Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
bimbang


__ADS_3

Pagi hari seperti biasa Via pergi bekerja, walaupun Via masih dalam rasa trauma akan kejadian yang menimpanya kemarin, namun mungkin dengan cara ia menyibukkan dirinya dengan bekerja ia akan sedikit melupakan kejadian itu.


"Ekhemm... ekhemm... pagi-pagi udah ngelamun aja mikirin laki yang jauh di sana ya..." goda Sofi saat ia melihat sahabatnya itu melamun sendirian tanpa menyadari kedatangan dirinya.


"Ih Sofi... sok tahu kamu!" sahut Via sebal setelah ia sadar jika ada Sofi di sebelahnya.


"Terus...kamu ngelamun karena apa sampai aku datang aja dari tadi kamu gak nyadar." jawab Sofi cemberut.


Via menghela nafasnya berat lalu membuang nya dengan pelan. "Gak ada apa-apa." elaknya.


"Jangan bohong kamu! Aku tahu ya kalau kamu lagi bohong!" ucapnya.


Via pun menatap sahabatnya itu ia pikir apa salahnya untuk bercerita pada sahabat nya. Lalu Via pun menceritakan kejadian kemarin yang menimpa nya.


"Wah gila tuh cowok berengsek! Si Tama benar-benar saiko, kalau suami kamu tahu wah bakal babak belur tuh si Tama mati dah sekalian." geram Sofi pada mantan tunangannya Via saat Via menceritakan kejadian kemarin.


"Iya aku gak nyangka kak Tama seperti itu, untung pak Adam sedang ada tugas di hotel itu dan dia tolong aku saat itu kalau tidak, aku gak tahu apa yang akan terjadi." lirih Via menundukkan wajahnya yang sedih dan takut.


"Lalu sekarang bagaimana? Apa kamu sudah melaporkan cowok brengsek itu?" tanya Sofi menatap Via yang sedang menunduk.


Via menggelengkan kepalanya pelan. "Belum." Tapi pihak berwajib sudah memproses nya tinggal aku mau perpanjang masalah ini atau tidak. Yang pasti untuk saat ini aku masih takut dan malas rasanya mengingat kejadian itu."


"Aku jadi sebel sama si Tama itu bisa-bisanya dia berbuat jahat sama kamu, padahal dia dulu yang mutusin kamu, sekarang malah dia yang mau balikan. Heran tuh sama orang!" ucap Sofi kesal.


Sore harinya setelah pekerjaan selesai Via pun akan pulang, namun sekarang ia tidak sendirian ia sengaja pulang bareng dengan teman-temannya ia takut jika Tama akan datang kembali dan membawanya lagi seperti kemarin.


"Sofi aku boleh tidak untuk sementara tinggal sama kamu, ya sehari atau dua hari gitu, aku takut pulang ke rumah sendirian." ucap Via merasa tidak enak.


"Emh boleh, bisa banget mau selama nya sama aku juga boleh asal kita patungan bayar kamar nya hehehe." sahut Sofi cengengesan.


"Iya nanti aku bayar selama akau tinggal sama kamu, tapi untuk selamanya sih itu tidak mungkin karena sebentar lagi kan suamiku akan pulang." jawab nya dengan tersenyum mengingat Aris yang sebentar lagi akan kembali ke Indonesia.


"Iya deh serah kamu aja, dasar pengantin baru..." goda Sofi.


Saat mereka sedang asyik mengobrol terdengar suara panggilan yang memanggil nama Via, Via sudah mengenal suara itu lalu ia pun dengan cepat menarik tangan Sofi agar jalan mereka cepat membuat Sofi merasa heran dan bingung. "Ada apa sih?" tanya Sofi penasaran seraya menengok ke arah kiri dan kanan dan ia melihat Tama disana yang akan menghampiri mereka berdua.

__ADS_1


"Kamu gak usah takut ada aku!" ucap Sofi meyakinkan Via dan menghentikan langkah mereka. Lalu Tama pun mendekati membuat Via memundurkan tubuhnya menyembunyikan pada tubuh Sofi.


"Mau apa elu?" tanya Sofi agar kasar karena sebal melihat laki-laki yang ada di hadapannya itu.


Tama mengerutkan keningnya. "Jangan ikut campur!" ucapnya.


Sofi tertawa mengejek. "Gue pasti ikut campur karena Via adalah sahabat gue!" tandasnya.


"Saya mau bicara dengan Via bukan dengan kamu!" sergahnya.


"Via gak akan mau lagi bertemu dengan laki-laki bajingan seperti elu!" ucap Sofi menantang Tama dan Tama terlihat kesal di buatnya.


"Udah Fi kita pergi aja jangan memperpanjang masalah ini, malu semua orang disini menatap ke arah kita." bisik Via di telinga Sofi.


"Tapi aku kesal Via..." jawab nya juga berbisik.


"Udah ayok!" ajak Via seraya menarik tangan Sofi.


"Via aku mau bicara sama kamu, aku cuma mau minta maaf sama kamu!" teriaknya namun Via tidak menghiraukan perkataan Tama itu mereka terus saja berjalan dengan cepat.


Saat ini Tama sudah menjadi tahanan kota, wajib lapor namun belum ada proses hukuman untuk nya karena Via tidak mau memperpanjang masalah ini.


Beberapa Minggu setelah kejadian itu Via saat ini tinggal di rumah dinas, rumah itu sudah Aris sediakan namun karena kemarin Via memilih di rumah pribadi yang di sediakan Aris. Tapi saat ini ia mau tidak mau sementara tinggal di rumah dinas sebelum suaminya itu pulang.


Dengan proses yang agak sulit karena suaminya masih bertugas dengan bantuan Adam yang membantu dan meminta pihak asrama pada pimpinan TNI akhirnya Via bisa tinggal di rumah dinas.


"Ah mudah-mudahan tempat tinggal aku sekarang akan lebih aman sebelum suami ku kembali." batin nya seraya menatap rumah dinasnya. Lalu Via pun bersiap untuk membersihkan rumah dinas nya itu dan mengisi beberapa barang yang ia perlukan.


Saat Via sedang membersihkan rumah dinas ada ibu-ibu Persit yang melewati rumah nya itu. Dan mereka pun melihat Via yang sedang berbenah.


"Selamat pagi, ibu ini istrinya komandan Aris ya, yang sedang pergi bertugas ke Lebanon itu kan?" tanya salah satu istri TNI yang terlihat membawa barang belanjaannya. "Cantik sekali ya kami baru lihat jika istrinya pak Aris cantik seperti ini pantas saja pak Aris langsung menikahi ibu sebelum beliau pergi bertugas." tambahnya memuji. Apa perlu bantuan kami Bu?"


Via tersenyum ramah menatap ibu-ibu itu. "Iya Bu selamat pagi juga. Terima kasih, sepertinya tidak Bu ini juga sudah selesai kok." jawab Via dengan ramah.


"Oh begitu ya, Nanti kapan-kapan kita kumpul bareng ibu-ibu Persit lain ya Bu, biasanya kita suka adakan kegiatan yang bermanfaat, kalau boleh tahu nama ibu siapa ya?" tanya nya lagi.

__ADS_1


"Saya Novia, sering di panggil Via." mereka pun berkenalan.


"Selamat datang dan selamat bergabung ya Bu Aris, semoga Bu Aris bisa betah di sini. Kalau begitu kami pamit ya." ijinnya dan di angguki oleh Via.


"Hemm seperti nya ini akan menyenangkan!" batin Via menatap ibu-ibu Persit yang tadi menyapa nya. "Mungkin!"


Malam hari yang sunyi sendirian di rumah dinas pertama kalinya bagi Via, namun ia memberanikan diri nya untuk tinggal di sana, sebenarnya sih rumah dinasnya itu berdekatan dengan rumah dinas lainnya ya walaupun rumah komandan biasanya di bedakan dengan rumah dinas pangkat TNI biasa.


Suara dering telepon mengagetkan Via saat ia sedang sendirian itu karena dari tadi Via mencoba untuk memejamkan kedua matanya namun tidak bisa. Ia melihat nama tertera di layar handphonenya lalu Via pun tersenyum. Dengan cepat ia pun menjawab panggilan itu.


"Assalamualaikum sayang... kok gelap sih? Kamu lagi ngapain?" tanya Aris penasaran karena saat ini Via sedang menyelimuti seluruh tubuhnya karena tadi dia berniat untuk tidur. "Disana mati lampu?" tambahnya membuat Via cekikikan, jika suaminya itu menelpon nya rasa sedihnya dan takut nya akan hilang begitu saja. Ntahlah...


"Ih kamu di tanya malah cekikikan, ayok ngapain kamu?" tanyanya penuh selidik dan curiga.


"Apa sih ekspresi nya biasa aja dong, curigaan deh!" sahut Via sebal.


"Bukan curigaan tapi memang mencurigakan!" sergah Aris pada istrinya. "Itu kamu nginap di mana lagi? Ruangannya selalu berganti, kamu nginap di mana lagi hah? Sekarang istriku lebih sering menginap di rumah orang kenapa sih kamu gak betah di rumah kita?" tanya Aris heran setelah Via membuka selimutnya dan ia melihat ruangannya berbeda tidak seperti kamar nya.


"Coba tebak ini aku tinggal di mana?" bukan jawaban yang benar Via malah mencoba menggoda suami nya itu.


"Ah aku gak tahu! sahut nya malas.


"Ih kok kamu malah marah sih? Aku cuma tinggal di rumah dinas aja kok, rumah dinas yang sempat dulu kamu ajak aku." ucap Via mencoba tenang.


Aris mengerutkan keningnya. "Bukan nya kamu gak mau tinggal disana, kenapa sekarang kamu tinggal disana?" tanyanya penasaran karena dulunya Via tidak mau untuk tinggal di rumah dinas lalu kenapa sekarang tiba-tiba dia tinggal di rumah dinasnya.


"Ya karena aku merasa sepi aja kalau tinggal di rumah kita, rumah nya kan agak luas dan aku cuma sendiri disana." elak Via meyakinkan Aris.


"Apa yang kamu ucapkan serius? Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan padaku?" tanya Aris penuh selidik mencari tahu kebenaran nya dengan menatap wajah Via di layar handphone nya itu.


"Enng...enggak kok aku gak sembunyikan apa-apa dari kamu!" elaknya gugup membuat Aris semakin menatap wajah Via di layar nya dengan serius.


"Apa sih kamu..." Via menjadi salah tingkah karena Aris seperti tidak mempercayai perkataan nya tadi.


Aris menghela nafasnya panjang. "Ok aku percaya sama kamu! Tapi ingat jika aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dari aku dan itu ada hubungannya dengan ku dan juga kamu, aku gak akan diam saja." ucapnya tegas membuat Via tersenyum tipis dan kaku mendengar ucapan Aris itu ia takut juga jika suaminya tahu akan Tama pasti Aris akan membuat perhitungan dengan nya dan Via tidak mau hal itu terjadi.

__ADS_1


assalamualaikum... maaf nih author baru bisa up karena seminggu ini ada sedikit kesibukan hihihi sok sibuk yeee. maaf juga gak bisa up panjang dan banyak karena waktunya juga kurang hehehe paling bisa up satu bab satu bab aja ya. terima kasih masih mau nunggu lanjutan cerita nya, kabar author alhamdulilah baik-baik saja semoga kita semua juga di sehat kan ya amiin ya Allah....🤲🤲🤲


__ADS_2