
Ketika Satria sedang menunggu Adam yang sedang di operasi, waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari tapi dokter yang menangani Adam di dalam ruangan operasi masih saja belum selesai rasa cemas semakin Satria rasakan Satria melihat Aris yang sedang menyenderkan tubuhnya pada kursi yang ada di ruang tunggu memejamkan kedua matanya karena memang Aris belum istirahat sejak tadi, namun ia khawatir dengan Adam yang sedang mendapatkan musibah.
Terdengar suara panggilan dari handphone Satria yang terus saja berdering namun Satria sama sekali tidak mengangkat nya membuat Aris yang sedang memejamkan matanya membuka matanya dan menatap Satria yang seperti ragu untuk mengangkat panggilan telepon nya, dia hanya memegang handphone di tangan nya berjalan mondar-mandir di hadapan Aris. "Kenapa anda tidak mengangkat panggilan handphone anda pak Satria, ada yang menelpon anda siapa tahu itu penting?" tanya Aris penasaran dengan mengerutkan keningnya heran kenapa tidak ia jawab panggilan telepon nya membuat ruang tunggu yang sepi menjadi berisik.
Satria mendekat ke tempat duduk dimana Aris berada. "Nisa?" Satria memperlihatkan handphone nya pada Aris memberi tahu siapa yang memanggilnya. "Saya bingung harus jawab apa kalau Nisa menanyakan keadaan Adam." ucap Satria mendesah.
Aris jadi terdiam ia sampai lupa kalau yang ia tunggu di rumah sakit ini adalah suami Nisa perempuan yang masih ia cintai. "Pasti Nisa menelpon pak Adam karena pak Adam tidak menjawab panggilannya maka dia menanyakan keberadaan pak Adam pada anda." ujar Aris.
Satria mengangguk membenarkan ucapan Aris dan ia bingung harus menjawab apa tapi kalau tidak di beri tahu bagaimana nanti perasaan Nisa tapi bila Nisa di beri tahu ia pasti terkejut dengan kejadian yang menimpa Adam suami nya itu. Satria semakin frustasi dengan keadaan seperti ini ia pun mengusap wajahnya kasar menyembunyikan kekhawatiran nya.
"Bagaimana ini pak Aris saya bingung, Nisa sedang hamil jika dia mendengar kabar buruk yang menimpa adam seperti ini, bagaimana dengan perasaan Nisa?" desah Satria semakin gusar.
"Lebih baik anda beritahukan Nisa secara langsung besok pagi, walau bagaimanapun Nisa adalah istri pak Adam dia harus tahu keadaan pak Adam ya walaupun ini memang sangat berat tapi Nisa harus tahu." titah Aris dengan lembut meyakinkan Satria.
Satria menghela nafasnya berat. "Iya saya akan beritahu Nisa besok pagi ke rumah nya." jawab Satria pelan.
***
Esok paginya Nisa yang masih kesal dengan Adam suami nya karena tidak ada kabar sama sekali dari dia dan Nisa juga kesal pada Satria sahabat suaminya karena ia juga tidak menjawab panggilannya. Sedangkan mama dan papa mertua Adam sedang dalam perjalanan menuju Jakarta dimana mereka akan mengunjungi kediaman Adam anak nya dan juga Nisa menantunya.
__ADS_1
Tingtong... Tok... tok... tok suara bel rumah dan suara ketukan pintu terdengar oleh Nisa saat ia sedang duduk di ruang makan saat ia sedang meminum susu hamil untuk nutrisi bayi yang ia kandung. Nisa melihat bibi pembantu nya sedang mencuci piring. "Bi tolong ya bukakan pintu dulu sepertinya ada tamu." titah Nisa pada bibi pembantu, Nisa rasanya malas untuk membuka pintu karena hatinya yang sedang tidak mood.
"Siap neng!" ucap bibi cepat membuka celemek yang ia pakai dan langsung cepat berlari menuju pintu depan untuk membukakan pintu sesuai perintah majikannya.
Saat di sudah berada di pintu depan bibi pun membuka pintunya karena suara ketukan pintu seakan tidak sabar ingin segera di bukakan.
Ceklek... suara pintu di buka bibi melihat siapa tamu yang datang pagi-pagi seperti ini jarang-jarang ada tamu berkunjung sepagi ini.
Dan Satria beserta salah satu rekan nya yang datang ke kediaman Adam dan Nisa ia berdiri di depan pintu menunggu si tuan rumah segera membuka pintu. Saat ia lihat seorang pembantu yang membukanya Satria langsung menanyakan majikannya ada dimana. "Maaf Bu Nisa nya ada? Saya Satria dan ini rekan saya Anto, kami dari kepolisian ada perlu dengan Nisa." tutur Satria memberi tahukan maksud ia datang ke rumah ini.
Bibi yang melihat di depan matanya yang memakai seragam kepolisian pun sedikit takut ada apa mereka kesini pagi-pagi dan menanyakan keberadaan Nisa majikan nya padahal pak Adam sedang tidak ada di rumah.
"Sebentar pak saya akan panggilkan neng Nisa majikan saya dulu di dalam, bapak-bapak ini silahkan masuk dulu dan tunggu di dalam saja." ijin bibi pada kedua polisi itu dan bibi mempersilahkan keduanya untuk masuk ke ruangan tamu yang ia tunjukkan.
Dan bibi pembantu itu pun langsung beranjak pergi meninggalkan kedua polisi itu yang sudah duduk manis di ruang tamu, bibi pergi ke arah dapur dimana majikannya tadi berada untuk memberi tahu jika ada yang mencarinya.
Saat setelah berada di dapur bibi itu melihat majikannya masih berada di dapur dengan segelas susu di hadapannya yang masih tersisa sedikit dan terlihat tidak semangat dengan tangan memijat pelipisnya.
"Maaf neng di depan ada tamu katanya ada perlu sama neng Nisa mereka dari pihak kepolisian." ujar bibi memberitahu Nisa.
__ADS_1
Nisa yang mendengar bibi berbicara ia langsung menoleh pandangan yang tadi menunduk menjadi menatap ke arah bibi nya berdiri. "Polisi?" tanya Nisa heran. "Ada perlu apa polisi itu kesini bi kan mas Adam gak ada di rumah." balas Nisa masih bingung.
"Pak polisi tadi namanya pak Satria dan pak Anto neng mereka cari neng Nisa, bibi juga sudah bilang kalau pak Adam sedang tidak ada di rumah." tambah bibi menjelaskan.
"Pak Satria? Dia kan sahabat mas Adam ada apa ya bi dia kemari dan mau bertemu Nisa." Nisa mengerutkan keningnya bingung. "Iya sudah aku ke depan dulu bi temuin mereka dulu, bibi beresin ini ya aku udah kenyang minum susunya." ujar Nisa lalu ia pun melenggang pergi untuk menemui kedua polisi itu.
Saat sudah di ruang tamu dimana kedua polisi itu duduk Nisa pun langsung menghampiri mereka berdua yang sedang mengobrol pelan menunggu Nisa datang menemuinya. "Bang Satria, ada perlu apa Abang sama aku, mas Adam sedang tidak ada di rumah bang ia belum pulang dari tugasnya, apa kalian tidak tugas bersama?" tanya Nisa penasaran karena sahabat suaminya itu biasanya selalu tugas bersama Adam suaminya.
Satria mulai ragu dan takut untuk memberi tahukan Nisa tentang kabar buruk yang menimpa Adam pada Nisa. " Emh... begini Nisa saya kesini memang tidak sedang mencari Adam suami kamu, tapi memang saya dan rekan saya ini ada perlu sama kamu, saya kesini mau memberi tahu keadaan Adam saat ini." tutur Satria menjelaskan maksud dia menemui Nisa.
Nisa terkejut mendengar ucapan Satria yang akan memberi tahu kabar suaminya. "Ada apa dengan mas Adam bang? Dia baik-baik aja kan bang?" tanya Nisa takut terjadi sesuatu pada Adam.
Satria menghirup udara agar hati nya yang berat mengabarkan keadaan Adam yang sedang tidak baik-baik saja kepada Nisa ia takut Nisa akan bersedih.
Melihat Satria yang diam saja pak Anto yang datang bersama Satria itu pun mengelus punggung Satria memberikan ketenangan pada rekan nya itu dan ia meminta ijin pada Satria agar dia saja yang memberi tahu kabar buruk ini pada Nisa dan setelah mendapatkan anggukan dari Satria pak Anto pun angkat bicara. "Maaf Bu Nisa kami datang kesini mau memberi tahukan jika pak Adam sedang kritis di rumah sakit beliau tertembak tadi malam." tutur pak Anto memberi tahu.
"Apa?" ucap Nisa terkejut mendengar kabar ini. "Kalian pasti sedang berbohong kan sama aku gak mungkin mas Adam tertembak dia selalu memakai alat pelindung saat dia bertugas." ujar Nisa tidak percaya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Kami sedang tidak berbohong ibu Nisa apa yang kami ucapkan itu benar." balas pak Anto membenarkan.
__ADS_1
"Iya Nisa Adam suami kamu tertembak saat ia sedang berada di depan masjid setelah melaksanakan kewajibannya, saat itu Adam sedang tidak memakai alat pelindung atau pun membawa apapun karena dia sedang istirahat dan akan beribadah, namun naas kejadian itu terjadi saat Adam belum siap." ujar Satria memberi tahu agar Nisa bisa percaya.
"Jadi kejadian itu saat mas Adam sedang di masjid, itu berarti aku dan mas Adam sedang saling memberi pesan." batin Nisa mengingat kejadian tadi malam saat ia dan Adam saling balas membalas pesan mereka.