
"Nisa kamu saja dulu yang masuk ke dalam nanti setelah kamu selesai gilaran kita yang masuk." ucap mama Mel menyuruh Nisa sebagai orang yang begitu terpukul atas kejadian ini.
"Tidak apa-apa kalau Nisa yang lebih dulu jenguk mas Adam?" tanya Nisa meyakinkan mama mertua nya itu.
"Iya kamu saja dulu, kamu lah yang sekarang Adam butuhkan, dan ajaklah Adam bicara dari hati ke hati ya." jawabnya pasti.
Nisa tersenyum bahagia akhirnya dia bisa bertemu juga dengan suami yang sangat ia cintai walaupun suaminya itu dalam keadaan tidak sadarkan diri. "Kalau begitu aku masuk dulu ya." ucap Nisa pada semua keluarganya dan di iyakan oleh keluarga nya.
Nisa pun masuk setelah di berikan pakaian yang di sediakan oleh petugas medis agar di dalam ruangan tetap steril.
Suasana dalam ICU sedikit mencekam. Peralatan monitoring yang terpasang untuk memantau denyut nadi/jantung dan pernafasan, selang infus untuk memasukkan bahan nutrisi serta selang untuk mengeluarkan urine, cairan lambung atau cairan dari bagian tubuh lain menambah suasana menjadi semakin tak biasa.
Nisa melihat Adam suaminya itu dengan mata yang membendung di pelupuk matanya, melihat berbagai alat yang terpasang di tubuh Adam membuat Nisa semakin sedih melihatnya.
Nisa menghampiri Adam, mendekat pada pada Adam yang terbujur kaku. "Assalamualaikum mas... ini aku Nisa istri mu mas." ucap Nisa dengan suara bergetar. "Mas... aku kangen sama kamu mas. Ayok bangun mas aku sangat merindukanmu." ucap Nisa pelan dengan Isak tangisnya.
"Mas calon bayi kita rindu dengan sentuhan tangan kamu." bisik Nisa di telinga Adam dan Nisa pun menyentuh tangan Adam yang dingin lalu ia mengangkat tangan Adam menyimpan di atas perutnya. "Mas... ini perut aku sudah besar berarti calon bayi kita sudah semakin siap untuk bertemu dengan kamu." tutur Nisa dengan lembut dan menggerakkan tangan Adam pada permukaan perut Nisa supaya tangan Adam yang ia pegang mengelus bayi yang ia kandung.
"Lihat mas bayi kita merespon saat kamu sentuh, dia bergerak halus dan tahu gak mas dia nendang perut aku sekarang." ucap Nisa dengan tersenyum.
__ADS_1
Lalu Nisa pun duduk di kursi yang sudah di sediakan disana ia meraih handphone nya lalu ia membuka aplikasi Al Qur'an. Ia berniat melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an di dekat Adam agar Adam suaminya itu bisa mendengar Nisa mengaji. Supaya Nisa bisa tenang menghadapi semua ujian ini dan Adam bisa merespon suara ayat-ayat Allah yang ia lantunkan.
"Aku ngaji ya mas, mas dengarkan aku mengaji ya." ucap Nisa sebelum memulai mengaji, lalu ia pun mengaji duduk dekat Adam dan dengan tangan mengelus perut yang bayinya selalu bergerak saat ia di dengarkan dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Setelah selesai mengaji Nisa pun mengajak kembali Adam berbicara. "Mas... kapan dong kamu ajak aku jalan-jalan lagi seperti pagi itu mas, saat kita di tegur oleh petugas kalau kita lagi pacaran." ucap Nisa ia mengingatkan pada waktu dirinya bersama Adam sedang berduaan di taman. "Padahal kan memang kita sedang pacaran ya mas tapi pacar halal hehe." ucap Nisa pelan pada dirinya sendiri karena Adam tidak ada respon sama sekali.
"Mas jangan tidur mulu dong mas aku kan bosen gak ada yang ajak aku ngobrol." Nisa pura-pura merajuk. "Nanti kalau aku gak ajak ngobrol kamu suka marah karena kamu merasa di cuekin sekarang kamu kok gitu sih mas sama aku!" ucap Nisa pelan ia mencoba untuk mengajak Adam mengobrol namun lagi-lagi Adam diam tidak ada respon sama sekali hanya terdengar suara bunyi peralatan yang ada di ruangan itu.
Nisa menghela nafasnya berat menahan tangisnya agar tidak pecah di ruangan ini agar Adam tidak mendengar tangis kesedihannya.
Lalu Nisa pun keluar dari ruangan Adam karena ia tak sanggup menahan rasa sedihnya ia ingin menangis meluapkan rasa sesak di dadanya.
*
*
*
"Nisa bagaimana kabar pak Adam?" tanya Aris pada Nisa yang sedang menunggu Adam sendirian.
__ADS_1
Nisa menggelengkan kepalanya. "Belum ada perubahan Ris, aku bingung harus bagaimana lagi agar mas Adam bisa segera siuman, berbagai cara sudah aku lakukan, aku juga selalu meminta sama Allah agar mas Adam cepat sadar tapi mungkin Allah masih belum bisa mengabulkan permintaan aku Ris." jawab Nisa pelan di akhiri dengan helaan nafas nya yang berat.
"Apa aku boleh menjenguk nya?" ijin Aris pada Nisa dan di perbolehkan oleh Nisa.
Aris pun masuk ke dalam ruangan Adam dimana ia masih di rawat. Saat ia di dalam Aris langsung mendekati Adam yang sedang tertidur di alam bawah sadarnya. "Selamat siang pak Adam? Anda begitu betah sekali tidur di sini apa anda tidak takut jika anda terus saja tidur seperti ini, Nisa istri anda begitu sedih melihat kondisi anda seperti ini. Laki-laki seperti apa anda membuat Nisa perempuan yang anda cintai menangis terus menerus dalam kesedihannya karena anda terus saja betah tidur di sini." ucap Aris pelan.
"Lihat Nisa istri anda, dia begitu sangat cantik pak Adam apa anda tidak merindukan nya? Atau anda mau jika saya yang menikmati kecantikan nya itu." bisik Aris pada telinga Adam.
"Nisa begitu cantik apalagi dia sedang mengandung anak anda kan, tubuhnya begitu sexi saat dia mengandung, apa anda tidak ingin melihatnya pak Adam?" puji Aris agar Adam mendengar apa yang di ucapkan nya.
"Jika saya jadi anda saya akan membawanya kemanapun ia mau, anda mau saya menggantikan posisi anda pak Adam?" ancam Aris berbisik.
"Posisi anda sebagai suami dan juga sebagai ayah dari anak yang istri anda kandung." jelasnya.
"Jadi jika anda tidak mau saya merebut Nisa dari pelukan anda segeralah sadar dari koma anda dan bangun lah dari mimpi anda yang panjang ini." ucap Aris menahan air matanya, ya walaupun Adam bukan siapa-siapa nya tapi Aris melihat Nisa yang begitu sedih membuat nya merasakan apa yang ia rasa.
Aris menghela nafasnya panjang usaha nya tadi membuat Adam agar segera bangun tidak membuahkan hasil. Aris harus mencari cara lagi agar Adam bisa merespon ucapannya ini.
"Maaf pak Adam saya tadi hanya sebuah ancaman palsu untuk anda tapi ternyata itu tidak mempan, saya juga mana berani untuk merebut Nisa dari anda karena Nisa begitu mencintai dan menyayangi anda." batin Aris dengan tatapan Aris menatap wajah Adam.
__ADS_1
Aris pun pergi dari ruangan nya itu setelah ucapan pamit pada Adam meninggalkan Adam yang belum sadar diri. Namun setelah kepergian Aris ia tidak tahu bahwa Adam merespon perkataan yang tadi ia ucapkan pada Adam. Adam mulai menggerakkan jari telunjuknya walaupun masih belum terlihat tapi dia sedang berusaha untuk menggerakkan jarinya dan mengumpulkan kesadarannya dari mimpi panjang yang selama ini ia rasakan.
Di ruangan itu tidak ada orang sama sekali karena Nisa sedang menunggu di luar ruangan bersama Aris. Rekan Adam juga sering menjenguk saling bergantian Namun karena Adam masih belum ada perkembangan mereka pun saling menguatkan apalagi Nisa sebagai istri dari Adam yang harus lebih kuat karena dirinya lah orang yang paling terpukul.