
Aris tergelak karena menggoda Nisa saat ini adalah sebuah kesenangan untuk Aris, rasa capek dan lelahnya hilang begitu saja bila melihat Nisa, padahal ia sangat sadar dan tahu diri jika Nisa istri orang lain. Ya... selama menggoda Nisa di batas yang sewajarnya mungkin itu tidak masalah baginya dan juga Nisa.
"Iya sudah aku pulang ya, jangan tanyakan mengapa? Karena aku sudah tidak sanggup lagi menahan tubuh ku yang sangat tidak enak ini." ucap Aris bercanda gurau.
Nisa mengerutkan dahinya. "Apa sih kamu Ris gak jelas deh?" balas Nisa tidak mengerti maksud Aris apa.
"Hehe tidak usah kamu mengerti cukup peka dan pahami saja." ujar Aris dengan senyum manisnya. kode kerassss
"Ya sudah aku pamit deh!" ucapnya lagi namun ia dalam hati sungguh sangat berat meninggalkan Nisa sendiri dalam kesedihannya.
"Kamu dari tadi pamit mulu tapi gak pergi-pergi." sahut Nisa sedikit sebal.
"Aku takut kamu rindu sama aku kalau aku pulang hehe." gombal Aris.
"Sudah sana pulang! Hus hus." usir Nisa dengan tangan ia kibas-kibaskan.
"Iya sudah aku pergi saja, sepertinya kehadiran aku disini tidak membuat mu bahagia." ucap Aris berpura-pura sedih karena Nisa mengusir nya. Ia pun melangkah pergi menuju pintu keluar.
Nisa yang melihat ekspresi Aris yang sedih membuat Nisa menjadi tidak enak hati. "Emh Aris!" panggil Nisa saat Aris akan keluar dari ruangan dimana Nisa berada.
Aris tersenyum Nisa memanggilnya kembali. "Hemmm....Nisa panggil aku karena dia gak mau aku pulang dia pasti memintaku untuk terus menemani nya." batin Aris senang.
Aris membalikkan tubuhnya menghadap Nisa yang baru saja memanggilnya, Aris menatap Nisa dan tersenyum. "Ada apa?" tanyanya lembut.
"Terima kasih. Silahkan kamu pulang!" ucap Nisa dengan senyum tipisnya.
jleb... Aris yang awalnya tersenyum senang berubah menjadi mimik muka yang sangat kecewa. "Jadi hanya ucapan terima kasih saja? Hah... aku kira bukan itu!" batin Aris sangat kecewa.
Aris tersenyum menghilangkan rasa kecewanya. "Ok sama-sama." balas Aris pelan. "Emh... a...aku pulang ya!" tambah nya gugup dan hanya di angguki oleh Nisa dan senyuman dari bibi yang melihat tingkah anehnya.
Setelah kepergian Aris Nisa termenung menatap pintu yang sudah tertutup. Nisa membatin dalam hatinya dengan tatapan kosong.
"Aku kadang mikir dengan perlakuan berlebihan kamu terhadap aku Ris, perlakuan kamu itu terlalu manis jika orang melihatnya bahkan aku pun merasakan hal itu, aku kadang takut orang lain akan berpikir yang macam-macam terhadap kita karena perlakuan manis kamu sama aku."
__ADS_1
"Aku harus menjaga jarak dengan kamu Aris. Aku takut orang akan salah paham dengan hubungan kita, kamu seperti menganggap aku sebagai orang yang sangat berharga untuk kamu, aku terkadang risih karena aku adalah seorang istri aku harus menjaga sikap dan kelakuan ku apalagi aku adalah istri dari seorang polisi aku harus menjaga kehormatan aku sebagai wanita dan kehormatan suamiku sebagai seorang yang dekat dengan masyarakat."
"Aris memang laki-laki yang baik, aku tahu itu. Tapi... kebaikannya itu membuat aku harus menjaga jarak dengan nya. Aku dan Aris memang hanya berteman, ya... sebatas teman! Tapi aku merasa Aris menganggap aku lebih dari seorang teman. Ah kenapa aku jadi mikir seperti itu, mana mungkin seperti itu!"
"Neng... neng Nisa..." panggil bibi melihat majikannya itu jadi diam dan melamun. "Kenapa neng kok bengong?" tanya bibi.
Nisa menatap wajah pembantu nya yang setelah tersadar dari lamunannya. "Eh ada apa?" tanya nya balik.
"Kenapa neng tadi melamun, apa yang di pikirin neng?" tanya bibi khawatir.
"Gak ada apa-apa!" jawab Nisa pelan. Nisa menepok jidatnya. "Ah iya bi aku lupa nanya sama Aris kenapa dia bisa sama mas Adam saat kejadian penembakan itu! Padahal mas Adam kan lagi tugas. Aku tadi sempat dengar pembicaraan Aris dan bang Satria."
"Nanti juga pak Aris kembali lagi katanya neng, nanti neng tanyakan saja langsung saat pak Aris datang lagi kesini." ucap bibi memberi saran.
Nisa hanya mengangguk mengiyakan bibinya itu. "Ah aku jadi penasaran apa yang mereka bicarakan saat sebelum mas Adam tertembak." batin Nisa.
***
flash back off
Nisa sedikit mendengar saat Aris mengatakan bahwa ia dan Adam tidak sengaja bertemu dan sebelum penembakan itu terjadi Aris dan Adam sempat mengobrol membicarakan tentang Nisa kepada Adam suaminya.
***
flash back on
"Aris mengatakan apa saja ya sama mas Adam tentang aku?" batin Nisa penasaran. "Dan penembakan itu siapa pelakunya? Jika aku bertemu dengannya aku ingin sekali membalas perbuatannya pada suamiku, dia sudah membuat suamiku tidak sadarkan diri, aku tidak akan pernah memaafkan nya?" batin Nisa marah tidak terima dengan perbuatan para pelaku yang sudah mencelakai suaminya dengan mata berkaca-kaca penuh amarah dan kesedihan kenapa mereka tega mencelakai suaminya.
"Neng tidak apa-apa?" tanya bibi khawatir melihat majikannya seperti menahan kekesalannya.
Nisa mencoba menetralisirkan hatinya yang yang sedang ada dalam kemarahan dan kekesalan serta kebencian, ia menarik nafas dalam-dalam menenangkan otak dan hati nya. Ia harus ingat dia tidak boleh stres dengan keadaannya yang sedang mengandung.
"Tidak apa-apa bi, oh ya aku mau ke ruangan mas Adam coba bibi minta ijin dengan dokter ya, bilang kalau aku ingin sekali menunggu di ruang tempat mas Adam di rawat, sepertinya aku juga sudah mulai enakan, perut aku juga sudah tidak sakit lagi." ujar Nisa meminta pada pembantu nya.
__ADS_1
"Baik neng, neng tunggu dulu di sini ya." pinta bibi dengan lembut dan Nisa mengangguk.
Tak lama bibi pun datang dengan seorang suster, suster itu memberi tahukan jika Nisa bisa keluar dari ruangan itu, karena setelah di periksa kembali oleh suster Nisa sudah baik-baik saja tekanan darah nya pun sudah normal.
"Ibu Nisa sudah baik-baik saja keadaan nya, ibu Nisa boleh pulang dan bisa beristirahat di rumah saja." ujar suster itu memberi tahukan kepada Nisa.
"Terima kasih suster." balas Nisa dengan tersenyum ramah pada suster itu dan di balas senyuman lagi oleh suster tersebut.
"Bi antar aku ke ruangan mas Adam ya, aku mau tahu kabar nya sekarang bagaimana." ucap Nisa lirih.
"Iya neng siaaap!" jawab bibi semangat.
Nisa pun beranjak dari tempat ia istirahat, ia ingin sekali pergi ke ruangan Adam dimana ia di rawat, dengan jalan pelan-pelan di temani bibi pembantu yang setia menemani Nisa. "Bi... terima kasih ya karena bibi sudah mau menemani aku, maaf kalau aku merepotkan bibi, tapi saat ini aku butuh sekali teman agar aku tidak merasa sedih, ya... setidaknya ada orang yang bisa aku ajak bicara. Aku benar-benar gak percaya semua ini terjadi. Hal ini lah yang sering aku takutkan, ketika mas Adam pergi bertugas. Aku sering khawatir saat ia berada di luar." ucap Nisa lirih berbicara pada bibi saat ia berjalan di lorong rumah sakit.
"Gak apa-apa neng bibi siap kapan aja kalau neng mau ngobrol sama bibi, bibi juga gak keberatan kok menemani neng Nisa, bibi tahu perasaan neng saat ini, bibi cuma bisa berdoa supaya neng Nisa tabah menghadapi ujian ini dan bibi juga berdoa semoga pak Adam bisa sehat lagi." ucap bibi tulus.
"Amiin... terima kasih ya bi." balas Nisa dengan mata berkaca-kaca, Nisa pun mendongakkan wajahnya ke atas menahan air matanya yang sudah penuh di pelupuk mata agar tidak jatuh.
Saat Nisa dan pembantu nya itu berjalan terus melangkah menuju ruangan Adam, seseorang di belakang sana sedang memperhatikan nya.
"Pah itu seperti Nisa ya?" ucap mama menunjuk pada wanita hamil yang ia rasa seperti menantu nya.
Papah Adam pun menyipitkan matanya melihat ke arah perempuan yang istrinya tunjuk tadi. "Iya mah itu seperti Nisa mantu kita." tambah nya.
"Nisa...!" panggil mama Mel pada Nisa yang sudah merasa yakin jika ia adalah Nisa menantunya dan terlihat tidak jauh dari pandangannya.
Nisa yang mendengar seperti ada yang memanggilnya dengan cepat menoleh dan memutar balikkan tubuhnya agar ia tahu siapa yang memanggilnya itu. "Mama..." ucapnya pelan saat ia tahu jika yang memanggil nya itu mama Mel.
Mama mertua nya itu pun berjalan sedikit berlari saat ia tahu jika perempuan hamil itu adalah Nisa menantunya di susul oleh suami tercintanya, sedangkan Nisa berjalan pelan karena takut kandungannya menjadi sakit kembali.
"Sayang..." panggil mama Mel ketika mereka sudah berdekatan. Mama Mel memeluk Nisa dengan sayang Nisa pun membalas pelukan dari mertua nya itu dengan terisak.
"Mah... mas Adam..." ucap Nisa terisak di pelukan mama mertua nya, rasanya sudah tidak tahan lagi menahan kesedihannya. "Aku takut mah..." tambah Nisa lirih.
__ADS_1
"Tenang sayang, sudah! Kamu jangan menangis ya." ucap mama menenangkan mengusap punggung menantu nya itu padahal ia sendiri pun sangat amat sedih mengetahui kabar anak satu-satunya sedang koma tak berdaya. "Kasihan cucu mama ini kalau kamu menangis terus." sambungnya mengusap perut Nisa dengan lembut.
Nisa semakin terisak dalam tangisannya memeluk mama mertua nya itu dengan erat, Nisa butuh kekuatan supaya mendapatkan ketenangan dari orang-orang yang sayang terhadapnya.