Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
suami khayalan


__ADS_3

"Suster...!!! Tolong cepat periksa dia pingsan!" teriak Aris dengan panik menggendong Nisa masuk ke dalam rumah sakit dan meminta bantuan pada perawat yang sedang berjaga disana.


Suster itu pun dengan sigap berlari menghampiri Aris yang sedang meneriakinya untuk meminta tolong. " Baik pak." ucap beberapa suster disana lalu tubuh Nisa pun Aris pindahkan di tempat kasur pembawa pasien.


Setelah selesai pemeriksaan Nisa, Aris pun di panggil oleh seorang suster untuk masuk menemui seorang dokter yang menangani Nisa.


Aris pun masuk kedalam ruangan dokter itu. "Silahkan pak masuk, dan silahkan duduk." titah dokter yang menangani Nisa saat ia melihat Aris terlihat ragu-ragu untuk masuk.


Aris pun duduk menuruti apa yang di perintahkan oleh dokter itu. Dokter itu tersenyum ramah kepada Aris. Aris saat ini mengenakan seragam TNI nya ia baru saja beres dari apel malam nya.


"Begini pak, ada yang harus saya sampaikan kepada anda tentang istri anda." ucap dokter dengan sopan.


hah istri? dokter ini menganggap aku adalah suami Nisa, mau nya sih seperti itu.


"Emh apa yang akan dokter sampaikan kepada saya tentang Nisa, dia baik-baik saja kan dok?" tanya Aris penasaran dan sedikit takut ada sesuatu yang berbahaya.


Dokter itu pun tersenyum. "Tidak ada apa-apa pak saya hanya ingin memberi tahukan kabar gembira untuk anda, selamat ya istri anda sedang hamil!" ucap dokter itu dengan tersenyum.


Aris menganga sedikit terkejut dengan perkataan dokter itu. "Maksud dokter, Nisa sedang hamil, mengandung anak begitu?" tanya Aris mengulang ucapan dokter itu.


"Iya pak istri anda sedang mengandung seorang bayi, di perkirakan umur kehamilan baru menginjak usia 6 Minggu, selamat ya pak sekali lagi saya ucapkan!" ucap dokter itu tersenyum melihat ekspresi Aris yang sedikit terkejut.


Nisa hamil? ya Tuhan... aku senang sekali mendengar jika Nisa sedang hamil ya walaupun hati kecilku terasa sakit karena bukan aku yang menanam benih di rahim Nisa.


"Pak... pak" panggil dokter itu saat melihat Aris hanya diam saja saat ia berbicara.


"Ah iya... maaf, bagaimana dok?" tanya Aris karena ia tak mendengar penjelasan dokter tadi


"Anda begitu bahagia ya mendengar kabar kehamilan istri anda?" tanya dokter itu dengan senyum jenakanya dan di balas dengan senyuman Aris yang kaku.


"Begini pak, karena kehamilan ibu Nisa masih masuk dalam trimester satu jadi saya berpesan kepada anda agar selalu memperhatikan gizi dan nutrisi untuk ibu hamil dan juga calon bayinya, ibu Nisa pingsan tadi karena mungkin ibu Nisa kelelahan dan tekanan darah yang rendah jadi anda sebagai suami siaga harus bisa memperhatikan kebutuhan untuk calon ibu nya dan bla bla bla...


Aris hanya mengangguk kan kepalanya tanda mengerti.

__ADS_1


Di ruangan tempat memeriksa Nisa, Nisa sudah terbangun dari pingsannya, iya pun membuka matanya perlahan mencoba mengenali ruangan yang ia tempati terlihat dua orang suster yang sedang membereskan peralatan nya. "Emh suster apa ini di rumah sakit? Saya kenapa ya?" tanya Nisa pada perawat itu.


Dua suster itu pun tersenyum. "Anda sudah sadar Bu? Tadi ibu pingsan dan suami anda membawa kesini." jawab salah satu perawat.


"Suami? Dimana suami saya sekarang?" tanya Nisa cepat.


"Suami Bu Nisa sedang berada di ruangan dokter yang sudah memeriksa ibu Nisa." ucap perawat itu menjawab.


"Tolong antar kan saya keruangan dokter yang memeriksa saya tadi sus, bisa?" tanya Nisa lembut.


"Baik lah Bu kalau keadaan ibu sudah membaik saya antar ya bu." sahutnya.


Nisa mengangguk dan dengan pelan ia pun menuruni tempat tidur itu lalu melangkahkan kaki nya menuju ruangan dokter yang ada di sebelah ruangan yang kini Nisa tempati.


Sesampainya di depan pintu ruangan dokter ia pun langsung di ajak masuk oleh suster yang mengantar nya tadi setelah dokter mengijinkan Nisa masuk.


Nisa terkejut melihat Aris yang sudah duduk di depan dokter itu dan dokter menyuruh Nisa duduk di sebelah Aris.


"Apa ibu Nisa sudah baikan?" tanya dokter cantik yang ada di hadapannya dengan tersenyum ramah kepada Nisa.


Nisa pun membalas senyuman dokter itu. "Sudah lebih baik, oh ya dok saya tidak apa-apa kan? Saya tiba-tiba pusing sekali sebelum saya pingsan tadi apa saya sakit serius?" tanya Nisa penasaran.


Dokter itu pun tersenyum. "Tidak ada yang serius kok, tadi saya sudah menyampaikan kepada suami anda Bu Nisa kalau anda sekarang sedang hamil, selamat ya Bu Nisa..." ucap dokter itu melirik ke arah Aris yang duduk di sebelah nya lalu melihat Nisa yang sangat penasaran.


"Saya hamil dok?" tanya Nisa meyakinkan dokter itu tidak salah dan di angguki serta melempar senyum sebagai jawaban atas pertanyaan Nisa.


"Emh tunggu-tunggu suami?" tanya Nisa dengan mata yang melirik ke arah Aris dan ke arah dokter bergantian.


"Iya pak Aris ini suami anda kan Bu Nisa?" tanya dokter itu heran.


"Dia bukan suami saya dok, dia teman saya." ujar Nisa memberitahu.


"Oh maaf ibu Nisa dan pak Aris saya kira pak Aris adalah suami bu Nisa karena tadi yang membawa ibu Nisa adalah pak Aris, maaf sekali lagi." ucapnya tak enak hati.

__ADS_1


Aris hanya tersenyum kikuk sedangkan Nisa tersenyum tipis mendengar perkataan dokter itu.


Nisa... Nisa padahal aku sudah senang sekali mendengar dokter itu mengira aku adalah suami mu, ya walaupun bukan nyata tapi aku merasa hari ini aku sedang mengantar istri untuk periksa kandungan, setidaknya jika aku tidak bisa mendapatkan mu hari ini tidak akan pernah aku lupakan Nisa, tapi sebaliknya kamu merasa keberatan sekali saat dokter mengira aku suami mu, ya memang kenyataannya aku bukan suami mu juga bukan laki-laki yang kamu cintai dan bukan yang membuat mu hamil.


Setelah selesai diperiksa Nisa dan Aris pun keluar dari rumah sakit itu dan menuju pintu depan rumah sakit.


"Aku antar pulang ya." tawar Aris kepada Nisa.


"Tidak usah Ris aku pulang sendiri saja, aku sudah banyak merepotkan kamu dan membuang waktu kamu yang berharga." tutur Nisa sungkan.


"Tidak usah sungkan aku senang kok bisa bantu dan tolong kamu, tinggal bilang saja aku pasti siap dengan siaga." ucap Aris dengan semangat.


"Aku pulang sendirian saja, tempat tinggal ku dekat kok dari sini." ucap Nisa menolak tawaran Aris.


"Aku antar saja, sekalian aku pulang, aku khawatir sama kamu bagaimana kalau kamu pingsan lagi badan kamu masih lemas wajah kamu juga pucat, sudah jangan menolak, aku kan menolong teman sendiri apa salahnya." tutur Aris.


"Baiklah." jawab Nisa pasrah.


"Saya juga kenal sama suami kamu, kita pernah bertemu dan saling mengenal saat pak Adam sebelum menikah dengan kamu dulu, jadi jangan sungkan ya." ucap Aris saat di dalam mobil bersama Nisa.


"Iya mas Adam pernah cerita sama aku kalau kamu dan dia pernah beberapa kali bertemu saat bertugas." sahut Nisa lembut.


"Oh ya sebenarnya kamu tadi mau kemana? Kenapa kamu pergi tanpa pak Adam?" tanya Aris tanpa menatap Nisa karena ia fokus pada setir kendaraan nya.


"Aku tadi ingin bertemu dengan sahabat aku waktu kuliah dia sekarang tinggal di luar negeri jadi mumpung dia sedang ada di Jakarta aku mau bertemu dengan nya dan mas Adam lagi sibuk jadi dia tidak bisa menemani aku" jawab Nisa santai.


"Oh begitu, aku tadi sempat khawatir saat kamu tidak sadarkan diri." ucap Aris menatap Nisa dengan penuh kekhawatiran.


"Maaf ya aku sudah buat kamu susah." ujar Nisa.


"Bukan seperti itu Nisa kamu sama sekali tidak merepotkan atau membuat ku susah tapi aku sangat menghawatirkan mu itu saja." sergah Aris berucap.


Nisa tersenyum tipis kepada Aris. "Ya terima kasih." ucapnya pelan dengan senyum manisnya.

__ADS_1


__ADS_2