
"Mas, kamu senang gak aku hamil?" tanya Nisa saat dalam pelukan Adam dan mendongakkan wajahnya pada Adam saat mereka telah selesai olahraga pagi menjelang siang itu.
Adam tersenyum mencium kening Nisa sangat lama. "Pasti nya mas bahagia sekali mendengar kabar kalau kamu hamil apalagi ini buah cinta kita." jawab Adam dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.
"Hanya saja mas sedikit sebal karena bukan mas orang yang pertama tahu kehamilan kamu." ucap Adam cemberut.
"Iya maaf, aku kan udah jelaskan semuanya sama kamu." lirih Nisa yang membuat Adam memeluk Nisa dengan erat
"Sudah lah itu semua bukan salah kamu juga mas juga salah karena kemarin mas gak bisa anterin kamu bertemu dengan Rahma." ujar Adam lembut.
"Iya udah mas aku mandi dulu ah, aku mau kabari Rahma dari kemarin dia nanya kabar aku mulu." ijin Nisa beranjak pergi ke kamar mandi dan di angguki Adam.
***
Beberapa saat kemudian setelah selesai mandi Nisa pun keluar dari kamar mandi dan melihat Adam yang masih betah berada di atas kasur. "Mas kamu gak mau mandi apa?" ucap Nisa saat melihat suaminya itu masih malas-malasan.
"Mas kan baru mandi tadi, nanti aja lah pas mau shalat dhuhur baru mandi." sahut Adam malas.
"Ih kok kamu jadi pemalas gitu sih sekarang, gak biasa nya deh." ujar Nisa.
"Gak tahu mas sekarang bawaan nya malas mandi kalau gak gerah-gerah banget." elak nya.
"Ah tapi kucing juga jarang mandi larinya cepat kok." canda Adam cengengesan.
"Serah deh mas..." sahut Nisa sebal.
Setelah berargumentasi dengan suaminya Nisa mencoba menelpon sahabat nya Rahma.
"Assalamualaikum Ma?" ucap Nisa saat telepon nya tersambung pada Rahma.
Saat Rahma menerima telepon dari Nisa ia sedang berada di kantor nya Rangga om nya Rahma, ia sedang mengunjungi tempat kerja om nya itu karena sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan Rangga.
"Terima telepon dari siapa kamu Rahma?" tanya Rangga penasaran saat Rahma sudah selesai menerima telepon.
"Dari Nisa om, kenapa rindu?" goda Rahma pada om nya. Semenjak terjadinya cinta segitiga antara Rangga Nisa dan Adam, Rahma belum pernah melihat om nya itu mempunyai teman wanita sama sekali mamah nya bilang kalau om nya itu selalu menyibukkan dirinya dengan bekerja.
__ADS_1
"Apa kabar Nisa, apa dia baik-baik saja?" tanya Rangga cepat, mendengar nama Nisa di sebut oleh Rahma ia jadi teringat dengan gadis yang pernah membuat nya jatuh hati sekaligus membuat nya patah hati.
"Dia baik katanya, kemarin pas kita janjian mau ketemu dia tiba-tiba gak bisa karena dia pingsan." jawab Rahma.
"Pingsan? Kenapa?" tanya Rangga cepat penuh khawatir.
"Biasa aja kali om ekspresi nya." goda Rahma dengan gelak tawanya. "Ketahuan ni kalau om belum bisa move on dari Nisa, hebat banget sahabat gue itu bisa mencairkan hati yang mengeras sekeras es batu." ucapnya dengan canda Rahma.
"Apa sih kamu, memang salah kalau ingin tahu kabar seorang teman." elak Rangga.
Rahma semakin tergelak dengan tawanya saat mendengar ucapan Rangga. "Teman? Ah... seorang teman..." goda Rahma semakin senang menggoda om nya itu.
"Tapi ingat om Nisa udah jadi istri orang jangan sampai om khilaf lagi." ujar Rahma mengingat kan om nya itu.
"Iya saya tahu saya udah gak bisa dapat kan Nisa, lalu tadi kenapa Nisa bisa pingsan, apa dia sakit?" tanya Rangga masih penasaran.
"Nisa lagi hamil." jawab Rahma cepat.
"What hamil?" kejut Rangga mendengar kabar itu dan di angguki oleh Rahma.
"Om ngomong apa barusan gue gak dengar?" tanya Rahma penasaran.
"Gimana kuliah kamu disana baik-baik saja kan?" tanya Rangga mengalihkan pertanyaan Rahma.
"Baik-baik aja gak masalah no problem." tandasnya.
"Lalu kamu ada perlu apa kesini?" tanya Rangga penuh selidik.
Hehe... Rahma cengengesan. "Gue cuma pengen ketemu om gue yang baik aja, memang salah kah?" sahut Rahma cemberut.
"Saya curiga sama kamu, pasti ada mau nya atau ada hal lain!" sergah Rangga malas menghadapi keponakan nya yang aneh.
"Idih... punya om curigaan deh." sahut Rahma cepat. "Om sebenarnya sih gue kesini mau kenalin elu sama temen gue, dia orangnya baik cantik dan menarik sebelas dua belas lah sama sahabat gue Nisa. Iya siapa tahu elu cocok." tawar Rahma pada Rangga dengan cengengesan nya.
"Saya gak selera, sudah sana kamu pulang saya masih banyak pekerjaan jangan ganggu saya." ucap Rangga mengusir keponakan nya dengan nada ketus.
__ADS_1
"Ih om elu itu udah tua udah pantes punya pendamping hidup, ingat om jangan berharap terus sama Nisa dia udah bahagia dengan suaminya." ucap Rahma tegas.
"Siapa yang masih mengharapkan Nisa? Sudah sana keluar kamu!" usir Rangga dengan mendorong tubuh Rahma agar keluar dari ruangan nya.
Setelah keponakan nya berhasil ia usir Rangga duduk di kursi kepemimpinan nya ia menghela nafas nya panjang. "Nisa... mengingat nama kamu mengingat kan saya pada waktu pertama kalinya saya bertemu kamu." gumam Rangga mengingatkan ia ke masa lalu nya, dengan senyuman yang mengembang saat mengingat kejadian itu. "Saya harap kamu selalu sehat dan bahagia, saya akan selalu bahagia jika melihat mu bahagia."
***
"Aris kamu kenapa sih diam terus mama perhatikan apa kamu ada masalah? Cerita sama mama, siapa tahu mama bisa bantu." berondong pertanyaan yang keluar dari mama nya Aris. Saat ini Aris sedang berada di rumah kedua orang tuanya ia sedang berkunjung untuk bertemu dengan mereka.
"Gak ada apa-apa mah." jawab Aris pelan.
"Emh pasti kamu lagi ada masalah sama pacar kamu ya jadi gak mau cerita sama mama." ujar mama Aris pura-pura merajuk.
"Bukan mah, gimana mau cerita pacar, pacar nya juga belum ada." jawab Aris malas.
"Masa sih anak mama yang ganteng ini belum punya pacar?" tanya mama menggoda Aris.
"Ganteng gak jadi utama mah tapi keberuntungan!" sahut Aris asal.
"Kalau begitu berarti anak mama ini kayaknya lagi patah hati ya." ucap mama Aris semakin menggoda anak pertamanya.
Aris menghela nafasnya frustasi. "Mama ngarang aja ah." elak Aris masih tak mau bercerita.
"Mama tahu kok kamu itu lagi patah hati kamu gak semangat, kamu masih belum berhasil bertemu dengan teman masa kecil kamu itu? Mama yakin kalau kalian berjodoh sejauh apapun jarak kalian berdua pasti Allah akan mempertemukan kamu dengan nya." tutur mama Aris memberi semangat.
mama gak tahu aja kalau aku sudah bertemu dengan teman masa kecil ku dulu, tapi aku di pertemukan di situasi yang sangat sulit, dimana aku harus mencoba melepaskan nya dengan ikhlas tanpa rasa sakit, tapi semakin aku menghindar semakin ada saja hal yang akan pertemukan aku dengan nya, aku memang belum sepenuhnya mengikhlaskan Nisa tapi aku akan bahagia melihat dia bahagia.
"Hei....nak... nak... kok kamu malah bengong sih apa yang kamu pikirkan?" tanya mama Aris melihat anaknya dari tadi hanya diam saja.
Aris tersadar dari lamunannya ia pun menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal karena ketahuan melamun.
"Mah gimana sih caranya menghilangkan perasaan cinta dari seseorang?" tanya Aris mulai memberanikan diri meminta saran dari mama nya itu.
"Kamu mau melupakan siapa? Apa gadis teman masa kecil kamu yang akan kamu lupakan? Apa kamu akan menyerah begitu saja setelah dulu kamu paling kekeh untuk menemukan nya?" jelas mama Aris mengingatkan Aris pada masa ia ingin bertemu dengan Nisa.
__ADS_1
"Ntahlah mah aku bingung." ucap Aris lirih memeluk mama nya dengan erat dan di balas mamanya dengan pelukan ibu terhadap anaknya. Sebesar dan setinggi jabatan apapun seorang anak di mata orang tua dia masih saja di anggap anak kecil oleh orang tua yang melahirkan dan membesarkan nya.