Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
alat penyadap


__ADS_3

Via berusaha mengingat kembali isi dari pesan yang Tama kirimkan padanya tadi. "Ah benar aku lupa, di dalam isi pesan itu aku harus mengikuti apa yang dia mau, agar suami ku bisa bebas dan selamat. Tapi... keinginan apa yang harus aku ikuti? Ah aku takut sekali." batin Via merasa terancam.


"Keinginan ku mudah tidak akan membuat mu rugi." balas Tama dengan senyuman yang licik.


Via menatap wajah Tama dengan rasa takut namun ia berusaha mencoba untuk tetap tenang. "Cepat katakan tidak usah bertele-tele!" seru Via ketus.


"Sabar Via ku sayang, kenapa terburu-buru sekali. Santai saja kita masih banyak waktu." jawab nya santai.


"Aku yang tidak banyak waktu!" sahut Via kesal karena Tama lama tidak menjawab.


Tama pun melangkah masuk ke dalam kamarnya. Lalu tidak lama ia kembali menghampiri Via yang masih berdiri tidak bergerak sama sekali dari tempat tadi ia berdiri. "Ini ambil dan pakai lah!" titah Tama pada Via seraya menyerahkan paper bag yang ia bawa dari kamar nya. Namun Via hanya diam saja tidak menerima pemberian Tama itu.


"Kenapa, kamu tidak mau menerima nya? Apa kamu pikir aku main-main hah?" Tama mulai kesal karena Via terus saja menolak.


"Ambil dan pakai? Atau kamu akan lihat bagaimana suami kamu menderita?" ucapnya dengan nada tinggi.


Via terkejut mendengar bentakan dari Tama lalu Via pun dengan kesal dan cepat meraih paper bag di tangan Tama itu.


"Bagus! Jika kamu menurut seperti itu aku pun tidak akan menyakiti siapapun." ujarnya dengan tatapan sulit untuk di baca.


"Kamu masuk ke dalam kamar itu dan ganti pakaian itu di sana!" tunjuk nya pada salah satu kamar.


Via melihat ke arah kamar itu lalu berganti menatap ke arah Tama. Dan Tama yang tahu Via sedang dalam keadaan tidak nyaman dan takut pun angkat bicara. "Aku tidak akan berbuat apa-apa sama kamu untuk saat ini. Karena kamu sekarang sedang hamil dari laki-laki sialan itu, Aku akan bersabar saat waktu nya tiba aku yakin aku akan mendapatkan apa yang aku mau." ucapnya dengan senyum penuh arti.


Deg... "Apa maksud dia bicara seperti itu?" batin Via.


"Ayok cepat ganti pakaian kamu lalu berdandanlah secantik mungkin karena aku akan mengajak mu untuk bertemu dengan para kolega ku dan mengajak kamu untuk makan malam nanti." ujarnya menjelaskan.


Via pun beranjak dan melangkah menuju kamar yang Tama tunjukan lalu ia pun masuk dan berganti pakaian yang Tama berikan.

__ADS_1


Di dalam kamar itu Via berdiri di depan cermin, wajah nya yang cantik menampilkan raut yang menyedihkan tidak menampilkan wajah yang bahagia. "Semoga hanya ini keinginan dia dan semoga kak Tama membebaskan suami ku." batin nya seraya menitikkan air mata yang jatuh membasahi pipinya.


Via pun membenarkan alat yang berada di telinga nya itu agar tidak jatuh dan hilang. Ia jadi mengingat dimana saat Via sebelum datang menemui Tama di apartemennya.


* flash back off *


Setelah Via menerima sebuah pesan dari nomor yang tidak ia kenali dan isinya berupa pesan ancaman, Via langsung menelepon Adam berniat memberitahukan informasi tentang keberadaan Aris suaminya itu.


Panggilan telepon langsung pada Adam yang kebetulan ia sedang bertugas.


"Assalamualaikum pak Adam apa saya mengganggu pak Adam?" tanya cepat.


"Wa'alaikumussalam suster Via, tidak! Ada apa?" terdengar jawaban dengan suara berat nya


"Pak Adam baru saja saya menerima pesan dari nomor yang tidak sama sekali saya kenal. Dan pesan itu berisi sebuah ancaman tentang keadaan suami saya pak, dia menyuruh saya untuk datang ke apartemennya. Dia juga menyuruh saya untuk datang sendiri karena dia sudah memerintahkan anak buahnya untuk mengikuti saya dan juga memperhatikan saya dari jarak jauh. Saya takut sekali pak Adam, saya bingung harus bagaimana sekarang? Apa saya harus datang untuk menemui nya atau saya biarkan saja pesan itu?" tutur Via menjelaskan kenapa ia menelpon nya dengan suara bergetar takut memikirkan keadaan suaminya sekarang jika ia tidak mengambil langkah. "Saya akan kirim pesan berupa ancaman tersebut kepada pak Adam." sambung nya.


"Ok saya tunggu!" ucapnya lalu Via pun mengirim pesan berisi ancaman itu pada nomor Adam. Adam diam sejenak lalu tidak lama ia pun angkat bicara. Begini suster Via, tolong dengar kan instruksi dari saya ya. Nanti akan ada anak buah saya yang akan menjemput kamu dengan menggunakan mobil online agar mereka tidak menyadari dan tidak mencurigakan mereka. Anak buah saya bernama Briptu Danu, dia akan memberikan sebuah alat untuk kamu gunakan nanti." ujarnya namun Via belum begitu paham apa maksud dari pak Adam ini. Mendengar Via yang seperti nya belum paham Adam pun langsung berbicara kembali. "Suster Via, anda harus tenang dan sekarang tolong lakukan apa yang saya tadi instruksikan, dan Briptu Danu akan menjelaskan nanti di dalam mobil." sambung nya.


Lalu tidak lama menunggu setelah memberikan kabar itu pada Adam sebuah mobil online terparkir di tempat Via menunggu. Dengan cepat Via pun menghampiri mobil tersebut setelah ia menghapus semua log panggilan telepon pada Adam.


"Dengan pak Danu?" tanya Via setelah kaca mobil itu terbuka.


"Benar, anda ibu Via?" tanyanya dan di angguki oleh Via cepat.


"Mari masuk Bu!" ajaknya cepat. Via pun duduk di belakang kemudi.


Dengan cepat Briptu Danu menyerahkan sebuah alat yang sudah di sediakan oleh Adam dan rekan-rekannya. "Ini, tolong ibu pakai di telinga karena ini berupa anting, alat itu adalah alat penyadap, kegunaannya agar kita tahu apa yang akan di bicarakan antara ibu dengan pengirim pesan nanti." ujarnya menjelaskan.


Via meraih alat-alat yang di berikan itu pada nya dengan cepat ia pun memakai penyadap berupa berbentuk anting itu di telinga nya. Lalu saat Via memakai alat itu panggilan dari Adam pun masuk pada handphone nya.

__ADS_1


"Suster Via, kamu sudah pakai alat yang Briptu Danu berikan?" tanyanya dan di iyakan oleh Via.


"Sekarang kamu dengar instruksi saya dengan baik, Briptu Danu pasti sudah menjelaskan apa fungsi dari alat yang tadi di berikan, saya dan juga rekan saya yang lain akan mendengar percakapan antara kamu dan juga si pengirim pesan itu, usahakan kamu mencari informasi tentang keberadaan pak Aris namun jangan sampai membuat mereka curiga. Dan kamu harus bermain pelan dan hati-hati saat menggali informasi itu. Kamu mengerti maksud saya?" tutur Adam menjelaskan rencana yang akan mereka jalankan.


"Iya saya mengerti pak."


"Bagus! Semoga rencana ini akan berhasil. Ingat suster Via kamu harus hati-hati karena jika rencana ini tidak berhasil dan mereka mengetahui apa yang akan kita lakukan ini maka kita akan sulit menemukan pak Aris dan berbahaya juga bagi kamu dan juga pak Aris. Tapi jika kita bekerjasama dengan baik rencana kita akan sukses dan berhasil!" ucapnya penuh keyakinan.


"Baik pak Adam saya akan bermain dengan cantik dan elegan. Tapi saya mohon... sekali pada pihak kepolisian ataupun pihak TNI bisa menemukan suamiku dengan cepat dan selamat." pintanya penuh harap.


"Akan kami usahakan, berdoa terus jangan pernah putus dan selalu yakin, insyaallah kita akan menemukan pak Aris kembali dan kamu bisa berkumpul lagi bersama pak Aris." doa Adam tulus.


"Terima kasih pak Adam karena sudah membantu saya." ucapnya lirih.


***


* flash back on *


Saat Via sedang dalam lamunannya ia di kaget kan dengan suara ketukan pintu. "Via, kamu sudah siap?" tanya Tama di depan pintu kamar yang Via masuki.


"Su... sudah." sahut nya gugup seraya membuka pintu kamar itu.


Tama tersenyum saat melihat cantik dan anggun nya Via saat ini. "Kalau sudah ayok kita berangkat, sebelum makan malam nanti, hari ini aku akan memperkenalkan kamu pada para kolega ku jadi aku harap kamu jangan membuat ku malu!" ancamnya pelan namun penuh penekanan.


"Baik." jawab nya pelan.


"Siapa juga yang mau di kenal kan jika aku akan mempermalukan mu, dasar laki-laki berengsek!" batin Via dalam hatinya kesal dan geram jadi satu. "Sabar Via, kamu harus sabar menghadapi mantan tunangan kamu yang gila ini!" sambung nya mengusap dada menahan rasa kesal yang begitu amat sangat.


"Kamu cantik sekali Via, aku semakin gila padamu!" goda nya dengan senyum nakal nya.

__ADS_1


"Via tersenyum sinis. "Kamu memang sudah benar-benar gila Tama!" batin nya.


"Semoga rencana kita ini berhasil dan membuat Tama masuk ke dalam penjara dan di hukum dengan seadil-adilnya. Dan juga semoga pak Adam dan rekan nya yang lain bisa dengan sukses menjalankan misi ini." batin Via penuh harap dengan hatinya yang begitu takut akan masalah ini jika tidak berhasil nantinya.


__ADS_2