
Pagi-pagi pukul lima Via dan Aris sudah bangun dari bangun tidur nya. Mereka terbiasa bangun pagi karena mereka adalah pekerja yang sangat menghargai sebuah waktu. Pagi ini Via sudah berada di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk suami tercinta. Ya semenjak suaminya sudah pulang dari Lebanon kini setiap paginya Via selalu mempersiapkan makanan untuk suaminya itu.
Sarapan pagi pasangan ini selalu makanan berat karena Aris adalah seorang TNI dia sangat membutuhkan makanan berat di pagi hari, walaupun makanan nya berat tapi Aris masih memiliki tubuh yang ideal karena kalori setiap harinya ia bakar dengan aktivitas nya sebagai TNI.
"Sudah selesai mandi nya? Lama banget ngapain aja sih?" tanya Via heran saat ia melihat suaminya telah selesai mandi yang di rasakan Via cukup lama bagi seorang laki-laki.
"Hehehe mau tahu aja sih, ya mandi seperti biasa!" serunya membuat Via menghela nafasnya panjang.
"Iya sudah nanti kalau sudah beres langsung sarapan aku udah siapin untuk kamu." ucap Via dan di iyakan oleh suaminya itu.
"Kamu udah sarapan?" tanya Aris setelah ia beres memakai seragam TNI nya.
"Nanti aja ah aku belum lapar, kamu aja duluan!" sahut nya.
"Pagi ini kamu gak ke rumah sakit?" tanyanya lagi.
"Enggak, aku free hari ini." jawabnya cepat.
"Emh gitu, ya udah kamu diam saja di rumah gak usah kemana-mana. Aku hari ini ada tugas paling aku pulang sore. Kamu gak apa-apa kan aku tinggal sampai sore nanti?" tanyanya dengan menggoda istrinya yang sedang menemani ia makan di meja makan.
Via menghirup nafas nya dalam-dalam. "Enggak apa-apa aku udah biasa, jangan kan sampai sore kemarin aja setahun kamu tinggal aku gak apa-apa kan!" jawabnya.
Aris mencubit pipi Via begitu gemas akan jawaban istrinya itu. "Iya ada benarnya juga ucapan kamu, setahun tanpa kamu itu paling berat dalam hidup ku." ucapnya pilu membuat Via tersenyum geli melihatnya.
"Lebay kamu!" ucap Via seraya melemparkan buah yang sedang ia makan.
"Aku gak lebay aku serius!" ucapnya tegas membuat Via terdiam kaku.
"Ya udah kamu lanjutkan makan nya aku ke depan dulu ya!" Via memotong pembicaraan pagi ini yang serasa pilu di hati suaminya itu. "Cup... Kiss di pagi hari supaya suami ku semangat pagi ini." Via mencium pipi Aris dengan gemas agar suaminya itu tidak melow di pagi ini seraya pergi dengan cepat jika tidak begitu suaminya itu akan meminta ciuman lebih dari Via membuat Aris tersenyum dibuat nya.
Via cekikikan sendiri karena sikap nya pada suaminya itu. Ia melangkah menuju tempat penyimpanan sepatu dan membawa sepatu yang akan di pakai suaminya hari ini, lalu ia pun menyemir sepatu suaminya itu sebagai tanda bakti nya pada seorang suami.
Aris melihat apa yang di kerjakan istrinya itu setelah ia selesai sarapan nya. "Kamu ngapain sayang?" tanyanya.
"Semir sepatu lah suami ku masa ia semir rambut." sahut nya cepat.
"Udah gak usah biar aku aja, aku udah biasa semir sepatu sendiri." ucap Aris seraya berjongkok seperti Via yang sedang menyemir sepatu nya.
"Aku ini istri kamu, kalau semua pekerjaan yang kamu kerjakan jadi untuk apa aku menjadi istri kamu? Peran istri kan menyiapkan segala kebutuhan dan keperluan suaminya jadi gak apa-apa dong aku kerjakan pekerjaan yang bisa meringankan suami. Apalagi pekerjaan ini kan ringan dan mudah!" ujar Via lembut.
Aris tersenyum mendengar ucapan dari istrinya itu. "Hemm aku beruntung sekali mendapatkan istri seperti kamu. Sudah cantik kamu juga tahu posisi sebagai istri." ucapnya bangga.
"Ya lah!" sahut nya jutek.
"Keluar deh sifat aslinya hehe. Terima kasih ya sayang aku bahagia... sekali." ucap Aris menatap wajah Via.
"Ini sepatu nya sudah selesai aku semir!" ujar Via memberikan sepatu Aris yang sudah mengkilap Aris pun menerima sepatu itu lalu memakai nya.
__ADS_1
"Terima kasih ya. Ya sudah aku berangkat! Kamu kalau mau keluar bilang dulu ya sama aku, ijin dulu mau kemana!" titah nya tegas.
"Ok siap pak komandannya aku!" sahut Via dengan cepat seraya tangan kanannya memberikan hormat pada suaminya itu.
Aris pun tersenyum dengan kelakuan istrinya yang jutek itu lalu ia mengusap kepala Via dengan lembut dan menciumi atas kepala Via. "Aku berangkat ya sayang kamu hati-hati di rumah." pesan Aris pada Via.
Via cemberut. Harusnya aku yang bilang hati-hati sama kamu kan kamu yang mau keluar rumah nya."
"Iya kita sama-sama hati-hati ya. Ya udah assalamualaikum sayang." ucap Aris memberi salam.
"Wa'alaikumussalam salam." sahut Via masih dalam posisi di depan pintu rumah dinasnya melihat Aris yang belum jauh pergi.
"Aku gak akan kemana-mana suami ku di dalam asrama ini aku lebih aman." gumam Via pelan. Ia sekarang jadi takut untuk keluar sendiri karena Tama sang mantan tunangan masih saja mengganggu ketenangan hidupnya.
Setelah di rasa kendaraan suaminya itu sudah jauh dan tidak terlihat Via pun masuk ke dalam rumah nya bersiap untuk membereskan rumah nya selagi ia sekarang libur bekerja.
Siang harinya Via melihat ke arah luar rumah dinasnya dan saat itu pula ia melihat seorang anak kecil yang sedang bermain mobil-mobilan dan terlihat umur nya sekitar tiga tahunan sedang diam sendiri di sana. Lalu Via pun keluar rumah nya dan menghampiri anak kecil itu mendekati nya dan untuk mencoba mengajak anak kecil itu berbicara.
"Hallo sayang... kamu lagi ngapain nak, kok sendirian. Mama papa kamu mana?" tanya Via melihat anak kecil itu sendirian dan Via mencoba melihat ke daerah sekitaran depan rumah Via namun tidak terlihat satu orang pun disana karena mungkin terik matahari di siang hari sangat panas membuat orang-orang yang tinggal berada di asrama malas untuk keluar.
"Sayang kok gak jawab, mama papa kamu dimana? Kamu tinggal di kompi apa sayang?" tanya Via pada anak itu namun anak itu diam saja tidak menjawab pertanyaan Via membuat Via menjadi bingung harus bagaimana. Jika di tinggal sendiri kasihan juga tapi jika di temani Via tidak tahu ini anak siapa.
"Hemmm pasti anak ini keluar rumah tanpa diketahui oleh orang tuanya." batin Via dalam hatinya. "Pasti kedua orang tuanya mencari anak ini!" sambung nya membuat Via semakin bingung saja harus bagaimana.
"Sayang kamu tinggal dimana? Tante anterin kamu pulang ya tapi nanti kamu tunjukkan rumah kamu ya?" ucap Via melembut.
"Kamu tahu nama mama kamu siapa atau nama papa kamu siapa?" tanya Via menatap anak itu serius namun bukan jawaban yang ia berikan ia malah menggelengkan kepalanya tanda ia tidak tahu.
"Hemm sayang sekali ya, kamu sendirian tadi jalan kesini?" tanya Via dan di angguki oleh anak berjenis laki-laki itu.
"Aku jadi bingung harus bawa anak ini kemana? Apa aku bawa aja ya ke pos nanti kan di bantu sama penjaga yang sedang piket disana?" tanyanya dalam hati. "Ya ah aku bawa aja ke sana siapa tahu anak ini bisa bertemu dengan kedua orang tuanya." tambahnya.
Via berjongkok mensejajarkan dengan tubuh si anak laki-laki itu. "Sayang ikut Tante ya? Tante akan bawa kamu bertemu dengan kedua orang tua kamu, kamu jangan takut ya sama Tante." ucap Via meyakinkan anak tersebut.
"Iya Tante." jawab nya.
Via tersenyum melihat lucu nya anak kecil itu. Lalu ia pun membawa anak itu ke pos untuk mencari tahu kedua orang tuanya dan juga mencari tahu siapa tahu bertemu dengan kedua orang tua nya di jalan yang sedang mencari anak itu.
Saat Via dan anak itu berjalan tiba-tiba seorang perempuan menarik paksa anak laki-laki itu dan menyembunyikan nya di belakang tubuhnya lalu perempuan itu menampar pipi Via dengan begitu keras membuat Via kebingungan dan merasa heran kenapa perempuan itu menampar nya dan rasa panas di pipi nya pun Via rasakan, Via tidak pernah mengenal perempuan itu dan juga merasa tidak memiliki masalah dengan nya.
"Ini anak saya! Kamu jangan coba-coba menculik anak saya ya, dasar penculik!" ucapnya penuh emosi.
"Maaf seperti nya anda salah paham, saya gak berniat menculik anak untuk apa saya menculik anak!" jawab Via menjelaskan."Tadi saya melihatnya di depan rumah saya sendirian, bukan untuk mencurinya!" tambahnya.
"Alah kamu mau mengelak? Alasan! Mana ada pencuri mengaku!" sahut nya kesal.
"Memang seperti itu kejadiannya, saya sama sekali tidak ada niat sedikit pun untuk mencuri apalagi mencuri anak." ujar Via menjelaskan.
__ADS_1
"Saya tidak mau dengar alasan kamu, ayok ikut saya! Saya akan bawa kamu ke pos karena sudah berani masuk dan berniat menculik anak saya." ajak nya seraya menyeret lengan Via dengan keras.
Setibanya di pos pelaporan ibu Persit itu membawa Via dan mendorong tubuh Via dengan keras membuat tubuh Via terhuyung ke depan karena dorongan itu.
"Ada apa ini?" tanya salah satu TNI yang sedang berjaga itu. Dan salah satu TNI terkejut karena tahu melihat Via istri atasannya itu di perlakukan seperti itu oleh salah satu istri rekan nya.
"Ibu Via ada apa?" tanya salah satu bawahan Aris itu. Namun perempuan tadi langsung angkat bicara tanpa mendengar ucapan rekan suami nya. "Dia perempuan yang mau menculik anak saya, tadi saya memergoki nya dia membawa anak saya pergi." ucapnya penuh emosi.
"Sebentar ya ini pasti ada kesalahpahaman, ibu ini istrinya pak David kan yang baru saja pindah ke kompleks asrama ini?" tanya TNI yang sedang bertugas itu dan di iyakan oleh perempuan itu.
"Saya akan panggilkan suami ibu dan juga ibu Via ini." ucapnya.
Tak lama David suami dari perempuan yang menuduh Via penculik datang dengan tergesa-gesa. "Ibu ada apa ini? Apa yang di lakukan kamu sampai aku di panggil seperti ini!" tanyanya penasaran lalu istri nya pun menjelaskan padanya.
Aris pun tak lama datang setelah ia mendapatkan kabar bahwa istrinya itu sedang ada dalam masalah. Lalu ia menghampiri istrinya tidak terlihat diam saja. "Sayang kamu tidak apa-apa kan?" tanya Aris khawatir.
"Aku tidak apa-apa!" jawab nya pelan.
Aris melihat ada memar di pipi istrinya itu. "Tidak apa-apa bagaimana pipi kamu ini kenapa? Siapa yang melakukan ini semua? ayok jawab!" tanyanya tegas penuh khawatir.
Aris pun bertanya pada bawahannya karena Via tidak menjawab pertanyaan Aris itu dan para TNI yang jaga pun menceritakan apa yang terjadi pada Via istri atasannya itu membuat Aris naik pitam tidak terima apa yang di lakukan pada istrinya itu dan melihat cctv yang ia pinta untuk di lihat membuat Aris semakin marah. "Panggil David kemari dan juga istrinya!" titah Aris penuh emosi.
"Aku tidak apa-apa kamu gak usah marah seperti itu!" ucap Via menenangkan suami nya itu.
"Ini sudah keterlaluan aku tidak terima kamu di perlakukan seperti itu!" ujarnya kesal.
Namun hati David begitu tidak tenang. "Aduh kenapa aku dan istriku di panggil pak komandan. Ini pasti akan jadi masalah besar." gumam nya heran setelah ia diberi tahukan jika komandan nya memanggilnya apalagi bersama istrinya.
"Kurang ajar kamu!" Bug bug bug pukulan mendarat pada perut David dari Aris saat ia masuk dan menemui nya membuat istri David dan juga Via berteriak histeris.
"Kamu tahu apa kesalahan kamu dengan istri kamu?" tanya Aris dengan emosi.
"Sudah bang aku tidak apa-apa! Jangan memperpanjang masalah ini." ucap Via lembut dengan mengelus dada Aris yang begitu marah dan penuh dengan emosi.
"Aku tidak terima jika mereka memperlakukan kamu seperti itu apalagi kamu tidak melakukan apa yang di tuduh kan istri dia." tunjuk nya pada David yang sedang meringis kesakitan.
"Iya aku tahu tapi aku gak akan mempermasalahkan hal itu sudah ya tahan emosi kamu." ucap Via membujuk suaminya itu membuat hati Aris melemah.
"Kamu David beri pelajaran pada istri kamu didik dia dengan benar jangan berbuat hal yang tidak mencerminkan sebagai istri dari TNI. Apalagi dia sudah membuat istri saya di permalukan seperti itu, untung istri saya tidak melaporkan kejadian ini. Jika masalah ini di perpanjang semua bukti dari cctv sudah menjadi bukti keberutalan istri kamu." tutur Aris menjelaskan dengan kesal.
"Maaf saya dan juga istri saya pak Bu saya akan mendidik lagi dengan baik istri saya dan saya janji tidak akan ada kejadian seperti ini lagi." ujar nya penuh penyesalan.
"Bagus jika kamu paham apa kesalahan kamu dan juga istri kamu. Di asrama ini sudah di jaga dengan ketat tidak sembarangan orang bisa masuk ke sini, jadi tidak akan mungkin seorang penculik bisa berani masuk ke dalam kompleks ini." balas Aris masih dengan hati kesalnya.
"Iya pak maaf ini memang kesalahan saya yang belum bisa mendidik istri saya dengan baik!" ucapnya lirih.
"Sudah lah kamu pergi dari sini dan bawa istri kamu, cepat!" perintah nya dan dilakukan dengan cepat oleh David.
__ADS_1
Aris menghela nafasnya berat. "Sayang kamu tidak apa-apa?" tanyanya penuh khawatir seraya menatap wajah Via dengan sayang dan langsung memeluk istrinya itu. "Aku tidak apa-apa jangan khawatir!" balas Via lembut membalas pelukan suaminya yang membuat ia tenang.