Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
gelisah


__ADS_3

Via masih dengan kesibukannya di dunia medis. Tama masih berusaha untuk mendekati Via dengan cara apapun yang menurut ia bisa berhasil namun ternyata usaha nya seperti sia-sia karena Via selalu saja menghindari nya.


"Kak Tama... aku heran dengan sikap kamu sekarang, kalau saja dulu kamu tidak menyakiti perasaan aku mungkin kita sekarang sudah menikah dan hidup bersama. Aku akui jika cinta pertama ku adalah kamu, dan aku akui hati kecil aku masih menyimpan kenangan kita dulu tapi perasaan yang pernah tergores tidak akan berubah kembali menjadi hati yang seperti dulu. Ibarat guci yang retak walaupun sudah di lem perekat tidak akan kembali seperti guci ketika ia masih baru." batin Via merasa jengah dengan sikap Tama akhir-akhir ini.


"Aku harus bagaimana agar kak Tama tidak bisa menggangu rumah tangga ku, aku kira dia akan berubah saat aku tidak melaporkan atas perbuatannya kemarin." gumam Via. "Aku sekarang sudah merasa bahagia dengan laki-laki yang berstatus suami ku itu, tapi bagaimana jika suami ku tahu setelah ia pulang nanti." sambung nya.


"Selamat pagi Bu Novia mau berangkat kerja ya?" sapa tetangga baru Via yang sama-sama tinggal di rumah dinas.


"Selamat pagi juga, iya Bu mari saya duluan ya!" pamit Via pada tetangganya itu


Ibu-ibu disana ada yang sudah berbelanja sayur ada juga yang sedang menemani anaknya ketika Via melewati mereka itu. "Itu istrinya pak komandan ya?" tanya salah satu ibu Persit.


"Iya, katanya sih dia bekerja di salah satu rumah sakit, dia seorang perawat." sahut salah satu tetangga Via.


"Saya baru lihat lho, baru pindah ya? Cantik sekali ya pantas sekali jika bersanding dengan pak Aris." puji salah satu tetangga nya.


"Ah cantik oplas kali?" ucap salah satu tetangga yang sepertinya tidak menyukai jika setiap ibu-ibu disana memujinya.


"Ah masa sih! Itu cantik alami malah gak dandan sampai medok. Iya kan ibu-ibu?"


Ibu-ibu disana ramai menggosipkan keberadaan Via ada yang suka ada yang tidak, Via tidak begitu dekat dengan mereka Via mencoba menjaga jarak hanya pertemuan-pertemuan penting saja yang selalu Via hadiri, karena kesibukannya sebagai tenaga medis dan juga ia tidak begitu suka bergaul dengan ibu-ibu Persit lainnya.


Saat Via berada di depan gerbang asrama ia menghampiri para TNI yang sedang berjaga di pos. "Emh selamat pagi..." sapa Via ramah.


"Siap! Selamat pagi Bu, ada yang bisa kamu bantu?" ucapnya sopan.


Via tersenyum karena sikap mereka menghormati nya seperti Via adalah pimpinan nya. "Emh begini pak, saya mau minta tolong pada bapak-bapak disini, jika ada tamu atau orang yang mencari saya kesini tolong hubungi saya dulu ya, saya tidak mau menerima tamu sembarangan orang. Bisa pak?" pinta Via sopan.


"Siap kami laksanakan!" jawabnya. "Ada lagi Bu?" tanyanya.


"Emh tidak ada hanya itu saja dan ini kartu nama saya. Tolong ya jangan lupa hubungi nomor saya ini ketika ada orang mencari saya!" pinta tegas.


"Siap Bu!" sahut nya. Mereka tahu jika Via adalah istri dari Aris yang artinya dia adalah istri dari pimpinan nya.

__ADS_1


"Terima kasih ya, kalau begitu saya permisi ya!"


"Baik Bu!"


"Kenapa dengan istri nya pak Aris seperti nya dia sangat hati-hati menerima tamu." heran nya.


"Iya namanya juga istri salah satu dari pimpinan kita jadi mesti jaga privasi dan lagi pula istri pak Aris cantik begitu sedangkan pak Aris kan sedang bertugas ke Lebanon." jawab salah satu TNI yang sedang berjaga itu.


"Iya kalau gue dapet bini begitu gue bakal tolak pergi bertugas Haha." canda nya.


"Wah gila lu yang ada elu di pecat karena mangkir dalam bertugas. Bini cakep kerjaan di pecat kabur tuh bini!" sahut nya seraya geleng-geleng kepala dengan ucapan rekannya itu.


Saat Via berada di rumah sakit, dia sedang membereskan pekerjaan nya dan mengecek peralatan medis agar dipersiapkan untuk operasi yang akan di laksanakan nanti siang.


"Via... kamu udah tahu belum atau lihat di berita pagi ini?" tanya Sofi mengagetkan Via yang sedang serius itu.


"Ih kebiasaan kamu suka tiba-tiba datang dan mengangetkan!" kesal Via masih dengan mengerjakan pekerjaannya.


"Sepertinya kamu belum lihat berita ya hari ini?" tanya nya serius dan Via pun menggelengkan kepalanya tanpa menatap ke arah Sofi membuat sahabat nya itu kesal.


"Sedang genting dan ada pengeboman." ejah Via ketika ia melihat berita pagi.


"Suami kamu tugas di sana kan? Kalian masih saling menghubungi tiap pagi?" tanya Sofi menatap wajah Via yang terdiam dengan serius.


Via tidak langsung menjawab pertanyaan sahabat nya itu ia seperti berpikir. "Emh... ia... dua hari ini suami ku memang tidak ada kabar, dan terakhir kali dia telpon aku dia pernah bilang kalau disana sedang genting dan aku pikir suami ku memang sedang tidak sempat untuk mengabari ku, karena dia juga harus berjaga-jaga." jawab Via gugup.


Sofi menghela nafasnya pendek. "Semoga saja suami kamu baik-baik aja ya di sana, ya mungkin dia belum sempat kasih kabar kamu karena memang tugasnya sedang tidak bisa di ganggu." ucap Sofi menenangkan Via yang mukanya mulai sedih.


"Sofi... aku jadi takut, aku takut masalah genting yang suamiku bilang adalah kejadian yang terjadi ini." Via mulai tidak tenang dengan keadaan suaminya yang sedang bertugas.


"Kamu jangan berpikir jelek seperti itu!" sahut Sofi.


"Aku bukan berpikir jelek tapi hati aku mulai gak tenang." ucap Via dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Coba kamu terus hubungi suamimu itu siapa tahu dia kasih kabar." saran Sofi pada sahabatnya itu.


Di kantin saat Via sedang beristirahat untuk makan dia terus saja menghubungi nomor suaminya itu, tidak ada jawaban sama sekali dan lebih parahnya nomor nya pun tidak aktif membuat Via semakin panik takut dan mulai berpikir jelek akan keadaan suaminya itu walaupun mulutnya tidak ia ucapkan dengan kata-kata yang jelek akan keadaan nya namun hatinya benar-benar takut apa yang ia pikirkan itu terjadi.


"Enggak... enggak...! Via kamu jangan berpikir jelek suamimu yang sedang bertugas di sana pasti baik-baik aja dan akan pulang dengan selamat." ucapnya meyakinkan dirinya sendiri.


"Tapi hatiku gak tenang begini!" batin nya.


"Via nanti aku boleh tidak main ke rumah dinas kamu aku pengen tahu dan sekalian menginap deh itung-itung temenin kamu hehehe." pinta Sofi pada Via namun Via hanya diam saja tidak menjawab.


"Hei.... hello...w." Sofi menyadarkan Via yang sedang bengong itu. "Kenapa sih bengong begitu?" tanya Sofi penasaran.


"Nomor suami ku tidak aktif Sofi. Bagaimana ini aku makin gak tenang?" Via panik.


"Aku yakin suami kamu akan baik-baik aja, yakini itu Via..." ucap Sofi dengan tersenyum.


"Udah gak usah kamu pikirkan ya, nanti aku main ke rumah dinas kamu oke!" sambung nya dan di angguki pelan oleh Via.


Sorenya Via dan Sofi pulang menuju rumah dinas yang di tempati Via saat ini. "Oh jadi ini rumah dinas kamu, wah enak juga ya adem kayaknya!" Sofi dengan gayanya yang menghirup udara di tempat rumah dinas Via.


"Laper nih cari makanan dulu yuk!" ajak Sofi pada Via dan Via hanya menurut saja Via sebenarnya malas ia masih kepikiran akan keadaan suaminya itu namun ia tidak mau berpikir jelek terus seperti itu karena akan membuat hatinya semakin tidak tenang Via yakini jika suaminya itu tidak menghubungi nya mungkin memang sedang tidak ada sinyal atau memang tugasnya tidak bisa di ganggu.


Ketika mereka sedang mencari makanan di sekitar asrama, Via dan Sofi melihat para tentara junior dan senior sedang berlatih tembak menembak di sekitar yang agak jauh dari tempat Via tinggal. Mereka terlihat sedang beristirahat setelah berlatih penembakan.


Para tentara itu melihat kedua perempuan melewati di hadapan mereka membuat para tentara yang jarang melihat perempuan menjadi heboh dan menggoda pada Via dan Sofi.


"Kalian jangan menggoda istri dari komandan Aris, kalian tahu salah satu perempuan itu adalah istri nya pak Aris. Jika pak Aris tahu beliau akan marah dan akan melaporkan kalian agar kalian di bina lebih ketat." ucap senior yang tahu dan mengenal Via.


"Siap! Yang mana bang istri pak komandan, dua-duanya cantik!" sahut junior.


"Istri pak Aris itu yang memakai sweater berwarna pink." jawab nya cepat karena Via terlihat memakai baju seragam perawat dan dilapisi sweater. "Lihat perempuan saja secepat kilat pas waktunya berlatih tembak salah sasaran terus." tambahnya mengejek.


"Seger bang lihat yang bening begitu mah!" sahut nya salah satu junior, membuat seniornya tersenyum.

__ADS_1


Sedangkan Sofi dan Via mereka terus saja berjalan dengan pikiran yang berbeda-beda, Via masih dengan pikirannya yang memikirkan keadaan suaminya sedangkan Sofi ia berpikir merasa senang karena banyak sekali laki-laki beranggotakan TNI yang ia lihat tadi dan malah menggodanya.


__ADS_2