
Sore harinya Adam yang sudah selesai dari tugasnya pun langsung dengan cepat membereskan dan merapikan seragamnya, ia ingin terlihat tampan dan rapi saat pulang dan Nisa akan melihat itu.
"Sayang kamu sudah siap kan mas langsung on the way ya jemput kamu." ucap Adam saat menelepon Nisa.
"Iya mas, kamu hati-hati ya di jalan." jawab Nisa lembut.
Satu jam kemudian Nisa mendengar suara motor yang ia kenali, motor Adam terparkir di depan kontrakan Nisa.
"Assalamualaikum sayang." ucap Adam saat ia melihat Nisa menghampiri nya.
"Wa'alaikumussalam mas." jawab Nisa lalu mencium tangan Adam sebagai rasa hormat nya istri terhadap suami.
"Kamu sudah siap?" tanya Adam melihat Nisa sudah rapi dan tentunya cantik.
"Sudah mas, aku gak mau bikin kamu nunggu makanya pas kamu bilang mau jemput aku, aku langsung siap-siap sebelum suamiku pulang." tandas Nisa.
Adam tersenyum gemas melihat Nisa yang semakin hari semakin cantik, apalagi suasana Adam saat ini sangat baik setelah semalam merasakan apa yang membuat nya penasaran.
"Kita langsung berangkat atau kamu mau istirahat dulu mas?" tanya Nisa tidak sabar dengan kejutan apa yang akan di berikan Adam untuk nya.
"Aduh gak sabar ya..." goda Adam. "Ayo kita berangkat langsung saja, mas juga penasaran bagaimana ekspresi kamu saat mendapatkan kejutan dari saya."
Nisa tersenyum malu-malu. Mereka pun akhirnya pergi dengan menggunakan motor yang di bawa Adam, Adam melajukan motornya dengan kecepatan yang sangat pelan, ia ingin merasakan masa-masa halal mereka seperti pacaran dengan seorang kekasih.
Nisa memeluk pinggang Adam dan Adam memegang tangan Nisa yang memeluknya dengan sebelah tangan kiri nya sedangkan tangan kanannya memegang setir motor, selama mereka berhubungan sebelum menikah hal itu tidak pernah mereka lakukan, pernah sekali Nisa memeluk Adam dengan erat ketika berboncengan berdua saat mereka belum menikah. Pertama kalinya Adam mengajak Nisa untuk kebut-kebutan saat Nisa terlambat masuk kampus.
"Mas kamu bawa motor nya pelan banget sih kayak bawa nenek-nenek tahu." rengek Nisa setengah teriak karena mereka berada di motor.
Adam tergelak tertawa mendengar ucapan Nisa. "Masa ada nenek-nenek cantik begini." sahut Adam. "Mas sengaja bawa motor nya pelan biar romantis gitu kayak anak muda jaman now." hehe. erat Adam meremas tangan Nisa.
"Idih... ada-ada aja kamu mas." sahut Nisa memukul pelan pundak Adam yang lebar itu.
"Kita nikmati aja masa-masa berdua kita yang halal ini sebelum nanti ada Adam dan Nisa junior hadir di perut kamu." ucap Adam menggoda Nisa dengan tangan kiri Adam di kebelakang badan nya dan mengelus perut Nisa dengan menggelitiknya.
Refleks Nisa pun menepis tangan Adam yang nakal dan membuat nya geli itu. "Mas kamu ih." geram Nisa sedikit malu bisa-bisanya Adam menggelitik nya di jalanan seperti ini.
__ADS_1
Adam pun tersenyum geli juga dengan sikap nya yang berani menggoda istrinya itu. Menggoda istrinya sekarang adalah sesuatu yang bisa membuat nya bahagia dan suatu kegiatan yang menyenangkan.
Beberapa saat kemudian sampailah mereka ke tempat yang menjadi sebuah kejutan untuk Nisa.
"Ayok sayang kita turun dan kita masuk." ajak Adam dengan lembut saat motor nya terparkir di depan sebuah rumah mewah.
"Mas kamu ngapain bawa aku ke tempat ini? Dan ini rumah siapa mas?" tanya Nisa penasaran penuh selidik.
Adam tersenyum. "Ini kejutan untuk kamu, ini rumah kita, dan nanti kita akan tinggal di rumah ini berdua." ujar Adam menjelaskan saat mereka berada di depan rumah itu.
"Mas kamu serius?" tanya Nisa serius. "Aku baru tahu kalau mas ternyata sudah punya rumah." tuturnya.
"Iya mas serius, rumah ini sudah mas beli sejak lama, sebelum kita saling mengenal, mas sudah siapkan semua ini untuk istri mas, dan sekarang kamu adalah istri saya jadi saya akan berikan rumah ini untuk kamu." tandas Adam menjelaskan.
"Untuk kita mas, kamu sama aku akan tinggal bersama disini, terima kasih, mas sudah menyiapkan semua ini aku harap rumah ini menjadi surga untuk rumah tangga kita mas." doa Nisa penuh harap.
"Iya amiin." Adam mengaminkan. "Malam ini kita menginap di sini ya, gimana kalau kita cobain kamar, kita akan buat surga dunia yang indah, bagaimana?" goda Adam memainkan kedua alisnya nakal.
Nisa tersipu malu dengan ucapan nakal Adam, masih malu jika Adam berbicara nakal pada nya. "Mas kamu ya." ucap Nisa salah tingkah bingung harus menjawab apa. Iya atau tidak?
Seminggu berlalu Nisa dan Adam sudah menempati rumah baru nya itu, Nisa hanya membawa barang yang ada di kontrakan nya sebagian, barang yang yang penting-penting saja sama halnya Adam juga hanya membawa barang nya yang ia perlukan saja. Mereka pun sudah berpamitan kepada pemilik kontrakan itu kalau mereka akan pindah dan ibu kontrakan pun mengerti posisi mereka saat ini.
Handphone Nisa pun bergetar saat Nisa sedang melaksanakan shalat duha nya, sebuah panggilan telepon dari seseorang yang sudah menemukan dompet nya itu.
"Assalamualaikum dengan mba Nisa? Saya orang yang menemukan dompet mba, bisa kita bertemu hari ini? Kebetulan saya sedang tidak bertugas." ucap Aris pada Nisa saat Nisa mengangkat panggilan nya.
"Emh ya boleh mas dimana?" tanya Nisa ramah.
"Bagaimana kalau saya antar saja ke alamat mba Nisa, saya tidak keberatan sama sekali, alamat yang ada di kartu nama mba Nisa juga dekat dengan tempat tinggal saya." ujar nya memberi saran.
"Eh jangan mas, kita ketemu di luar saja, kebetulan saya sudah pindah tempat tinggal, bagaimana jika bertemu di cafe xs saja tidak keberatan kan?" tanya Nisa tidak enak.
"Siap-siap saya tunggu mba Nisa disana jam 10 bisa mba?" tanya Aris memastikan.
"Baiklah, terima kasih sebelumnya, assalamualaikum." ucap Nisa lalu menutup panggilan itu.
__ADS_1
Setelah mendapatkan telepon itu Nisa pun langsung meminta ijin kepada suaminya untuk menemui orang yang menemukan dompet nya dan Adam pun mengijinkan nya dengan syarat-syarat yang berhubungan dengan kecemburuan nya, dan Nisa pun dengan cepat supaya tidak menjadi panjang masalah nya, mengiyakan kemauan Adam yang tidak boleh tersenyum ramah pada setiap laki-laki salah satunya.
Nisa pun bersiap-siap untuk menemui Aris, Nisa dan Aris sama-sama belum tahu jika mereka itu sudah saling mengenal.
Dan di cafe xs lah Aris menunggu kedatangan mba Nisa. Aris terlebih dahulu sampai ke cafe itu, ia tidak suka jika dirinya yang di tunggu oleh orang lain lebih baik dia yang menunggu.
Tak lama Nisa pun datang, ia tampak mencari-cari orang yang ia cari.
tring... sebuah pesan masuk pada handphone Nisa. "Saya di meja no 06." pesan pun di baca oleh Nisa, Nisa pun mencari meja no 06 yang laki-laki itu maksud.
Nisa yang terlihat sangat cantik menggunakan dress panjang berwarna ungu dan jilbab yang berwarna senada juga, melihat kan seorang Nisa yang sangat lembut dan peminin.
Aris yang dari tadi menunduk kepala dengan memainkan handphone nya belum sadar bahwa Nisa yang akan di temui nya sudah datang. "Permisi mas." sapa Nisa pada Aris yang tidak sama sekali memperdulikan nya.
"Permisi mas..." sapa Nisa dengan suara agak keras.
"Oh ya mba ni...sa?" jawabnya nya gagap, menatap seorang perempuan yang ada di hadapannya membuat Aris terdiam melongo.
"Halo mas... mas... mas." panggil Nisa dengan tangan yang melambai-lambai kan ke arah wajah Aris yang terdiam tanpa ekspresi.
Nisa mengerutkan keningnya aneh dengan laki-laki yang ada di hadapannya lalu Nisa pun sedikit menggoyang kan bahu Aris itu. " Mas maaf mas anda mendengar saya kan?" tanya Nisa kesal.
Aris tersadar dari lamunannya saat bahu nya di goyang-goyang kan. "Ah iya maaf." tuturnya. "Si... silahkan duduk Nisa?" ucap Aris terbata-bata.
"Mas ini yang menemukan dompet saya kan?" tanya Nisa saat ia sudah menduduki kursi nya.
"Iya, perkenalkan saya Aris, Aris Pratama!" ucapnya memperkenalkan dirinya dengan menekan kata nama Aris.
Deg... jantung Nisa seakan berdetak kencang dengan tatapan tak percaya.
apa dia Aris Pratama teman masa kecil ku. batin Nisa.
ah Tuhan... apa benar dia Nisa ku, Nisa yang selama ini aku cari, perempuan yang selalu ada di setiap doa ku, dia sangat berbeda Tuhan... dia begitu cantik dan anggun menutup auratnya dengan sempurna, dia menjadi perempuan Sholehah. batin Aris.
"Apa kamu mengenaliku?" tanya Aris menatap Nisa dengan tatapan penuh harap.
__ADS_1