
Setelah sampai di dalam ruangan dokter, Aris meletakkan Nisa di kasur tempat pasien untuk di periksa, dengan lembut dan hati-hati Aris menurunkan Nisa supaya Nisa segera di tangani oleh dokter.
Aris tersenyum melihat wajah Nisa yang di tekuk, Nisa nampak kesal karena ia sudah menggendong nya dan mengacuhkan permintaan Nisa yang menyuruhnya untuk menurunkan dia.
"Jangan marah Nisa... ini darurat!" goda Aris pada Nisa yang sedang cemberut karena masih kesal pada Aris sedangkan Nisa mendengus sebal.
Tak lama dokter kandungan pun datang dengan tersenyum manis menyambut Nisa. "Assalamualaikum ibu Nisa apa kabar?" sapa dokter itu ramah, kebetulan dokter itu adalah dokter yang selalu memeriksa nya saat Nisa cek kehamilan nya.
"Dokter?" tanya Nisa heran kenapa dokter yang selalu memeriksa nya ada di rumah sakit ini juga.
"Iya Bu Nisa, kebetulan saya sedang bertugas di rumah sakit ini." jawab dokter karena melihat Nisa yang begitu heran dirinya berada disini.
"Oh begitu ya, kabar saya sedang tidak baik dok." balasnya lirih.
"Oh ya saya sudah mendengar kabar tentang pak Adam, tadi saya melihat di ruang VVIP banyak sekali petugas dari kepolisian, saya penasaran makanya saya tadi cari tahu, saya terkejut setelah mendengar kabar pak Adam. "Semoga Bu Nisa dan keluarga tabah dalam menghadapi musibah ini." tutur dokter itu menenangkan Nisa yang sedang bersedih.
"Iya dok terima kasih." ucapnya pelan.
"Ok kalau begitu saya periksa dulu ya Bu, tadi suster bilang perut ibu Nisa ini sakit, mari kita cek kandungan nya ya." ucap dokter itu lembut.
Nisa pun di periksa oleh dokter cantik itu, setelah di periksa, dokter itu menjelaskan kenapa kandungan Nisa tiba-tiba sakit.
"Begini ya Bu, perut anda sakit itu karena ibu kelelahan dan terlalu banyak pikiran, saya tahu kabar pak Adam yang sedang di rawat itu membuat ibu Nisa merasa sedih dan terpukul tapi, anda harus ingat jika sekarang di dalam perut anda ada seorang bayi, bayi akan merasakan kesedihan ibu nya jika ibu nya terus saja menangis." ujar dokter itu menjelaskan.
"Ibu harus tetap tenang menghadapi musibah ini, ya walaupun ini memang tidak mudah tapi anda harus kuat demi calon buah hati anda. Apa anda sudah makan?" tanya dokter itu karena ia melihat Nisa begitu lemah dan terlihat pucat.
Nisa menggelengkan kepalanya. "Belum dok, saya tidak nafsu makan." jawab Nisa lemas.
Dokter itu menghela nafasnya panjang. "Ibu Nisa anda sedang hamil bayi anda membutuhkan nutrisi dari anda, jika ibu Nisa tidak makan atau minum bagaimana caranya calon bayi yang ada di perut anda sehat? Anda tidak mau kan jika terjadi sesuatu pada kandungan dan buah hati anda?" saran dokter itu berucap.
Nisa terdiam mencerna ucapan dokter nya itu, iya memang sudah abai akan kehamilan nya semenjak tadi malam karena Adam yang tidak memberikan kabar padanya, ia begitu khawatir akan suaminya sehingga ia tidak memperdulikan dirinya sendiri dan calon baru yang ia kandung.
__ADS_1
"Baik dok saya akan makan nanti." sahut nya pelan.
Setelah selesai di periksa Nisa kembali di berikan perawatan karena tubuh Nisa yang lemah dan tekanan darah nya yang rendah. Aris dan bibi masih setia menunggu Nisa yang masih diam tidak semangat.
"Neng Nisa... neng mau makan apa nanti bibi belikan di kantin?" tawar bibi dengan lembut supaya majikannya itu bisa terisi perutnya namun Nisa menggelengkan kepalanya bahwa dia tidak mau.
Aris yang masih berada di sana menemani Nisa juga mencoba menawarkan makanan yang menurut nya enak pada Nisa namun tidak berhasil. "Oke kalau kamu tidak mau makan! Apa kamu mau bayi yang ada di dalam kandungan kamu itu kelaparan, karena ibunya egois tidak memikirkan kesehatan bayi nya, makan tidak mau minum pun tidak mau, kamu ibu yang menyiksa bayi kamu sendiri, ibu yang tidak punya perasaan!" kesal Aris pada Nisa.
Nisa menatap wajah Aris. "Menyebalkan!" gerutu nya. "Ya sudah aku makan sekarang!" tambah nya.
Aris tersenyum dengan kata-kata nya yang sedikit keras terhadap Nisa, namun ia berhasil membuat Nisa ingin makan karenanya.
Setelah itu Nisa pun mau makan makanan yang Aris beli dari kantin.
Saat makan bibi pembantu nya memberi tahukan bahwa handphone Nisa dari tadi bergetar. "Neng handphone neng Nisa sepertinya ada telepon, dari tadi bergetar mulu neng." Dompet Nisa yang di dalamnya ada handphone ia serahkan pada majikannya itu.
Nisa pun menerima tas yang di berikan dari tangan bibi, ia juga penasaran siapa yang menelepon nya sampai berulang kali.
Nisa pun membuka dompetnya dan melihat panggilan di handphone nya. "Mama mertua aku bi!" Saat ia melihat jika panggilan telepon itu dari mama mertua nya.
Sedangkan Aris dia hanya diam saja melihat ekspresi Nisa yang seperti kebingungan. Lalu ia pun menghela nafasnya panjang. "Jawab aja Nis kasih tahu juga kabar suamimu sekarang, jangan ada kebohongan, karena musibah ini bukan untuk ditutupi." ujar Aris meyakinkan Nisa yang terlihat takut.
Nisa menatap wajah Aris dan juga bibi silih bergantian dan ia pun menghirup nafasnya dalam-dalam agar sedikit tenang saat memberi tahu kabar Adam pada ibu mertua nya, Nisa juga mengangguk pelan lalu menerima panggilan mama mertua nya.
"Assalamualaikum mah?" sapa Nisa lembut.
"Wa'alaikumussalam sayang kamu ada dimana? Mama sama papa sekarang sudah sampai depan rumah kamu dan Adam, rumah kamu sepi sekali sih kamu dimana? Mama telepon Adam juga gak di angkat-angkat, dasar tuh anak orang tua datang menjenguk malah di biarkan nunggu begini." ucap mama dengan nada kesal.
Nisa terkejut saat mama mertua nya sudah ada di rumah nya, Nisa lupa jika mertuanya itu akan datang ke rumah. "Mah, aku sekarang sedang di rumah sakit, maaf Nisa belum kasih kabar sama mama dan juga papa."
"Kamu sakit? Sakit apa sayang?" tanya mama panik.
__ADS_1
Dengan mata yang berkaca-kaca Nisa pun menjawab pertanyaan mama mertua nya.
"Bukan aku mah yang sakit tapi... mas Adam mah. Mas Adam tadi malam tertembak dan sekarang mas Adam kritis dia belum sadarkan diri setelah di operasi oleh dokter." ucap Nisa dengan terisak.
"Apa? Adam tertembak, bagaimana bisa? Di rumah sakit mana Adam di rawat?"
"Di rumah sakit x x, maaf Nisa baru bisa kasih kabar ke mama." jawab Nisa tidak enak.
"Tidak apa-apa sayang, ya sudah mama sama papa langsung kesana ya, kamu tunggu disana!" titah mama cepat.
Setelah Nisa memutuskan panggilan dengan mama mertua nya Nisa menatap Aris dan bibi yang tadi mendengar percakapan Nisa. "Mama nya mas mau kesini!" ucapnya dengan mata berkaca-kaca karena mencoba untuk menahan rasa sedihnya, dan di angguki oleh keduanya.
Sedangkan di tempat mama dan papanya nya Adam berada, mamanya Adam begitu terkejut setelah mendengar kabar Adam dari Nisa. "Ada apa mah? Apa yang terjadi pada anak kita?" tanya papa penasaran melihat ekspresi istrinya yang terlihat sangat terkejut dan langsung menangis di hadapan nya.
"Adam pah, anak kita tadi malam tertembak dan sekarang dia di rumah sakit." jawab mama dengan terisak.
"Apa?" papa terkejut juga mendengar kabar ini.
"Dan sekarang Adam kritis pah." tambah mama semakin terisak. "Pantas saja perasaan mama gak enak dari kemarin, perasaan mama begitu khawatir sama Adam, apalagi saat dia tidak menjawab panggilan telepon mama. Mama udah ngerasa kalau ada yang tidak beres sama Adam." lirih mama menangis di pelukan suaminya.
"Iya sudah kita sekarang ke rumah sakit, pasti Nisa juga di sana sedang menunggu Adam, kasihan Nisa jika dia sendiri disana saat mendapatkan musibah seperti ini, Nisa pasti sangat terpukul sekali mendapati keadaan Adam sekarang." ajak papa pada istrinya dan di angguki oleh mama.
Sedangkan di tempat Nisa berada ia masih harus beristirahat karena Nisa belum di ijinkan oleh dokter yang tadi memeriksa nya.
Aris beranjak dari tempat ia duduk menghampiri Nisa melihat Nisa yang sedang makan di temani bibi. "Nisa aku pulang dulu ya, dari kemarin aku belum sempat pulang dan aku juga belum mandi hehe, rasanya tidak enak sekali, pasti kamu tadi cium badan aku kecut banget makanya saat kamu aku gendong, kamu kesal begitu." ujar Aris cengengesan. Sebenarnya sedikit malu juga rasanya.
"Jorok kamu!" balas Nisa cuek, karena selama ia di gendong Aris iya tidak mencium bau badan Aris malah tercium parfum maskulin yang selalu Aris gunakan.
"Hehe iya aku jorok ya, ya sudah aku pulang nanti aku kesini lagi kok, kamu jangan sedih ya..."! goda Aris.
"Ish siapa yang sedih kalau kamu pulang ya pulang saja." gerutu Nisa sebal.
__ADS_1
"Hah... aku yang sedih kamu ngomong gitu." sahut Aris dengan ekspresi pura-pura sedihnya.
Nisa melihat Aris berekspresi seperti itu bukan membuat Nisa terharu atau merasa bersalah, malah ia sebal melihat nya, Nisa pun melempar kantong plastik yang ia pegang. "Lebay kamu!" ucapnya kesal.