Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
perhatikan


__ADS_3

"Alhamdulilah ya mas akhirnya kamu bisa pulang juga ke rumah." ucap Nisa menatap Adam suaminya dengan senyum penuh kebahagiaan.


"Iya alhamdulilah, karena doa dari istri Sholehah yang selalu mendoakan mas Allah mengabulkan permintaan kamu sayang." jawab Adam membalas senyuman Nisa.


"Saat kamu kritis aku, mama, papa, ibu dan juga orang-orang yang sayang sama kamu khawatir sekali mas, apalagi saat dokter bilang kalau kamu koma dan dokter tidak tahu kapan kamu akan sadar atau tidak. Kami sangat terpukul mas saat itu, aku juga hampir tidak memperdulikan anak kita yang aku kandung ini." lirih Nisa menceritakan kesedihannya pada saat Adam tidak sadarkan diri.


"Aku takut kamu ninggalin aku mas, hal buruk menghantui pikiran aku waktu itu." tambahnya. "Aku selalu minta sama Allah memohon pada Nya agar kamu segera sadar dan sehat kembali." Nisa menghela nafasnya berat. "Tapi Alhamdulillah sekarang kamu sudah sembuh dan bisa berkumpul lagi bersamaku dan juga keluarga besar kita." ucapnya penuh syukur.


Adam tersenyum merangkul istrinya membawa nya pada pelukan hangatnya Adam pun memeluk Nisa dengan erat. "Terima kasih sayang kamu sudah bersabar menungguku dan juga selalu mendoakan ku, maaf mas membuat mu khawatir apalagi kamu sedang mengandung anakku." ucap Adam masih memeluk Nisa dalam dekapan nya lalu ia pun mengusap perut Nisa. "Bagaimana keadaan buah hati ku ini apa dia selalu membuat mu repot?" tanya nya terus mengelus perut Nisa.


Nisa menepis tangan Adam yang mengelus perutnya dengan tangan Adam membuka kancing baju Nisa sehingga tangan Adam bisa menyelusup masuk kedalam pakaian yang Nisa pakai dengan sedikit di gelitikin membuat Nisa menjadi geli. "Ih mas... geli jangan begitu!" ucapnya cemberut dan memukuli tangan Adam yang nakal itu.


Adam tergelak melihat Nisa istrinya yang ia goda. "Kangen tahu...Kapan dong?"


"Apa sih kamu mas! Kamu lagi sakit ya tapi otak kamu mesti di cuci." sebal Nisa berucap saat suaminya berpikir mesum padahal ia masih dalam keadaan sakit.


"Apa sih kamu sayang, otak kamu tuh yang mesti di cuci, mas cuma tanya kapan tuh kamu mau di USG aku kangen pengen lihat anak kita gerak-gerak di dalam perut dan mas kan juga pengen tahu anak kita ini calon raja atau calon ratu. Begitu!" ucap ada menjelaskan apa yang tadi dia pikirkan.


"Oh... Hehehe." sahut Nisa salah tingkah karena malu sendiri.


Adam kembali tergelak melihat wajah Nisa istrinya merah merona karena malu. "Emh jangan-jangan kamu lagi mau ya...?" goda Adam semakin menertawai Nisa karena ia semakin malu.


"Mau apa sih? Aku gak ngerti ucapan kamu!" ucapnya sambil beranjak pergi meninggalkan Adam yang terus saja menggoda nya.


"Sayang kamu mau kemana? Jangan pergi, hei...sayang... sayang." panggilnya dengan mesra.


***


Di tempat Aris, Aris sudah dua hari ini ia tidak menjenguk Adam dia juga tidak pergi ke rumah sakit untuk melihat bagaimana keadaan Adam saat ini karena kesibukannya sebagai TNI.


"Sudah dua hari ini aku tidak menjenguk pak Adam dan juga tidak melihat Nisa. Bagaimana ya keadaan pak Adam sekarang? Apa aku jenguk pak Adam saja ya ke rumah sakit, mumpung hari ini aku ada waktu untuk menjenguk nya?" gumam Aris pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Oke lah aku ke rumah sakit saja biar tidak penasaran juga sekalian bisasa bertemu dengan Nisa." ucapnya dengan semangat dan tersungging senyuman di bibirnya.


Aris pun dengan cepat mengeluarkan motor nya untuk ia kendarai menuju rumah sakit tempat dimana Adam di rawat.


"Hei Ris kamu mau kemana?" tanya Syam teriaki sahabat nya itu saat melihat Aris dengan buru-buru keluar dari rumah dengan menggunakan setelan pakaian biasa.


"Rumah sakit." teriaknya ia menjawab pertanyaan sahabat nya itu dari luar rumah sedangkan Syam di dalam rumah.


"Rumah sakit? Hah... pasti ingin bertemu Nisa lagi dengan modus menjenguk pak Adam." gumam Syam yang sudah tahu akal bulus sahabat nya itu. "Aris...Aris... kapan sih kamu sadar nya. Cinta sih cinta tapi kalau istri orang bukan cinta namanya tapi apa ya?" Syam mencoba berpikir. "Ah bodo amat lah mending tidur daripada mikirin masalah orang." tambah nya.


Di lorong rumah sakit saat Aris akan melangkah menuju ruangan yang ia tuju ia melihat suster galak itu sedang membawa seorang pasien tanpa memperdulikan Aris yang sedang berjalan mengikuti nya padahal mereka seperti beriringan namun Via yang sadar jika laki-laki yang ia benci itu ada di dekatnya ia tampak tidak memperdulikan keberadaan Aris. Padahal tadi mereka sempat saling menatap tajam. Kalau saja Via sedang tidak membawa pasien ia akan membuat perhitungan dengan laki-laki itu tapi karena ia sedang membawa pasien ia tidak mau membuat pasien terganggu.


Setibanya di ruangan depan Aris langsung saja menuju ruangan Adam di rawat dengan percaya dirinya ia mengetuk pintu dan langsung membuka ruang kamar dimana Adam di rawat. "Eh maaf?" ucap Aris tidak enak saat di ruangan itu ternyata bukan pak Adam atau pun Nisa. "Apa aku salah kamar ya? Apa pak Adam sudah di pindahkan?"


"Sus apa pasien yang bernama pak Adam yang kemarin di rawat inap di sini di pindahkan atau bagaimana ya?" tanya Aris pada seorang perawat yang sedang melewati nya.


"Oh pak Adam yang di rawat di kamar ini sudah pulang dua hari yang lalu pak." sahut nya.


Pulang?" tanya Aris meyakinkan suster itu dan suster itu pun mengangguk. "Iya pak, pak Adam sudah pulang." jawabnya cepat.


Seorang suster yang di hadapan Aris melihat Aris yang hanya diam mematung membuat suster itu heran. "Emh pak kalau tidak ada lagi yang bapak tanyakan saya permisi!" ucap suster itu pergi meninggalkan Aris yang hanya diam saja.


Aris tersadar dalam lamunannya dan melihat suster yang ia tanyai sudah tidak ada di hadapannya. "Aku telpon Nisa saja." ucapnya.


"Assalamualaikum Nisa!" ucap Aris saat panggilan teleponnya Nisa angkat.


"Wa'alaikumussalam Aris, ada apa?"


"Apa pak Adam sudah pulang? Kenapa kamu tidak memberitahu ku, aku sekarang di rumah sakit berniat untuk menjenguk pak Adam tapi suster bilang kalian sudah pulang." ucap Aris pelan.


"Iya Ris alhamdullilah mas Adam sudah di ijinkan pulang oleh dokter dua hari yang lalu, maaf Aris aku lupa mengabari kamu." jawab Nisa.

__ADS_1


Aris menghela nafasnya pelan. "Tidak apa-apa Nisa aku juga yang salah karena dua hari lalu aku sedang bertugas jadi aku tidak sempat mengantarkan pak Adam pulang ke rumah." sahut Aris.


"Iya tidak apa-apa Aris aku bisa mengerti kok mas Adam juga sudah tidak apa-apa jadi tidak usah di khawatirkan."


"Apa aku boleh menjenguk pak Adam di rumah?" tanyanya.


" Boleh, silahkan Ris! jawab Nisa.


Panggilan telepon pun berakhir dan Aris pergi dengan cepat ia melangkah. Di perjalanan menuju parkiran ia tidak sengaja di tubruk oleh seorang laki-laki. "Maaf!" ucapnya bersamaan.


"Dokter Lucky?" panggil Aris terkejut melihat laki-laki yang menubruk nya itu dokter yang ia kenal saat ia memeriksa keadaan ibunya yang dulu pernah di rawat, dan dokter ini lah yang menangani ibunya yang sedang sakit dulu.


"Emh pak Aris ya!" jawabnya saat ia mengingat bahwa laki-laki yang ada di hadapannya itu anak dari pasiennya yang ia tangani dulu. "Pak Aris sedang apa di sini? Apa ibu anda baik-baik saja?" tanyanya heran Kenapa bisa bertemu dengan lagi.


"Ibu saya baik-baik saja kok dok, saya kesini hanya menjenguk teman saya yang sedang sakit." balas Aris menjelaskan keberadaan nya.


"Oh begitu, ya.


Saat mereka sedang asyik berbincang-bincang tiba- tiba seorang suster datang menghampiri dokter Lucky. Suster Via mengerlingkan matanya malas saat ia melihat laki-laki yang sedang berbicara dengan dokter Lucky itu ternyata laki-laki yang sangat tidak mau ia temui. "Dokter Lucky maaf saya mengganggu, saya hanya mau memberikan laporan ini kepada dokter, laporan ini sudah saya isi ulang formulir pasien dengan benar dan bapak bisa cek ulang lagi, ini laporan atas pasien yang dokter tangani nanti." ucapnya menjelaskan apa yang tadi dokter Lucky minta padanya untuk mengecek dulu identitas pasien sebelum ia pulang. "Kalau begitu saya permisi!" tanpa melihat Aris yang sedang menatapnya.


"Emh pak Aris saya permisi ya masih banyak pekerjaan." elak dokter Lucky itu padahal ia akan mengejar Via yang terlihat akan pulang karena jam kerjanya sudah selesai. Dokter itu pergi mengejar Via yang sangat cepat ia berjalan.


"Suster Via tunggu!" panggil dokter itu dan Via pun menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap ke arah dimana dokter itu memanggilnya.


"Ada apa ya dok? Jam kerja saya sudah selesai saya mau pulang!" balas nya malas.


"Sebentar Via, aku cuma mau menanyakan ajakan aku kemarin sama kamu apa kamu sudah memikirkan nya?" tanyanya penuh harap.


"Emh maaf dok, sepertinya saya tidak bisa saya sudah ada janji dengan teman saya, maaf ya dok." ucap Via sopan.


"Oh begitu ya. Apa lain kali aku bisa mengajak kamu, kemana gitu yang kamu mau?" tawar nya.

__ADS_1


"Kita lihat saja nanti ya dok!" seru Via. "Permisi dok!" ucapnya cepat.


Via pun pergi meninggalkan dokter Lucky dan dokter itu hanya menatapnya saat Via pergi. "Aku akan terus berusaha untuk mendapatkan kamu Via bagaimana pun caranya!" batinnya menatap ke arah dimana Via pergi. "Untuk saat ini aku akan terus bersabar untuk mendapatkan perhatian kamu tapi nanti aku akan mendapatkan kamu!" gumam nya.


__ADS_2