
"Shit! sial... sial!" umpat Aris kesal saat mobil yang ia kendarai tiba-tiba berhenti padahal hari ini cuaca sangat panas dengan jalanan yang begitu macet dan kendaraan yang terdengar bunyi klakson serta teriakan orang yang tidak sabar seperti dirinya namun sekesal-kesalnya Aris ia tidak sampai berteriak-teriak di jalanan.
Untungnya mobil yang ia bawa agak sedikit berada di pinggir jalan jadi tidak menghalangi kendaraan lain yang akan melaju.
Aris turun dari mobilnya melihat apa lagi masalah kendaraan yang ia bawa sampai berhenti. "Apa lagi ini mobil, perasaan mobil ini masih bagus kenapa mesin nya bobrok begini sih." gumam Aris kesal.
"Kenapa bang mobil nya ada masalah?" tanya seseorang yang menghampiri Aris saat ia mengecek mesin mobilnya.
"Iya mogok." sahut Aris sedikit kesal. Aris kesal sudah tahu dirinya sedang mengecek mesin nya masih saja nanya.
"Boleh aku lihat?" ijin nya pada Aris menawarkan bantuan. "Aku tahu mesin sedikit-sedikit bang." ucap nya sopan.
"Ok." jawab Aris cepat dan memberikan tempat untuk anak itu mengecek mesin mobilnya.
Beberapa menit kemudian. "Maaf bang coba deh bang nyalain mesin nya." titah nya dengan lembut.
Aris pun mencoba menyalakan mesin mobilnya dan akhirnya mobil nya hidup kembali. "Ok, bisa!" ucap Aris senang mobil nya hidup kembali.
Aris keluar kembali menghampiri orang yang sudah membantunya itu. "Terima kasih ya kamu sudah bantu saya." ucap Aris dengan tersenyum.
"Sama-sama bang, mesinnya cuma kurang servis aja, jarang di pake ya mobilnya padahal ini mobil keren banget." sahut nya.
"Iya saya jarang pake mobil ini udah lama sih, padahal baru kemarin-kemarin ini mobil di servis." ucap Aris menjelaskan.
"Enggak benar kali bang bengkel kerja nya masa udah di servis masih aja mogok." ujar nya.
Aris hanya tersenyum mendengar ucapan nya. " Ngomong-ngomong kamu dari mana mau kemana?" tanya Aris penasaran.
"Aku dari Bandung mau ke rumah kakak ku, kebetulan ini pertama kalinya aku ke Jakarta jadi agak nyasar dikit." sahutnya cengengesan.
"Oh kamu baru pertama ke Jakarta, bagaimana kalau saya antar kamu ke rumah kakak kamu?" tawar Aris serius.
"Ah gak usah bang ngerepotin nanti." ucapnya sungkan.
"Gak apa-apa saya juga masih ada waktu, itung-itung saya balas kebaikan kamu sama saya karena sudah bantuin saya." ujar nya menjelaskan.
"Okelah bang kalau gak ngerepotin dan Abang maksa." ucapnya dengan tawa.
"Siapa yang maksa kamu, percaya diri sekali." sahut Aris sebal namun dengan di akhiri tawa.
Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil dan Aris melajukan mobilnya dengan kecepatan biasa saja. "Oh ya kamu tahu alamat rumah kakak kamu, tolong kasih tahu saya." pintanya Aris.
__ADS_1
"Di jalan perumahan xxx no 03." ucapnya.
Aris mengerutkan kedua alisnya. "Itu komplek perumahan untuk polisi kan?" tanya Aris meyakinkan.
"Iya bang kebetulan kakak saya nikah sama polisi, dia baru pindah ke sana." ucap nya.
Aris hanya manggut-manggut. "Seperti nya itu alamat rumah Nisa aku kan pernah mengantar Nisa pulang waktu itu, ah tapi kan perumahan disana banyak sekali rumah nya mungkin dia tetangga nya Nisa." batin Aris dalam hatinya.
"Abang TNI ya, gak apa-apa ni kalau Abang anterin aku kayak nya Abang mau pergi dinas?" tanya nya.
"Santai saja saya masih ada waktu kok, saya pakai seragam takut tadi di jalan ada apa-apa takut telat tapi Alhamdulillah masalah nya sudah selesai karena kamu bantu saya, makanya saya pakai seragam dari tempat keluarga saya." ucap Aris menjelaskan.
"Oh gitu, tadi aku pikir Abang itu galak tapi gak pas udah kenal." ucapnya.
"Oh ya dari tadi kita udah ngobrol kesana kesini, ngomong-ngomong nama kamu siapa?" tanya Aris.
"Nama aku Dimas bang, dan Abang pasti nama nya Aris kan?" tanya Dimas dengan senyum.
"Kok kamu tahu nama saya Aris, padahal saya belum kasih tahu kamu nama saya sama kamu?" ucap Aris heran.
"Itu!" tunjuk Dimas pada tag nama di seragam Aris yang ia pakai.
Aris pun refleks melihat ke arah yang di tunjukkan Dimas. "Iya..." sahut Aris sedikit malu. Dan mereka pun tertawa bersama.
"Iya namanya juga perempuan, perempuan gak bawel gak rame." tandas Aris dengan senyum.
"Iya walaupun kakak ku bawel tapi kalau jauh begini jadi kangen juga sih makanya aku ke Jakarta." ucap Dimas pilu.
"Namanya juga sama saudara, dekat berantem jauh malah kangen, saya juga gitu kok sama adik saya." ucap Aris ada benarnya.
"Abang Aris enak di bawa ngobrol nyambung gitu gak kayak Abang ipar ku dia pendiam jarang ngobrol kalau di tanya baru nyaut aneh deh kakakku bisa nikah sama dia baik sih tapi ya ke aku nya jadi harus hati-hati kalau ngomong." ucap Dimas panjang lebar.
"Ya kakak kamu nyaman sama Abang ipar kamu makanya kakak kamu suka." sahut Aris asal.
"Mungkin!" sahut Dimas. "Kalau aku punya kakak perempuan satu lagi pasti aku kenalin deh sama Abang, sayang aku punya kakak cuma satu." ucap Dimas sesal.
Aris tersenyum mendengar ucapan Dimas.
"Nanti deh kalau kakakku janda baru aku kenalkan sama Abang." ujar Dimas dengan tertawa.
"Eh dosa kamu doain kakak kamu janda kalau kakak kamu dengar dia bisa marah sama kamu." sergah Aris tak habis pikir dengan anak ini.
__ADS_1
"Hehe bercanda aku bang..." jawab Dimas kikuk kenapa juga dia harus ngomong seperti itu.
"Ya udah ini kita sudah di depan gapura perumahan tempat kakak kamu tinggal, kamu mau telpon dulu kakak kamu tidak?" tanya Aris pada Dimas.
"Oh ya kita sudah sampai bang gak kerasa sih! Iya udah aku telepon dulu deh kakakku."
Dimas pun menelepon no Nisa memberi tahukan kalau dia sudah sampai.
"Assalamualaikum kak aku udah sampai ini aku di depan gapura dekat pos aku kesana atau kakak kesini aku bareng teman juga soal nya." ucap Dimas.
"Teman? Iya udah kamu masuk aja ijin dulu sama penjaga di pos nya." titah Nisa.
Setelah selesai menelpon kakaknya Dimas pun menutup panggilan nya. "Bang Abang mampir dulu ya kerumah kakakku nanti aku kenalin." ucap Dimas.
Aris melihat jam yang ada di tangan nya. "Oke, tapi saya gak bisa lama." jawab Aris.
"Ok gak apa-apa, minum dulu lah bentar hehe." ucap Dimas cengengesan.
Sesampainya di depan rumah. "Yang mana rumah nya?" tanya Aris pada Dimas.
ah ini kan depan rumah nya Nisa ini Dimas adik nya Nisa atau bukan ya.
"Itu bang rumah kakak ku, itu dia kakakku nongol." tunjuk Dimas menunjukkan rumah Nisa yang Aris kenal dan terlihat Nisa yang sedang berdiri di teras menunggu Dimas.
"Alah ini sih rumah nya Nisa, benar ni anak Ade nya Nisa yang di Bandung, hadeeeeh ada cerita apa lagi ini, dunia seperti nya sedang mempermainkan ku." gumam Aris frustasi.
"Kenapa bang jangan gugup kak Nisa gak galak kok dia udah jinak hihihi." goda Dimas.
kamu gak tahu saja kalau aku sudah kenal dengan kakak kamu, kenapa sih di saat aku berusaha melupakan dia selalu saja ada pertemuan yang tidak pernah ke duga.
"Ayok bang kita keluar kak bisa udah suruh kita masuk, mobilnya di parkir disini aja bang." ajak Dimas.
"I...iya." jawab Aris mulai gugup.
Dimas lebih dulu turun dan menghampiri Nisa yang sedang menunggu nya. "Assalamualaikum kak?" sapa Dimas pada Nisa.
"Wa'alaikumussalam, kamu lama banget sih sampai nya kemana aja?" omel Nisa pada adiknya.
"Tadi di jalan aku sempat kesasar kak, maklum lah baru pertama kali ke Jakarta, tapi untungnya aku di anterin teman, tuh!" jawab Dimas menjelaskan dan menunjukkan pada teman yang mengantarkan nya.
Nisa pun melihat ke arah yang di tunjukkan Dimas. "Aris?" gumam Nisa saat ia melihat Aris teman nya yang sedang berdiri di dekat mobil nya dan juga sedang menatap dirinya.
__ADS_1
"Sini bang, aku kenalin kakak aku yang tadi aku ceritakan." ajak Dimas pada Aris yang dari tadi diam saja dekat mobil.
Aris pun mau tidak mau menghampiri Dimas yang memanggil nya itu mendekati Nisa yang sama-sama sedang melihat ke arah nya.