Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
berdebar


__ADS_3

"Ayok antar saya sekarang!" Via kembali ketus pada Aris karena dia sudah berani menatap wajahnya. Dan Aris menghela nafasnya malas. "Keluar lagi deh juteknya." gumam Aris.


Mereka berjalan menuju tempat motor Aris yang ia tinggal tadi. "Anda gila ya motor di tinggal begitu saja di tengah jalan seperti ini?" ucap Via heran bisa-bisanya dia memarkirkan motornya di tengah jalan.


"Mau bagaimana lagi ini darurat! Lagipula kan tidak bisa jalan juga kendaraan nya karena macet." elaknya santai. Aris membuka jaketnya di hadapan Via. "Ini pakai!" ucap Aris menyerahkan jaket nya pada Via.


Via mengerutkan dahinya tanda heran karena Aris tiba-tiba seperti itu. "Tidak usah keegeran kamu, memangnya kamu mau pakai baju yang berlumuran darah seperti itu?" sambung Aris menunjuk dengan dagunya pada pakaian Via yang begitu kotor dengan darah. "Kamu yakin masih mau berangkat kerja dengan pakaian kotor begitu?" tanyanya lagi.


Via menunduk pada pakaian yang ia pakai. Di lihat nya seragam putih khas perawat yang ia pakai tadi dari tempat ia tinggal, begitu kotor dengan banyak noda darah dimana-mana. Kain putih dengan noda merah tidak bisa ia sembunyikan apalagi ia bersihkan.


"Tidak apa-apa saya bisa ganti nanti di rumah sakit." sahut nya datar.


"Ya pakai saja jaket nya nanti di jalan pasti jadi perhatian orang yang melihatnya dengan pakaian banyak darah begitu." titah Aris.


Via berpikir ada benarnya juga ia harus memakai jaket agar tidak menjadi perhatian saat di jalan menuju rumah sakit. Dengan berat dan sungkan Via akhirnya meraih jaket yang Aris tawarkan lalu memakainya dengan perlahan sampai sebagian baju yang ternodai tertutupi oleh jaket Aris yang lumayan longgar di tubuh Via yang mungil.


Aris sedikit tersenyum namun hampir tidak terlihat saat ia melihat Via memakai jaket nya yang kebesaran. "Jangan senyum-senyum, anda mengejek saya!" Via melihat sekilas Aris sedang menertawakan nya.


"Aris tersenyum kembali. "Ini lebih baik kan?" sindirnya. Via hanya diam saja karena memang ada benarnya juga ia memakai jaket bisa menutupinya.


Di perjalanan mereka terdiam kembali tanpa banyak bicara. Via yang memakai jaket Aris yang kebesaran itu pun diam saja, tak ada di antara mereka yang mau memulai pembicaraan. Via tersenyum mengucap penuh syukur para korban kecelakaan tadi segera di tangani ya walaupun mereka terluka cukup parah di bagian kaki, apalagi Via mengingat korban wanita yang sedang hamil tadi harus mengalami hal yang semengerikan itu.


Tak lama mereka pun sampai di depan gerbang rumah sakit ternama tempat dimana Via bekerja. Via mulai takut karena dirinya yang terlambat datang ke pekerjaan membuat Via harus siap menerima konsekuensi apa yang akan ia terima dari pimpinan rumah sakit.


Kerena terlalu banyak melamun akan ketakutan yang ia alami karena keterlambatannya, motor yang Aris kendarai sudah sampai dari tadi berhenti tepat di depan gerbang rumah sakit, namun Via bergeming tidak sadar jika ia sudah sampai.

__ADS_1


"Ekhemm... ekhemm" Suara deheman dari Aris menyadarkan Via dari lamunannya.


"Eh su... sudah sampai ya!" ucapnya gelagapan.


"Dari tadi!" sahut Aris cepat melihat hal yang ada di depannya dengan dagu ia letakkan di atas helm yang di simpan di bagian depan motor dan ditahan oleh tangan kanan yang memegang helmnya itu, sedangkan tangan kirinya mengetuk-ngetuk tempat kunci motor dengan malas karena menunggu Via yang diam saja tidak turun-turun. "Nyaman ya duduk di motor saya, sampai tidak mau turun begitu!" sambung Aris mengejek Via.


Via melihat ke arah kiri dan kanan memastikan bahwa dia memang sudah sampai dan setelah ia sadar ternyata memang dia sudah sampai tepat di depan rumah sakit. Dengan sedikit malu pada laki-laki yang menyebalkan itu Via menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali karena ia sudah merasa sangat malu.


Via turun perlahan dari duduknya yang nyaman di atas motor Aris itu berdiri tepat di samping Aris yang masih duduk di motor nya dengan menatap cuek pada Via. "Kenapa tidak memberi tahu kalau sudah sampai!" ucap Via sebal sambil mendengus kesal.


Aris menghela nafasnya malas. "Dari tadi saya sudah kasih tahu kamu kalau kita sudah sampai tapi kamu nya saja dari tadi diam begitu, saking enaknya duduk di motor saya atau memang kamu gak mau turun dari motor saya, karena terlalu nyaman berdekatan dengan saya." jawab nya bangga dengan nada mengejek Via yang terlihat sedang menghilangkan kegugupan dirinya.


"Ih... amit-amit deh ini orang kepedean nya sudah akut tingkat tinggi!" sahut Via dengan mendelik kan kedua matanya.


"Sudah lah saya tidak mau berdebat lagi dengan anda, ini saya kembalikan jaket anda!" Via melepaskan jaket Aris itu dengan tergesa-gesa dan menyerahkan kembali pada pemiliknya dengan cepat. "Saya gak mau sampai tidak bisa mengembalikan jaket anda, maaf jaket nya saya tidak di cuci dulu karena saya tidak mau ada jaket anda di tempat saya, dan saya berharap ini pertemuan terakhir kita, semoga saya tidak bertemu lagi dengan anda!" ucapnya cepat lalu ia membalikkan tubuhnya untuk melangkah pergi masuk ke dalam rumah sakit, namun ia membalikkan tubuhnya lagi setelah ia mengingat sesuatu yang ia lupakan. Via menatap kembali pada Aris. "Terima kasih anda sudah mengantarkan saya kesini dengan selamat!" ucapnya cepat tanpa mendengar jawaban dari Aris Via langsung pergi meninggalkan Aris yang masih duduk diam di atas motor nya yang menatap punggung Via yang berlalu pergi.


Via dengan cepat ia berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit menuju tempat ia ditugaskan, dengan langkah yang begitu cepat sedikit berlari dengan pakaian yang penuh dengan noda darah yang mulai mengering itu. Orang-orang yang melihat Via berpakaian seperti itu membuat mereka saling menatap aneh dan heran pada Via namun Via tidak memperdulikan nya ia terus saja melangkah, karena tujuannya saat ini adalah membersihkan dirinya dahulu dan meminta maaf pada pimpinan dan juga rekan kerjanya.


Sofi sahabat Via yang pertama melihat Via datang langsung menghampiri Via yang telah datang dengan tergesa-gesa. "Kamu kemana saja Via...? Kamu gak kenapa-kenapa kan? tanyanya khawatir karena Via terlihat begitu kotor dengan darah di baju dan juga tangan nya.


"Sebentar ya jangan banyak tanya dulu aku bersih-bersih dulu!" sahut nya cepat melangkah masuk ke dalam ruangan karyawan ia mengambil seragam perawat yang bersih yang selalu Via siapkan di dalam loker karyawan yang sudah di siapkan. Via selalu menyiapkan seragam nya double di rumah sakit untuk jaga-jaga terjadi sesuatu seperti yang tidak diinginkan seperti kejadian hari ini.


Setelah Via selesai seorang teman kerjanya memanggilnya. "Via! Kamu di panggil pak Santoso ke ruangannya." ucapnya rekan kerja Via dengan membawa beberapa dokumen di tangan nya.


"Waduh langsung di panggil Via!" seru Sofi yang mendengar sahabat nya itu di suruh menghadap pak Santoso selaku pimpinan rumah sakit.

__ADS_1


Via menghirup nafas dalam-dalam mencoba menyiapkan diri untuk menghadap sang pimpinan rumah sakit. Setelah tenang Via yang sudah siap itu langsung melangkah menuju ruangan pak Santoso.


"Via!" panggil Sofi berteriak. "Ganbatte 💪." seru Sofi menyemangati sahabat nya itu dengan mengacungkan tangan yang mengepal ke atas.


Via membalikkan tubuhnya saat Sofi memanggilnya. "Ganbatte!" balas Via melakukan hal yang sama pada Sofi dengan tersenyum.


Tak lama Via sampai di depan ruangan pak Santoso itu dengan takut dan sedikit ragu untuk mengetuk pintu namun dia harus siap menghadapi semua ini, dia cukup berkata dengan jujur dan selanjutnya terserah pak Santoso mau bagaimana apa dia langsung dipecat karena terlambat datang atau dia di beri hukuman atas keterlambatannya itu.


Via menghela nafasnya panjang dan membuang nya perlahan lalu dengan memberanikan diri Via mengetuk pintu pak Santoso setelah terdengar suara dari dalam menyuruhnya masuk Via pun masuk ke dalam ruangan pak Santoso untuk menghadap nya.


"Suster Via silahkan duduk!" ucap pak Santoso mempersilahkan ia duduk dan Via pun mengikuti perintah pimpinan nya itu.


"Suster Via apa alasan kamu bisa terlambat masuk ke tempat kerja, kamu tahu kan tugas kamu apa disini?" tanya pak Santoso serius dan tegas.


"Maaf pak saya sudah salah, saya sudah terlambat masuk tadi, maafkan saya pak!" jawab nya pelan dan menundukkan kepalanya.


"Kamu tahu kan ada jadwal tugas kamu yang harus menyiapkan dokumen pasien yang akan di operasi hari ini. Dan kamu terlambat, rekan kamu tidak ada yang tahu kenapa kamu bisa datang terlambat! Panggilan telepon tidak di angkat pesan pun tidak di baca. Rekan kamu kelimpungan mencari dokumen pasien yang kamu siapkan. Untung pasien masih bisa bertahan bagaimana kalau keluarga pasien menuntut kita karena keteledoran kerja kita. Itu akan membuat repotasi nama rumah sakit kita akan hilang kepercayaan nya karena para pegawainya yang tidak baik dalam penanganan pasien." omel pak Santoso dengan tegas pada Via.


"Maaf pak saya salah karena sudah terlambat, maafkan saya pak, saya tidak akan mengulanginya lagi." balas Via pelan.


Pak Santoso menghela nafasnya panjang. "Untung kamu suster yang baik selama ini, saya harap ini kesalahan kamu yang pertama dan yang terakhir kalinya. Kamu itu suster berpengalaman rumah sakit dulu tempat kamu bekerja memindahkan tugas kamu kesini karena kamu perawat yang bisa di andalkan dan saya tahu itu maka dari itu saya tidak mau ada kejadian seperti ini lagi." jelasnya dengan tegas.


Via mengangguk pelan. "Iya pak saya tidak akan mengulanginya lagi." jawabnya pelan.


"Terima kasih kamu sudah mengerti, kalau begitu silahkan kamu keluar dan kembali pada tugas kamu lagi." ucapnya dengan tersenyum.

__ADS_1


"Baik pak, terima kasih." balas Via sopan seraya pamit, melangkah pergi keluar ruangan pak Santoso.


__ADS_2