
Aris yang tegang jarum suntik itu akan siap di suntikan pada lengannya ia memejamkan matanya, selama ini ia takut akan jarum suntik bukan karena suatu alasan yang sepele. Ia pun mencoba mencari ketenangan agar ia tidak takut pada jarum suntik itu ia pun menyembunyikan kepala nya agar tidak terlihat panik lalu dengan nyaman nya ia menyelusup masuk pada perut Via yang di dekatnya dan tak sadar ia menarik pinggang Via dan merangkul pinggang Via dengan erat dengan tangan satunya dan kepala masih dengan nyaman menyelusup pada perut Via yang membuat nya tidak merasa takut untuk di suntik.
Via menjadi risih saat Aris menyelusup kan kepalanya pada perutnya itu. Sedikit di dorong kepala Aris itu supaya dia jangan mencari kesempatan dalam kesempitan, namun ketakutan Aris akan jarum suntik yang membuat tubuhnya bergetar dan berkeringat membuat Via membiarkan lelaki itu berbuat seperti itu selama ini masih dalam batas normal.
"Kalau saja dia tidak sedang aku ambil darah nya aku gak akan biarkan kamu berbuat seperti itu!" geram Via dalam hatinya.
"Sudah belum sus? Apa darahnya sudah kamu ambil?" tanya Via tak sabar ingin rasa segera keluar dari ruangan itu.
"Maaf suster Via, darah pasien tidak keluar mungkin karena pasien begitu tegang, jadi saya tidak bisa mengambil darah nya." jawab rekan Via yang bertugas mengambil darah pasiennya itu.
"Huft..." Via menghela nafasnya dalam-dalam. "Pak Aris anda jangan tegang ya tolong lengan Anda di lemaskan saja supaya aliran darah nya lancar agar kami bisa dengan mudah mengambil darah anda." ucap Via lembut mencoba menahan kesabaran nya. Tapi jika dilihat-lihat laki-laki ini seperti memang sangat takut sekali akan jarum suntik karena terlihat sangat tegang dan ketakutan.
"Saya kan sudah bilang saya takut!" ucapnya pelan namun tegas seraya menjauhkan kepalanya yang tadi menyelusup pada perut Via, sedikit malu akan perbuatannya pada Via si suster galak itu namun saat ia seperti itu ada kenyamanan yang ia rasakan.
Via dan rekan-rekannya saling pandang saling bertanya bagaimana caranya supaya pasien ini tidak tegang. Via mengingat cara menenangkan pasien seorang anak kecil yang pernah ia dulu lakukan. Dengan membuang rasa egois, kekesalan dan kebencian Via terhadap pasien yang satu itu Via mencoba menenangkan Aris dengan cara seperti menenangkan pasien anak kecil.
Di tarik nya kembali kepala lelaki menyebalkan ini yang tadi sudah ia jauhkan dari Via berada dan menyusupkan kembali pada perut Via seperti hal yang tadi Aris lakukan, karena Via rasa tadi lelaki ini begitu tenang saat tadi dia berada di dekapan nya, di usapnya kepala lelaki itu dengan lembut seperti ibu pada anaknya yang menenangkan perasaan sang anak. "Ok fix ini darurat demi keselamatan pasien!" pikir Via dalam hatinya.
"Emh anda harus tenang ya ini tidak akan lama kok hanya sebentar saja!" ucap Via lembut menatap wajah Aris dengan begitu banyak keringat yang keluar dari kening nya. "Tolong anda jangan tegang juga ya supaya apa yang kami lakukan cepat selesai.
Via mencoba menenangkan dirinya rasa kesal nya ia hempaskan dahulu menjadi sesosok perawat yang benar-benar ingin merawat pasien. Sikap asli Via terhadap pasien keluar begitu saja saat melihat lelaki ini begitu sangat ketakutan, mungkin rasa takut nya itu seperti berlebihan bagi kita, tapi kita tidak tahu apa yang dulu terjadi pada pasien ini.
__ADS_1
Ternyata benar saja lelaki ini begitu tenang saat apa yang di lakukan Via padanya, mungkin ada rasa nyaman yang di rasakan oleh pasien ini. Di rasa pasien menunjukkan rasa tenang nya dan tidak begitu tegang Via pun mengarahkan pandangan pada kedua rekannya yang tersenyum mencurigakan. "Kalian jangan senyum-senyum begitu ayok buruan ambil darah nya...!" ucap Via pelan dengan suara seperti mengerang kesal. Rekan kerja Via yang mendengar ucapan Via itu langsung dengan sigap menyuntikkan jarum suntik pada lengan pasien dan akhirnya tidak lama drama pengambilan darah selesai. Hanya butuh beberapa menit saja pengambilan itu di lakukan tapi butuh waktu lama drama ini di lakukan.
"Hah..." Via dan rekan kerjanya menghela nafasnya lega. "Akhirnya!!!" ucap mereka bertiga bersamaan lalu mereka tersenyum menatap wajah mereka masing-masing.
Rekan Via tersenyum menertawakan drama pasien dan Via, di lihatnya pasien yang masih betah dalam dekapan Via itu, dan Via melihat ke arah rekan yang menertawakan dirinya itu menatapnya dan ternyata si pasien masih saja belum menjauhkan dirinya pada Via. "Hei....bisa gak kepala anda jangan begini terus." ucap Via setengah berteriak karena pasiennya itu.
Aris mendongakkan kepalanya ke atas dimana wajah Via yang ia lihat. "Memang sudah selesai penyuntikan nya?" tanya Aris datar.
"Sudah, lepaskan! Jangan cari kesempatan dalam kesempitan ya!" ucapnya sebal.
"Siapa yang mencari kesempatan, tadi kan kamu yang menarik kepala saya agar saya bisa lebih tenang kan? Jadi apa saya yang salah?" ucapnya mencoba santai padahal dalam hatinya Aris memang benar-benar takut akan jarum suntik itu namun ia tidak mau terlihat ketakutan sekali saat ini pada suster galak itu.
Via menghirup nafas panjang mencoba menetralisirkan kekesalannya. "Oh... jadi tadi anda hanya berpura-pura takut akan jarum suntik? Menghalangi pekerjaan kami, begitu?" telak Via menatap ke wajah Aris dengan tajam.
Via menyipitkan matanya mendekat terus mendekat menatap ke arah wajah Aris dengan seksama dan begitu dekat sangat dekat bahkan hanya beberapa senti pandangan mereka begitu dekat. Via mencari tahu apa yang di ucapkan pasien melalui matanya, mencari tahu tentang takut nya akan jarum suntik itu benar apa adanya atau hanya sekedar main-main saja.
Aris yang dipandang begitu dekat seperti itu oleh Via membuat ia menjadi gugup dan salah tingkah, bukan karena ia bohong karena ketakutannya pada jarum suntik tapi karena Via begitu dekat saat menatap nya. Mata Via dan matanya saling menatap satu sama lain. "Ah sial... kenapa hati ku berdebar-debar begini ya saat aku melihat kedua matanya yang indah itu." batin Aris seraya menelan ludahnya kasar.
"Ok baiklah untuk saat ini saya percaya jika anda sepertinya sedang tidak berbohong. Kalau suatu hari anda terbukti membohongi saya, saya akan menuntut kepada anda!" ancamnya tanpa ragu.
"Silahkan saja!" sahut Aris lemah.
__ADS_1
"Ok kalau begitu karena pengambilan darah sudah selesai, mari sus kita keluar saja dari ruangan ini, agar pak Aris bisa beristirahat. Selamat istirahat ya dan terima kasih anda sudah tidak menghalangi tugas kami, semoga cepat sembuh!" ucap Via tulus saat mengucapkan nya.
Mereka pun pergi seraya melangkahkan kaki untuk keluar ruangan dimana Aris di rawat. Aris hanya menatap punggung para perawat itu sampai mereka benar-benar keluar ruangan. Aris menatap ke atas melihat langit-langit atap ruangan rawat inap nya. "Ah amazing... kenapa bisa aku bisa tenang saat di suntik tadi. Padahal kan selama ini aku tidak pernah bisa tenang karena ketakutan ku ini. Apa karena tadi kebetulan karena aku tidak bisa melarikan diri sebab tubuhku yang lemah ini atau memang suster itu bisa memberikan kenyaman untuk ku saat aku ketakutan dengan jarum suntik?" gumam Aris pelan sangat pelan.
Aris mengusap wajahnya pelan mencoba mencari celah dari kejadian tadi. Walaupun suster Via itu galak tapi ia merasakan bahwa dia benar-benar tulus dalam memberikan perawatan pada pasien tidak terlihat pilih-pilih. Masalah galak dan ketus padanya itu mungkin saat pertama pertemuan mereka yang kurang baik. Aris jadi mengingat kejadian dimana pertama kalinya ia bertemu dengan Via, saat itu ia sedang kesal karena terbakar api cemburu pada hubungan Nisa dan Adam pada waktu itu.
Via keluar dengan rekan-rekannya itu dengan membawa Sempel darah Aris yang mereka ambil. Melihat para petugas medis keluar ruangan Aris dan tadi tidak terdengar teriakan dari Aris, kedua orang tua Aris langsung menghampiri mereka. "Suster!" panggil nya dan para petugas pun bersamaan menengok melihat pada orang tua Aris yang memanggil nya.
"Ada apa ya Bu?" tanya Via dengan senyum manisnya.
"Bagaimana dengan anak saya Aris apa kalian sudah mengambil darah Aris yang dibutuhkan? Maaf ya sus anak saya itu fobia dengan yang namanya jarum suntik. Ya walaupun ini sangat aneh secara dia pekerjaannya yang seorang TNI tapi saya yang tahu kenapa Aris itu seperti itu jadi susah untuk saya jelaskan." ucap mama Aris lembut.
"Oh tenang saja Bu kami sudah mendapatkan darah yang kami butuhkan." jelas Via dengan senyum ramah.
Mama Aris mengerutkan keningnya heran. "Bagaimana bisa kalian menyuntikkan Aris yang sangat takut akan jarum suntik itu?" tanya mama Aris heran bisa-bisanya mereka bisa mengambil darah Aris tanpa ada teriakan Aris.
"Tenang Bu suster Via ini paling bisa mengendalikan pasien, apalagi pasien seperti pak Aris itu." ucap rekan Via cekikikan.
Via menatap dengan tajam pada kedua rekannya itu saat mereka menggodanya dan Via pun tersenyum kikuk pada kedua orang tua Aris yang juga sedang menatap Via dengan heran.
"Kalau begitu kami permisi ya Bu pak!" ucap Via cepat pamit seraya mengajak rekan nya itu pergi dari sana.
__ADS_1
Setelah agak jauh dari orang yang Aris salah satu rekan Via pun bertanya. "Suster Via apa kamu kenal dengan pasien tadi, secara tadi sepertinya kalian sangat akrab begitu?" tanya rekannya di tengah perjalanan mereka menuju tempat ruang kerja mereka.
"Emh tidak, aku sama sekali tidak mengenal nya." sahut Via mengelak dengan cepat. Ya memang tidak saling kenal tapi sering bertemu.