
"Tama lagi! Lagi-lagi dia! Sepertinya anda ingin mencari masalah dengan saya." geram Aris dalam hatinya.
Aris dengan cepat kembali pada mobil nya yang menghalang pada mobil suruhan Tama lalu ia pun tanpa pikir panjang langsung melajukan kendaraannya. Dalam pikirannya saat ini adalah bertemu dengan Tama.
Niatnya tadi pagi ijin pada ibu dan juga istrinya untuk membersihkan dirinya di rumah dan berisitirahat sejenak, namun kini ada hal yang lebih penting dari pada beristirahat yaitu bertemu dengan laki-laki yang membuatnya marah dan emosi. Rasa lelahnya ia tidak lagi rasakan, mengingat Tama sudah mengganggu hubungan nya antara dirinya dan juga Via.
"Dia menyuruh orang untuk membuntuti ku! Berengsek!" umpat Aris kesal memukul setir mobil nya.
*
*
*
Tak lama kini Aris berada di depan perusahaan dimana Tama yang memimpin nya. Aris mengetahui informasi dimana tempat Tama bekerja dari Adam, karena dia sebelumnya pernah menangani kasus Via istrinya. Istrinya yang terlalu baik hati membuat kasus ini tidak di perpanjang sehingga Tama bisa dengan bebasnya dari sebuah hukuman. Tapi untuk saat ini Aris tidak akan pernah diam ia akan menyeret Tama agar ia dapatkan apa yang harus ia dapatkan yaitu di hukum atas perbuatan jahatnya.
Aris dengan langkah cepat nya mencari ruangan dimana Tama berada. Saat setelah ia tahu dimana ruangan nya itu Aris langsung menaiki lift. Tak lama Aris pun sampai di depan ruangan Tama, ia melihat seorang sekretaris yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Apa pimpinan kamu ada di ruangan nya?" tanya Aris cepat.
"Ada pak! Tapi maaf apa anda sudah memiliki janji dengan pak Tama? Karena pak Tama memerintahkan saya jika ada tamu yang ingin bertemu dengan nya harus ada janji terlebih dahulu." tutur nya dengan agak takut karena Aris tadi bertanya dengan suara tinggi.
Tanpa menjawab pertanyaan dari sang sekretaris Tama Aris tidak memperdulikan nya. "Aku ingin bertemu dengan nya! Jadi jangan menghalangi saya!" balas nya masih dengan suara tinggi. Aris pun melangkahkan kakinya melewati sang sekretaris yang akan mengejar nya.
"Maaf pak anda tidak di perbolehkan untuk masuk ke dalam ruangan pak Tama. Selain anda harus memiliki janji, selain itu juga di dalam ruangan pak Tama sekarang sedang ada tamu, jadi saya mohon kepada anda untuk menunggu sebentar." ucap sekretaris itu dengan menghalangi langkah Aris yang akan masuk ke dalam ruangan Tama.
"Saya tegaskan kepada kamu jangan halangi jalan saya untuk bertemu dengan pimpinan kamu itu!" bentak Aris menatap wajah sekretaris itu dengan penuh menahan emosi. "Minggir!" tambahnya.
Melihat keadaan laki-laki di hadapannya itu sedang marah dan emosi sekretaris itu pun tidak tinggal diam ia langsung memanggil kedua penjaga di kantor nya. "Security! security!" panggil sekretaris itu dengan berteriak.
Security yang mendengar di panggil-panggil itupun langsung menghampiri sekretaris nya dengan cepat. "Ada apa Bu?" tanyanya.
"Kalian tidak lihat apa! Bawa bapak ini keluar dan jangan biarkan dia masuk lagi!" titah nya pada security itu.
Dua security yang di perintahkan pun itu agak sedikit takut karena ia melihat Aris yang berseragam loreng TNI dan melihat dia sedang marah seperti itu, membuat kedua security tersebut semakin ciut saja melihatnya. Namun karena pekerjaannya mereka pun mau tidak mau harus membawa laki-laki itu dengan cara apapun.
Saat kedua security itu menghampiri Aris dan akan membawanya keluar, mereka langsung mendapatkan Bogeman mentah dari Aris karena mereka sudah membuatnya menghalangi untuk bertemu dengan bosnya itu.
Aris pun langsung masuk ke dalam ruangan Tama setelah kedua security itu babak belur. Saat sudah di dalam ruangan tanpa melihat ke arah manapun Aris langsung menatap ke arah Tama yang terlihat sangat terkejut.
Dan Bug satu pukulan mendarat pada wajah Tama, Tama meringis seraya menyentuh bibirnya yang terasa keluar darah. "Pukulan pertama itu adalah untuk membayar karena perbuatan anda yang memerintahkan orang untuk mengikuti dan memata-matai saya." ucapnya.
Bug... pukulan lagi Aris berikan pada Tama. "Pukulan kedua ini adalah untuk membayar perbuatan anda yang ingin memisahkan saya dengan Via." sambung nya.
Dan Bug... bug... pukulan berkali-kali Aris berikan kepada Tama. "Pukulan ini adalah untuk membalas perbuatan anda, karena sudah berniat untuk melecehkan istri saya saat saya sedang tidak ada!" geram nya dengan suara penuh emosi.
Para tamu yang tadi sedang berdiskusi dengan Tama pun terkejut melihat laki-laki yang datang secara tiba-tiba dan memukuli calon kliennya itu dengan membabi buta. Segera mereka pun merelai pukulan Aris pada Tama. Namun karena Aris sedang dalam keadaan emosi tidak terkendali mereka pun tidak bisa mengendalikan Aris.
__ADS_1
Beberapa security pun datang ke dalam ruangan Tama dan menahan tubuh Aris agar ia tidak terus memukul Tama yang tidak melawan sama sekali. "Jangan menggangu rumah tangga saya bersama Via, saya tidak akan biarkan anda mengganggu hubungan kami!" ancamnya tegas. "Lepas!" Aris menarik lengannya yang di tahan oleh kedua security lain dengan cepat Aris pun keluar dari ruangan Tama yang sudah ia pukuli.
Setelah Aris keluar dengan amarahnya para security dan juga para tamu kolega Tama pun membantu Tama sudah tergeletak di lantai dengan luka pukulan yang Aris berikan padanya. "Kurang ajar!" umpat nya dalam hati. Tama tidak terang-terangan memperlihatkan kebencian dia terhadap Aris karena ia harus menjaga image nya di hadapan para koleganya. "Berengsek dia sudah membuat ku babak belur seperti ini dan dia juga sudah mempermalukan ku di hadapan mereka." batinnya seraya melirik ke arah tamu yang masih membantu nya.
"Anda tidak apa-apa pak? Urusan apa sampai orang itu sangat marah sekali terhadap anda?" tanyanya penasaran, ya walaupun mereka dengar masalah apa yang laki-laki itu teriakan.
"Tidak apa-apa!" sahut nya dengan meringis kesakitan. Hanya satu kata yang keluar dari mulut Tama saat ini.
"Lihat saja aku akan membalas perbuatan mu!" ancamnya dalam hatinya.
***
Prraaak... suara gelas jatuh membuat mama Aris terkejut. "Ada apa sayang, hati-hati!" ucap mama mertua saat ia melihat menantu nya menjatuhkan gelas yang di atas nakas terjatuh.
"Aku tidak apa-apa. Maaf sudah mengejutkan mama, tadi aku tidak sengaja menyenggolnya." di lihat nya gelas tadi sudah pecah berserakan di lantai.
"Emh tidak apa-apa biarkan mama panggil kan office boy untuk membersihkan gelas pecah ini." mama menahan Via yang akan turun dari ranjang untuk membersihkan gelas jatuh itu.
Via tersenyum kaku. "Kenapa perasaan aku tidak enak sekali ya." batinnya.
"Hari ini kan kamu bisa pulang, coba kamu telepon suami kamu, biar dia jemput kita di sini." titah mama mertua yang di angguki oleh Via.
Setelah di perintahkan seperti itu Via langsung meraih handphone nya lalu menekan nomor memanggil nomor suaminya yang tertera di kontak nya. Lama panggilan itu tidak ada jawaban sama sekali pada si orang yang memiliki nomor itu. Via terus saja memanggil nomor itu sampai berkali-kali namun tetap sama saja tidak ada jawaban sama sekali membuat perasaan Via menjadi semakin tidak enak. "Panggilan aku gak di jawab mah." ucapnya menatap wajah mertua nya.
"Kemana dia ya, apa Aris sedang mandi, dia kan tadi ijin pulang untuk mandi. Mungkin suami kamu sedang ada dikamar mandi. Ya sudah nanti kita hubungi lagi sekarang lebih baik kita beres-beres dulu barang-barang kamu jadi pas Aris datang kita sudah siap, kalau suami kamu tidak kemari kita pesan mobil online saja ya." ucap mama mertua menghilangkan rasa khawatirnya karena tiba-tiba ia merasakan tidak enak di hatinya namun mama Aris menyembunyikan hal itu agar mantunya tidak ikut mengkhawatirkan nya.
***
Aris dengan tergesa-gesa ia keluar dari ruangan Tama. Menahan segala amarah yang masih terpendam dalam hatinya, rasanya ia tidak puas sudah memberikan pukulan itu pada Tama. "Berani sekali dia mengganggu rumah tangga ku! Mengganggu istri ku, apa yang dia pikirkan sampai berniat mau merebut Via dariku. Kenapa dia dulu menyakiti perasaan istri ku dan sekarang dia menginginkan nya kembali. Dasar manusia laknat!" murka Aris pada Tama yang selalu menggangu istrinya.
Aris pun masuk ke dalam mobilnya, ia melirik ke arah handphone yang sedang menyala. Ia melihat di sana panggilan terakhir yang menelpon nya. "Banyak sekali panggilan dari Via, ada apa ya?" gumam nya heran. Lalu Aris mencoba memanggil nama istrinya itu dan memencet nya.
"Assalamualaikum bang, kamu kemana saja aku dari tadi telpon kamu tapi gak di jawab-jawab. Kamu lagi di kamar mandi?" selorohnya.
Aris melihat pada pakaian yang ia kenakan. "Ah aku lupa tujuan awal ku tadi." batin nya melihat pakaian yang masih menggunakan seragam TNI nya. "Aku masih di jalan belum sampai, ada apa sayang?" tanyanya khawatir terjadi apa-apa pada istri tercintanya.
"Kamu masih di jalan? Belum sampai rumah? Ini sudah dua jam kamu keluar rumah sakit untuk ijin pulang. Bagaimana bisa kamu belum sampai rumah?" rentetan pertanyaan Via lontarkan begitu saja, karena mana mungkin suaminya itu belum sampai rumah sedangkan jarak antara rumah sakit ke rumah itu paling membutuhkan waktu setengah jam jika tidak macet.
"Iya belum, tadi aku ada keperluan sebentar!" ujarnya. "Ada apa, kamu baik-baik saja kan?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Keperluan apa sih? Aku baik-baik saja kok, aku telepon kamu mau mengabarkan kalau hari ini aku bisa pulang, dokter sudah mengijinkan aku untuk pulang." serunya. "Kamu bisa jemput aku sama mama tidak? Tapi kalau kamu lelah aku dan mama bisa pulang dengan mobil online saja." tambahnya.
"Tidak, biar aku jemput kalian di sana, tunggu aku! Sekarang juga aku akan kesana!" titah nya lalu telpon pun ia matikan.
Aris melihat wajahnya yang sedikit lebam karena pukulan tadi oleh para suruhan Tama. Ia pun mengusap luka itu. "Luka ini terlihat sekali, bagaimana kalau Via dan juga mama bertanya luka apa ini? Aku akan jawab apa ya?" gumam nya dengan terus mengusap luka lebam itu. "Haduh lumayan sakit juga jika sudah agak lama begini? Bagaimana dengan manusia laknat itu?" sinis nya. "Aku terlalu emosi tadi sampai aku tidak sadar apa manusia itu masih hidup atau tidak!" gumamnya masih kesal. "Aku tidak akan membunuhnya karena aku bukan pembunuh, aku hanya berikan peringatan padanya agar tidak menggangu rumah tangga orang lain!"
***
__ADS_1
Setelah beberapa menit akhirnya Aris sampai juga di depan rumah sakit yang masih menggunakan pakaian dinasnya itu. Lalu ia pun masuk ke ruangan dimana Via di rawat. Melihat istri dan mamanya sedang membereskan semua barang-barang istrinya itu ia langsung membantu mereka. "Bang kamu sudah pulang!" tanya Via menatap. "Eh tunggu wajah kamu kenapa babak belur seperti ini?" tanyanya khawatir.
Aris mengusap wajahnya itu. "Emh tidak apa-apa, aku baik-baik saja." sahut nya cepat. "Ayok kita pulang sudah beres semua kan?" tanyanya.
"Ada masalah apa nak sampai muka kamu seperti itu?" tanya mama khawatir.
"Tidak ada masalah apa-apa, ini hanya luka kecil, kalian tidak usah mengkhawatirkan ku." sahut nya santai. "Ayok kita pulang saja!" ajaknya cepat agar tidak terus di tanya-tanya.
Via dan mama mertua nya saling pandang menatap Aris yang langsung pergi membawa barang-barang yang tadi di bereskan dengan tatapan bingung. "Ayok mah kita pulang!" ajak Via pada mertuanya dan di angguki oleh mertuanya itu.
Di dalam mobil hanya ada kesunyian di antara Aris, Via dan juga mamanya. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Aris yang merasa di tatap oleh kedua wanita yang berarti dalam hidupnya itu jadi merasa tidak enak. "Ekhemm." Aris berdehem menetralisirkan perasaannya yang sedang terintimidasi oleh kedua wanita yang ada di mobil nya. "Kita pulang ke rumah pribadi kita saja ya." ucapnya menatap ke arah Via. "Supaya mama bisa menginap di rumah kita." ujarnya menjelaskan karena melihat tatapan istrinya yang perlu akan penjelasan.
"Iya." sahut Via pelan.
***
Malam hari kini Via dan Aris tengah berada di dalam kamar setelah mengobati luka Aris yang ada di wajah nya. Aris yang sedang terbaring di kasur dengan membelakangi tubuh Via membuat Via kesal saja.
"Sayang apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Via dengan menatap ke atas langit-langit kamarnya.
Aris yang belum tertidur itu pun hanya diam saja. "Sayang aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari ku, apa itu ada hubungannya dengan rumah tangga kita?" tanyanya lagi seraya membalikkan tubuh Aris agar menghadap ke arah nya.
Aris masih diam namun dengan arah nya kini menghadap ke arah Via. Posisi mereka saat ini saling pandang memandang. "Sayang." panggil Via lembut.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu sama kamu. Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" tatapan mata nya penuh pada wajah Via yang sangat dekat dengannya.
Deg.... jantung Via seakan diam tak berdetak mendengar ucapan suaminya. "Emh kenapa kamu bertanya seperti itu?"
Aris menghela nafasnya berat. "Iya aku hanya ingin tahu saja apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku, jika ada aku akan merasa sangat kecewa karena kamu tidak mau menceritakan hal itu padaku!" ucapnya pelan namun dalam.
Via menatap wajah Aris lalu ia merangkul tubuh suaminya itu dengan erat dan menyelusup kan kepalanya pada dada Aris yang terasa hangat, Aris pun tidak menolak nya karena saat ini ia juga membutuhkan pelukan dari istrinya itu. "Maaf." lirih nya. "Aku minta maaf karena aku belum bercerita sama kamu." sambung nya.
Aris menarik nafasnya menetralisir kan rasa kecewanya pada istrinya. Dia tidak marah hanya kecewa saja karena menyembunyikan sesuatu yang ada hubungannya dengan rumah tangga mereka.
"Kamu marah?" lirih Via dalam dekapan Aris.
Aris semakin mengeratkan pelukannya pada Via. "Aku tidak marah aku hanya kecewa." sahut nya. "Aku seperti laki-laki yang tidak berguna untuk istri ku sendiri." sambung nya. "Kamu tahu sayang saat aku tahu istri ku di ganggu oleh laki-laki lain dan itu aku dengar dari orang lain, aku sungguh sangat marah."
"Maaf sayang, aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan hal itu sama kamu dan menyembunyikan kejahatan yang di lakukan kak Tama padaku, aku hanya tidak mau jika masalah ini di perpanjang. Aku tidak mau terjadi sesuatu sama kamu, aku takut!" lirih nya dengan suara bergetar karena menahan tangisnya.
Aris memeluk istrinya dengan begitu sayang. "Sudah kamu jangan takut, tidak akan terjadi apa-apa padaku, aku yang takut terjadi sesuatu sama kamu." ujar nya penuh kekhawatiran.
"Apa pun yang akan terjadi kita akan lewati ini semua berdua, bersama-sama, aku dan kamu." ucapnya penuh meyakinkan istrinya agar tidak takut dengan apa yang akan terjadi.
Via mengangguk pelan di dalam pelukan Aris. Namun Aris dengan cepat ia yang memeluk Via. Posisi mereka jadi terbalik. Kini Aris yang memeluknya dengan kepala yang menyelusupkan ke dada Via yang sangat empuk itu. "Ah nyaman sekali." gumamnya pelan.
"Dasar mesum!" sebal Via pada suaminya itu seraya menundukkan wajahnya melihat suami itu dengan nyaman nya memejamkan kedua matanya di atas dada Via.
__ADS_1