Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
kejadian tak terduga


__ADS_3

Rekan kerja Aris sesama TNI melihat komandan nya diam saja membuat mereka tersenyum-senyum. "Sus kalau jantung berdebar-debar kencang begini melihat kecantikan suster apa ya obatnya?" goda salah satu rekan Aris yang mencoba menggoda Via saat dia sedang telaten dan serius membersihkan bekas darah Aris.


"Obatnya anda bisa keluar dari ruangan ini dan tunggu disana saja jangan ganggu saya yang sedang bertugas dengan gombalan receh anda seperti itu!" balas Via ketus tanpa mengalihkan pandangannya pada apa yang sedang ia lakukan.


Haha... Semua rekan Aris tergelak menertawakan gombalan receh rekan nya itu pada si suster cantik, Aris pun tidak ketinggalan ia pun tersenyum mesem mendengar jawaban si suster Via atas gombalan rekan nya itu. Sedangkan rekan Aris yang menggombali Via menggaruk kepalanya malu karena ia pikir suster itu akan menjawab gombalan dengan tersenyum malu-malu saat di gombali nyatanya tidak seperti yang ia pikirkan malah dengan ketusnya ia menyuruh pergi dari ruangan Aris.


"Sudahlah... ayo kawan kita keluar dulu seperti nya kehadiran kita mengganggu tugas suster yang sedang bekerja." ucap Syam mengajak kedua rekannya itu seraya merangkul bahu rekannya agar keluar ruangan.


Via hanya mendelik kan kedua matanya malas. Sedangkan kedua orang tua Aris masih menunggu Aris di dalam ruangan tanpa bergeming.


"Makanya jangan coba-coba gombalin cewek!" ucap Syam mengejek rekannya itu. "Sepertinya suster itu bakal jadi sasaran komandan kita, makanya jangan coba-coba haha. Level nya tinggi bro!" sambung nya mengejek. Mereka sekarang berada di luar depan ruangan Aris menunggu perawat itu keluar.


"Iya, tuh di sini masih banyak perawat cantik." tunjuk nya pada perawat yang berlalu lalang di depannya. "Coba elu deketin siapa tahu ada yang kecantol." saran rekannya yang satu lagi dan di angguki oleh rekan yang menggombali Via tadi.


"Ide bagus!" sahut rekan nya itu.


Di dalam ruangan Aris Via masih membersihkan dan mengurut tangan Aris yang bengkak itu, sedikit-sedikit bengkak itu pun tidak lagi terlihat bengkak. Sedangkan kedua orang tua Aris mereka melihat perawat itu dari belakang, duduk di sebuah sofa yang sudah di siapkan rumah sakit. Melihat ketelatenan dan keseriusan suster Via kedua orang tua Aris tersenyum dan saling pandang.


"Sus ini serius tangan saya akan di suntik kembali?" ucap Aris meyakinkan Via, jantung nya sudah berdebar kencang membayangkan jika ia akan di suntik lagi.


"Iya." sahut Via pendek seraya menyediakan peralatan nya untuk menyuntikkan kembali pada tangan sebelah nya.


"Jangan tegang begitu santai saja!" ucap Via dengan santainya. "Lakukan seperti yang tadi pagi anda lakukan jika anda merasa nyaman dan membuat anda tenang, supaya pekerjaan saya cepat selesai." ucap Via pelan.


Aris pun mencoba menarik nafas panjang menghilangkan rasa tegang yang ada pada dirinya. Melihat Suster Via mengeluarkan jarum suntik dan peralatan lainnya membuat Aris melakukan hal yang sama pada Via saat pagi tadi, menyelusup ke perut rata Via yang membuat nya nyaman itu.


Kedua orang tua Aris melihat kelakuan anaknya itu melihat dengan heran bisa-bisanya anaknya itu melakukan hal seperti itu apalagi di depan kedua mata mereka. "Ya ampun Aris kamu ngapain meluk-meluk suster seperti itu? Dosa kamu Aris!" omel mamah memarahi Aris dengan suara sedikit teriak karena terkejut namun Aris diam saja karena penyuntikan pun belum selesai.


"Sudah selesai pak, anda bisa melepaskan dan menjauhkan kepala anda." ucap Via seraya menundukkan kepalanya melihat Aris yang berada di perut nya itu.

__ADS_1


"Benar sudah selesai?" tanyanya Aris belum melepas pelukannya pada Via.


"Sudah pak, tidak terasa kan kalau anda tenang." balas Via.


"Aris kamu ini ya benar-benar?" omel mama geram.


"Tidak apa-apa Bu, jika masih batas normal saya tidak keberatan karena bagi saya kenyamanan pasien itu yang paling utama, terbukti juga kalau pak Aris bisa tenang saat saya suntik kembali." ucap Via santai seraya membereskan peralatan medis nya.


"Oh ya Bu tekanan darah pak Aris masih belum normal. Apa pasien sudah makan dengan normal seperti biasanya atau bagaimana?" tanya Via sedikit menjelaskan.


"Anak saya ini malah gak mau makan sus susah sekali banyak alasan, mungkin itu yang membuat tekanan darah nya masih kurang." ujar mama Aris memberi tahu.


"Emh... pantas saja, begini saja ya Bu, dokter biasanya menyarankan bagi tekanan darah yang kurang itu perbanyak makan coklat atau perbanyak makan buah alpukat itu sangat cepat sekali untuk menormalkan kembali tekanan darah yang kurang apalagi kalau pak Aris ini menyukai bubur kacang hijau itu lebih baik. Pak Aris itu sudah menghabiskan dua kantung darah namun alangkah lebih baik jika pak Aris makan makanan yang di sarankan saja." ujar Via menjelaskan.


"Oh begitu ya sus, tuh dengarkan kamu Ris, kamu harus makan ya walaupun mama tahu kamu masih pada sakit kan badan kamu tapi kamu harus berusaha." celoteh mama Aris.


"Tapi mah makan manis nanti aku di semutin gimana dong!" ucap Aris menggoda mamanya yang sedang mengomelinya.


Kedua orang tua Aris pun keluar untuk membeli makanan yang di sarankan oleh Via, mereka meninggalkan Aris dan Via berdua di dalam ruangan. Suasana di dalam ruangan menjadi hening dan kaku tanpa ada obrolan atau pun pembicaraan yang biasanya selalu berdebat itu.


Via sudah menyelesaikan kegiatan membereskan peralatan nya. "Emh... karena sudah selesai kalau begitu saja permisi." ucap Via kaku. "Oh ya jangan di ulangi lagi acara tarik menarik suntik infusan, karena kalau hal itu terjadi lagi maka saya akan menyuntikkan kembali tangan anda." tambah nya.


Aris tersenyum tipis walaupun pun jutek tapi saat dia jadi perawat dia begitu lembut, itu membuat Aris merasa nyaman. "Kenapa anda senyum-senyum begitu apa ada yang lucu?" Via melihat Aris yang sedang mesem-mesem seperti ada hal yang lucu yang ia sedang pikirkan.


"Emh ti... tidak!" jawabnya gugup.


"Ya sudah kalau begitu saya keluar, ingat pesan saya!" ucap Via kembali ketus.


"Suster!" panggil Aris pelan ketika Via melangkahkan kakinya untuk keluar ruangan.

__ADS_1


Via menoleh kembali pada Aris yang memanggil nya. "Iya ada apa lagi?" sahut nya jutek, membuat Aris sedikit mendengus.


Aris membuka laci yang ada di sebelah nya dan membukanya lalu mengambil benda yang berada di dalamnya. "Ini, saya menemukan benda yang kamu miliki." tunjuk nya dan menyodorkan benda itu pada Via yang berdiri di hadapannya.


Via meraih dua benda itu dari tangan Aris dengan sedikit bingung karena kok bisa benda itu berada pada lelaki itu. "Kenapa benda ini bisa berada pada anda? Saya sudah mencari nya kemana-mana." ucap Via heran.


Aris menghela nafasnya panjang. "Saat kamu pakai jaket saya waktu itu benda itu ada di jaket saya mungkin kamu tidak sadar atau karena terburu-buru." sahut Aris menjelaskan kenapa barang Via ada padanya.


"Kenapa anda tidak mengembalikan nya pada saya, padahal saya kira ini jatuh di jalanan." ucapnya sedikit sebal selama ini ia mencari nya.


"Saya bingung caranya mengembalikan benda itu sama kamu, karena kan kamu tidak mau bertemu lagi sama saya." ucapnya santai.


"Ya... Anda bisa kirim lewat paket lalu alamatnya bisa anda kirim ke rumah sakit ini kan?" sergahnya.


"Saya belum sempat, untuk mengirimkan lewat paket lagipula bagaimana kalau salah kirim!" elaknya. "Tapi Allah ternyata punya rencana lain di balik kejadian ini, saya jadi bisa mengembalikan barang ini langsung sama kamu." sambung nya.


"Sepertinya anda terlihat senang mendapatkan kecelakaan ini!" sergah Via melihat ekspresi Aris itu.


Aris tersenyum simpul. "Bukan senang mendapatkan musibah nya tapi saya senang bisa mengembalikan benda milik kamu itu pada orang nya langsung jadi saya tidak bingung lagi." elaknya gugup.


"Ya sudah kalau begitu terimakasih!" ucap Via seraya memasukkan dua benda itu pada sakunya. Via beranjak lagi melangkah akan pergi namun langkahnya tertahan manakala tangan Aris menarik nya dengan lembut pada tangan Via, Via pun membalikkan tubuhnya namun kejadian tak terduga, saat Via membalikan tubuh nya ia tidak sengaja menubruk tiang untuk pengait infusan saat tangan nya Aris menarik tangan nya itu, kaki Via otomatis melangkah selangkah dengan oleng dan brug Via terjatuh menimpa tubuh Aris tepat di hadapan Aris yang sedang terbaring di tempat ia berbaring, dada mereka saling menyatu Via menahannya dengan kedua tangannya yang bertumpu pada kasur yang Aris temoatinagar tidak langsung menimpa tubuh Aris, wajah mereka begitu dekat dan mata mereka saling menatap satu sama lain, hembusan nafasnya pun sampai terasa di dua insan itu. Pandangan mereka terkunci satu sama lain.


Suara pintu terbuka menyadarkan mereka berdua, rekan-rekan Aris yang masuk setelah di beri tahu oleh orang tuanya yang baru saja keluar menyuruh mereka masuk kembali karena pemeriksaan Aris sudah selesai.


Aris dan Via otomatis melihat ke arah pintu dimana para rekan Aris yang sedang menatap ke arah mereka dengan terkejut.


"Wah sepertinya kita masuk di saat waktu yang tidak tepat." ucap Syam sahabat Aris merasa tidak enak saat melihat kejadian di antara sahabat dan suster Via yang terlihat sedang bermesraan. "Monggo komandan di lanjut!" goda Syam lalu mereka pun mundur kembali keluar dari ruangan Aris seraya menahan tawanya kerena sudah mengganggu mereka berdua.


Via yang sadar masih posisi di atas tubuh Aris pun mencoba bangkit dengan pelan, ketika Via bergerak dan mengenai tubuh Aris, lelaki itu meringis kesakitan karena saat Via bergerak Via tidak sengaja terkena pada luka kecelakaan yang Aris alami.

__ADS_1


"Oh maaf saya tidak sengaja." ucapnya gugup. "Kalau begitu saya permisi." sambung nya kaku seraya pergi meninggalkan Aris yang sedang tersenyum dan menahan rasa sakit luka nya yang masih basah.


__ADS_2