Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
rasa yang aneh


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, setelah terjadinya pemberian penghargaan antara Via dan Aris mereka masih saja kaku belum ada tanda-tanda dekat padahal banyak kejadian yang membuat mereka selalu bersama.


Seperti saat ini Via yang masih menangani perawatan Aris masih ia kerjakan, namun sekarang pasien yang bernama Aris itu kondisinya sedikit lebih baik, sekarang dia sudah bisa pergi ke kamar mandi sendiri tanpa harus di bopong oleh perawat laki-laki.


Mama Aris masih setia menunggu anaknya itu sedangkan papa Aris ia bekerja seperti biasa karena dia juga punya tanggung jawab sebagai pemilik perkebunan teh terbesar sebagai usaha samping nya setelah ia pensiun sebagai tentara dulu.


Kini ada mama yang menemani Aris yang selalu saja mengeluh ingin pulang saja karena bosan dan ingin di rawat di rumah saja. Padahal di rumah sakit ia bisa di rawat oleh suster cantik bernama Via itu tapi ya namanya juga di rumah sakit pasti selalu bosan dan Aris pun tidak mau di suntik terus jika masih di rumah sakit pasti saja di suntik.


"Mah coba mama bicara sama dokter yang nangani aku agar aku bisa pulang dan di rawat di rumah saja." pinta Aris memelas pada mamanya itu.


"Kalau kamu masih belum pulih dokter juga gak akan ijinkan kamu pulang Aris..." ucap mama lembut. "Terus nanti kalau kamu kerasa lagi pas di rumah karena maksa ingin pulang nanti dokter gak akan mau tangani kamu lagi." sambungnya.


"Tapi aku bosan mah di rumah sakit terus, lagian aku juga udah agak mendingan kok sekarang!" elak nya.


"Ya sudah nanti kalau ada dokter yang periksa kamu, mama coba ya minta pulang saja tapi kalau gak di ijinkan kamu mesti nurut." sahut mama meminta Aris untuk menuruti.


"Memang nya kamu gak seneng apa di rawat sama suster Via yang cantik itu, mama kira kamu bakalan betah!" goda mama pada Aris.


"Ih apa sih mah, dia galak begitu!" sahut nya seraya melengoskan wajah nya yang ia sembunyikan karena sedikit bersemu atas ucapan mamanya yang ada benarnya.


"Kira-kira suster Via sudah punya pacar belum ya? Kalau belum mama mau jodohkan dia sama laki-laki yang mama tahu belum punya pacar karena sibuk dan fokus akan satu hal, siapa tahu kalau mereka cocok..., ah mama jadi senang deh bayangin nya." ucap mama ingin membuat Aris cemburu, setahu ini Aris seperti terlihat nyaman dengan suster Via itu.


"Eh mama mau menjodohkan suster itu sama siapa?" tanya nya terkejut. "Aku saja masih sendiri dan belum menikah. Ini mama sok sok an mau jodohkan Via dengan laki-laki lain!" tambah nya tidak terima.


"Kenapa memang nya? Kamu kan selalu bilang kalau kamu bisa cari istri sendiri kalau mama berniat jodohkan kamu dengan perempuan lain, kamu juga masih berharap saja sama Nisa teman kecil kamu yang jelas tidak tahu sekarang ada dimana." ujar mama menjelaskan.


"Tapi mama gak seharusnya kan jodoh-jodohin suster Via dengan sembarang laki-laki. Bagaimana kalau laki-laki yang mama jodohkan itu gak baik dan gak cocok sama Via!" kesal nya, namun Aris menyembunyikan rasa tidak suka nya atas apa yang di rencanakan mama nya itu.


"Iya siapa tahu Suster Via itu mau di jodohkan gitu, secara dia perempuan yang cantik pasti banyak yang suka sama dia, apalagi dia juga perempuan yang baik. Mama yakin itu!" mama masih kekeh ingin menjodohkan Via.


"Ah serah mama saja!" balas Aris sebal.


mama kenapa sih niat banget jodohkan Suster itu sama lelaki lain, anaknya saja masih jomblo! Eh kenapa aku jadi kesal begini ya padahal apa hubungannya aku dengan nya?

__ADS_1


"Mama sih ya kalau kamu bisa dekat dengan suster Via sih mama setuju banget, dia kan perempuan baik, cekatan dan juga cantik. Mama suka." celoteh mama memuji suster Via. "Tapi sayang kamu sepertinya gak suka ya sama suster Via." sambung nya. Mama Aris ingin tahu bagaimana reaksi anaknya itu saat Suster itu akan ia jodohkan.


Aris hanya diam saja karena bingung dengan perkataan mamanya ia juga belum tahu bagaimana hatinya sekarang ini yang masih belum begitu yakin. "Suster itu juga gak mungkin suka sama Aris mah, lagipula mama kan belum tahu juga dia punya pacar atau gak." sahut nya pelan .


"Memang kalau dia gak punya pacar kamu mau?" tanya mama antusias seraya menggoda anaknya itu.


Aris menjadi gugup saat mendapatkan pertanyaan seperti itu dari mamanya. "Apa sih mah..." sahut nya salah tingkah seraya membalikkan tubuhnya yang sedang berbaring itu sehingga ia membelakangi mamanya lalu tersenyum simpul di bibirnya itu.


***


di tempat Nisa


Saat di depan rumah sakit, Adam dan Nisa bertemu dengan dua orang rekan Adam sesama polisi.


"Eh pak Adam selamat siang?" ucapnya seraya mengulurkan tangannya berjabat tangan dengan Adam. "Sedang apa pak Adam disini?" tambah nya bertanya rekan Adam yang kebetulan bertemu dengan Adam di sebuah rumah sakit yang dulu ia di rawat.


"Saya mau antar istri cek kandungan nya mumpung sedang cuti, anda sendiri sedang apa berada di sini?" tanya Adam penasaran.


"Oh saya di sini sedang menjenguk pak Aris, kebetulan saya yang menangani kasus penabrakan pak Aris, dia itu seorang TNI saya kesini sekalian meminta keterangan kepada pak Aris bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi." jelasnya.


"Iya Bu Nisa, pak Aris Pratama beliau beberapa hari yang lalu mengalami kecelakaan ia ditabrak oleh seseorang yang sedang dalam pengaruh alkohol, kondisi pak Aris begitu parah karena kecelakaan tidak bisa dihindarkan." ujar rekan Adam menjelaskan dan Nisa hanya menatap kepada Adam yang sedang dalam muka di tekuk sebal.


"Di ruangan mana pak Aris di rawat?" tanya Adam serius, walaupun dia merasa cemburu tapi Aris dulu sudah menolong nya Adam seperti memiliki hutang Budi padanya.


"Di ruang inap VVIP, bapak bisa tanyakan langsung pada suster di sana supaya lebih jelas." sahut nya dan Adam pun mengucapkan terima kasih kepada rekan nya itu.


"Sayang, setelah cek kandungan kamu kita jenguk pak Aris ya di ruangan inapnya!" ajak Adam pada Nisa, mereka saat ini akan mengecek kandungan Nisa yang semakin besar itu.


"Jenguk Aris? Serius mas mau jenguk Aris?" tanya Nisa meyakinkan Adam.


"Khawatir banget sih tadi kayak nya?" balas Adam sinis.


"Cemburu?"goda Nisa pada Adam. "Tadi kamu ajak aku jenguk Aris memang mas gak apa-apa?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Iya gak apa-apa asal kamu jangan macam-macam aja nanti di sana!" ancam Adam dengan tersenyum Nisa hanya geleng-geleng kepala mendengar ancaman nya itu.


Beberapa jam kemudian Adam dan Nisa sudah di depan pintu ruangan dimana Aris di rawat. Mereka pun mengucapkan salam dan terdengar sahutan dari dalam seketika itu mereka masuk ke dalam ruangan.


"Aris bagaimana keadaan kamu? Maaf kami baru menjenguk kamu, karena kami baru saja tahu kabar kamu yang mengalami kecelakaan." ucap Nisa lembut tidak enak hati pada Aris.


"Tidak apa-apa Nisa pak Adam saya sudah lebih baik sekarang! Maaf saya merepotkan ya sampai pak Adam dan Nisa menjenguk saya di sini." balas Aris merasa tidak enak juga.


"Kami tidak merasa di repotkan kok malah kami yang seharusnya datang dari kemarin menjenguk anda pak Aris." ucap Adam tulus.


"Ya walaupun saya masih harus hati-hati dengan anda pak Aris karena bisa saja anda merebut Nisa dari saya, sebelum anda menikah dengan perempuan lain saya akan menjaga jarak antara Nisa dengan anda!" batin Adam saat melihat Nisa begitu dekat dengan Aris dan tadi sempat mengkhawatirkan nya.


Aris tersenyum tipis melihat Adam yang merangkul pinggang Nisa seperti takut Nisa akan ia dekati lagi, terlihat bahwa dia sedang cemburu pada nya karena Nisa menanyakan kabarnya terus.


Mama Aris yang mendengar nama Nisa saat ia masuk ke dalam ruangan Aris dan di panggil terus oleh Aris ia jadi mengingat nama perempuan yang selalu Aris ceritakan pada nya.


"Eh ada tamu rupanya? Teman Aris atau rekan Aris ya?" tanya mama basa basi.


Nisa dan Adam otomatis menoleh ke belakang dimana mama Aris yang sedang berada di belakangnya. Nisa tersenyum pada mama Aris. "Assalamualaikum tante, Tante mama nya Aris ya? Apa kabar tante aku Nisa teman Aris dan ini suami aku!" Nisa memperkenalkan dirinya dan suaminya itu lalu menciumi punggung tangan mama Aris dengan sopan.


Setelah lama mereka berada di ruangan Aris mereka pun pamit pada Aris dan mamanya. Setelah Nisa dan Adam pamit dan pergi dari ruangan Aris mama Aris pun menatap anaknya dengan serius dan secara tajam karena mama Aris ingin penjelasan secara jelas sejelas jelasnya dari Aris.


Aris yang di tatap seperti itu membuat ia tersenyum pada mama nya dengan kikuk. "Kenapa mah kok lihat aku begitu?" tanyanya pura-pura tidak mengerti.


"Kamu jangan pura-pura ya, jadi selama ini kamu sudah bertemu dengan Nisa itu ya? Jadi selama ini kamu menyukai perempuan yang sudah menikah dan sudah memiliki suami begitu?" tanya mama penuh selidik.


"Bukan begitu mah?" sahut nya bingung harus menjawab apa pada mama nya itu. "Yang penting kan aku gak ganggu rumah tangga mereka!" elaknya.


"Kamu benar-benar ya Aris, mama gak ngerti sama pikiran kamu itu, jangan-jangan kamu sekarang masih memiliki perasaan sama Nisa itu?" tanyanya penasaran. "Kamu itu ganteng Aris pekerjaan kamu juga jelas, perempuan mana sih yang gak suka sama kamu?" sambung mama.


Aris menghela nafasnya panjang. "Gak mah, aku seperti nya akan move on dari Nisa." tekadnya. "Bantuin ya mah doain aku cepat dapat perempuan yang cocok sama Aris." tambah nya.


Mama Aris pun menghela nafasnya berat dan menatap anaknya dengan sayang. "Mama pasti selalu doakan kamu nak. Nisa memang cantik dan mama juga tahu sejak kecil kalian itu suka berebut prestasi saat kalian sekolah dulu. Tapi... kamu harus ingat dia bukan jodoh kamu, perempuan di dunia itu banyak asal kamu pintar untuk memilih." ucap mama lembut pada Aris agar ia paham dan tidak merasa kecewa.

__ADS_1


Aris pun menatap mamanya dengan sayang. "Terima kasih ya mah, mama memang selalu buat aku tenang." jawab Aris mengelus tangan mama nya.


__ADS_2