
Beberapa Minggu kemudian, saat nya Nisa Adam beserta para anggota pun sudah selesai dalam tugas mereka, semua kondisi sudah sedikit lebih baik ya walaupun tidak bisa mengembalikan harta benda para masyarakat yang telah hilang atau yang di tinggalkan.
Anak-anak pun sudah mulai terbiasa dengan keadaan mereka saat ini, ceria dan tak menampakkan kesedihan mereka.
"Kami bapak dari pihak kepolisian dan bapak dari TNI beserta para relawan akan pamit, semoga bantuan kami ini sangat bisa membantu masyarakat disini dan mengurangi beban kalian semua, jagalah selalu lingkungan sekitar kita." ucap Adam selaku ketua dari para kepolisian yang bertugas.
"Iya kami sangat berterima kasih kepada para petugas yang sudah sangat membantu kami, semoga kami disini bisa melewati ini semua dan semoga tidak ada lagi musibah seperti ini lagi." ucap salah satu masyarakat yang disana.
Nisa menatap anak-anak yang berkumpul dan Nisa pun berpamitan kepada anak-anak.
"Anak-anak kak Nisa bersama para bapak-bapak negara ini akan pamit, karena tugas kami sudah selesai, kak Nisa pasti kangen kalian, mungkin ini hari terakhir kakak bisa menemani kalian dan bercerita disini, semoga lain waktu kita bisa berjumpa kembali ya..." tutur Nisa dengan lembut namun di hati Nisa sangat sedih karena tidak bisa bertemu lagi dengan anak-anak disana.
"Terima kasih bu Nisa sudah hadir diantara anak-anak kami, sudah mau menghibur dan mengajar kan anak-anak kami, mereka sangat senang sekali." ucap salah satu orang tua anak itu.
"Pak Adam beruntung sekali mendapatkan istri seperti ibu Nisa ini sudah cantik, baik dan mau berbagi, kami baru tahu kalau ibu Nisa istri dari seorang polisi dan pak Adam lah laki-laki yang sangat beruntung itu." puji salah satu masyarakat.
Adam tersenyum simpul. "Terima kasih sekali, memang saya sangat beruntung sekali memperistri wanita yang ada di samping saya ini, dia selalu mendukung saya dan bisa membuat saya bahagia." tutur Adam penuh kebahagiaan.
Adam yang begitu bahagia mendapatkan Nisa sedangkan Aris yang mendengar berbagai pujian untuk Adam dan Aris ia sangat begitu sakit hati, harusnya yang berada di samping Nisa saat ini adalah dia bukan Adam namun takdir berkata lain.
Aris melengos pergi dari tempat nya ia berdiri, karena hati Aris begitu sakit mendengar pujian orang-orang terhadap pasangan baru itu dan melihat pasangan itu selalu mesra dalam segala hal membuat Aris tidak tahan untuk berada di dekat mereka. Syamsul yang melihat sahabatnya itu pergi dari tempat berkumpulnya masyarakat pun menghampiri Aris.
"Kamu harus ikhlas menerima semua ini, Nisa bukan jodoh kamu, sedikit-sedikit lah kamu belajar untuk melupakannya, lihat tuh Nisa!" tunjuk Syam pada Nisa. "Dia terlihat begitu bahagia." ucap Syam pada Aris.
Aris pun melihat Nisa yang sedang tertawa bahagia bersama Adam. Dia pun menatap Nisa dari jauh begitu nanar merasakan dadanya yang tiba-tiba begitu sesak. Ia cemburu sangat cemburu melihat Nisa yang terlihat begitu mencintai Adam.
"Gue belum bisa Syam mengikhlaskan Nisa begitu saja, elu tahu kan kalau gue cari dia dari dulu, gue benar-benar cinta sama dia, hati gue gak bisa melepaskan begitu saja." tutur Aris begitu dalam.
__ADS_1
"Iya saya tahu cinta kamu begitu besar pada Nisa tapi, Nisa sekarang sudah menikah dan dia bahagia dengan pernikahannya, memang nya kamu berniat mau merebut Nisa dari Iptu Adam?" tanya Syam penuh selidik.
"Jika ada yang dukung gue kenapa gak?" ucap Aris datar.
"Wah kamu gila, benar-benar gila, cinta itu tak mesti memiliki harus nya kamu bisa bahagia melihat perempuan yang kamu cintai bahagia, ya... walaupun bahagia nya bukan sama kamu." ujar Syam mengingat kan.
Aris tersenyum kecut. "Elu bisa bicara seperti itu karena elu belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta." kesal Aris pada sahabat nya yang sok tahu.
"Siapa bilang? Saya pernah jatuh cinta tapi ya selalu gagal di tengah perjalanan makanya saya selalu mengikhlaskan begitu saja." sahut Syam dengan bangganya.
"Itu sih karena perempuan nya sadar kalau elu bukan laki-laki yang patut di perjuangkan." elak Aris sebal.
"Ya... ya... ya mungkin itu memang sudah takdir saya seperti itu di cintai untuk di tinggalkan!" tutur nya pilu.
Aris tersenyum tipis mendengar perkataan sahabat nya merasa senasib karena di tinggal oleh perempuan yang mereka cintai.
***
Sedangkan Aris ia pun sampai rumah pukul 8 karena berbeda pesawat dengan Nisa. Aris langsung masuk ke dalam rumah nya menyimpan ranselnya di sembarang tempat. Malam ini ia begitu lelah bukan hanya fisik nya namun hatinya yang sedang patah hati membuat Aris tidak semangat.
Lalu ia pun langsung duduk di sofa yang ada dalam ruangan itu merebahkan tubuh nya yang lelah dengan tangan kanan yang ia simpan di atas keningnya dan tangan kiri yang ia simpan di atas dadanya dengan kaki yang menjuntai ke bawah masih menggunakan sepatu dinasnya namun kedua matanya menatap langit-langit ruangan itu.
"Nisa... bagaimana caranya aku bisa melupakan mu, kemarin saja sebelum kita bertemu di cafe aku sudah sangat merindukan mu, aku bahkan berusaha mencari kamu, walaupun akhirnya aku terlambat. Padahal dalam hati aku yang paling dalam aku sangat menginginkan kamu jadi pendamping hidupku nanti." gumam Aris begitu sakit.
"Kamu begitu bahagia dengan pernikahanmu, bahkan seperti nya adanya aku sekarang dalam kehidupan mu seakan tidak berarti sama sekali." batin nya dalam hati.
"Apa aku harus benar-benar berusaha untuk melupakan mu Nisa... tapi untuk saat ini aku belum bisa Nisa... belum!" ucap Aris pilu.
__ADS_1
Aris pun bangkit dari kursi itu dan duduk ia meraih handphone nya yang ada di dalam tas kecilnya, ia pun melihat pesan-pesan dulu dari Nisa, Aris sengaja tidak menghapus pesan itu. Karena bagi nya pesan itu adalah kenang-kenangan dari Nisa untuk nya.
"Kenapa kamu tidak langsung masuk kamar, mandi sana biar badan sama otak kamu fresh jangan lupa shalat juga minta sama Tuhan supaya kamu bisa lupa sama yang namanya Nisa." perintah Syam pada Aris saat melihat sahabatnya itu langsung rebahan dengan masih menggunakan seragam dinas lengkap.
"Iya bawel, elu itu bawahan gue tapi berani nyuruh-nyuruh gue." ucap Aris kesal.
"Di kantor kamu atasan saya tapi di rumah ya kamu sahabat saya, kamu itu seperti anak kecil mesti di kasih tahu dan di arahkan, pantas saja ayah kamu suruh saya serumah dengan kamu dan berpesan saya harus jaga kamu, dari dulu sampai sekarang kamu itu sudah saya anggap seperti Ade saya, ya walaupun pangkat kamu lebih tinggi dari saya karena kecerdasan kamu tapi kalau soal usia dan pengalaman hidup kamu kalah dari saya." ujar Syam bangga.
"Iya Abang..." sahut Aris sebal dan jijik dengan ucapan panjang dari sahabatnya itu.
"Salim kamu sama Abang." goda Syam pada Aris dengan menjulurkan tangannya pada Aris agar ia salim.
"Gak Sudi gue punya Abang kayak elu." cebik Aris dan melengos pergi dari hadapan sahabat nya untuk membersihkan tubuhnya.
"Wah songong ini anak minta di hajar kayaknya." teriak Syam pada Aris yang sudah melangkah jauh meninggalkan nya.
***
Adam selesai dari kamar mandi setelah ia membersihkan tubuhnya, Adam pun melihat Nisa yang sedang menyisir rambutnya yang panjang. Adam pun mencium ubun-ubun Nisa saat Nisa sedang di depan cermin. "Cantik." ucap Adam setelah mencium kepala Nisa.
"Mas kamu gak ambil wudhu? Kamu kan belum shalat kenapa malah cium aku." tanya Nisa heran.
Adam tersenyum. "Mas udah wudhu tapi lihat kamu menggoda gitu jadi tergoda pengen cium kamu." sahut nya tanpa ekspresi.
"Idih, mas kamu itu ya, udah sana ambil wudhu lagi, lagian aku gak ada niatan buat goda-goda kamu." ujar Nisa tak terima.
"Niatan menggoda juga tidak apa-apa, mas suka kok." goda Adam pada Nisa dengan senyum nakal dan melangkah pergi ke kamar mandi lagi saat melihat Nisa yang akan mencubit nya.
__ADS_1