
Malam hari Nisa dan Adam sedang berada di kamar mereka bercerita kesana kemari canda tawa pun ada diantara mereka. "Sayang ini malam terakhir kita tidur di kamar ini ya." ucap Adam santai menatap wajah Nisa di dalam kamar bercahaya remang-remang.
Nisa mengerutkan dahi nya sedikit bangun karena terkejut mendengar perkataan Adam. "Maksud kamu mas apa?" tanya Nisa penasaran.
Adam tersenyum melihat ekspresi Nisa yang terkejut. "Iya mas mau kamar kita pindah ke kamar bawah, mas khawatir sama kamu kalau harus naik turun tangga apalagi kamu lagi sedang hamil begini." tutur Adam menjelaskan.
Nisa tersenyum lega mendengar penjelasan Adam tadi. "Iya mas terserah kamu saja." sahut Nisa pasrah.
"Nanti mas akan suruh bibi untuk membereskan kamar bawah dan membantu kamu membereskan apa yang kamu butuhkan nanti, jangan terlalu banyak barang yang kamu bawa ke kamar bawah cukup barang yang sering kamu pakai dan kamu butuhkan sehari-hari." ujar Adam. "Kita bukan pindah rumah tapi pindah kamar saja untuk sementara waktu, pakaian mas jangan dulu di bawa ke kamar bawah nanti mas saja sendiri yang bereskan." pinta Adam pada Nisa dan Nisa menganggukkan kepalanya saja mengerti permintaan Adam.
"Karena ini malam terakhir kita di kamar ini bagaimana kalau kita main dokter-dokteran, tenang saja mas akan pelan dan lembut kok memeriksa pasien mas nya." goda Adam mencolek Nisa karena gemas.
Nisa mencoba menggoda Adam dengan berpura-pura berfikir. "Emh gimana ya... aku kan gak sakit kenapa mesti diperiksa." balas Nisa dengan tersenyum menggoda suaminya yang sedang menunggu jawaban iya dari nya.
Adam menghela nafasnya pelan. "Emh gak mau ya." ujar nya kecewa. "Iya udah kita tidur aja besok mas berangkat pagi." tambahnya merasa kecewa dengan membalikkan badannya membelakangi Nisa dan memejamkan matanya berpura-pura tidur.
Nisa tersenyum melihat suaminya yang sedang kecewa karena tidak mau di ajak main dokter-dokteran. "Mas..." panggil Nisa lembut namun Adam masih berpura-pura tidur memejamkan matanya padahal Nisa tahu kalau suami nya itu hanya berpura-pura tidur. "Mas... aku gak bilang lho kalau aku gak mau main dokter-dokteran sama kamu, aku mau kok, soalnya dede yang ada di perut aku mau di periksa sama dokternya." bisik Nisa menggoda, pada telinga Adam yang sedang merajuk itu.
Adam pun yang mendengar Nisa berbisik seperti itu langsung dengan cepat membuka matanya membalikkan badannya yang tadi membelakangi Nisa menatap Nisa dengan penuh binar. "Serius?" tanya Adam semangat dan di angguki Nisa sambil tersenyum melihat Adam yang sangat bersemangat.
Adam pun dengan semangat cepat memeluk Nisa, tidak menunggu lama lagi takut istrinya itu berubah pikiran nya. Dan mereka pun main dokter-dokteran, dengan perlahan dan pasti Adam dan Nisa pun saling membutuhkan satu sama lain.
__ADS_1
***
Esok harinya pagi-pagi Adam sudah bersiap dengan memakai seragam polisi yang lengkap hari ini Adam akan melaksanakan tugas pagi nya dulu sebelum membereskan tugas nya yang akan ia tangani malam nanti. Rencana Adam dan tim anggota nya itu misi yang sudah di rencanakan itu akan di jalankan malam hari karena menurut informasi yang terpercaya raja narkoba itu akan datang ke apartemen nya esok hari.
"Sayang mas berangkat ya." ucap Adam sambil memakai jaket nya yang akan ia pakai saat mengendarai motornya.
"Sekarang mas..." balas Nisa pilu.
Adam melihat wajah Nisa yang pilu merasa menjadi berat meninggalkan Nisa istrinya itu. Adam menghela nafasnya pelan. "Sayang kamu tidak apa-apa kan mas tinggal? Nanti bibi akan menemani kamu di sini, sebelum mama atau ibu datang ke Jakarta." ucap Adam merasa tidak tega meninggalkan istri nya. Adam sudah dapat kabar kalau orang tua nya dan ibu Nisa akan datang berkunjung menemani Nisa tapi Adam tidak tahu mereka datang nya kapan sekarang atau besok.
"Iya mas aku gak apa-apa, kamu hati-hati ya saat bertugas nanti, jaga hati kamu dan juga jaga diri kamu mas." balas Nisa semakin sedih.
"Mas tadi sudah suruh bibi untuk membersihkan kamar bawah, ingat kamu jangan sering naik turun tangga ya." tutur Adam dengan lembut.
"Hemm... karena sekarang perut kamu ada bayi kita mas jadi agak susah buat meluk kamu, sayang banget sama kalian berdua kalian adalah anugerah terindah yang mas dapat dari Allah." ucap Adam pilu, semakin erat memeluk Nisa dan mengelus perut Nisa yang semakin hari semakin membesar karena tumbuh nya seorang bayi di dalam perut Nisa buah hati nya.
Nisa mengeluarkan air mata nya yang tiba-tiba saja mengalir di pipi mulusnya. "Jangan menangis, mas hanya pergi untuk bertugas bukan untuk meninggalkan kamu dengan perempuan lain untuk berselingkuh." goda Adam menghapus air mata Nisa yang jatuh karena menangisi kepergian nya.
"Ih mas... awas ya kalau kamu berani seperti itu aku akan laporkan perbuatan kamu itu sama mama dan papa juga ibu biar kamu di pecat jadi anak sama mantu!" ancam Nisa bergetar karena menahan kesedihannya ditinggal Adam bertugas.
"Aww serem ah ancaman nya itu, mas gak akan berani seperti itu saya gak akan macam-macam kok mas kan takut kehilanganmu sayang..." gombal Adam merayu Nisa agar tidak marah dan sedih dan Nisa malah cemberut di berikan gombalan seperti itu.
__ADS_1
"Iya udah mas berangkat ya jaga diri kamu ya jaga calon anak kita ini dengan baik jadikan anak kita anak yang Sholeh dan sholehah." ucap Adam mengecup kening Nisa dengan sangat lama, ia pun sebenarnya berat meninggalkan nya bertugas apalagi ia kan di tinggalkan beberapa hari.
"Mas..." panggil Nisa pelan saat Adam beranjak pergi.
Nisa memanggil Adam pelan namun masih terdengar oleh telinga Adam membuat Adam yang sudah menaiki motor nya dan sedang memakai helm nya pun menghentikan kegiatannya itu lalu menatap Nisa yang sedang menatapnya dengan tatapan sendu. Lalu Adam pun kembali menghampiri Nisa yang masih berdiri menunggu nya di depan pintu mendekati Nisa meraih tubuh Nisa memeluk nya dengan begitu erat dan Nisa pun membalas pelukan suami nya itu.
"Mas..." lirih Nisa.
"Sayang, berikan mas dukungan dan doa dari kamu supaya mas tidak berat meninggalkan kamu saat akan bertugas seperti ini." pinta Adam lirih setengah berbisik di telinga Nisa saat mereka masih berpelukan.
"Mas aku akan selalu mendoakan kamu dan juga akan terus mendukung kamu, tapi aku gak tahu kenapa perasaan aku sedih begini aku gak rela kalau kamu pergi bertugas, apa tidak bisa mas memberikan tugas ini kepada orang lain saja?" ujar Nisa mengeluarkan rasa unek-unek di dalam hatinya.
Adam melepaskan pelukannya dan menatap wajah Nisa yang memerah karena menahan tangisnya, ini pertama kalinya istrinya itu protes dengan pekerjaan nya selama ini. "Mas tidak bisa sayang, ini tugas mas tanggung jawab mas, saya tidak boleh lepas tanggung jawab ini karena tugas yang harus mas kerjakan, mas tahu kamu sedih dan juga khawatir sama mas, tapi tolong jangan begini ya, mungkin kamu sedih karena kamu sedang mengandung anak kita, perasaan ibu hamil kan seperti itu sayang." tutur Adam lembut menenangkan Nisa yang sedang melow.
"Tapi... mas aku... apa aku boleh ikut kamu mas?" tanya Nisa dengan tatapan penuh harap.
"Tidak boleh sayang kamu lagi hamil dan mas kan akan pergi bertugas masa bawa-bawa istri bahaya dong! Nanti kalau ada yang cubit kamu gimana?" goda Adam supaya istri nya itu tidak begitu khawatir dengan kasus serius yang akan ia tangani.
"Baiklah aku akan menunggu kamu di rumah saja." dengan pasrah Nisa berucap dan tidak sengaja Nisa menitikkan air matanya yang sudah sangat tidak bisa di tahan lagi.
"Sayang jangan menangis, mas jadi semakin berat untuk pergi." lirih Adam menghapus air mata Nisa yang jatuh di pipinya.
__ADS_1
Adam pun pergi mengendarai motor kesayangannya meninggalkan Nisa yang masih setia menunggu Adam suami nya sampai menghilang dari pandangan matanya.