
Aris melihat suster itu pergi keluar dari ruangannya itu sampai sampai benar-benar tak terlihat lagi.
Saat Via membuka pintu ruangan Aris terlihat rekan-rekan Aris sedang menatapnya dengan lekat seperti mengintimidasi.
"Kenapa anda semua menatap saya seperti itu?" tanya Via heran saat ia merasa terintimidasi oleh rekan-rekan Aris tapi mereka malah memberikan senyuman yang sulit di artikan.
"Anda semua jangan berpikir yang aneh-aneh ya, kejadian tadi tidak seperti yang anda semua pikirkan!" tambah Via kesal karena mereka seperti berpikir macam-macam tentang nya.
"Permisi!" ucapnya cepat meninggalkan rekan Aris dengan melangkahkan kaki dengan terburu-buru.
Sedangkan Aris ia sedang memegang dadanya, mengusap nya dengan pelan mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Aris memegang dadanya bukan karena kesakitan karena luka basah nya yang tidak sengaja Via sentuh tapi ia merasakan jantungnya yang berdetak kencang saat tadi suster Via berada di dekatnya bahkan menindih nya. "Ah kenapa dengan jantung ku ini, aku mendapat tatapan dari suster galak itu seperti aku di tatap oleh Nisa, saat Nisa berada dekat dengan ku dulu. Rasanya... sulit aku ungkapkan. Sudah lama sekali aku tidak merasakan hal itu selain pada Nisa tapi...ntah kenapa tatapan suster itu rasanya berbeda membuat ku berdebar-debar seperti ini." batin Aris bingung karena perasaan apa yang terjadi pada dirinya.
Saat Aris sedang diam melamun sendiri rekan-rekan Aris masuk kembali kedalam ruangan inap itu. "Wah wah wah sepertinya ada yang lagi membayangkan sesuatu nih!" ucap Syam seraya mendekat ke arah Aris yang diam saja.
Aris terbangun dari lamunannya saat rekannya itu memanggilnya. "Eh kalian masih di sini!" ucapnya gugup.
"Wah kamu ngusir kita nih ceritanya!" sahut Syam tidak terima.
"Bukan gitu maksudnya." elak Aris pelan.
"Kamu lagi dekat dengan suster tadi? Saya lihat seperti nya kamu kenal dengan nya!" ucap Syam penasaran dengan sahabat nya itu karena ia tidak pernah cerita soal perempuan selain Nisa.
"Tidak kenal, cuma sering bertemu!" balas nya santai.
Di tempat Via, Via yang baru saja datang setelah dari kamar inap Aris itu langsung duduk di tempatnya.
__ADS_1
"Via di panggil pak Santoso ke ruangannya!" ucap Sofi memberi tahukan seraya duduk di samping Via.
"Pak Santoso panggil aku ke ruangan nya ada apa ya?" tanya nya heran. "Perasaan aku gak ada salah deh!" tambah nya.
Sofi mengangkat bahu tidak tahu. "Ya kalau ngerasa gak salah kenapa takut!" sambung nya.
"Apa pasien lelaki yang menyebalkan itu ngadu yang enggak-enggak lagi sama pak Santoso?" curiga Via pada Aris padahal Aris mah gak tahu apa-apa Via...
"Jangan berpikiran yang negatif bikin hati gak sehat." sahut Sofi cepat. "Ayo buruan nanti pak Santoso marah nunggu kamu lama, bisa-bisa kamu dapat omelan lagi!" tambah Sofi cepat.
"Iya bawel! Ya udah aku ke ruangan pak Santoso dulu, ini tolong di cek lagi ya pasien yang baru saja datang." ucap Via seraya pergi dengan cepat untuk ke ruangan pimpinan nya dan Sofi hanya mengiyakan saja.
Tak lama Via sudah berada di ruangan pak Santoso setelah di ijinkan untuk masuk kedalam ruangan nya itu. "Silahkan duduk suster Via saya mau bicara dengan kamu!" ucapnya tegas.
Via yang tidak tahu apa yang akan di bicarakan oleh pimpinan nya itu menjadi deg degan karena takut, ya walaupun Via tidak melakukan kesalahan tapi jika pak Santoso sudah memanggil nya itu ada sesuatu yang penting yang akan di sampaikan oleh beliau.
Pak Santoso melihat Via yang tegang itu membuat dia tersenyum. "Kamu jangan tegang seperti itu saya sekarang bukan untuk menegur pekerjaan kamu atau kesalahan kamu, saya hanya mau meminta maaf kepada kamu karena saya sudah menegur dan memarahi kamu saat kamu terlambat pada hari itu. Seharusnya saya bertanya terlebih dahulu alasan kenapa kamu bisa terlambat." ujar nya menjelaskan apa yang akan ia sampaikan saat ini.
"Tidak apa-apa pak saya mengerti, memang itu kesalahan saya karena saya terlambat datang." ucap Via menerima.
"Apa benar kamu pada saat terlambat itu karena kamu membantu orang yang terkena kecelakaan?" tanyanya menatap Via dengan serius.
"Bapak tahu darimana saya melakukan hal itu?" tanya Via penasaran.
"Saya tahu dari berita yang mengambil gambar kamu dengan salah satu TNI yang di ketahui menjadi pasien di rumah sakit ini." ujar nya memberi tahu seraya menunjukkan sebuah video ketika Via sedang ada di tempat kejadian kecelakaan itu.
__ADS_1
"Apa lelaki yang berseragam TNI itu pacar kamu?" tanyanya penuh selidik. "Karena di keterangan dalam video itu kamu dan dia datang bersamaan dan kalian juga pergi dalam satu motor bersamaan juga." terang nya.
"Bu... bukan pak dia hanya teman saya, iya teman saya!" ucap Via gagap mengulang ucapan nya.
"Ok, bagi saya tidak masalah kamu mau berteman atau pun berpacaran dengan nya yang pasti kalian berdua membuat saya bangga dengan perbuatan kalian berdua seperti itu, pekerjaan seperti kalian yang berhubungan dengan keselamatan dan keutamaan masyarakat memang mencerminkan sosok pekerjaan yang kalian jalani saat ini." ucapnya merasa bangga dengan senyuman di bibir bapak pimpinan nya itu.
"Dan sebelum pulang, saya mau kamu ikuti saya sekarang ke ruangan pasien VVIP dimana ruangan pak Aris di rawat, saya baru tahu itu dari seseorang yang sekarang akan kita temui." ucapnya seraya keluar dari ruangannya menuju ruangan dimana Aris berada dan Via mengekor dari belakang mengikuti pak Santoso pergi.
Tidak lama mereka pun sampai di depan ruangan VVIP mengucapkan salam dengan ramah dan di sambut dengan ramah juga, disana ada kedua orang tua Aris terlihat juga dua orang di sana Via tidak mengenali nya siapa mereka berdua.
"Selamat sore pak ini suster Via yang bapak maksud." tunjuk pak Santoso memperkenalkan Via seraya berjabat tangan dengan mereka. Via semakin tidak mengerti apa maksud ini semua namun Via mengikuti apa yang di lakukan pimpinan nya.
"Oh ini dengan suster Via ya, cantik sekali." pujinya. "Perkenalkan saya keluarga korban kecelakaan yang anda tolong pada waktu itu, saya mau mengucapkan terima kasih kepada anda suster Via karena sudah menolong keluarga saya itu. Mereka meminta saya untuk bertemu dengan anda untuk mengucapkan terima kasih. Saya mewakili mereka karena kondisi mereka belum begitu pulih kami juga sudah berterima kasih juga pada pak Aris karena beliau juga membantu dalam menolong keluarga saya pada kecelakaan itu." ucapnya menjelaskan maksud dari ia ingin bertemu dengan Via dan juga Aris.
"Emh sebenarnya juga tidak hanya saya dan pak Aris saja yang menolong korban banyak orang disana juga yang ikut membantu." balas Via merendah.
"Iya tapi sebelum mereka menolong, orang yang pertama kan anda bersama pak Aris ini!" ucapnya lagi. "Intinya kami sangat berterima kasih atas pertolongan pertama anda dan juga pak Aris." tambah nya lagi.
"Iya sama-sama pak." sahut Via dengan tersenyum manis.
"Dan ini sebagai tanda terima kasih dari kami untuk suster Via dan juga komandan Aris." memberikan sebuah penghargaan, juga sebuah cek dan juga kenaikan jabatan untuk Via dan juga Aris. Seseorang itu adalah orang yang paling berperan penting yang bisa memberikan jabatan sesuai dengan orang yang bisa memberikan contoh yang baik dalam kepentingan untuk masyarakat.
Orang yang menjadi korban kecelakaan adalah seorang menteri yang begitu di segani dan di hormati, maka saat Via dan Aris menolong nya mereka langsung mencari tentang keberadaan dan informasi tentang Via dan Aris.
Pemberian penghargaan di lakukan di rumah sakit karena Aris yang sedang masih dalam keadaan sakit dan kebetulan Via juga bekerja di rumah sakit itu. Setelah selesai pemberian penghargaan bagi mereka berdua, Via dan Aris di minta berfoto bersama sebagai kenang-kenangan dan bukti jika mereka sudah menemui Via dan Aris.
__ADS_1
Saat di foto Via yang berdiri di dekat Aris dan Aris duduk di tempat tidur nya mereka terlihat kaku saat di foto, apalagi pak Santoso yang iseng menyuruh Via dan Aris berdekatan saat di foto membuat mereka berdua menjadi salah tingkah dan malu-malu saat di situ lah mereka saling menatap dengan tersenyum malu keduanya.