
"Ah akhirnya kita bisa istirahat juga walaupun sebentar." ucap Satria lega saat ia istirahat bersama Adam dan juga rekan lainnya.
"Iya cape banget ya tugas kita kapan selesainya gue kangen sama bini di rumah." sahut salah satu rekan Satria dengan santainya.
Satria melemparkan botol minuman yang ia pegang dan terkena pada kepala rekan nya itu. "Eh Paul elu kapan nikah ngaku-ngaku punya bini ngomong kangen bini segala lagi." ujar Satria sebal.
Rekan Satria itu pun memegang kepalanya yang terkena lemparan botol. "Sakit bangsat pala gue, awas elu ya!" ancam rekan Satria kesal di lempar botol.
"Haha syukurin elu ah benjol-benjol tuh pala, pak ketu aja yang udah nikah santai aja noh." tunjuk Satria pada Adam yang diam saja tanpa bicara.
Rekan kerja Satria pun menoleh pada Adam yang diam saja. "Kenapa tuh pak ketu?" tanyanya dengan mata yang di mainkan menunjuk ke arah Adam.
Satria mengangkat bahunya tidak tahu kenapa Adam hanya diam saja. "Dam elu kenapa, ada masalah sama Nisa atau sama pekerjaan kita yang kurang bagus?" tanya Satria penasaran.
"Gak ada apa-apa. Gue shalat isya dulu ya." pamit Adam pada Satria dan rekan lainnya.
Satria dan rekan nya hanya mengangguk. "Kenapa ya dia?" gumam Satria pelan.
Setelah Adam selesai shalat isya ia pun menghampiri rekan nya yang sedang menikmati makan malam mereka Adam pun ikut makan bersama. Adam pun melihat handphone nya membaca pesan masuk, ia melihat Nisa yang masih online dan Adam pun langsung memanggil Nisa melalui via telepon.
"Assalamualaikum sayang, kenapa kamu masih online ini sudah malam lho." terdengar Adam berbicara seperti itu di telepon.
"Wa'alaikumussalam hehe maaf aku belum ngantuk mas, aku jadi chattingan sama Rahma deh, waktu di luar negeri sama di Indonesia kan berbeda, di sana masih siang, aku lagi kangen sama Rahma mas." jawab Nisa menjelaskan kenapa dia masih online.
"Iya tapi jangan sampai jam 11 malam belum tidur ya, kamu harus istirahat ingat di dalam perut kamu ada bayi kita jadi kamu harus banyak istirahat." titah Adam lembut.
"Iya mas ku sayang, siap aku nanti akan tidur sebentar lagi ya, ngomong-ngomong kenapa mas nelpon aku, apa lagi santai? Kamu sudah makan?" berondong pertanyaan Nisa pada Adam suami nya itu.
"Mas kangen sama kamu, mas udah makan kok ini baru aja selesai." jawab Adam cepat. "Iya sudah sekarang kamu tidur sana jangan malam-malam kamu tidur, kamu harus banyak istirahat." titah Adam lembut.
"Iya bawel..." sahut Nisa sebal padahal dirinya masih kangen kepada suaminya itu tapi malah disuruh tidur.
"Ih kamu bilang mas bawel awas ya kamu!" goda Adam mengancam Nisa.
"Udah ah, aku mau tidur aja, assalamualaikum." ucap Nisa cepat dan menutup panggilan telepon nya.
Adam menghela nafasnya panjang. "Kenapa kamu sayang?" tanya Adam pada dirinya sendiri.
Adam yang merasa istri nya merajuk ia pun langsung memberi pesan pada Nisa.
sayang kamu marah ya sama mas, mas gak ada maksud kok bikin kamu kesal.
Pesan singkat itu pun terkirim dan sudah terbaca oleh Nisa namun lama tidak ada balasan dari Nisa.
sayang kok gak balas sih pasti deh marah ya kamu sama mas, maafin mas dong sayang.
__ADS_1
Masih tidak ada jawaban sama sekali dari istrinya itu, Adam pun dengan tidak sabar langsung menelpon istri nya itu lagi dan di angkat lah oleh Nisa.
"Halo sayang, kamu gak apa-apa kan?" tanya Adam sedikit khawatir saat ia menelpon Nisa.
"Ada apa lagi, tadi mas suruh aku tidur sekarang mas malah telepon aku." sahut Nisa kesal.
"Kamu jangan marah gitu dong, maaf ya mas salah, sebenarnya mas juga masih kangen sama kamu tapi ini sudah malam kamu harus tidur." ucap Adam.
"Aku belum ngantuk mas, aku dari siang tuh tidur mulu makanya aku sekarang gak bisa tidur, ajak aku ngobrol kek apa kek aku juga kangen sama kamu mas..." manja Nisa terdengar oleh Adam.
Adam tersenyum di sebrang sana mendengar Nisa yang merindukan nya. "Iya mas juga kangen sama kamu sayang, besok mas pulang kamu mau di bawakan apa untuk oleh-oleh mumpung mas lagi di luar kota." tawar Adam ditelpon.
"Gak usah mas aku mau kamu pulang aja dengan selamat." jawab Nisa cepat.
"Cuma itu aja gak ada yang lain gitu? Kamu sama bibi kan di rumah, mas menyuruh bibi untuk menginap supaya kamu ada yang menemani di rumah." tanya Adam khawatir istri nya sendiri di rumah.
"Iya aku sama bibi, padahal mas kamu itu jangan suruh bibi nginep kasihan dia mas." jawab Nisa.
"Gak apa-apa mas bayar lebih nanti, mas khawatir aja sama kamu kalau sendirian takut kamu ada perlu apa-apa, karena mas kan gak bisa jagain kamu 24 jam dan mas juga gak bisa memenuhi keinginan kamu saat ngidam tengah malam." ujar Adam pilu selama Nisa hamil Adam tidak pernah mendengar Nisa meminta hal yang aneh-aneh.
"Anak kamu sudah mengerti mas kalau ayahnya itu sangat sibuk jadi dia gak mau merepotkan kamu." ujar Nisa.
"Ya sayang terima kasih ya kalian sudah sangat mengerti dengan pekerjaan mas, gimana sudah terobati kan kangen nya sekarang kamu tidur ya?"
"Masih kangen sih mas udah 3 hari lho kita gak bertemu, ya udah deh aku tidur aja mas juga istirahat yang cukup ya... assalamualaikum." pamit Nisa dan terdengar jawaban salam dari sebrang sana dan Nisa pun menutup panggilan telepon nya.
Pagi hari nya Nisa sudah bersiap-siap untuk pergi ke supermarket bersama pembantu nya untuk membeli perlengkapan dapur yang sudah habis, karena Adam suaminya itu akan pulang ia ingin memasak masakan yang suaminya suka.
"Bibi sudah siap kah, kalau sudah siap ayok kita berangkat!" ajak Nisa pada pembantu nya itu.
"Iya neng ayo bibi sudah siap kok." jawab bibi cepat.
Mereka pun memesan taksi online dan tak lama ia sudah sampai di sebuah supermarket yang baru buka beberapa hari lalu.
"Ini supermarket baru neng kemarin bibi lihat harganya lagi banyak diskon neng siapa tahu di sini lebih murah." urai bibi itu antusias.
"Hemmm paling bisa deh bibi kalau soal harga murah dan diskon!" sahut Nisa menggoda pembantu nya.
"Hehe namanya juga ibu-ibu neng." sahut nya
"Iya deh ibu-ibu hehe." tambah Nisa.
Mereka pun masuk ke dalam supermarket itu. "Bibi cari barang yang kita butuhkan ya bi aku kesana dulu cari yang lain, nanti kalau sudah selesai bibi bilang sama aku ya." titah Nisa dengan lembut.
"Siap neng..." jawab bibi cepat dan langsung melangkah pergi untuk membeli barang-barang yang di butuhkan.
__ADS_1
Nisa tersenyum menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku pembantunya itu.
Saat Nisa sedang melihat-lihat barang yang akan di beli nya tiba-tiba seseorang tidak sengaja menyenggol tubuh nya.
"Ma...maaf nona." ucap seseorang itu.
"Ti... tidak apa-apa pak... Rangga?" panggil Nisa terkejut.
"Queennisa?" panggil Rangga juga terkejut bisa bertemu Nisa di tempat ini.
"Kamu sedang berbelanja?" tanya Rangga gugup.
"Hemm ya pak, pak Rangga sedang apa di sini?" tanya Nisa heran saat melihat Rangga berada disini. "Pak Rangga sedang belanja juga?"
Rangga tersenyum. "Oh tidak ini supermarket saya yang baru, kebetulan saya sedang mengecek tempat ini takutnya masih ada yang kurang pelayanan nya." jawab Rangga menjelaskan keberadaan nya disini.
"Oh jadi ini supermarket baru pak Rangga, pantas saja desain supermarketnya saya begitu hapal." sahut Nisa ia mengingatkannya pada Rangga setelah masuk ke dalam supermarket ini.
"Kamu sedang membutuhkan apa biar saya bantu kamu?" ujar Rangga menawarkan diri untuk membantu Nisa.
"Tidak usah pak Rangga saya bisa sendiri kok nanti jadi merepotkan." jawab Nisa sungkan.
"Tidak merepotkan kok pembeli adalah raja untuk saya jadi kamu jangan sungkan begitu." tutur Rangga meyakinkan Nisa.
"Tidak usah pak saya jadi gak enak ah, masa saya di layani oleh pemilik market ini." canda Nisa menolak dengan lembut.
"Ini spesial untuk pelanggan saya yang satu ini." sahut Rangga cepat.
Nisa mengerutkan keningnya dan tersenyum tipis mendengar Rangga berucap seperti itu.
"Queennisa bagaimana kabar kamu dan pak Adam, lama sekali kita tidak bertemu ya." tanya Rangga saat mereka berjalan beriringan untuk menemani Nisa yang sedang berbelanja.
"Alhamdulilah pak kabar kami baik-baik saja, mas Adam sedang sibuk dengan pekerjaannya saat ini." ujar Nisa apa adanya.
"Syukurlah kalau begitu, kamu sedang hamil?" tanya Rangga saat ia melihat perut Nisa yang sudah membuncit padahal Rangga memang sudah tahu kabar kehamilan Nisa dulu dari Rahma.
"Iya pak alhamdulilah saya sudah di berikan amanah yang luar biasa sebagai perempuan." ujar Nisa bahagia dengan kehamilan nya.
Rangga tersenyum tipis ada rasa cemburu pada Adam yang bisa mendapatkan Nisa dan membuat Nisa bahagia seperti itu.
"Pak Rangga hebat ya usaha nya semakin sukses, saya senang melihatnya pak saya juga yakin kalau pak Rangga akan selalu sukses dalam berbisnis nya." ucap Nisa merasa bangga melihat kesuksesan mantan bos nya itu.
"Terima kasih Nisa atas pujiannya, tapi ini juga berkat doa dan dukungan orang terdekat saya yang selalu ada untuk saya." tutur Rangga.
"Saya memang sukses dalam bisnis saya dan saya juga bisa menaklukkan pesaing-pesaing bisnis saya tapi saya tidak bisa menaklukkan hati kamu Queennisa." batin Rangga.
__ADS_1