Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
jauh di mata dekat di hati


__ADS_3

Seiring waktu berjalan Via dan Aris menjalani hubungan jarak jauh di antara mereka, namun mereka tidak pernah satu hari pun untuk tidak saling menghubungi. Setiap setelah subuh Via selalu menunggu panggilan telepon suaminya itu. Dering telepon di pagi hari membuat Via tersenyum bahagia itulah saat-saat mereka saling menceritakan dan saling menyalurkan rasa rindu di antara mereka.


Enam bulan pun terlewati begitu saja tanpa adanya saling bertemu secara langsung, namun cinta diantara Via dan Aris semakin tumbuh karena Via begitu merasa nyaman walaupun jarak bersama suaminya itu begitu jauh, tapi rasa percaya itu selalu ada karena Aris selalu meyakinkan Via.


Tidak seperti dulu saat ia bersama Tama jarak jauh di antara mereka menjadi sebuah bencana besar, karena kesetiaan Tama yang begitu lemah, terlalu mudah di goda oleh perempuan yang hanya untuk kesenangan semata. Berbeda dengan Aris suaminya, rasa takut Via memang selalu ada namun Via yakin jika suaminya tidak akan seperti itu terlihat dari sikap dan perbuatannya berbeda dengan Tama waktu itu.


Hari ini Via seperti biasanya menjalani pekerjaannya sebagai perawat, sibuk menangani pasien-pasien nya di rumah sakit dimana tempat kerja Via.


"Via enak gak sih hubungan jarak jauh sama suami?" tanya Sofi pada saat mereka sedang beristirahat dan makan.


Via menghentikan tangannya yang akan menyuapkan makanan pada mulut nya itu. "Hemm... ada enaknya ada enggaknya Fi." jawab Via santai.


"Enak nya apa lalu gak enak nya apa?" tanya Sofi kembali.


"Ya enaknya kita gak usah layani suami, kita kayak masih gadis aja gitu hehe. Tapi gak enaknya kalau rindu tuh susah untuk di salurkan!" tutur Via menjelaskan.


"Wah parah maksud kamu tersalurkan bagaimana?" tanyanya pura-pura tidak tahu.


"Iya kangen aja gitu, gak bisa meluk cuma bisa lihat wajahnya di saat video call." balas nya.


"Oh... aku kira gak bisa di salurkan dalam hal lain! hehe." sahut Sofi cengengesan membuat Via mengerutkan keningnya.


"Hemmm kamu mikirnya ngeres deh, belum nikah tapi otak nya begitu!" sebal Via geleng-geleng kepala mendengar ucapan sahabat nya itu.


"Hehe abis nya ya kalian kan pengantin baru eh malah berjauhan begitu, aku aja yang bukan di posisi kamu gimana... gitu ya." masih dengan cengengesan.


Via menghela nafasnya panjang. "Kamu itu ya mesti di sapu tuh otak nya biar gak mikir ke arah situ aja." sahut Via sebal.


Sore hari waktu kerja pun selesai Via bersiap diri untuk pulang, pulang sendiri seperti biasa tidak ada yang menjemput, walaupun terasa sedih namun Via harus terbiasa.

__ADS_1


"Hah." Via membuang nafas secara kasar. "Enam bulan lagi Via kamu akan bertemu dengan suami tercinta mu, sabar...sabar!" batin nya. Lalu Via pun membuka handphone nya ia mengirimkan pesan pada suaminya karena ntah kenapa hari ini ia begitu merindukan suaminya itu padahal setiap pagi mereka selalu bertemu lewat via telepon.


"Abang Aris... aku merindukan mu sangat merindukanmu. Semangat ya dalam menjalankan tugasnya aku akan setia menunggu mu di sini." pesan pun Via kirim namun masih centang satu membuat Via sedikit kesal karena jaringan seperti tidak mendukung jika ia sedang merindukan suaminya itu padahal ia berharap jika suaminya itu akan membalas pesan nya.


Karena tidak ada balasan akhirnya Via pun bersiap untuk pulang karena hari sudah mulai sore sedangkan sahabat nya itu sudah pulang dari tadi karena ada keperluan.


Di saat perjalanan pulang seseorang memanggil nama Via, Via tahu suara yang memanggil-manggil nama nya itu. "Mau apa sih dia?" gumam Via kesal. Via berjalan saja tanpa mempedulikan laki-laki yang memanggil nya itu.


Saat Via berjalan melewati koridor tangan Via langsung di tarik oleh laki-laki itu karena laki-laki itu mengejar nya. "Via tunggu!" ucapnya seraya menarik tangan Via.


"Lepas!" ucap Via dingin.


"Aku tidak akan melepaskan nya!" ucapnya santai namun tatapan yang tajam menatap ke arah wajah Via.


"Kamu mau apa? Lepaskan!" pinta Via secara tegas.


"Aku kan sudah katakan aku tidak akan melepaskan kamu!" sahut nya membuat Via menjadi marah.


"Aku ingin bicara dengan kamu sebentar, apa kita bisa bicara?" pintanya penuh harap.


"Membicarakan apa lagi sih, kita ini sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi aku mohon lepaskan aku ini akan pulang jangan membuat aku malu di sini ya!" tegas Via.


"Aku ingin kita menjalani hubungan lagi seperti dulu Via, aku mau kamu kembali lagi padaku. Aku janji aku tidak akan membuat kamu kecewa lagi aku janji aku tidak akan menduakan kamu lagi!" ucapnya penuh keyakinan.


"Maaf kak Tama, aku ini sudah menikah dan sekarang aku adalah seorang istri jadi aku tegaskan sama kamu, aku tidak mau kembali lagi pada kak Tama!" ucapnya tegas.


Tama tersenyum. "Via... Via aku tahu kamu sudah menikah aku juga tahu kamu seorang istri tapi itu bukan suatu halangan untuk aku bisa mendapatkan kamu. Aku tahu kamu tidak akan mudah melupakan ku. Kita itu sudah berhubungan lama hampir enam tahun lamanya. Aku yakin di dalam hati mu itu masih ada nama aku. Aku tidak akan tergantikan oleh laki-laki yang sekarang berstatus suami kamu, yang baru saja hadir dalam kehidupan kamu apalagi sekarang dia sedang pergi bertugas kan?" Tama dengan senyuman mengejek.


Via menggelengkan kepalanya heran. "Kak Tama memang sudah ada di kehidupan aku selama enam tahun dan kak Tama benar aku memang masih mengingat cerita masa-masa saat kita berhubungan dulu apalagi masa dimana kak Tama meninggalkan aku dengan perempuan lain itulah hal yang sangat membekas dalam ingatan aku dan tidak akan pernah hilang. Apa kak Tama tidak tahu malu menjilat ludah sendiri. Dulu kak Tama menjelekkan aku tapi sekarang kenapa kamu seperti ini, apa yang membuat kamu datang untuk menemui aku lagi? Oh aku tahu perempuan yang kak Tama selalu di puji-puji meninggalkan mu lalu sekarang kamu mengganggu ku?" ucap Via geram.

__ADS_1


Tama melemahkan nada ucapan agar Via bisa menerimanya kembali. "Via... aku tahu aku sudah salah karena membuat kamu tersakiti, aku minta maaf ya karena kesalahanku dulu, aku benar-benar menyesal. Waktu itu aku sedang merasa jenuh dengan hubungan kita, aku tidak berniat untuk menduakan kamu aku hanya main-main dengan perempuan itu." ujarnya menjelaskan dengan lembut.


Via tersenyum mengejek. "Main-main? Apa semudah itu kamu mempermainkan perasaan perempuan hah? Aku sekarang tahu sifat asli kamu sebenarnya, dan itu semakin membuat ku tidak mau kembali berhubungan dengan kamu lagi!" ucap nya tegas. "Sudahlah kak aku tidak mau dan aku mohon jangan ganggu aku lagi aku tidak mau hal ini menjadi fitnah dalam pernikahan ku apalagi suami ku sedang bertugas." Via dengan tegas menolak untuk kembali lagi pada mantan tunangannya itu.


"Kalau kamu tidak mau kembali padaku dengan cara lembut seperti ini, aku akan memaksa kamu untuk kembali padaku dengan cara yang lain!" ucapnya dengan nada mengancam membuat Via sedikit takut karena dia tahu jika Tama adalah laki-laki yang selalu berusaha mendapatkan sesuatu yang ia mau dengan cara apapun.


Tama menarik tangan Via dengan kasar membuat Via langkah Via terseret-seret karena Tama terus saja membawa Via. "Kak Tama lepas! Kalau kamu tidak mau melepaskan nya aku akan teriak!" ancam Via dengan suara bergetar takut.


Namun Tama tidak memperdulikan ancaman Via itu ia terus saja membawa menarik Via membawanya masuk ke dalam mobil, Via terus berteriak namun karena sudah sore hari keadaan rumah sakit begitu sepi karena turun hujan tidak ada orang di sekitar sana.


"Masuk!" titah nya seraya sedikit mendorong tubuh Via agar masuk ke dalam mobilnya.


"Kamu benar-benar sudah gila!" ucap Via bergetar.


"Iya! Memang aku sudah gila, karena kamu yang membuat ku tergila-gila." sahut nya dengan tertawa membuat Via semakin takut.


"Kamu jangan macam-macam kak Tama, aku akan membuatmu perhitungan jika itu terjadi, aku akan bilang pada suamiku dan aku yakin suamiku tidak akan tinggal diam jika istrinya di perlakukan seperti ini!" ancam Via pada Tama agar Tama takut dengan ancaman nya itu namun Tama malah tergelak dengan tawa mengejek.


"Via... Via aku tahu suami kamu itu sedang bertugas dan jauh dari negara kita ini jadi tidak mungkin dia bisa membuat perhitungan dengan ku!" sahut nya cepat.


Via semakin takut karena mantan tunangannya itu tidak takut akan ancaman nya. "Please kak Tama aku mohon jangan ganggu aku, jangan ganggu rumah tangga ku, aku janji aku tidak akan menggangu kehidupan kamu." ucap Via melembut siapa tahu Tama akan luluh jika ia melembut.


"Sayang sekali aku suka di ganggu oleh kamu Via sayang... karena selama ini kamu selalu mengganggu pikiran ku." jawab nya santai menatap Via dengan penuh hasrat.


"Tidak kak Tama, aku yakin kamu pasti menemukan perempuan lain yang jauh lebih baik dari aku, yang jauh lebih cantik dari aku jadi aku mohon sama kak Tama biarkan aku menjalani kehidupan aku dan aku akan biarkan kehidupan Kak Tama dengan perempuan lain." ucap Via berharap Tama akan melepaskan nya.


Namun lagi-lagi Tama masih saja dengan pendiriannya. "Aku akan membuatmu bahagia Via aku janji, kamu tinggal meminta cerai pada suamimu lalu aku akan menikahi kamu lagi Via. Aku akan melamar kamu lagi dan meminta pada kedua orang tua mu agar kita di persatuan lagi dalam pernikahan yang sempat gagal itu." ujarnya dengan meyakinkan Via seraya mengelus rambut Via dengan lembut namun Via menjauhkan tangan Tama yang akan mengelus itu sehingga Tama menjadi tersinggung di buat nya.


"Via... aku akan membawa kamu ke suatu tempat kita akan bersenang-senang disana, dan aku yakin kali ini kamu tidak akan menolak ku lagi!" dengan santai nya Tama berucap namun santai Tama membuat Via semakin takut.

__ADS_1


"Ya Allah tolonglah aku, aku harus bagaimana sekarang!" batin Via takut.


__ADS_2