
Ketika Nisa sudah di depan pintu dan akan membuka nya Rangga pun memanggil nya. "Queennisa tunggu!" panggil Rangga saat melihat Nisa yang hendak pergi itu.
Nisa pun menghentikan kegiatan membuka pintu lalu memutar balikan tubuhnya menatap Rangga yang memanggil nya tadi berdiri di depan mejanya.
"Kenapa anda memanggil saya, tadi anda tidak mau memberikan alasannya kepada saya lalu sekarang anda ingin apa lagi?" tanya Nisa kesal.
"Saya mencintai mu Queennisa!" aku Rangga mantap.
Jleb... Hati Nisa mendadak kelu diam tak bisa berkata apa-apa. "Saya mencintai kamu Queennisa! Kamu perempuan yang bisa membuat ku jatuh hati, sikap kamu yang lembut dan penuh perhatian membuat ku begitu tertarik padamu." ucap Rangga menatap Nisa penuh keseriusan.
Nisa tersenyum sinis. "Cinta? Ini bukan cinta! Ini obsesi anda, bahkan anda tega menyakiti laki-laki yang saya cintai, cinta tidak seperti ini pak Rangga yang terhormat!" jelas Nisa dengan sinis.
"Saya tahu saya salah, tapi saya berbuat seperti itu karena saya cemburu melihat kamu dengan nya selalu bersama, bahkan kamu tidak sadar kalau saya begitu mencintai kamu, saya pikir jika saya memberikan perhatian lebih kepada kamu, kamu akan mengerti tapi ternyata kamu tidak menyadari nya." jelas Rangga frustasi.
Rangga membalikkan tubuhnya sehingga membelakangi tubuh Nisa, ia menyembunyikan kesedihannya di hadapan Nisa. Tak ingin kesedihan nya di ketahui Nisa cukup perasaan nya saja yang Nisa ketahui.
Nisa merasa tidak enak kepada Rangga melihat kesedihan nya di sembunyikan, tapi perbuatannya yang ingin mencelakai Adam membuat nya merasa kesal dan kecewa. Bagaimana jika waktu itu Adam tidak bisa di selamat kan atau tubuh nya menjadi cacat karena perbuatan jahatnya Rangga.
"Sekarang sudah jelas, kalau begitu saya permisi." ucap Nisa tegas dan langsung pergi keluar dari ruangan pak Rangga.
Rangga menghela napas panjang, melihat Nisa yang pergi begitu saja meninggalkan nya setelah Rangga mengungkapkan perasaannya. "Apa saya tidak berarti sama sekali di hati kamu Queennisa? Kamu seakan tidak peduli dengan perasaan saya yang begitu dalam kepada mu." ucap Adam sinis ia pun berteriak frustasi. "Aaaa... bodoh... kamu Rangga... bodoh!"
Ketika Nisa keluar dari ruangan Rangga tanpa sengaja ia menabrak Rahma saat Rahma baru saja datang untuk menemui Rangga. "Aww... Nisa elu kenapa?" tanya Rahma saat melihat wajah Nisa yang sembab dan terburu-buru untuk pergi.
Nisa tidak menjawab pertanyaan Rahma ia langsung pergi meninggalkan Rahma yang menatapnya dengan tatapan bingung.
"Dia kenapa? Sampai dia gak jawab pertanyaan gue!" ucap Rahma heran. Rahma pun menggeleng-gelengkan kepalanya aneh lalu ia pun segera menemui Rangga, om nya.
Ketika didepan ruangan om nya, Rahma langsung masuk tanpa mengetuk karena memang Rahma sudah terbiasa seperti itu dan Rangga tidak mempermasalahkan nya.
__ADS_1
"Sore om ku sayang." goda Rahma pada Rangga dengan tangan bergelayut manja.
"Mau apa sih kamu kesini?" tanya Rangga kesal.
"Elu kenapa om? Apa salah gue, baru aja datang elu udah kesal aja sama gue." ucap Rahma balik sebal.
Rangga duduk di kursi kepemimpinan nya memijit pelipisnya yang berdenyut. "Teman kamu mengundurkan diri!" ungkap Rangga.
Rahma melongo. "Nisa berhenti bekerja dari sini, kenapa om? Ada masalah apa kok dia gak cerita sama gue." ujar Rahma.
"Cerita nya panjang dan om yang salah di sini, sudah membuat Nisa marah sama om dan sekarang dia menjauh." ungkap Rangga menyesal.
"Apa Nisa udah tahu kalau om punya perasaan sama dia?" tanya Rahma penasaran, karena Rahma sudah tahu bahwa om nya itu memiliki perasaan terhadap Nisa sahabat nya itu.
Rangga mengangguk membenarkan
Rangga menghela napas berat. "Bukan karena masalah itu, ada masalah lain yang membuat Nisa marah dan kecewa sama om, dan om belum bisa cerita sama kamu Rahma, ini masalah antara om, Nisa dan juga tunangan nya." ucap Rangga menjelaskan.
Rahma menatap Rangga. "Apa masalahnya berat, dan kenapa harus pak Adam tunangan Nisa juga terbawa-bawa, atau jangan-jangan pak Adam juga sudah tahu kalau om Rangga mencintai Nisa?" pertanyaan-pertanyaan yang ingin Rahma katakan dalam hati nya, namun hanya bisa dalam hati Rahma berucap.
"Ok gue ngerti kalau om belum mau cerita sama gue, tapi om harus segera menyelesaikan masalah kalian ini." ujar Rahma.
***
Nisa yang sedang kalut dengan perasaan nya itu pun tak langsung pulang ke kontrakan nya karena dia butuh suasana yang tenang, ia pun pergi ke sebuah tempat dimana suasana yang asri dan tenang pada sore hari.
Sedangkan Adam yang dari tadi menunggu Nisa di kontrakan nya pun sangat bingung kenapa Nisa tidak membalas pesannya, padahal dari tadi Adam mengirimkan pesan kepada Nisa. Adam tahu kalau Nisa pergi bekerja hanya untuk memberikan surat pengunduran dirinya saja. Jadi di pastikan Nisa sekarang sudah tidak bekerja lagi.
"Sudah mulai malam tapi Nisa belum kembali, kemana dia?" Suara hati Adam yang menghawatirkan Nisa.
__ADS_1
"Ah kenapa saya lupa seperti ini sih, saya kan sudah memasang GPS di handphone nya saya akan melacak Nisa sekarang berada dimana." gerutu Adam pada diri nya sendiri.
Bodoh...bodoh... bodoh
Setelah menemukan keberadaan Nisa sekarang dimana Adam pun langsung pergi menuju tempat dimana Nisa berada, dengan menggunakan motor kesayangannya Adam melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya disana Adam mencari Nisa, disana masih ada banyak orang yang berlalu lalang, ada yang membawa pasangan, keluarga dan juga teman. Adam terus mengedarkan pandangannya mencari perempuan yang ia cari, dan ketika ia mencari tertangkap lah oleh matanya seorang gadis berjilbab duduk sendirian sedang memegang buku dengan kening yang ia tempelkan pada buku itu. Adam sudah mengetahui kalau itu adalah tunangan nya terlihat dari tubuhnya dan pakaian yang ia pakai saat tadi berangkat bekerja.
Adam mendekati Nisa dengan langkah pelan, Adam yang memakai celana pendek selutut berwarna hitam dan kaos polos panjang berwarna abu yang pas di tubuhnya, dengan menggunakan jam tangan berwarna hitam yang melingkar di tangan kanannya, membuat Adam yang tampan terlihat santai.
Nisa belum menyadari ada Adam di belakang tubuhnya, dengan pelan Adam pun mendekat sangat dekat lalu Adam pun mengusap kepala Nisa dengan lembut. "Ayo kita pulang." ajak Adam berbisik pada telinga Nisa.
Nisa yang terkejut ada orang yang mengusap kepala dan berbisik langsung refleks berdiri dan memukul nya dengan buku yang ia pegang.
"Aduh... aduh." Adam mengaduh kesakitan saat Nisa terus memukulnya dengan buku tebal miliknya itu.
"Mas Adam ngapain disini? Kenapa mas tahu kalau aku ada disini?" tanya Nisa penuh selidik saat ia tahu yang mengusap kepala nya adalah Adam.
Adam tersenyum lalu menunjukkan telunjuk ke dadanya. "Hati saya yang mengatakan kamu disini." ucap Adam bercanda.
Bugh... sebuah pukulan buku tebal melayang pada dadanya Adam yang sangat dekat di hadapannya. "Apa sih jawabnya gak bermutu!" ucap Nisa ketus.
"Ih kamu Kdrt ya sama saya, nanti saya akan bawa kamu ke kontrakan saya untuk di eksekusi." Adam melontarkan candaan nya.
Nisa mendelik mata nya kesal.
"Ayok kita pulang sudah malam ini anak gadis gak boleh keluar malam-malam bahaya!" ujar Adam mengajak Nisa pulang.
"Kita makan malam dulu ya." ajak Adam yang di angguki oleh Nisa.
__ADS_1