Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
suara itu


__ADS_3

Setelah selesai sarapan nya Adam pun pamit untuk berangkat bertugas. "Sayang mas berangkat ya, nanti setelah mas pulang dari kantor kamu siap-siap ya, mas mau ajak kamu ke suatu tempat." ujar Adam mengajak Nisa.


"Kemana mas?" tanya Nisa penasaran.


"Kejutan dong, pokonya nanti kamu siap-siap aja setelah pekerjaan mas beres mas jemput kamu disini ya." jawab Adam membuat Nisa semakin penasaran.


"Ok aku tunggu kamu mas." sahut Nisa dengan cepat.


Melihat Nisa yang berjalan sedikit berbeda dari biasanya Adam pun mendekati Nisa dan memeluk Nisa dari belakang dan menghirup aroma tubuh Nisa yang selalu membuat Adam nyaman. "Eh mas kenapa?" tanya Nisa saat Adam memeluknya.


"Maaf ya sayang gara-gara semalam, jalan kamu jadi agak sedikit berbeda seperti gak nyaman yang mas lihat." lirih Adam pada Nisa dengan masih memeluk Nisa dengan erat.


"Memang kelihatan ya mas aku jalan nya gak nyaman?" tanya Nisa malu.


"Keliatan sayang, hari ini usahakan jangan dulu keluar ya, nanti sama mas aja saat jemput kamu setelah mas pulang dari kantor." ucap Adam dengan lembut setengah berbisik pada telinga Nisa.


Nisa mengangguk mengiyakan permintaan Adam. "Ya udah mas berangkat ya." ucap Adam melepaskan pelukannya nya pada Nisa lalu ia pun meraih jaket hitam untuk menutupi baju seragamnya.


"Iya mas, hati-hati ya di jalan, bawa motor nya jangan ngebut-ngebut ya." ucap Nisa lembut lalu Nisa pun mencium tangan Adam menyalami nya dengan penuh khidmat dan di balas dengan Adam yang mencium kening Nisa dengan sayang.


"Mas jalan ya, assalamualaikum." ucap Adam pamit kepada Nisa.


"Wa'alaikumussalam." sahut Nisa dengan senyuman manisnya.


Setelah kepergian Adam untuk bekerja, terdengar suara handphone milik Nisa berbunyi suara panggilan telepon.


Nisa pun meraih handphone nya itu lalu mengerutkan keningnya. "Nomor baru siapa ya?" gumam Nisa.


Nisa mengangkat panggilan telepon nya itu. Assalamualaikum." ucap Nisa lembut.


"Wa.... wa'alaikumussalam." jawabnya gugup.


"Dengan siapa dan perlu apa ya?" tanya Nisa penasaran.

__ADS_1


Ekhemm. "Maaf saya mengganggu pagi-pagi, apa saya bicara dengan mba Queennisa Khumaira?" tanyanya.


"Iya saya sendiri, ada apa ya mas?" tanya Nisa.


"Begini saya kemarin menemukan dompet mba Nisa di restoran siap saji di daerah Bandung, kemarin saya sudah mencoba memanggil mba tapi mba nya tidak mendengar panggilan saya, saya mau memberi tahu kalau dompet mba sekarang berada di saya, saya akan mengembalikannya ke tempat mba tapi setelah saya tidak sibuk nanti, maaf saya belum bisa memberikan nya kepada mba Nisa." ujarnya menjelaskan.


"Oh iya mas terimakasih saya ucapkan, tidak apa-apa nanti saya akan mengambil kepada mas, bisa nanti kita bertemu?" ajak Nisa.


"Oh ya bisa, nanti saya kabari mba Nisa kalau saya sudah tidak sibuk, tapi secepatnya saya akan memberikan dompet nya itu." balas nya.


Setelah selesai percakapan Nisa dan Aris tadi di telepon Aris tiba-tiba refleks menyentuh dadanya. "Kenapa jantungku jadi berdebar cepat seperti ini ya." ucap Aris heran.


Mendengar suara Nisa tadi membuat Aris tidak mengerti dengan hati nya. "Itu hanya suara perempuan biasa kenapa semenebarkan begini." gumam Aris pelan.


"Akhirnya dompet aku ada yang nemuin juga, dan orang itu akan mengembalikan dompet itu, alhamdulilah." ucap Nisa penuh syukur.


Nisa pun langsung memberi tahu suaminya Adam, Nisa menelpon Adam yang sedang bertugas. " Assalamualaikum mas lagi sibuk ya?" tanya Nisa pada Adam saat suaminya mengangkat telepon dari Nisa.


"Ish mas... pede banget sih kamu, aku mau bilang kalau dompet aku udah ada yang nemuin mas dan dia mau balikin dompet aku nanti, dia ajak ketemuan sama aku mas." ucap Nisa senang.


"Ya syukur deh kalau sudah ketemu." ujar Adam bersyukur.


"Ya udah mas, udah dulu ya aku cuma kasih tahu soal dompet aku aja kok, assalamualaikum." ucap Nisa akan menutup telponnya.


"Eh tunggu dulu dong, cuma itu aja kamu telpon suami kamu?" ucap Adam cemberut sebal.


"Iya kenapa lagi memang nya aku takut ganggu kamu kerja, kita ketemu di rumah aja ya dadah suamiku..." Tut.


Adam tersenyum bahagia mendapatkan telepon dari istri nya itu. "Wangalaikum salam." gumam Adam menjawab salam Nisa.


"Wah pengantin baru senyum-senyum sendiri bahagia apa gila?" canda Satria si biang onar.


"Jangan ganggu kamu, mau saya tugaskan pekerjaan berat untuk kamu?" ancam Adam pada Satria, di tempat kerja Adam selalu bersikap seperti pemimpin karena dia harus menjaga sikap dan perbuatannya walaupun bersama sahabat sendiri. Tapi saat di luar ia akan bersikap seperti seorang sahabat.

__ADS_1


"Aduh maaf pak saya gak berani, permisi!" ucap Satria takut pada Adam ia akan di tugaskan hal yang sulit.


"Hemm." sahut Adam.


***


"Komandan kamu serius mau anterin dompet itu sama pemilik nya?" tanya Syamsul bawahan Aris yang paling dekat dengan nya ketika komandan nya itu memegang dompet nya itu.


"Iya gue yakin, ntah kenapa gue penasaran sama pemilik dompet ini!" ujar Aris menjawab tanpa menatap Syamsul.


"Apa karena pemilik nya perempuan cantik jadi komandan Aris penasaran?" ejek Syamsul pada Aris.


Aris hanya tersenyum simpul. "Ntahlah." sahut nya datar.


"Elu tahu gak nama si pemilik dompet ini ingetin gue sama perempuan yang selama ini gue cari, tapi gue gak yakin kalau dia memang perempuan yang gue maksud, karena nama bisa aja kan sama!" elak Aris menyimpulkan.


"Jadi ceritanya masih inget sama perempuan penakluk hati komandan itu ya, saya aneh bisa ya cinta masa kecil itu terus tumbuh bersemi dengan subur di hati komandan." ujar Syamsul heran.


"Gue gak pernah lupa sama dia, semakin gue mau lupakan dia semakin inget gue sama dia, udah lama banget gue gak tahu kabar nya dan gue juga gak pernah nemuin alamat media sosial nya yang bisa gue hubungi." tandasnya.


"Apa kamu berharap bisa bertemu lagi sama dia?" tanya Syamsul penasaran.


"Iya gue berharap bisa bertemu kembali dengan dia, ntah bagaimana cara Tuhan mempertemukan kita yang pasti gue selalu berdoa suatu saat gue dan Nisa bisa bertemu." doanya penuh harap.


"Saya doain semoga kamu bisa bertemu dengan gadis pujaan kamu itu." doa Syamsul untuk Aris.


Aris hanya mengangguk-anggukan kepalanya mengaminkan doa sahabat nya itu.


Syamsul itu teman Aris sejak di asrama dulu, dia itu selalu bertugas bersama 1 angkatan namun beda pangkat, Syamsul orang paling dekat dengan Aris bahkan sekarang saja dia tinggal bersama Aris di rumahnya karena bagi Aris rumah yang ia beli lumayan luas bagi dia yang seorang pemuda yang belum memiliki seorang istri.


Aris sengaja membeli rumah itu karena dia sudah bertugas di Jakarta lokasi nya juga dekat dengan tempat ia bertugas, Aris juga sudah ditetapkan untuk bertugas di Jakarta makanya ia berani membeli rumah itu untuk ia tempati.


Kedua orangtuanya juga bisa menginap manakala mereka sedang berkunjung ke rumah Aris, itu salah satu permintaan keluarga Aris yang sudah lama tidak berkumpul dengan anak kesayangannya itu.

__ADS_1


__ADS_2