajar kan?" tanya Adam dengan nada ketus.
"I...iya wajar tapi kamu tahu dari mana kalau aku sedang hamil aku kan belum kasih tahu kamu?" ucap Nisa sedikit kesal.
"Saya kecewa sama kamu karena saya bukan yang pertama tahu kabar kehamilan kamu malah saya tahu dari orang lain." ujar Adam menjelaskan dengan nada kesal.
"Memang mas tahu aku hamil dari siapa?" tanya Nisa penasaran.
"Dari pak Aris teman TNI yang pernah saya kenal kan sama kamu dan orang yang sudah mengembalikan dompet kamu yang hilang" ucap Adam mengingatkan Nisa pada seseorang.
Nisa sedikit kesal dengan Aris karena dia sudah memberi tahukan kehamilan nya pada Adam suami nya padahal ia yang ingin jadi orang pertama yang memberi tahu Adam sebagai kejutan saat waktu nya tiba nanti.
"Oh jadi Aris yang memberi tahu kalau aku sedang hamil." sahut Nisa sebal karena rencananya sudah gagal dan kini membuat suaminya salah paham dan mendiamkan nya.
__ADS_1
"Aris? Oh sekarang kamu sudah memanggil nya hanya dengan menyebut namanya tidak dengan formal, ada hubungan apa kamu dengan dia dan sudah sedekat apa kamu dengan dia?" tanya Adam penuh selidik dengan suara keras.
Nisa terkejut dengan suara Adam yang keras tidak biasa nya suaminya itu berbicara keras seperti itu. "Mas... tolong dengarkan dulu penjelasan aku, aku akan jelaskan semuanya." jawab Nisa dengan suara bergetar takut.
Nisa mengelus dada Adam yang menahan amarahnya, Adam hanya diam saat Nisa mengelus dadanya yang kembang kempis menahan rasa marahnya jangan sampai ia kelepasan.
"Mas, aku memang sedang hamil Aris tahu karena waktu kemarin saat aku meminta ijin sama kamu untuk bertemu dengan Rahma, di tengah jalan aku tiba-tiba pusing dan aku mampir untuk membeli minuman hangat. Saat aku mau melanjutkan bertemu dengan Rahma tiba-tiba kepala aku pusing kembali dan aku tidak ingat lagi apa yang terjadi, namun saat aku sudah tersadar ternyata aku berada di rumah sakit dan yang menolong dan membawa ku ke rumah sakit itu Aris." tutur Nisa menjelaskan dengan sangat jelas.
"Dan aku gak ada hubungan apa-apa dengan Aris dia hanya teman masa kecil ku dulu, aku dan dia pernah satu kelas saat sekolah dasar dan aku bertemu kembali dengan dia saat Aris mengembalikan dompet aku yang hilang itu, mas kan tahu cerita itu kan?" ucap Nisa menatap wajah Adam penuh kelembutan.
"Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu sudah berteman sebelum mas mengenal kan dia kepada kamu?" tanya Adam cepat.
"Karena aku kira itu tidak penting untuk kamu mas, makanya aku tidak cerita dan kamu juga tidak pernah bertanya sama aku." elak Nisa.
"Iya seharusnya kamu sedikit cerita sama mas kalau kamu pernah kenal dengan dia?" ucap Adam masih malas menyebutkan nama Aris.
"Iya aku minta maaf ya kalau aku salah, maaf juga aku belum bilang kalau aku hamil, aku tadi nya mau kasih kamu kejutan saat nanti kamu ulang tahun mas tapi malah gagal begini." kesal Nisa berucap dengan wajah yang cemberut.
"Ini juga sudah sangat mengejutkan mas walaupun hari ini bukan hari ulang tahun mas." cebik Adam sebal
Nisa tergelak dengan tawa nya lalu memeluk tubuh Adam dengan erat dan menempel kan kepalanya di dada bidang Adam. "Jadi... mas maafin aku kan sekarang jangan cuekin aku terus mas aku gak tahan kalau kamu diemin aku terus." ucap Nisa manja dan memainkan ****** Adam yang tumbuh satu bulu agak panjang yang masih basah dengan air karena bagi Nisa terlihat sangat lucu saat melihat nya.
Adam sedikit mendesah pelan saat Nisa istrinya menyentuh daerah sensitif Adam. "Mas... aku minta maaf ya jangan marah lagi." ucap Nisa mendongakkan wajahnya menatap Adam yang hanya diam saja.
Adam menatap wajah Nisa memeluk nya dengan erat. "Kamu sudah membangunkan sesuatu yang sedang tidur." bisik Adam pada telinga Nisa. "Jadi minta maaf lah yang benar." tantang Adam pada Nisa yang mengerutkan keningnya bingung.
"Maksud kamu apa mas aku gak ngerti?" jawab Nisa masih bingung.
Adam pun tersenyum licik dengan mata nakal nya dengan cepat Adam mengangkat tubuh Nisa dan menidurkan nya di ranjang dan terjadi lah sesuatu di siang hari.
__ADS_1