
"Hadeeeeh ini pasangan pengantin nempel terus kayak nasi lembek." ucap Dimas sebal melihat pasangan halal ini selalu berduaan serasa dunia milik berdua yang lain hanya ngontrak.
"Syirik aja kamu, makanya nikah!" sahut Adam mendengar adik iparnya berucap seperti itu.
Jleb terasa menusuk perkataan Adam ke dalam hati Dimas. "Pengen nya bang nikah tapi masih nganggur apa daya ku bang yang masih berprofesi sebagai mahasiswa." jawabnya dramatisir.
"Kamu beneran mau nikah? Gak nyangka kamu mau nikah semuda ini, kakak bilangan ya sama ibu." ucap Nisa sedikit terkejut dengan pernyataan adiknya itu.
"Ih siapa yang mau nikah sekarang kak Nisa... bang Adam tuh nyuruh aku nikah!" sahut Dimas menyalahkan Abang ipar nya.
"Ih kok jadi saya yang di salahkan." jawab Adam sebal.
"Lah tadi Abang suruh aku nikah!" sahut Dimas tak mau kalah.
"Udah-udah malah pada saling lempar sih, kalau kamu mau nikah kakak bakal bilang sama ibu ni sekarang biar kamu nanti ibu nikahi." ancam Nisa pada adiknya.
"Ih jangan kak aku kan cuma asal jawab aja tadi, bang tolongin napa kak Nisa jangan bilang sama ibu." rengek Dimas pada Adam dengan memelas.
"Biarin lah nikahin aja biar kamu gak syirik sama kita berdua." jawab Adam santai.
"Elah si Abang!" Dimas merenggut kesal.
"Aku sebenarnya mau ngobrol sama kak Nisa soal hubungannya dengan bang Aris aku penasaran sama mereka bertiga." batin Dimas dalam hatinya.
***
Setelah sore hari Adam pergi ijin untuk mengunjungi temannya sekalian dia akan pergi untuk bertugas. "Sayang mas berangkat dulu ya, nanti kamu sama Dimas aja ya di rumah, kalau ada apa-apa telpon mas langsung." pamit Adam pada Nisa.
"Oke siap, mas hati-hati ya di jalan." ucap Nisa lembut.
"Iya doain mas selalu ya." pinta Adam lembut dengan memberikan kecup sayang di keningnya. "Doain ayah ya dapat rejeki yang banyak." ucap Adam mengelus perut Nisa yang sudah tumbuh calon buah hatinya.
"Amiin... ayah doa bunda dan Dede selalu menyertaimu." sahut Nisa dengan gaya bicara anak kecil.
Adam tersenyum bahagia mendapatkan perhatian seperti ini dari Nisa rasanya Adam tak ingin jadi pergi bekerja karena istrinya ini selalu membuat nya merindu.
__ADS_1
"Assalamualaikum sayang-sayang ku." ucap Adam dengan mengecup perut Nisa yang masih datar.
"Wa'alaikumussalam, mas ku sayang." jawab Nisa pelan karena sedikit malu mengucapkan sayang pada suaminya itu.
"Coba mas mau dengar kata terakhir nya lagi." ucap Adam meminta.
"Kata apa mas, udah sana berangkat nanti kamu terlambat lagi." ucap Nisa mengalihkan permintaan Adam dan mendorong tubuh Adam pelan supaya lekas pergi.
"Ayolah ucap kan kata yang terakhir tadi, mas mau dengar lagi, kalau gak mas gak mau berangkat!" ucap Adam manja dan menggemaskan.
"Iya iya, maksa deh kamu mas, selamat bekerja mas ku sayang..." ucap Nisa malu-malu.
Adam pun tersenyum dan pergi untuk bekerja dengan hati yang bahagia.
Setelah kepergian Adam Dimas yang melihat Nisa kakaknya itu sudah sendiri tanpa ada Adam di samping nya, Dimas pun menghampiri Nisa yang sedang duduk di ruang televisi.
"Kak boleh aku ngobrol-ngobrol sama kakak?" tanya Dimas dengan serius.
"Mau ngobrol apa sih serius amat kayaknya?" tanya Nisa penasaran.
"Emh itu... itu... apa, emh ada hubungan apa sih antara kakak sama bang Aris?" tanya Dimas penasaran dan penuh hati-hati.
"Apa kakak gak sadar kalau bang Aris seperti memiliki perasaan sama kak Nisa?" tanya Dimas penuh selidik.
"Perasaan apa maksudnya, kakak gak ngerti deh sama omongan kamu, lagian kita itu cuma teman, hanya teman Dimas..." sahut Nisa heran dengan adiknya.
"Aku cowok lho kak, aku tahu seorang laki-laki yang memiliki perasaan lebih terhadap lawan jenis, terlihat dari cara ia memandang, menatap dan melihat." tutur Dimas menjelaskan.
"Iya kakak tahu kalau kamu cowok, dari mana kamu sok tahu gitu kayak tahu isi hati orang aja kamu." sebal Nisa.
"Kak coba deh kakak inget-inget cara bang Aris menatap kalau lagi ngobrol sama kak Nisa?" ujar Dimas mengingat kan.
"Dulu sih waktu kita sekolah dasar, Aris itu suka ngaku-ngaku kalau kakak ini pacar nya, tapi kan itu dulu, masa anak kecil kan! Mana mungkin sampai setua ini Aris anggap kakak seperti itu." ucap Nisa menceritakan masa kecilnya.
"Apa kalian sering bertemu sebelum Kak Nisa menikah?" tanya Dimas penasaran.
__ADS_1
"Gak, kakak itu bertemu saat setelah menikah, waktu kakak pulang dari Bandung dan balik lagi ke Jakarta, waktu itu kak Nisa kehilangan dompet dan dompet itu di temukan Aris dan dia mengembalikan dompet itu sama kak Nisa setelah kakak sudah beberapa hari di Jakarta." tutur Nisa menceritakan.
"Jadi kakak bertemu dengan Aris di sebuah cafe Jakarta itu pertama kalinya setelah bertahun-tahun tidak bertemu dengan Aris, setelah Aris pindah waktu sekolah dasar dulu." ucap Nisa menambah kan.
Dimas hanya mengangguk-ngangguk kepala mendengar cerita Nisa dan Aris.
"Jadi kamu jangan terus bertanya soal Aris apalagi soal perasaan Aris terhadap kak Nisa. Kak Nisa gak tahu, dan jangan sampai mas Adam tahu gak enak kan kalau Abang ipar kamu mendengar ucapan kamu ini." pinta Nisa lembut.
Dimas pun menghirup nafas nya panjang dan mengerti maksud kakak nya itu.
"Aku waktu di jalan kemarin sempat cerita sedikit soal kak Nisa, tapi aku gak sadar kalau bang Aris kenal kak Nisa juga, waktu aku cerita soal kakak yang nikah sama polisi dia sedikit terkejut seperti apa ya dia aku gak bisa jelaskan." ujar Dimas.
"Yakin cuma cerita itu doang?" tanya Nisa dengan selidik.
"I... iya yakin!" jawab Dimas gagap.
"Emh bohong kamu ya?" tanya Nisa dengan menatap adiknya itu dengan mata menyipit.
"Bohong apa sih kak aku sama kakak." sahut Dimas gugup.
"Nanti kakak tanya sama Aris ah kamu cerita apa aja soal kakak sama dia!" ancam Nisa pada adiknya itu.
"Ta...tanya aja." jawabnya takut.
"Kamu jangan terus pacaran kuliah yang benar, selesai kan dulu kewajiban kamu sebagai mahasiswa jangan sampai gak fokus gara-gara perempuan!" ucap Nisa memberi petuah.
"Sok tahu kakak ini, aku gak pacaran mulu ah." elak Dimas pada Nisa.
"Jangan bohong kamu kakak tahu kok di status sosmed kamu, kamu galau gitu." ucap Nisa santai sedangkan Dimas bingung dan heran kenapa kakak nya itu bisa tahu padahal ia tidak berteman atau tahu alamat email medsos kakak nya.
"Kenapa heran ya?" tanya Nisa datar melihat ekspresi adik nya itu.
"Dan satu lagi jangan sering-sering cerita di medsos gak baik itu, memang nya kalau cerita di media sosial seperti itu orang akan membantu kita dengan masalah kita atau akan memberi semangat saat kita sedang terpuruk, jawaban nya tidak akan malahan orang akan berfikir ulang dan menertawakan kesedihan kita." tutur Nisa memberi tahu adiknya itu.
"Dari mana kak Nisa tahu alamat email aku, aku kan gak berteman atau pun mengikuti kakak di media sosial." tanya Dimas masih penasaran terhadap kakaknya.
__ADS_1
Nisa hanya tersenyum penuh kemenangan. "Makanya jangan terlalu banyak teman yang ada di media sosial jangan asal di ikuti dan mengikuti." jawab Nisa sinis.
Nisa mengikuti media sosial adiknya dengan alamat yang tidak Dimas kenal, Nisa memakai alamat bukan atas namanya hanya untuk melihat bagaimana adiknya menggunakan media sosial dengan bijak atau tidak, dan itupun peran ibunya lah yang membuat Nisa berbuat seperti itu karena ibu dan Nisa khawatir pada adiknya yang sedikit nackal.