Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
perasaan hati


__ADS_3

"Bos target sudah bersama kami, apa yang harus kami lakukan lagi bos?" tanya para suruhan Tama itu.


"Bagus! Good job saya suka pekerjaan kalian! Bawa dia ke tempat yang sudah saya sediakan, ingat jangan sampai ada orang yang curiga atau pun ada orang yang tahu tempat itu!" Tama mengingat kan mereka agar berhati-hati.


"Baik bos segera kami lakukan!'


Setelah panggilan telepon dari para pesuruh nya Tama pun tertawa terbahak-bahak mengingat akan rencana nya yang berhasil membuat suami Via berada di dalam genggaman nya. "Sebentar lagi Anda akan merasakan apa yang namanya kehilangan!" sinis nya Tama berucap dengan wajah penuh dengan kelicikan.


"Dan kamu Via... sebentar lagi kamu akan menjadi milik ku seutuhnya!" ucapnya dengan nya tertawa.


"Aku harus segera melihat dia, aku ingin lihat bagaimana keadaannya sekarang setelah ia diberi pelajaran oleh para anak buah ku! Akhirnya dia merasakan pukulan yang telah aku balas kan menggunakan anak buah ku." ucapnya lalu ia pun segera keluar untuk pergi menuju tempat penyekapan Aris yang sudah di sediakan oleh Tama.


Setengah jam berlalu kini Tama sudah berada di depan sebuah gedung tua yang ia pilih untuk menyekap Aris. Tempat itu memang jarang sekali orang melewatinya, bahkan mungkin orang berpikir gedung itu tidak pernah ada penghuninya, jadi akan aman tidak akan ada orang sekalipun polisi yang akan menemui tempat itu.


Tama turun dari mobilnya dengan berjalan tegak lurus dan dengan angkuhnya ia pun melewati anak buah nya yang sudah berada di sana sebelum dirinya datang. Para anak buahnya semua tunduk pada Tama saat ia melewati nya.


"Dimana dia?" tanya nya cepat.


"Mari bos ikuti saya, saya akan tunjukkan dimana orang itu berada." jawab dan di ikuti oleh Tama.


"Di tempat ini bos, saya sudah ikat dia. Saya yakin dia tidak akan bisa lolos dari sini." ucapnya penuh keyakinan.


Tama pun masuk pada ruangan yang anak buah nya tunjukkan dan di sana ia melihat Aris yang sedang terbujur lemah dengan banyak luka di tubuhnya. Tama tidak memperdulikan dan tidak merasa kasihan terhadap Aris yang lemah tak berdaya itu. Di dalam pikiran nya itu hanya ada rasa balas dendam dan membuat Via menjadi miliknya dengan cara apapun.


Tama tersenyum smirk melihat keadaan Aris laki-laki yang ia pikir sudah merebut perempuan yang ia cintai. Tama mendekat menghampiri Aris yang sedang menatap dengan tatapan tajam sulit di artikan setelah ia tahu jika Tama datang menemuinya.


"Anda tahu saya sangat puas melihat anda dalam keadaan seperti ini, saya membuktikan bahwa uang adalah segalanya. Dengan uang yang saya miliki ini, saya bisa membuat anda seperti ini." ucap Tama dengan tawa meledek nya.

__ADS_1


"Dan Anda harus tahu sebentar lagi Via akan saya jadikan istri setelah anda menceraikan nya!" ucapnya dengan menatap wajah Aris yang sama-sama sedang menatapnya dengan emosi.


Aris tersenyum sinis. "Jangan mimpi!" ucap Aris cepat.


Tama tertawa kembali lalu ia pun menarik rambut Aris dengan keras. "Saya memang tidak akan pernah bermimpi karena saya yakin saya akan bisa membuat anda menceraikan Via bagaimana pun caranya." ancam nya penuh dengan penekanan.


Aris semakin geram di hatinya namun ia tidak memperlihatkan hal itu. Aris pun kembali tersenyum mengejek. "Hidup anda sungguh sangat menyedihkan ya tuan Tama, anda begitu terobsesi dengan istri saya sehingga anda melakukan hal sejahat ini. Anda memang memiliki uang yang begitu banyak dan melimpah dan dengan uang yang anda miliki anda bisa memiliki apa yang anda inginkan. Tapi ada satu hal yang tidak bisa anda miliki? Sebuah Cinta! Cinta Via tidak akan anda pernah anda miliki karena saya sangat yakin Via lebih mencintai saya dari pada anda!" ucapnya berapi-api.


Mendengar perkataan Aris yang membuat Tama semakin marah dan murka, Tama dengan cepat mendorong tubuh Aris dengan keras sehingga Aris pun tersungkur ke lantai dengan kedua tangan terikat. Namun Aris dengan tenang mengekspresikan wajah nya saat ia melihat Tama yang begitu kesal saat ia mengejek nya.


"Anda tahu tuan Tama saya dan Via saling mencintai, rumah tangga kami juga begitu bahagia. Jadi tidak mungkin saya akan menceraikan istri saya, sampai mati pun saya tidak akan menceraikan Via dan saya tidak akan melepaskan Via begitu saja, tidak seperti anda dulu yang bodoh meninggalkan Via dan menyakiti nya demi perempuan lain yang tidak berharga!" ucap Aris lemah.


Bug... Tama memberikan pukulan pada Aris karena ia kesal Aris mengejek nya, ia merasa tersindir akan perbuatannya dulu yang menyakiti Via dan dengan bodohnya lebih memilih perempuan lain, padahal waktu itu ia akan menikahi Via. Sungguh sangat menyesal yang Tama rasakan saat ini. Oleh karena itu dia sekarang ingin merebut kembali Via agar bisa menikahi nya.


"Dasar berengsek!" ucap Tama dengan nada tinggi di depan wajah Aris yang sedang meringis kesakitan namun masih tersenyum mengejek pada Tama. "Sakit juga tangan ku memukul nya!" batin Tama merasakan sakit di tangan nya setelah memukul perut Aris yang terasa keras.


Via kini sedang berada di ruangan nya. Melihat handphone yang tergeletak di depannya menunggu suaminya itu memberikan kabar. Telepon atau sekedar memberikan pesan kini yang sedang Via tunggu dari suaminya, namun semenjak dari tadi Via menunggu tapi handphone nya yang tergeletak itu tidak berbunyi atau pun bergetar.


Via menghela nafasnya panjang. "Suamiku mana sih, aku kan menyuruhnya memberikan kabar kalau dia sudah sampai di rumah. Hari ini kan dia masih dinas malam!" serunya kesal.


"Masa ia belum sampai, apa dia lupa ya?" batin nya sebal. "Hemm perasaan ku kok tidak nyaman begini ya?" gumam nya.


"Ah sudahlah mungkin bang Aris lupa kasih kabar ke aku. Hemm awas ya nanti kamu bang!" ancam Via dalam hatinya.


Lalu Via pun kembali mengerjakan pekerjaannya yaitu mengecek kembali data pasien sebelum dokter menanyakannya. Namun perasaan nya semakin tidak enak yang Via rasakan. "Kenapa ya aku kok gak enak hati gini? Apa yang akan terjadi ya?" batin nya. "Ah sudahlah mungkin perasaan aku saja sekarang sedang melow karena kehamilan ku ini!" serunya seraya mengelus perutnya yang masih rata itu. "Aku jadi gak sabar melihat perut ku membesar nanti karena bayinya ku yang tumbuh di sana." senyum Via mengembang membayangkan perutnya yang buncit dan suaminya yang terus mengelus perut saat hamil nya sudah membesar.


"Wooy! Anda gila?" teriak Sofi saat ia melihat sahabatnya itu sedang senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


"Sofi... kebiasaan ya kamu selalu mengagetkan aku!" cebik Via kesal.


"Iya kamu pagi-pagi udah senyum-senyum begitu, mana sendirian lagi. Itu namanya apa coba kalau bukan gila!" serunya.


"Ih kamu jahat ya bilang aku gila. Aku laporin lho sama suami ku kalau istrinya di bilang gila!" sebal Via.


"Iya deh yang punya laki seorang prajurit mah main lapor-lapor aja!" cebik Sofi cemberut. "Ngomong-ngomong ada kabar bahagia apa ni sampai kamu senyum-senyum begitu? Jangan-jangan kamu lagi bayangin kalian yang sedang main di ranjang ya? Ayok ngaku!" godanya sok tahu.


Via memukul lengan sahabatnya dengan gemas. "Kamu ya, masih perawan tapi mikir nya ke arah situ!" sebal Via bisa-bisanya sampai mikir ke arah sana.


"Lalu apa dong?" tanyanya dengan penasaran.


Via tersenyum melihat Sofi yang penasaran, Sofi belum tahu tentang kehamilan nya itu, Sofi hanya tahu kemarin Via tidak masuk bekerja karena sakit. "Kamu mau tahu apa yang buat aku tersenyum?" tanyanya dan Sofi mengangguk.


Via mengatur nafasnya panjang. "Aku....aku... aku hamil Sofi..." ucapnya penuh semangat.


Sofi melongo sejenak. "Kamu hamil Via, wah selamat ya atas kehamilannya, semoga sehat terus ya bumil, aku senang deh denger nya sebentar lagi aku bakalan dapat ponakan Haha." ujarnya seraya mengelus perut Via.


"Iya amiin..." balas Via dengan tersenyum. Namun senyuman nya hilang saat ia tidak sengaja menyenggol gelas minum nya yang berisi teh hangat itu jatuh ke lantai dan PRANK gelas itu pecah karena terjatuh langsung ke lantai dan sedikit mengenai kakinya yang dekat dengan pecahan gelas itu.


"Via kamu gak apa-apa?" khawatir Sofi melihat kaki Via sedikit berdarah karena pecahan gelas itu menancap pada kakinya.


"Gak apa-apa kok, untungnya pecahan gelas nya yang menancap cuma kecil." ucap Via merasa gugup bukan karena pecahan gelas yang menancap di kakinya namun ntah kenapa hatinya sangat tidak enak saat ia tadi membayangkan wajah suaminya.


"Ya sudah kamu jangan gerak dulu aku akan panggilkan office boy, nanti aku akan obati kaki kamu, tunggu ya!" cegah Sofi pada Via namun Via hanya diam saja dan menatap Sofi yang pergi.


"Abang Aris!" batin nya.

__ADS_1


__ADS_2