Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
pulang


__ADS_3

Berminggu-minggu Aris tidak pernah memberikan kabar pada Via. Itu membuat Via semakin panik, khawatir, gelisah dan juga semakin takut. Ia terus saja di liputi dengan hati yang tidak tenang akan keadaan suami nya itu.


Ia bekerja pun menjadi tidak fokus karena terlalu kalut dalam pemikiran yang begitu melayang jauh pada laki-laki yang sedang jauh disana. Via setiap hari memberikan pesan pada suaminya menanyakan kabar ia disana. Namun tidak pernah ada jawaban dari sang suami.


Via tidak berpikir sama sekali jika suaminya itu tidak ada kabar karena ia berselingkuh atau tidak ada kesetiaan padanya. Namun lebih kekhawatiran nya yang besarlah yang selama ini ia rasakan setiap harinya.


Seperti pagi ini terlalu mengkhawatirkan akan suaminya yang sering diberitakan di layar televisi dan juga media yang tidak pernah absen Via mengikuti kabar tempat dimana suami nya itu bertugas membuat pekerjaan hari ini berantakan dan membuat seorang pasien hampir saja salah penyuntikan obat yang akan di berikan pada pasien tersebut.


"Suster Via saya sebenarnya merasa sangat kecewa dengan kejadian seperti ini. Saya mengerti jika kamu sedang dalam hati yang tidak baik, tapi kamu sedang bekerja saat ini, profesionalisme dalam pekerjaan itu harus kamu utamakan apalagi kamu bekerja di bidang kesehatan. Untung saja pasien dan keluarganya tidak mempermasalahkan kejadian ini. Bagaimana jika keluarga pasien tidak terima lalu mereka menyebar luaskan masalah ini ke publik, nama rumah sakit ini akan hancur dan dan tidak akan ada lagi pasien yang percaya pada rumah sakit ini." ujar pak Santoso.


"Maafkan saya pak, saya memang salah karena saya tidak bekerja secara profesional. Tapi saya benar-benar sangat kalut dengan hati saya saat ini. Saya benar-benar minta maaf pak!" ucap Via penuh penyesalan.


"Saya mengerti dengan perasaan kamu saat ini, suster Via kamu perawat yang sangat saya bisa andalkan tapi saya tidak mau ada kejadian seperti ini lagi terjadi, apalagi di rumah sakit kita ini." ujar pak Santoso tegas pada Via.


"Baik pak saya mengerti dan saya tidak akan mengulanginya lagi." lirih Via pelan.


"Baik saya akan beri kesempatan lagi pada kamu tapi ingat bekerja dengan profesional. Masalah pribadi jangan di campur adukkan dengan masalah pekerjaan jadi saya harap pada kamu suster Via bersikaplah seakan tidak ada masalah yang kita hadapi ketika kita sedang bekerja. Apalagi sampai mencelakai pasien yang sedang kita tangani karena ini akan masuk ke semua media dan juga bisa masuk dalam proses kepolisian jika pasien merasa dirugikan." tutur pak Santoso menjelaskan.


Via mengangguk pelan. "Baik pak!" jawabnya pelan.

__ADS_1


"Ya sudah karena ini sudah masuk jam istirahat kamu bisa istirahat dahulu untuk makan. Ingat bekerja lah secara profesional." ucap pak Santoso dengan senyum menyemangati pada Via yang ia tahu jika suaminya itu sedang dalam keadaan genting di tempat tugasnya.


Via tersenyum tipis akan jawaban pimpinan nya itu. Lalu ia pun pergi ke kantin mengikuti pimpinannya yang juga sama-sama akan pergi ke kantin.


Via menunggu sahabat nya datang setelah ia mengirimkan pesan padanya jika ia sedang di kantin untuk beristirahat dan mengajak sahabat nya agar ia menemui nya disana.


Via hanya mengocek makanan yang ia pesan. Malas rasanya makan walaupun ia merasakan lapar di perutnya namun hatinya yang sedang tidak tenang membuat rasa laparnya itu tidak terasa.


Sahabat nya yang melihat Via hanya diam dan mengocek-ngocek makanan nya itu pun angkat bicara. "Via makanan nya di makan dong jangan di aduk-aduk begitu sayang tahu!" ucap Sofi. "Tadi ajak aku kesini untuk makan kan bukan untuk aduk-aduk makanan begitu!" sambung nya.


Via mendongak menatap wajah Sofi. "Aku tiba-tiba gak nafsu makan." sahut Via asal.


Via hanya diam saja mendengar ucapan Sofi. Saat ini hanya dia yang tahu akan isi hatinya karena Sofi sahabat nya pun tidak merasakan apa yang ia rasakan saat ini.


Saat Via sedang mengaduk-aduk makanan nya dengan malas tiba-tiba Sofi memanggil namanya dengan terus-menerus. "Apa sih kamu Sofi?" tanya Via heran melihat Sofi menatap ke arah belakang dimana Via berada dengan mulut yang ternganga seperti terkejut. Namun Via seakan tidak peduli jika sahabat nya itu berekspresi seperti itu mungkin ia melihat sesuatu tapi Via tidak sama sekali peduli.


"Via sayang!" panggil nya pelan namun terdengar oleh Via dengan begitu jelas bukan seperti mimpi.


Via terpaku masih terdiam dengan apa yang ia dengar, suara itu mengingatkan ia pada laki-laki yang sedang ia sangat khawatirkan. Saat Via tersadar dengan cepat ia membalikkan badannya itu dengan cepat ke arah belakangnya dan ia terkejut sangat terkejut sampai ia tidak bisa berkata apa-apa suaranya tiba-tiba tercekat tak bisa mengatakan sebuah ucapan dan hanya air mata bahagia yang dan terharu yang kini ia rasakan saat ini.

__ADS_1


Aris tersenyum dan merentangkan kedua tangannya dengan lebar lalu wajah nya yang terlihat sedikit berubah itu mengangguk mengajak Via agar ia memeluk nya lalu Via pun melihat ke arah sekitar kantin disana ada sahabatnya dan juga pimpinan beserta karyawan yang sedang beristirahat dan mereka pun menyemangati Via dengan mengangguk agar Via memeluk Aris suaminya. Dengan cepat Via pun berlari menghampiri Aris suaminya yang selama ini ia sangat rindukan dan sangat ia khawatirkan dengan penuh haru dan tangis bahagia karena bisa bertemu dengan suami nya itu.


Via memeluk Aris dengan menyelusup kan wajah ke dada Aris dan Aris pun membalas pelukan istri nya itu dengan erat. Rasa rindu yang memuncak kini bisa mereka salurkan, mereka tidak memperdulikan orang-orang sekitar kantin dan para karyawan di sana bertepuk bahagia melihat kedua sejoli itu saling bertemu, mereka tahu jika Via dan Aris terpisahkan karena tugas Aris yang berada jauh disana.


"Aku merindukanmu suster Via galakku!" bisik Aris di telinga Via yang memeluknya dengan begitu erat dan sangat erat.


Via tersenyum dengan posisi yang masih menyelusupkan wajah nya itu namun Via tidak menjawab ucapan suaminya itu ia masih enak dalam posisi yang sama-sama memeluk nya.


Aris merenggangkan pelukannya pada tubuh Via dan menatap wajah Via dengan begitu lekat. "Kamu semakin cantik sayang... cup." sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Via nya basah itu, membuat wajah Via memerah karena malu akan perbuatannya suami nya itu. Bisa-bisanya ia mencium bibir nya di depan orang banyak yang sedang memperhatikan mereka. Dan orang-orang yang melihat adegan tersebut semakin ricuh karena keromantisan mereka berdua.


"Kamu malu?" tanya Aris berbisik melihat istrinya tersipu malu dan Via pun mengangguk pelan membuat Aris tersenyum gemas melihat nya. "Ayok kita pulang, kita lanjutkan di rumah." ajak Aris dengan menarik tangan Via dengan lembut.


Via menarik tangan Aris yang tadi menarik nya itu lalu Aris pun menatap wajah Via dengan heran. "Hei aku masih bekerja jadi kamu jangan mengajakku pulang begitu saja. Tunggu sampai sore nanti." ujar Via menggoda Aris suaminya itu


Aris menghirup nafas nya kecewa. Lalu melihat pak Santoso yang sedang menatapnya itu sebagai permohonan untuk mengijinkan Via dengan mimik wajah Aris yang menatap pak Santoso.


"Suster Via saya ijinkan kamu untuk pulang lebih awal hari ini tapi besok kamu harus bekerja seperti biasa dan jangan mengulang lagi kesalahan seperti tadi lagi." ucap pak Santoso dengan tersenyum melihat Via.


Via yang mendengar pimpinan nya itu mengijinkan nya untuk pulang pun merasa bahagia karena pimpinan nya itu sangat pengertian. "Bapak serius?" tanya Via meyakinkan pimpinan nya itu. Dan pak Santoso pun mengangguk. "Saya serius, pulang lah jangan sampai saya berubah pikiran!" sahut nya dan dengan cepat Aris pun menarik tangan Via dengan semangat dan membawa untuk pulang bersama nya. "Terima kasih pak!" ucap Via dan Aris bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2