Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
mengingat


__ADS_3

Nisa dan Adam baru sampai siang hari, jalanan yang macet membuat mereka sedikit lama sampai tujuannya. Nisa belum sadar dengan dompet nya yang terjatuh, ia langsung masuk ke kontrakan yang dulu ia tempati kangen rasanya beberapa hari ini ia tinggalkan karena pernikahan nya, ia harus tinggal di Bandung.


"Sayang, kamu gak masuk sini aja?" ajak Adam menunjukkan pada pintu kontrakan nya.


"Nanti ah mas aku mau ke kontrakan aku dulu udah kangen sama kamar aku." ujar Nisa antusias ingin masuk ke kamar kontrakan nya.


"Ya udah nanti malam kita tidur di sana saja ya." goda Adam dengan senyum nakal nya.


Nisa tersenyum dengan tangan yang membentuk huruf O lalu ia pun masuk ke dalam kontrakan nya untuk membereskan ruangan nya yang sudah agak lama di tinggalkan.


Saat malam tiba Adam yang sedang berada di kontrakan Nisa untuk pertama kalinya ia tidur dengan Nisa gadis yang baru saja ia nikahi.


Adam yang sedang bersantai sambil menonton televisi dan Nisa sedang berada di kamar nya.


"Mas...mas..." panggil Nisa dengan berteriak.


"Apa? Kamu jangan teriak mas gak tuli kok, ada apa sih?" sahut Adam agak sedikit kesal.


"Mas lihat dompet aku gak? Aku udah cari kemana-kemana tapi gak ketemu." tanya Nisa panik kehilangan dompet nya.


"Gak, mas gak lihat coba kamu cari di tas yang ada baju-baju kita siapa tahu kamu masukkan ke tas itu." ucap Adam.


"Udah mas... aku udah cari kemana-kemana tapi gak ada. Apa dompet nya jatuh ya, terus aku gak sadar pas dompet aku jatuh!" sanggah nya terus berpikir dimana ia jatuhkan dompet nya itu.


"Isi dompet kamu apa aja memang nya?" tanya Adam penasaran.


"Isi nya kartu-kartu penting mas, ada KTP, ATM sama ada uang tunainya, tapi uang nya sih gak seberapa cuma KTP sama ATM aku mas ada di dompet itu." sahut Nisa semakin panik mengingat isi dompet nya itu kartu penting.


"Ya udah, kamu jangan panik ya nanti mas yang akan urus dompet kamu yang hilang, besok kamu ke bank aja untuk nge blok sementara kartu kamu." ucap Adam menenangkan Nisa supaya tidak panik.


"Iya mas makasih ya, semoga aja ada yang nemuin terus penemunya bisa telepon aku soalnya di dompet itu ada kartu nama aku juga mas." ucap Nisa meyakinkan dirinya sendiri.


"Iya semoga aja yang nemuin juga baik hati mau mengembalikan dompet nya." ujar Adam.


"Ya udah kamu jangan khawatir nanti kalau KTP tidak bisa di temukan kita laporan kehilangan saja ke petugas sipil kita juga sekalian merubah status kita di KTP." saran Adam santai.

__ADS_1


"Ribet mas aku kan KTP Bandung malas kalau harus bolak balik." sanggah Nisa.


"Iya nanti mas urus sayang, udah ah jangan cemberut mulu nanti cantik nya ilang." goda Adam pada Nisa dengan mencubit hidung nya yang mancung dengan gemas.


Nisa semakin cemberut Adam selalu menggoda nya dan semakin gemas Adam melihat Nisa seperti itu. "Kamar yuk!" ajak Adam cepat tanpa ekspresi.


Nisa mencubit Adam dengan gemas, Adam mengajak Nisa ke kamar dengan cara seperti itu, seperti akan mengajak perang pada lawan.


"Mas kamu ajak aku ke kamar kayak ngajak berantem tahu." ucap Nisa sebal.


"Memang kamu mau ucapan seperti apa sih, tolong dong ajari suami mu ini." goda Adam mulai berani mengajak Nisa dalam kemesuman.


"Gak tahu ah." jawab Nisa cepat, dengan salah tingkah nya, Nisa pun langsung pergi ke kamar meninggalkan Adam tanpa mengajak nya ke kamar.


"Hai sayang tunggu dong..." ucap Adam dan Adam pun mengikuti Nisa yang sudah terlebih dulu masuk ke dalam kamar.


***


Sedangkan di tempat Aris ia pun sampai ke Jakarta pada siang hari bersama rekan nya itu, Aris sudah memiliki tempat tinggal di Jakarta yang sudah di sediakan oleh kedua orang tua nya. Aris pergi ke Bandung karena ia ada urusan pekerjaan penting disana makanya ia tadi berada di Bandung dalam perjalanan kembali ke Jakarta.


Aris pun merebahkan tubuhnya di atas kasur mengistirahatkan sejenak dari segala rutinitas yang menguras tenaga. Saat Aris berada di atas kasur dengan mata yang menatap langit-langit kamar terlintas bayangan perempuan yang ia panggil, perempuan yang dompet nya ia temukan.


Aris pun melihat ke arah tas yang ia simpan di atas mejanya lalu ia pun meraih tas itu untuk melihat kembali dompet yang ia temukan. Melihat kembali ke kartu nama yang ada paling depan di dalam dompet itu. "Queennisa Khumaira." gumamnya pelan.


nama ini seperti tidak asing di pikiran ku nama yang selalu aku ingat dalam hati, tapi... nama ini tidak mungkin nama Queennisa Khumaira yang aku cari kan? setahu aku Nisa ku masih tinggal di Bandung, aku pernah dapat kabar kalau Nisa dan keluarga nya masih berada di Bandung, ya walaupun dari kabar, Nisa sudah pindah rumah, bukan rumah yang dulu tapi dia masih tinggal di kota Bandung. Dan kartu nama ini ada di Jakarta, jadi tidak mungkin ini Nisa yang aku cari selama ini, Nisa tidak mungkin tinggal di Jakarta.


"Iya aku yakin ini bukan Nisa ku, nama kan bisa saja sama tapi orang berbeda." ucap Aris yakin.


"Apa aku telepon saja ya pemilik dompet ini, supaya dia gak cari kemana-kemana." tanya Aris dalam hati.


Aris melihat ke arah jam tangan yang melingkar di tangan nya. "Ini sudah malam, nanti aku ganggu orang istirahat lagi, besok saja lah aku telepon!" gumam Aris lalu ia pun menyimpan kembali dompet itu ke dalam tasnya, Aris tahu di dalam dompet itu ada kartu-kartu kepemilikan namun Aris tidak mengecek semua kartu itu baginya kartu nama yang ada di dompet itu sudah cukup untuk Aris mengetahui dimana pemilik itu berada.


***


Pagi hari Nisa yang sedang di sibukkan dengan kegiatan baru nya seperti menyiapkan segala kebutuhan Adam dari mempersiapkan pakaian dinas nya dan juga menyiapkan sarapan paginya.

__ADS_1


Hari ini Adam sudah masuk kembali untuk bertugas setelah cuti dari acara pernikahan nya. "Mas... udah selesai belum rapi-rapi nya, kalau sudah ayok sarapan nanti kamu telat lho." ucap Nisa mengajak Adam untuk segera sarapan.


"Iya sayang sebentar." sahut Adam dari dalam kamar.


"Mas kamu mau sarapan nasi atau roti aja?" tanya Nisa pada Adam.


"Roti aja sayang mas lagi pengen sarapan roti." jawabnya dengan santai menghampiri Nisa yang sedang menyiapkan sarapan.


Nisa pun menyiapkan pesanan Adam yang menginginkan sarapan roti di pagi ini. " Mas minum nya mau teh, kopi atau susu?" tanya Nisa. Nisa memang tahu kebiasaan Adam adalah minum susu coklat namun apa salahnya jika Nisa bertanya siapa tahu Adam sekarang menginginkan minuman yang lain.


"Susu kamu boleh?" goda Adam dengan cepat dengan senyum nya yang nakal, setelah semalam terjadi malam pertama nya yang lancar tanpa ada gangguan Adam jadi lebih berani menggoda Nisa dengan kata fulgar walaupun masih terasa kaku.


"Ih apa sih mas, pagi-pagi udah kotor gitu pikiran nya." sahut Nisa sebal.


"Iya kamu tadi kan nawarin jadi mas jawab aja yang mas mau." ujarnya cepat.


"Iya sapa tahu kamu mau teh panas mas atau kopi, ya udah aku buatin susu coklat aja ya seperti biasa." tawar Nisa pada Adam dan di angguki oleh Adam.


Ketika akan melangkah menuju dapur. "Aww" pekik Nisa kesakitan.


"Kenapa sayang?" tanya Adam khawatir lalu Adam pun mendekati Nisa yang kesakitan.


"Sakit mas..." ucap Nisa meringis.


"Mana yang sakit, mas antar kamu ke dokter ya." ajak Adam sedikit panik.


"Gak usah mas, aku cuma sakit bagian ..." ucap Nisa berbisik pada telinga Adam.


Adam pun tergelak mendengar ucapan Nisa yang berbisik. "Kamu lucu sayang, sama suami aja sampai berbisik begitu." ucap Adam dengan senyum nya yang gemas dengan istrinya itu.


"Ih mas..." rengek Nisa mencubit perut Adam yang sebal karena menertawakan nya.


"Maaf ya, ini pertama kali nya untuk kita, apalagi kamu perempuan pasti sakit, maaf ya mas bikin kamu sakit." lirih nya tak enak hati.


"Tapi nanti kalau sudah sering gak akan sakit kok kata Mbah Google bilang hanya pertama nya yang sakit tapi nanti nya enak dan ketagihan." goda Adam pada istrinya.

__ADS_1


Nisa memukul lengan Adam gemas. "Kamu mah ih!" ucap Nisa malu dan merah merona.


__ADS_2