Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
situasi


__ADS_3

"Istri nya ya mas, cantik banget lagi hamil ya?" sederet pertanyaan dari seorang ibu-ibu dan suaminya yang tadi melihat Aris dan Nisa ia duduk di sebelah Aris yang sendiri di tinggal Nisa.


"Alamak... jawab apa aku, namen aja kagak tapi di todong dengan pertanyaan seperti itu." batin Aris bingung untuk menjawab.


"I...iya Bu." aku nya gugup. "Akuin ajalah biar cepat." batin Aris.


"Berapa bulan mas kehamilan istri nya?" tanya ibu itu penasaran.


Aris berpikir keras. "Masih baru kok Bu." jawab Aris kikuk.


"Oh iya ya keliatan masih kecil perutnya." sahut ibu itu.


"Kalau tahu kenapa juga tanya-tanya." batin Aris sebal, namun ekspresi wajah Aris tetap tersenyum manis pada ibu itu.


"Emh kalau begitu saya permisi Bu pak." pamit Aris pada ibu dan bapak yang duduk di dekatnya itu.


"Iya mas Monggo." jawab ibu ramah.


"Pah kalau lihat pasangan serasi gitu jadi ingat zaman kita muda ya, dulu pas masih muda ke rumah sakit itu untuk cek kandungan lah sekarang sudah tua begini masuk rumah sakit buat cek kolesterol sama cek gula darah." ucap ibu itu pada suaminya.


Mendengar ucapan istrinya yang nyablak begitu suami nya tergelak dengan tawanya. "Benar juga ya mah haha." sahut suami nya itu.


Sedangkan Aris yang melangkah pergi untuk menemui kedua orang tua nya mesam mesem tidak jelas. "Untungnya Nisa kesini tidak bersama pak Adam, ketahuan gak ya kalau aku bukan suami Nisa, ah bodo amat lah aku gak kenal sama ibu bapak itu." gumam Aris tidak peduli.


"Kamu kenapa senyum-senyum begitu, kamu sehat?" tanya papa Aris saat melihat anaknya masuk dan senyum-senyum sendiri.


"Sehat pah alhamdulilah, kenapa memang?" tanya Aris bingung kenapa papa nya itu bertanya seperti itu.


"Kamu datang senyum-senyum sendiri begitu kalau orang lain yang lihat pasti di sangka gila." ujar papa Aris memberi tahu Aris.


"Udah lah pah mungkin putra kita ini sedang bahagia, ngomong-ngomong kamu bahagia begini pasti ketemu perempuan cantik ya di luar sana." sahut mamanya Aris menebak.


"Iya cantik banget tapi lagi hamil." sahut Aris santai.


"Apa hamil? Jangan bilang kamu suka sama perempuan yang sudah bersuami, mama gak mau ya kalau kamu ganggu rumah tangga orang lain." ucap mama Aris dengan nada marah.


"Apa sih mah, gak lah masa aku ganggu istri orang sih yang benar saja." ucap Aris tidak terima. "Padahal memang benar aku suka sama istri orang tapi aku gak ada niat ganggu rumah tangga orang apalagi merebut istri orang, berasa gak laku aja." batin Aris membenarkan.


"Awas ya kamu!" ancam mama Aris pada anaknya.


Aris hanya tersenyum simpul dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


*


*

__ADS_1


*


di tempat Adam


"Ada apa ini?" tanya Adam pada para anggotanya yang sedang bertugas.


"Maaf pak mengganggu masa libur anda, kami tidak tahu harus bagaimana semua fans yang tidak bisa mendapatkan tiket untuk menonton konser mengamuk." lapor seorang anggota dari kepolisian.


"Saya akan bertemu dulu dengan panitia penyelenggara konser ini." ucap Adam pada anggota nya dan pergi menemui panitia pelaksana konser tersebut.


"Ah akhirnya pak Adam datang juga, saya bingung pak harus bagaimana." ucap panitia penanggung jawab pelaksanaan konser itu terlihat panik.


"Tenang pak saya beserta anggota lainnya akan berusaha memberikan keamanan sebisa kami. Apa memang tiket nya sudah habis terjual?" tanya Adam.


"Iya pak semua sudah terjual sedangkan para penonton ternyata membeludak saya tidak menyangka akan seperti ini jadinya." ujar panitia itu menjelaskan.


Setelah mendengar penjelasan dari panitia penanggung jawab pelaksanaan konser tersebut Adam dan para anggotanya membuat sebuah cara supaya para fans yang sudah sangat kecewa tidak mengamuk dan membuat kericuhan juga.


Beberapa jam kemudian. "Bagaimana pak sudah aman kah kondisi nya?" tanya panitia itu penasaran.


"Aman pak semua sudah aman terkendali." jawab Adam tegas.


"Terima kasih pak saya ucapkan, terima kasih banyak." ucapnya bahagia.


"Ini memang sudah tugas kami, jadi anda tidak usah khawatir." jawab Adam ramah.


Adam melihat keadaan sudah aman terkendali dengan pengamanan ekstra dari para anggotanya ia pun mengingat istri nya yang pergi ke rumah sakit sendiri. Lalu Adam menelpon Nisa namun panggilan nya tidak di jawab. "Kenapa tidak di jawab ya, apa istri ku masih di periksa?" tanya Adam pada dirinya sendiri. "Baiklah nanti aku telepon lagi."


"Eh gaes dia pak pol yang kemarin datang ke kampus kita kan?" tanya salah satu penonton itu yang tak lain mahasiswi yang ada di kampus tempat kemarin Adam merazia.


"Iya ih dia ganteng banget sih lihat tuh penampilan nya ciamik banget ya jadi pengen di peluk deh sama dia." salah satu teman nya pun mengagumi Adam.


Memang penampilan Adam hari ini membuat para wanita apalagi gadis membuat mereka terpesona. Adam yang memakai seragam polisi dengan sangat rapi dan memakai kacamata hitam yang bertengger di hidung mancung nya membuat Adam semakin tampan dan keren.


"Ah gue pengen nomor handphone dong ih gemes deh lihat nya jadi pengen memiliki seutuhnya." ucap mahasiswi dengan genitnya.


"Mimpi elu!" sergah salah satu temannya yang tidak ikhlas Adam menjadi rebutan kedua sahabatnya.


"Eh lihat Dam gue dapet nomor cewek banyak banget, mereka langsung kasih gue nomor pas gue minta mungkin karena ketampanan gue yang hakiki hahaha." ucap Satria dengan bangganya saat mereka sedang beristirahat.


"Eh ada juga yang minta nomor elu Dam gue kasih jangan?" tanya Satria pada Adam saat banyak yang meminta nomor Adam.


"Kalau elu berani kasih gue nomor ke perempuan lain gue tembak elu di bagian itu." ancam Adam pada sahabat nya itu menunjuk pada bagian intim Satria.


"Ih sadis elu Dam, ya gak bakal gue kasih nomor tanpa ijin dari elu." sahut Satria takut dengan ancaman Adam yang akan menembak masa depannya.

__ADS_1


"Lagian buat apa nomor cewek itu bikin penuh memori, gue udah punya bidadari surga di rumah." ujar Adam mantap.


"Iya deh yang udah punya bini..." cibir Satria sebal sahabat nya itu suka sekali meledeknya yang belum menikah.


***


di tempat Nisa


"Assalamualaikum ibu Nisa apa kabar?" sapa dokter Latiya kepada Nisa.


"Wa'alaikumussalam dok alhamdulilah kabar saya baik." jawab Nisa dengan senyuman manisnya.


"Mari kita periksa ya Bu, silahkan ibu Nisa berbaring di sini." titah dokter Latiya dengan lembut menunjukkan pada sebuah kasur untuk pemeriksaan dan Nisa pun mengikuti apa yang di perintahkan oleh dokter Latiya.


Pemeriksaan Nisa pun berlanjut dengan di berikan nya sebuah gel pada perut nya dan dokter pun memeriksa kandungan Nisa.


"Dokter Latiya bagaimana kandungan saya apa baik-baik saja?" tanya Nisa penasaran.


"Kandungan anda baik-baik saja tidak ada masalah dan berat badan janin juga normal detak jantung nya normal ya Bu seperti yang ibu dengar." ucap dokter Latiya dengan lembut dan memeriksa detak jantung sang calon bayi agar ibu nya bisa mendengarkan nya.


Nisa tersenyum bahagia dan tenang. "Apa jenis kelamin bayi sudah terlihat dari sekarang dok?" tanya Nisa penasaran juga.


Dokter itu pun tersenyum. "Pasti anda penasaran ya jenis kelamin bayi nya, mohon maaf ya Bu usia kandungan ibu Nisa ini baru menginjak 18 Minggu jadi masih belum terlihat, jika usia 6 atau 7 bulan akan terlihat jelas." jawab dokter Latiya.


"Oh seperti itu ya." ujar Nisa berucap.


"Pak Adam kemana Bu kok ibu Nisa sendirian datang kesini?" tanya dokter itu heran.


"Suami saya mendadak ada tugas yang tidak bisa di tinggalkan." jawab Nisa apa adanya.


"Ah iya pak Adam memang sangat sibuk sekali ya." tutur dokter itu membenarkan.


Setelah selesai di periksa Nisa pun pulang seperti biasa menggunakan taksi online ia membuka handphone nya. "Hemm mas Adam tadi telepon aku, ada apa ya?"


"Saat di taksi online Nisa pun duduk dengan manis sebuah panggilan dari suaminya lalu iapun mengangkat panggilan suaminya itu dengan cepat. "Assalamualaikum mas ada apa?" tanya Nisa lembut.


"Wa'alaikumussalam sayang, kamu masih dimana?" tanya Adam penuh selidik.


"Aku lagi di mobil mas mau pulang, kenapa?" tanya Nisa.


"Bagaimana kamu dan kandungan kamu baik-baik saja kan?" tanya Adam penasaran.


"Alhamdulilah mas baik gak ada masalah kok tenang aja." ujar Nisa memberitahu.


"Mas masih ada kerjaan, sudah makan mas?" tanya Nisa perhatian.

__ADS_1


"Iya mas masih ada pekerjaan nanti sebentar lagi mas makan." ucap cepat. "Ya sudah kamu hati-hati ya di jalan ingat kalau ada apa-apa kabari mas Assalamualaikum." ucap Adam.


"Siap mas... wa'alaikumussalam."


__ADS_2