Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
kebetulan lagi


__ADS_3

"Sayang, maaf ya mas gak bisa anterin kamu untuk cek kandungan kamu, ini ada tugas dari kantor sangat mendadak sekali." ucap Adam lirih memberi tahu Nisa saat ia menerima telepon tadi.


Nisa tersenyum tipis. "Iya gak apa-apa mas aku mengerti." jawab Nisa menyembunyikan rasa kecewanya.


"Kamu beneran tidak apa-apa?" tanya Adam meyakinkan Nisa.


"Tidak apa-apa, aku bisa mengerti dengan pekerjaan kamu, aku kan strong hehe." canda Nisa agar Adam tidak merasa bersalah.


"Terima kasih ya sayang kamu sudah mengerti dengan pekerjaan mas." ucap Adam dengan mengecup bibir Nisa dengan gemas.


"Aku kan istri seorang polisi aku harus siap dan juga mandiri." seru Nisa mencoba meyakinkan Adam suami nya.


"Emh... atau nanti saja kamu cek kandungan nya setelah mas sudah selesai dengan pekerjaan mas, nanti saya antar kamu untuk cek kandungan anak kita ini." tawar Adam pada Nisa dengan mengelus perut Nisa dengan sayang.


"Tidak apa-apa mas sekarang saja, lagipula aku kan udah janji sama dokter kandungan nya kalau hari ini aku akan cek kehamilan." seru Nisa mantap.


"Ah kalau seperti ini aku jadi berat ninggalin kamu." sahut Adam memeluk Nisa dengan erat dan lembut.


"Kalau berat di simpan dong jangan di tenteng-tengteng. Tenang saja lah mas aku bisa kok pergi sendiri, aku kan istri kuat kamu." goda Nisa pada Adam supaya suami nya itu tidak merasa berat hati.


"Aku semakin sayang... sama kamu, terima kasih banyak ya muah muah muah." lirih Adam dengan mencium semua bagian wajah Nisa tanpa ada yang terlewati.


"Ih mas... kamu ya.." ucap Nisa gemas di perlakukan oleh Adam seperti itu.


"Hehe, iya sudah mas berangkat ya kamu hati-hati kalau jadi pergi ke dokter nya ya kalau ada apa-apa langsung hubungi mas!" pinta Adam lembut. "Assalamualaikum sayang-sayang nya mas." ucap Adam berpamitan.


"Wa'alaikumussalam... Kamu juga hati-hati ya mas saat bertugas, i love you dari ku dan juga anakmu." ucap Nisa pada Adam saat ia akan pergi.


Adam yang mendengar Nisa mengucapkan kata keramat di dalam sebuah hubungan langsung berbalik badan menghampiri Nisa kembali setelah ia sudah di atas motor akan pergi, dan Nisa yang melihat Adam yang menghampirinya lagi merasa heran kenapa suaminya itu balik lagi.


"Kok balik lagi mas apa ada yang tertinggal?" tanya Nisa penasaran.


Adam pun tersenyum bahagia dan memeluk Nisa sangat erat sekali. "I love you too sayang-sayangnya mas." jawab Adam melepaskan pelukannya lalu mencium perut Nisa. "Mas pergi!" ucapnya berat.


"Iya mas hati-hati." sahut Nisa cepat dan Adam pun pergi untuk bertugas.

__ADS_1


Setelah kepergian suaminya itu Nisa baru menampakkan raut wajah kesedihan nya. "Mas.... sebenarnya aku merasa sedih dan kecewa karena kamu tidak bisa antar aku untuk memeriksa kehamilan anak kita ini, tapi aku mesti bagaimana lagi, sudah resiko aku sebagai istri dari seorang polisi." lirih Nisa berucap.


"Nisa... kamu harus kuat kamu harus mandiri dan kamu juga jangan cengeng." gumam Nisa menguatkan diri nya sendiri.


"Oke Nisa... bersabarlah, sabar itu di sayang Tuhan." gumam-gumam Nisa menghibur diri nya sendiri.


"Ok sayang kita berangkat!" ajak Nisa pada calon buah hati yang masih ada dalam perut nya itu. "Mari kita cek kesehatan kita." ujar Nisa.


Nisa pun berangkat untuk bertemu dengan dokter kandungan yang telah ia janjikan akan bertemu. Namun di perjalanan yang bisa lewati jalanan sangat macet. "Aduh kenapa macet begini ya jalanan, bisa terlambat aku bertemu dengan dokter Latiya, pasti dokter sudah menunggu." batin Nisa dalam hatinya.


"Pak ada apa sih kok jalanan macet begini?" tanya Nisa pada sopir yang ia tumpangi.


"Tadi saya dengar sih di depan ada ricuh gitu mba soalnya nanti malam akan ada konser live music dengan artis Korea." jawab sopir itu sopan. "Maaf ya mba jadi terhambat perjalanan nya." ucap sopir itu sopan.


"Tidak apa-apa, bukan salah bapak kok, bisa cari jalan lain tidak pak, soal nya saya ada janji dengan dokter." tanya Nisa memastikan.


"Ada sih mbak jalan lain, tapi ini sudah sangat macet jadi mobil nya susah untuk putar balik." seru sopir itu.


Nisa mendesah frustasi dan menyenderkan tubuhnya pada jok mobil. "Apa mas Adam jaga keamanan di jalan ini ya?" tanya Nisa pada diri nya sendiri.


Beberapa menit kemudian. "Akhirnya jalan juga mba mobil nya kita berangkat lagi ya mba!" ucap pak sopir itu memberi tahu.


Nisa hanya tersenyum mendengar ucapan sopir itu. Tidak butuh lama Nisa pun sudah sampai ke rumah sakit dimana ia akan cek kandungan nya. "Terima kasih pak ini uang ongkos nya ambil saja kembaliannya." ucap Nisa berterima kasih.


"Terima kasih juga untuk mba saya ucapkan." jawab sopir itu.


Nisa pun dengan cepat masuk untuk bertemu dengan dokter Latiya. "Sus apa dokter Latiya sudah ada di dalam ruangan nya? Saya Nisa, saya sudah ada janji dengan dokter Latiya." ucap Nisa menjelaskan pada suster yang bertugas.


"Oh dengan bu Nisa ya? Dokter Latiya masih ada di ruang operasi karena ada ibu hamil yang tiba-tiba akan di operasi Cesar, tapi beliau berpesan kalau ibu Nisa sudah datang ibu Nisa bisa menunggu beliau sebentar." ucap suster itu sopan dan ramah.


"Oh begitu baiklah." jawab Nisa cepat.


Nisa pun menunggu dokter Latiya yang masih menjalankan tugasnya. "Aku kira, aku yang akan terlambat, tapi syukurlah jadi dokter Latiya tidak menungguku." gumam Nisa dalam hatinya.


"Aku duduk disana saja lah." tunjuk Nisa melihat kursi kosong yang di depan nya ada tanaman supaya dia tidak bosan saat menunggu. Nisa pun duduk di kursi itu ada beberapa orang disana yang juga ikut duduk menunggu.

__ADS_1


"Aris?" tanya Nisa saat ia tidak sengaja melihat Aris sedang duduk sendirian dengan handphone yang ia mainkan.


"Nisa..." Sama hal nya dengan Nisa Aris malah lebih terkejut dengan melihat dan tidak sadar nya Aris bahwa Nisa duduk di sampingnya." Kamu sedang apa disini?" tanya Aris penasaran.


Nisa tersenyum. "Aku mau cek kehamilan aku Ris." jawab Nisa dengan santai. "Kamu sendiri sedang apa disini?"


Sedangkan Aris yang duduk bersebelahan dengan Nisa merasa dadanya berdebar dengan kencang. "A...aku sedang menunggu mama ku, kebetulan mama sedang di rawat di rumah sakit ini." tutur Aris menjelaskan.


"Mama kamu sakit? Sakit apa Ris?" tanya Nisa khawatir. "Bukan nya orang tua kamu ada di Tangerang ya kok di rawat di sini?"


"Tadi mama pingsan saat datang ke Jakarta, mungkin kelelahan karena perjalanan tadi, jadi aku bawa saja ke sini untuk diperiksa lebih lanjut lagi." jawab Aris lembut.


"Oh seperti itu cerita nya, lalu sekarang bagaimana keadaan mama kamu?" tanya Nisa penasaran.


"Sudah diperiksa tadi dan alhamdulilah sudah agak mendingan mama sudah sadar dari pingsannya dan sekarang sedang istirahat." jawab Adam apa adanya.


"Terus kamu sedang apa di sini sendirian tidak menunggu mama kamu?" tanya Nisa heran.


"Kata siapa aku sendiri disini kan ada kamu." canda Aris pada Nisa. "Aku sedang mengabarkan rekan kerja aku saja biar mama gak dengar juga, lagi pula ada papa yang menunggu mama di ruangan nya." jawab Aris dengan tersenyum.


"Oh seperti itu ya, aku udah lama gak pernah ketemu sama orang tua kamu, tahu-tahu malah sedang sakit." ujar Nisa pilu.


Aris tersenyum. "Iya kan aku juga baru bertemu sama kamu juga apalagi kedua orang tua aku."


"Hemmm." dehem Nisa.


"Oh ya pak Adam mana kenapa kamu sendirian?" tanya Aris heran kenapa suaminya Nisa tidak ada di samping nya.


"Mas Adam tidak bisa menemani aku Ris karena tiba-tiba dia dapat tugas yang urgent, ya resiko jadi istri seorang abdi negara harus mengesampingkan urusan keluarga dan mengutamakan urusan pekerjaan." tutur Nisa menjelaskan.


"Iya memang seperti itu lah kalau menikah dengan prajurit seperti kita ini yang jadi istri harus bisa mandiri." ujar Aris menguatkan Nisa. "Tapi kamu hebat sudah menjadi istri mandiri."


Tak lama handphone Nisa pun berdering dan Nisa mengangkat nya. "Aris aku duluan ya sudah di telepon sama dokter yang akan memeriksa aku lain kali aku ingin bertemu dengan kedua orang tua kamu untuk silaturahmi, maaf sekali aku sekarang belum bisa menjenguk mama kamu yang sedang sakit." ucap Nisa lembut.


"Tidak apa-apa Nisa aku mengerti." jawab Aris cepat.

__ADS_1


"Aku duluan ya." ijin Nisa dan di angguki oleh Aris.


__ADS_2